Cahaya The World’s First Intercontinental Dancing

Iwan Satyanegara Kamah – Jakarta

 

YANG menari ada di Den Haag. Irama pengiringnya ada di Solo. Terpisah 12.000 km antar benua. Saat itu tahun 1937. Bukan 2015 yang makin tak komunikatif.

finest dance

Gusti Nurul, putri KGPAA Mangkunegara VII, menari di Paleis Noordeinde saat acara perkawinan Putri Mahkota Juliana dan Pangeran Bernhard. Ditonton langsung oleh bangsawan raja ratu Eropa. Kok bisa tahu pemain gamelan di Puro Mangkunegaran dengan gerakan Gusti Nurul? Kakaknya Gusti Nurul juga menari sebagai patokan pemain musik di Solo. Mungkin delay 10 detik melalui gelombang radio..

Sejarah kesenian barat tak mencatat peristiwa keren ini, karena Gusti Nurul matanya gak biru dan kulitnya gak putih, hidungnya gak mancung-mancung banget. Dan yang ditampilkan bukan kesenian bule.

GRAy Siti Noeroel Kamaril Ngarasati Koesoemo Wardhani Soerjosoejarso beruntung diberi usia 94 tahun. Tak semua generasinya diberi usia panjang. Gusti Nurul (nama panggilannya) generasi 45 terakhir dari kalangan ‘distinguished people’. Orang-orang sebayanya sudah lama pergi. Gimana tidak beruntung, diberi usia 94 tahun saat wafat 10 November 2015. Beliau seangkatan Sutan Sjahrir, HB IX juga Bung Karno (agak senior sedikit mereka).
Tiga orang ini saat belia pernah ingin menjadikan Gusti Nurul sebagai pendampingnya dan ditolaknya. Padahal kelas berat semua mereka.

HB IX ingin sekali mendambakan Gusti Nurul jadi pendampingnya. Namun hanya ‘bertepuk sebelah tangan’, sampai terus terbayang-bayang hingga akhir hayatnya sang raja tak memiliki permaisuri. Padahal Gusti Nurul itu putri dari Mangkunegara VII dan cucu dari HB VII (HB IX juga cucunya HB VII). Cocok mereka berdua jadi royal family saat itu. Muda, didikan barat, tetep Jawa dan ganteng-cantik.

Gusti Nurul seleb di jamannya. Masih muda sudah pandai menunggang kuda (Eropa banget), fashionista, sosialita dan ayu. Wajar penguasa negeri ini, mulai dari Gubernur Jenderal Hindia Belanda terakhir Tjarda van Stakenborgh, penguasa Jepang, semua presiden RI sampai ke Jokowi, mengenalnya dan dikenalnya. Keluarga kerajaan Belanda menyayanginya. Ratu Wilhelmina sayang kepadanya. Ratu Juliana apalagi (waktu kawin Gusti Nurul yang nari sebagai hiburan utama). Ratu Beatrix mengenal sosoknya. Raja Belanda sekarang pasti tahu siapa sosok Gusti Nurul (janggal raja Belanda gak tahu soal who’s who orang Indonesia).

Menari menjadi ruhnya Gusti Nurul. Pertama kali menari di depan umum waktu Raja Thailand Rama VII datang ke Puro Mangkunegara 1927 dengan pentas tari ‘Sinta Obong’. Bayangin aja, Raja Thailand yang sekarang Rama IX tuanya kayak apa. Lha, Gusti Nurul ngalamin jaman pamannya Raja Thailand sekarang…

Tahun 1937 Gusti Nurul pernah menari di Belanda dengan iringan gamelan yang dimainkan ‘live’ dari Solo dengan menggunakan siaran radio SVR, radio pertama di Indonesia yang didirikan ayahnya di Solo. Peristiwa menari intercontinental ini (penari dan pemusik berjarak 12.000km) tak dimasukkan dalam sejarah broadcasting, justru siaran sandiwara radio Orson Welles tahun 1938, ‘War of the Worlds’ yang bikin warga New York panik karena takut ada serbuan mahluk luar angkasa seperti cerita sandiwara radio itu.

gusti nurul 1 gusti nurul

Kehadiran Gusti Nurul serta keluarganya di tengah-tengah kaum ningrat Eropa itu menimbulkan rasa ingin tahu dunia Barat (khususnya kaum ningrat kolonialis) tentang eksotisme dunia Timur. “Bagaimana mungkin bisa terjadi bahwa orang-orang Timur ini…yang berabad-abad lamanya telah kehilangan apa-apa, yang bagi kami lebih penting menjadi beradab, bisa mencapai kebudayaan yang begitu tinggi”, tulis Gusti Nurul dalam buku biografi satu-satunya yang diterbitkan Puro Mangkunegaran melalui Himpunan Kerabat Mangkunegaran Suryasumirat (HKMNS).

Ayah Gusti Nurul, Mangkunegara VII ingin budaya Jawa (nusantara) tidak dianggap dienteng oleh Barat dan perlu dipahami oleh negeri-negeri di Barat. Lihat saja waktu Gusti Nurul menikah dengan mas kawin seperengangkat akat sholat dan uang IDR 5 (lima perak) DI HUTANG! Ngutang?

Agar langgeng pernikahannya… Itulah Jawa…

Selamat jalan Gusti Nurul…

 

Berita terkait:

http://regional.kompas.com/read/2015/11/10/21335251/Gusti.Nurul.Perempuan.yang.Diperebutkan.Tokoh.Bangsa.Meninggal.Dunia?utm_source=WP&utm_medium=box&utm_campaign=Khlwp

http://regional.kompas.com/read/2015/11/11/10472761/Pura.Mangkunegaran.Dibuka.untuk.Warga.Melayat.Gusti.Nurul?utm_source=WP&utm_medium=box&utm_campaign=Kknwp

http://regional.kompas.com/read/2015/11/11/10405551/Jenazah.Gusti.Nurul.Dimakamkan.di.Giri.Layu.?utm_source=WP&utm_medium=box&utm_campaign=Kknwp

http://regional.kompas.com/read/2015/11/11/10331931/Dua.Keistimewaan.untuk.Pemakaman.Gusti.Nurul?utm_source=WP&utm_medium=box&utm_campaign=Kknwp

 

 

15 Comments to "Cahaya The World’s First Intercontinental Dancing"

  1. J C  15 November, 2015 at 17:00

    Mas Iwan, urusan dalam Kraton Solo dan Kraton Jogja kalau dibuat artikel berseri kira-kira sepertinya 3 tahun juga tidak bakalan habis ceritanya ya…hehehe…

  2. Lani  13 November, 2015 at 23:27

    ISK : itulah kebanyakan awam berpendapat begitu pdhal pd dasarnya perempuan dan laki2 diciptakan bukan utk di pilah2, di kotak2……..

    Krn banyak otak perempuan yg lebih cemerlang dibanding dgn laki2. Menurutku pemikiran spt awam itu menyedihkan…….

    Tentunya ora digubyah uyah lo ya…….nanti ada yg tersinggung dan tersungging

  3. IWAN SATYANEGARA KAMAH  13 November, 2015 at 22:01

    Tji Lani, itu ‘kan menurut pendapatmu. Yang ada dibenak awam, tidak seperti itu.

  4. djasMerahputih  13 November, 2015 at 20:07

    Pengagum Gusti Nurul. Pengen tau lebih banyak…
    Thanks info kang ISK..

    Hadir telat bang James

  5. Lani  12 November, 2015 at 10:24

    ISK : Wah alasannya sptnya sgt meremehkan perempuan, klu laki2 bs jd raja, perempuan jg bs jadi ratu bukan??

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *