NEW YORK: Ouuucchh…YOU GOT ME…!

Dian Nugraheni

 

New York, biasanya yang dimaksud adalah New York City, sebab wilayah New York State sendiri itu sangat luaas, bahkan salah satunya adalah wilayah yang bernama Buffalo di ujung “atas” sana, kalau dilihat dalam peta, tempat Niagara Falls berada, itu berbatasan langsung dengan wilayah Canada.

Ya, New York City, The City That Never Sleeps…, indeed. Di bagian mananya sih yang biasa disebut never sleeps..? Sepertinya lebih tepat dibilang, bahwa yang beneran nggak pernah merem adalah area di sekitar Times Square. Times Square itu terkenal banget, salah satunya karena di tempat ini selalu menjadi pusat lokasi perayaan bergantinya tahun, setiap tanggal 31 Desember, yang acaranya selalu disiarkan dan bisa disaksikan melalui televisi.

Nggak pernah meremnya gimana sih..? Ya karena bertabur lampu, dan dinding-dinding layar kaca yang menampilkan iklan, informasi, dan lain-lain dengan desain dan tampilan yang begitu memukau, baik pagi, siang, malam, dini hari, pagi, sampai siang lagi…, dan seterusnya, seperti tak ada capeknya.

Sekitar 5 tahun lalu, aku dan anak-anak sudah pernah mengunjungi New York City. Setelah siangnya mengunjungi patung Miss Liberty, sore dan malamnya kami menikmati suasana riuh rendahnya turis yang duduk-duduk di jalanan, berjalan-jalan di sepanjang sisi jalan, hanya untuk menikmati dan mengagumi lampu-lampu dan iklan di layar-layar raksasa. Potret sana-sini, dengan berbagai gaya. Pertama kali menikmati keramaian malam di sekitar Times Square itu, rasanya waaawww… bangeeet. Senang, dan sangat berkesan. Saat itu kami juga jalan-jalan sedikit ke Central Park, sebuah taman di tengah kota yang ga mungkin habis disambangi hanya dalam waktu seharian, saking luasnya.

new-york

Sumer, adalah libur panjang bagi anak-anak sekolah. Setelah belajar dan bekerja keras selama tiga musim, winter, spring dan fall, maka sesuai “tradisi” orang-orang di Amrik yang biasanya mengisi liburan dengan pergi wisata ke suatu tempat di musim panas, maka si Kakak pun tetep nagih jatah jalan-jalan, “New York aja yang deket…” Emang deket sih dari tempat tinggal kami, hanya 4 jam naik bus.

Saat ini, anak-anak sudah remaja, sudah High School, aku sebagai Emak tau banget apa yang mereka inginkan, berfoto-foto di sana nantinya, maka sebelumnya, keduanya aku belikan sepasang pakaian baru, yang tak terlalu mahal tapi lumayan bagus. Yaa, biar anak-anak tambah senang, berfoto dengan baju baru…he..he..

“Kak, kalau mau ke New York, pesan hotel dan tiket bus, online saja, jadi bisa leluasa milihnya, kalau bisa dapat hotel bagus, dekat lokasi wisata, dan jangan yang mahal amat. Ini credit card Mamah, pakai aja..,” kataku.

Kakak, “Aku belom pernah pesan hotel dan bus online…”

Aku, “Terserah aja, kalau beres, kita berangkat, kalau enggak, ya ga tau…. Mamah gaptek, nggak ngerti juga yang begitu-begitu. Pokoknya semua Mamah serahkan sama Kakak dan Adek, pesen hotel, tiket bus, lalu gimana nanti di sana…” Diam-diam aku sedang menguji si Kakak dan si Adek, apakah dia sudah bisa diminta merancang dan bertanggungjawab atas sebuah perjalanan wisata kami.

Beberapa hari kemudian, “Beres..?”

