Pertemuan

Ida Cholisa

 

Pertemuan kembali terkadang datang karena disengaja, atau bahkan tak pernah disengaja sama sekali. Pertemuanku dengannya, jujur kukatakan, adalah pertemuan yang tak pernah kusangka sebelumnya. Pertemuan kembali yang terjadi secara tiba-tiba, setelah enam belas tahun tak pernah kutahu kabarnya.

Debur ombak pantai Widuri membawaku pada liukan imajinasi. Duduk seorang diri, menatap laut lepas, sebuah keindahan tersendiri yang benar-benar kunikmati. Aku melihat langit mengecup laut, aku menatap awan berarak pergi. Langit sore memamerkan keindahan tak terperi. Aku jatuh hati. Pada sunyi kukabarkan kesenyapan diri.

“Boleh kutemani?”

Sunyiku terusik. Seorang pria menempati bangku kosong di sampingku.

“Kuperhatikan sejak tadi, engkau menatap laut tanpa pernah berhenti.”

“Apa pedulimu?”

Tak kupalingkan wajahku dari laut lepas di depanku. Wajah lelaki itu luput dari perhatianku.

“Aku tak peduli apa pun tentangmu. Sekadar pembuka bicara saja.”

“Kalau begitu, pergilah. Kau merusak sunyiku.”

Ia tertawa, tiba-tiba.

“Kau menyukai sunyi? Pantas saja aku tak melihat siapa pun di sini. Kau tak takut berkawan senyap seorang diri?”

“Takut?” Aku tertawa. Sedikit mengejeknya.

“Seharusnya kau tak berada di sini, tapi di sana.” Ia menunjuk sebuah tempat, jauh di sana. “Pengunjung pantai akan menghindari tempat ini, tapi kau justru memasuki.”

“Bukankah tempat ini sangat indah? Bodoh sekali mengabaikan keindahan luar biasa ini…”

Ia bergeming. Hening sesaat. Angkuhku mulai terusik.

“Mengapa kau diam saja?” Kutatap wajahnya. Lelaki itu telah duduk di sampingku sepuluh menit yang lalu, tapi baru menit kesebelas ini kutelanjangi lekuk wajahnya. Lelaki itu… ya lelaki itu… mengingatkanku pada sosok belasan tahun lalu…

Aku membuang muka, sekuat yang aku bisa, mengenyahkan lompatan demi lompatan kenangan lama.

“Kau bermain dengan masa lalu. Aku tahu itu. Kau terkenang padaku?”

Ia, tiba-tiba saja, berbicara seolah ia tahu segalanya…

“Terkenang padamu? Jangan buat aku menertawakanmu…”

Ia tersenyum.

“Pandang baik-baik wajahku. Aku Widia, lelaki masa lalumu.”

perpisahan

Aku terkesiap. Dadaku berdesir. Langit jingga keemasan tak lagi memikat pandangan. Pikiranku dipenuhi beragam pertanyaan. Aku baru saja hendak melanjutkan bicara, saat kurasakan hawa dingin begitu terasa. Angin berhembus kencang. Aku menatap laut… aku menatap langit… dan aku ingin menatap lelaki di sampingku…

Aku memalingkan wajah ke arah lelaki itu, tapi aku terhenyak seketika. Lelaki itu telah tak ada. Ke mana perginya ia? Aku menebarkan pandangan ke segala arah, tapi ia tetap tak ada. Ia tak meninggalkan jejak apa pun, kecuali harum kembang setaman yang begitu menyengat…
Tiba-tiba aku dicekam rasa takut tak terkira.

Senja merayap turun. Senyap terasa. Kutinggalkan laut, kutanggalkan teka-teki tentangnya, Widia. Lelaki itu benar-benar ada, lelaki itu benar-benar mengajakku bicara. Tetapi… bukankah lelaki itu telah lama tinggal nama? Aku menerima kabar duka kematiannya, tepat di malam pernikahanku, enam belas tahun lalu. Setelah itu kenangan tentangnya terkubur seiring berlalunya waktu. Kini saat diri bersulam sepi, ia datang sekejap menyapa diri.

Pertemuan ini, apakah benar terjadi, ataukah hanya halusinasi? Entahlah, tapi aku tak sedang merindukan siapa-siapa, saat ini…***

 

 

 

6 Comments to "Pertemuan"

  1. J C  15 November, 2015 at 17:00

    Apik…sungguh apik…

  2. djasMerahputih  13 November, 2015 at 20:11

    Iiiiih, merinding..
    hadir bang James..

  3. Handoko Widagdo  12 November, 2015 at 10:21

    Terima kasih Ibu ida Cholisa.

  4. Lani  12 November, 2015 at 00:51

    James satu kenthir muncul, mau dikasih apa?

  5. Dj. 813  11 November, 2015 at 21:07

    Dimana ada pertemuan, disana juga akan ada perpisahan .
    Terimakasih dan salam .

  6. james  11 November, 2015 at 14:47

    1……..kapan yah Pertemuan para Kenthirs ? muncul saja belum nih

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.