Kakak, “Beres, Mah, semua sudah aku konfirmasikan, tiket sudah aku print, trus kemana, naik apa di sana sudah aku tulis di notes…”

Waktu yang ditentukan tiba, sayang sekali aku hanya bisa libur pas Labor Day, dapet libur sehari di hari Senin, sedangkan anak-anak masih ada dalam minggu terakhir liburan summer. Berangkatlah kami, dengan sudah menyadari sebelumnya bahwa turis akan tumplek blek di libur tambahan selain Sabtu dan Minggu kali ini. Oya, kami pilih menginap hari Minggu malam di New York, karena hotel yang sama, beda hari, maka akan beda banget tarif hotelnya. Di week end, Jumat malam, atau Sabtu malam, tarifnya bisa dua kali lipat.. Ohh..may..! Nahh, kalau Minggu malam nginapnya, lumayan dapet agak murah, meski termasuk mahal juga, karena booking agak mendadak, dan kami pilih yang bener-bener di sekitar area Times Square, 210 dollar semalam, lumayan menguras kocek.

Kami turun dari bus di sekitar Madison Square Garden, New York, masih sekitar jam 7 pagi karena kami berangkat dini hari, sekitar jam 2 malam dari daerah Chinatown, Washington, DC, di mana agen bus malam yang kami tumpangi, berada. Madison Square Garden adalah multi-purpose indoor arena yang sangat tenar, yang biasa dipakai untuk kegiatan-kegiatan seperti art, sport, dan lain-lain yang mampu mengundang penonton dalam jumlah besar.

Pagi itu kami sarapan sedikit di sebuah kedai sekitar Madison Square Garden, lalu segera memasuki stasiun kereta Pennsylvania. Stasiun kereta ini nampak sangaat… tua, dan ya memang tua banget sih, kalau nggak salah dibangun sekitar 1910. Setelah berbingung-bingung sedikit, akhirnya kami berhasil menemukan rute, untuk menuju Battery Park, dari situ kami akan menyeberang naik ferry menuju Liberty island untuk bertemu ulang dengan patung Miss Liberty.

Karena ada beberapa titik stasiun kereta yang sedang diperbaiki, maka kami harus turun di tengah jalan, dan sambung pakai shuttle bus yang sudah disediakan menuju Battery Park. Di sini, anak-anak mendapat “ujian” di lapangan. Seorang gadis berpenampilan hippies, mendekat dan berkata-kata dengan ramah, intinya mau jual karcis yang bisa dipakai 3 hari di sekitar Liberty Island, satu tiketnya 31 dollar, “kalian tau kan, musim liburan, sangat penuh, tiket habis, dan kalian nggak akan bisa masuk, meski hanya ke sekitar Liberty Island, sayang lho sudah sampai sini…bla..bla..bla..”

Aku diem aja mengamati suasana, tapi tetep kawal anak-anak dekat-dekat. Alma oot, alias out of topic, biasa.., dia memang hampir selalu memandang banyak hal dari sisi yang berbeda dari kebanyakan orang pada umumnya, “Ohh, I love your earing…, very cute..” Alma mengomentari anting si Mbak hippies yang berbentuk kuda laut, si Mbak muka senang dan berkali-kali bilang thank You.

Si Mbak hippies ini memang penampilannya sungguh nge-art banget, dengan rambut yang dipotong enggak simetris, dicat dengan warna ngejreng beberapa warna, dan memakai aksesoris berupa banyak banget gelang cantik di tangan kanan dan kirinya, beberapa kalung berbagai bentuk dipakai bertumpuk-tumpuk, dan anting yang berbeda antara kuping kiri dan kanan.

Si Kakak hampir saja terpedaya, “Mah, beli tiket sini aja, ntar ga bisa masuk sana lho…, gimana..?’

Aku, “Kemaren Kakak sudah cek di website, bisa beli tiket di sana, kan..?”

Kakak, “Iya sih…”

Aku, “Okay, kalau gitu, kita langsung ke sana, jangan beli sini, mahal..”

Kami ngobrol basa-basi sedikit dengan si Mbak hippies, lalu bilang, maaf nggak jadi beli tiket. Kulihat muka si Mbak agak kecewa, tapi yaa.., gimana lagi…

Singkat kata, kami sampai Battery park, dan tiket memang bisa dibeli di loket dalam taman situ. Kakak, “Wahh, mbaknya itu tadi kok tenyata mau nipu ya.., untung ga beli sama dia…” Tiket yang sama, bisa digunakan untuk 3 hari cuma seharga 18 dollar per orang.

Setelah santai menikmati pemandangan laut menuju Liberty island, menikmati foto-foto di sekitar patung Liberty, kami kembali naik ferry, keluar dari park tersebut, akan menuju hotel yang berada di daerah Times Square. Kapal ferry ini, ketika berangkat dari Battery Park, dia langsung menuju Libery Island, tapi pulangnya, kapal ferry akan singgah di Ellis Island. Ellis Island adalah pulau yang disinggahi oleh imigran pertama di Amerika. bangunan di Ellis Island saat ini dijadikan National Museum of Immigration.

Kami bermaksud naik kereta api saja untuk menuju tengah kota. Kembali kami menuju stasiun terdekat, aku slide karcis yang berujud kartu kertas, sekali, gate ga mau buka, dua kali, tiga kali, gate tetep ga mau buka. Lalu aku cek uang yang tinggal di karcis, yang kubeli 10 dollar tadi cuma sisa beberapa sen. Ternyata ketika aku slide card berkali-kali, meski pintu nggak terbuka, uangnya tetep kepotong. Mana nggak ada petugas di sekitar situ, nggak kayak stasiun kereta yang ada di seputar Virginia dan Washington, DC., yang selalu ada petugas di setiap stasiun.

Aku, “naik taksi aja..”

Kakak, “Jangan, mahal…aku tanya Bapak itu dulu…”

Setelah bertanya-tanya sejenak, si Bapak bertanya, “Kalian bukan orang sini ya..?”

Kakak, “Bukan, kami dari (Washington) DC..bla..bla..bla..”

Si Bapak tertawa, “Yaah, beginilah New York, kena deh kalian…, kepotong uang tapi pintu ga buka, kalau mau komplain, tuh di sana, nyebrang…, nyebrang lagi, lalu turun..bla..bla..bla..” Bla..bla..bla-nya ini bikin aku ga sabar dan pusing.

“I try to help You..,” kata si Bapak sambil tertawa, ketika melihat mukaku sudah keliatan jelek banget pastinya..he..he…

Aku, “yaa.., I know.., thanks a lot, Sir.., tapi aku sudah capek banget, biarin aja deh naik taksi..”

Si Bapak, “Akan sangat mahal, sekitar 25 menit naik taksi…”

Setelah beramah tamah dan bilang makasih, kami naik taksi. Sampai hotel, sekitar 25 menit beneran, dan bayar taksi cuma 25 dollar. Not bad… Apalagi sepanjang perjalanan, di layar kecil yang tertempel di bangku belakang pengemudi taksi, terus diiklankan tentang keamanan dan kenyamanan menggunakan taksi kuning ini, dan “bila ada kurang puas, diperlakukan kurang baik, atau bahkan ditipu, segera laporkan ke nomor telepon ini..bla..bla..bla..” Bagus, kalau sistem layanan jasa sudah ada costumer servicenya begini, berarti bisa dibilang, bahwa ini merupakan jaminan, kita akan baik-baik saja ketika memilih untuk menggunakan taksi kuning ini.

Makan siang simple di sebuah kedai pizza dan ayam goreng, lalu istirahat di hotel cukup sudah. Sore menjelang malam kami keluar untuk mandi cahaya lampu kota yang ga pernah tidur ini. Sebenernya aku sudah puyeng duluan, tapi demi anak-anak, ya sudahlah. Aku yang biasa narsis, kali ini malas berfoto, aku banyak memotret anak-anak di sudut-sudut atau tempat-tempat yang kira-kira menarik.

Ketika berfoto-foto, tiba-tiba beberapa badut mendekati dan ikutan berfoto bersama kami. Ada Spiderman, Hulk, dan Mickey Mouse. Setelah selesai berfoto, kami mengucapkan terimakasih, tapi mereka mengepung kami, minta uang. Whaat..? Aku nggak ngerti kalau mereka ini “bekerja” menjadi badut untuk mendapatkan uang. Aku keluarkan dompet kecil, dan mengambil semua yang ada di sana, sekitar 15 dollar receh. Kata si Mickey Mouse, “kurang…, 20 dollar, soalnya nanti kami bagi dengan teman-teman..”

Aku, “Sorry, hanya itu yang aku punya, aku nggak ngerti kalau berfoto dengan kalian harus bayar…”

Si Kakak dan Adek bersahut-sahutan dalam bahsa Indonesia dengan muka marah, “kok nipu sih..nyebelin.., mana kostumnya ga bagus..”

Aku, “Adek, Kakak, diam…, tetap ramah dan senyum…, bukan salah mereka. Kita yang salah, nggak pakai nanya-nanya dulu…”

Lima tahun yang lalu belom ada tuh badut-badut beginian di sekitar Times Square.

Kami menjauh dari para badut, “Kak, ternyata dompet Mamah ketinggalan di hotel, balik ke hotel sebentar yuk, nggak punya cash nih, siapa tau perlu…untung hotelnya cuma satu menit dari sini…”

Times Square beneran tumplek blek lautan manusia, yang bagaikan para laron yang mendatangi cahaya lampu berpendar-pendar. Ramai, tapi santai. Santai, tapi tetep “riweh” sih, kalau kataku..he..he.. Di jalanan yang sudah “sempit” karena banyak orang yang jalan di jalan aspal, rentetan kemacetan terjadi. Banyak Tour Bus, bis wisata dengan tiket “terusan” berhenti di sepanjang jalan untuk menurunkan atau mengangkut penumpang. Kalau teman-teman pengen wisata efektif, bisa beli tiket naik bis wisata ini. Mengenai harga karcis, tempat tujuan wisata, dan berapa lama berlaku karcisnya, bisa disearch di websitenya, ya…

Malam itu, setelah puas berfoto-foto, dan menyadari bahwa sudah nggak ada lagi yang bisa dinikmati selain tumpahan ruah manusia bertabur cahaya, maka kami balik ke hotel. Sebelumnya, kami sempatkan masuk toko permen coklat M&M yang sangat terkenal itu, tapi nggak beli permen coklatnya sih, cuma beli souvenirnya, yang harganya jauh lebih mahal bila dibanding permen coklatnya, he..he..he…

Sampai di hotel, anak-anak masih menggerutu soal para badut yang nipu tadi. Sebenernya hatiku sakit, sedih, dengar anak-anak mengumpat begitu. Tapi lalu aku sadari, aku hampir 50 tahun, anak-anak ini baru menginjak 17 dan 14 tahun, zona berpikir dan permaklumannya tentu sangat berbeda. “Kakak, Adek, kalau kita di tempat asing, memang kita harus lebih waspada, dan siap segala hal, termasuk nyasar ketika nyari alamat, keluar uang ekstra bila harus naik taksi, kemahalan bila beli makanan atau minuman, dan…”

Belom sempat aku habiskan kalimat, si Kakak dan Adek bersahut-sahutan lagi, masih dengan nada jengkel, “termasuk siap dirampok para badut tadi..?”

Kataku, “Nahh, ini salah satu pengalaman baru kita. Mamah sudah bilang, kita yang harus waspada. Jangan mengumpat mereka, kasihan, mereka juga cari makan buat hidup mereka dan keluarganya..”

Kakak, “tapi jangan nipu gitu dong kerjanya..”

Aku, “Kak, sekali lagi, maafkanlah mereka. Kalau pun itu termasuk tipu-tipu, anggaplah, hanya itu yang bisa mereka lakukan dalam mencari nafkah. Maafkan mereka, sayangi mereka..”

Kakak dan Adek, “Mamah nggak marah..?”

Aku, “Enggak.., Mamah bisa memahami, lagian mereka sebenernya ramah kok, dan Mamah hanya kasih 15 dollar buat bertiga…”

“Nggak ada orang ngasih tip seperti Mamah.., Mamah terlalu banyak kalau ngasih.., juga kalau makan di restoran itu, ingat..? Terlalu banyak.., uang Mamah kan juga ga banyak amat…,” kata Kakak.

Selama ini aku memang berusaha untuk tidak kasih tip (atau saat ini sudah dibahasakan sebagai “gratuity”), di bawah standard. Biasanya pada struk pembayaran akan ditulis, Gratuity 15%, 20%, 25%, or “other’, alias berapa aja suka-suka kita kalau mau lebihin. Jadi minimum tips atau gratuity saat ini memang 15% dari harga yang kita bayar untuk pesanan makanan, atau apa pun yang kita beli, dan dilayani oleh si Penjual barang atau jasa. Yaa, kalau kita mau dilayani, ya harus siap keluar uang ekstra dong buat mereka. Pekerja penerima tips ini, kadang memang hanya mengandalkan pendapatan dari tips yang mereka dapatkan selama jam kerja, Owner hanya bayar mereka sekitar 2 dollar per jam, atau menurut perhitungan dan kesepakatan bersama, soalnya banyak restoran atau usaha jasa, yang dari pendapatan tipsnya itu, mereka mampu menutup kebutuhan hidup per bulannya.

Aku, “Kak, rejeki dari Tuhan..Mamah ngasihnya ikhlas, dan ngebayangin, yang kita kasih juga akan senang, bisa beliin anak-anaknya baju, sepatu, makanan, dan lain-lain. Bayangkan sebaliknya, bila mereka nggak punya uang, dan anak-anak mereka merengek minta sesuatu, atau minta jalan-jalan kayak kita ini, bagaimana…? Sedih kan..? Bersyukurlah Kak, kita masih bisa jalan-jalan dan bisa ngasih sekedar tips buat mereka.”

Adek dan Kakak diam, mungkin argumenku terdengar terlalu “maksain” mereka untuk mengerti. Sebab di Amrik, kalau kalian ga puas, nggak ngasih tip juga gapapa, kalau tega, atau kalau ngasih ya sedikit saja. Kalau kalian puas, ya boleh tambah kasih tipsnya…

Ohh yaa, kalau lima tahun lalu, pas ke New York City, kami kunjungi Liberty Island, Times Square, dan Central Park, maka kemaren ini kami mengunjungi tempat yang sama, minus Central Park, sebagai gantinya kami tengok sejenak dua kolam raksasa yang dibangun di bekas reruntuhan peristiwa 9/11, yang sekarang menjadi salah satu titik tujuan wisata. Selain dua kolam besar dengan air terjun halus di setiap dinding kolam, juga dibangun sebuah Museum. Kami ga sempat masuk Museum, karena pengunjung sangat banyak dan waktu kami sudah sempit, karena harus bersiap pulang kembali ke Virginia sore itu.

Whatever..he..he.., meski “ketipu-tipu’ ketika jalan-jalan ke New York kali ini, tapi tak mengapa, anggap saja ini adalah pelajaran baru, bagi anak-anak, maupun bagi diriku sendiri.

Ketika sekali lagi ditanya, “Ikhlas nggak, dengan “ketipu-tipu” kali ini..? Aku langsung jawab, Ikhlas, titik..”

Di bus menuju pulang ke Washington DC, kemudian Virginia, aku tanya pada anak-anak, “Kakak, Adek, puas nggak jalan-jalannya..?”

Serempak mereka menjawab, “Puuuaaaasss..”

Okay.., baguslah kalau begitu. Kalau aku yang ditanya, puas nggak mbak Di, jalan-jalan ke New York City…? Jawabku, sebenernya aku nggak suka menikmati keramaian yang begitu gegap gempita dan berpendar-pendar menyilaukan. Yang begituan, kunjungi, dan liat sekali saja, sudah cukup..he..he..Sudah gitu ga pengen-pengen lagi…

 

Salam Ketipu-tipu New York City,

 

Virginia,

Dian Nugraheni,

Rabu, 21 Oktober 2015, jam 9.56 malam…

(Sebentar lagi jemput Kakak pulang kerja…nggak terlalu dingin malam ini)

 

 

Share This Post

Google1DeliciousDiggGoogleStumbleuponRedditTechnoratiYahooBloggerRSS

6 Comments to "NEW YORK: Ouuucchh…YOU GOT ME…!"

  1. J C  15 November, 2015 at 16:55

    One day…harus ke tempat ini…

  2. james  10 November, 2015 at 08:33

    hadir ci Lani, makasih…….NY…NY the city never sleep

  3. Lani  10 November, 2015 at 00:30

    Setuju bingitttt dgn komentar kang Djas

  4. djasMerahputih  9 November, 2015 at 16:35

    Hadir Tji Lani..
    Sama, lebih suka wisata alam. Mendekatkan hati pada Sang Pencipta.

  5. Lani  9 November, 2015 at 14:26

    DIAN : aku paling tdk suka wisata ketempat yg rame, hingar bingar, apalagi pakai lampu gemerlapan berwar-warni, bikin pusing 27 keliling…….hahaha

    Makanya aku tdk suka Las Vegas (pernah sekali) dan tdk ingin balik kesana lagi, kmrn ke NM hanya numpang lewat di airport nya saja

  6. Lani  9 November, 2015 at 13:57

    Ouch! NY NY……..sambil mengingat trio kenthir………

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *