GAWAI

Anwari Doel Arnowo

 

Kepada banyak orang, baik tertulis maupun bicara verbal langsung, saya sering mengatakan bahwa sudah sekitar 15 tahun terakhir ini saya berjalan kaki santai tetapi berkeringat, sebanyak 7.000 langkah hampir pada setiap hari, kecuali hujan atau salju sedang lebat turun. Angka 7.000 itu saya pantau selalu dengan mesin penghitung yang menggunakan jari sambil menghitung dengan alat kuno pencet-pencet setiap langkah kaki. Itu saya lakukan ketika sebelum tahun 2005an.

Lebih dari 7 tahunan saya, pada saat ini,  menggunakan alat-alat lain yang ada aplikasi pedometernya. Kemudian sekali iPod yang di dalamnya ada aplikasi pedometernya yang merupakan salah satu aplikasi dari gadget (kata di dalam bahasa Indonesia: GAWAI) merk Apple yang berisi banyak musik segala macam dan ragam, dengan atau tanpa penyanyi, beraneka lagu. Beratus-ratus bahkan ribuan lagu bisa didengarkan melalui gadget atau gawai ini. Juga dengan pedometer bisa terlihat berapa banyaknya langkah kita telah lakukan berjalan kaki. Berapa kalori telah terbakar selama sekian langkah itu dan sebagainya. Jangan lupa memutar lagunya selama kita berjalan kaki, sehingga harus ekstra berhati-hati. Apa sebab hati-hati?

Hati kita sedang nyaman mendengarkan iPod, kita mungkin lengah terhadap sekeliling kita, bukan saja terhadap lalu lintas, dengan sesama pejalan kaki saja bisa bertumburan.

Mendengarkan penyanyi melantunkan lagu merdu, bisa saja kita tidak mendengar bunyi bel sepeda orang yang mengendarainya dengan kecepatan yang sulit untuk bisa diberhentikan dengan rem yang mendadak.

Ilustrasi kata-kata dari Ellen Degeneres dari Canada yang biasanya selalu lucu, di sini telah memicu saya untuk membuat tulisan ini. Di negeri kita bisa terjatuh sebab kurang memperhatikan lubang-lubang aspal atau batu yang menonjol dan atau sepeda motor yang geraknya seperti tidak-peduli-setan lagi lajunya. Jalannyapun tidak jelas apa tanda-tanda petunjuk tata cara berlalu lintasnya. Eh jangan marah dahulu membaca tulisan begini. Ini bukan menghina atau merendahkan diri orang sebangsa.

Bagi saya justru tulisan begini bila disimak dengan hati, dimasukkan ke dalam pemikiran kita yang lugas, Itu pasti akan memperbaiki banyak kesusahan yang sudah pernah terjadi dan saat ini amat konsisten diulang-ulang terjadi lagi dan lagi. Kata bahasa Jawanya ada yang amat sesuai yaitu: TAMBENG yang artinya jelas-jelas dengan sengaja mengulang-ulang tindakan kurang elok, dengan teramat sadar.

Minggu lalu saya sempatkan pergi mengunjungi serta  “lihat-lihat”, mengamati pameran komputer dengan segala kelengkapannya. Banyak gawai yang baru yang tidak pernah saya lihat ketika dua tiga bulan yang lalu. Barang-barang ini tidak pernah berhenti berinovasi dan bermetamorfose menjadi lebih canggih dan lebih dan lebih terus dan terus setiap tiga sampai enam bulan dan berulang-ulang.

gadget

Lebih canggih dan lebih murah secara terus-menerus. Bagi kaum jet-set, beli yang paling baru adalah keharusan untuk keperluan bersolek tampak modern, berstatus simbol. Memang perlu punya atau tidak, itu tidak termasuk perlu tidaknya ditimbang sebaik-baiknya. Adalah penting sekali mendahulukan GENGSI. Itu nomor satu. Alangkah rumit dan beratnya beban buatan sendiri seperti itu, dalam membentuk apa yang dikenal dengan kata image. Kalau dipikir baik-baik image seseorang itu yang paling merasa senang dengan imagenya itu, ya dia sendiri. Pada banyak kesempatan,  orang lain tidak menyadari akan adanya image seseorang yang ingin ditontoni oleh orang lain.

Ternyata penonton yang paling kritis mengamati image itu adalah dirinya sendiri juga!!! Itu saya pandang sebagai suatu pemborosan uang, waktu dan tenaga.

Saya sendiri pernah mejadi korban gawai terbaru dari cellphone Nokia pada awal tahun 1990. Setiap keluar model terbarunya, saya bisa pasti muncul sebagai pembeli pertama di Indonesia. Kuala Lumpur dan juga Singapura biasanya mendapatkan gilirannya belakangan kemudian.

Seseorang dari Malaysia terbang ke Jakarta hanya supaya bisa menjadi pembeli pertama Nokia 9000, ini saya diberitau manager Nokia di Jakarta. Dia bilang si Malaysian itu akan datang besok pagi-pagi sekali dari Kuala Lumpur. Saya tanya kapan barangnya akan tiba di Jakarta. Tanpa berkata ba tau bu, saya keluarkan 1000 US$ dan membayar prototype yang cuma ada dua saat itu.

Satu diberikan kepada saya, karena saya kenal dia. Nah saya bawa besok paginya terbang ke Surabaya dan meneruskan perjalanan saya ke Gunung Bromo. Saya maik ke pinggir kawahnya tempat mereka melempar sesajen. Saya buat photo Nokia  prototype itu berlatar belakang kawahnya gunung Bromo. Malam hari itu saya sudah tiba kembali di Jakarta. Ketika saya tunjukkan photo itu, mereka amat senang bergembira dan segera mengganti prototype itu dengan paketnya yang satu unit baru, nomor satu di Indonesia. Pihak Nokia cerita sama saya si Malaysian itu katanya kecewa amat berat. Ha ha, bukankah antara saya dengan dia memang tidak ada perlombaan, kan?

Satu minggu kemudian saya  berada di Singapura. Secara resminya di Singapura model itu belum diedarkan.

Saya jalan-jalan ke Sim Lim Centre di pojok Bencolen Street, yang seperti tempat jual beli alat-alat komunikasi telepon di Roxy dekat Cideng, Jakarta. Seperti biasa para penjual di Sim Lim ini merasa Singapore is the best.

Mereka menawarkan kepada saya Nokia yang saya tidak tau jenis apa tetapi berupa dua unit yang bisa disusun dua menjadi satu. Model yang saya punya saya sebutkan kepadanya dan saya bilang sudah satu unit saja, bukan dua. Dia tidak percaya dan menanyai saya ini orang dari mana. Saya jawab Indonesia dia tersenyum sambil agak mengejek dan menyebut impossible for Indonesia. Saya bilang bahwa saya baru membelinya seminggu yang lalu. Ketika dia menyeringai tidak percaya, saya keluarkan dari saku celana saya. Dia terbelalak dan ketika dia minta mencoba memegangnya, saya tepis tangannya dan saya berlalu. Dia bengong  mulutnya terbuka menganga, tidak percaya bahwa saya berbuat seperti itu. Apa rasanya hati saya? Puas? Iya, kapan lagi mengejek orang Singapura?? Ha ha, gara-gara gawai saya me”nikmat”i rasa sombong.

Benar memang ada rasa nikmat. Saya pikir ini manusiawi saja. Biasanya saya tidak sombong kok! Ha ha ha. Dari Singapura pulang ke Jakarta saya naik Quantas. Saya kutak katik tanpa sadar sebenarnya tidak dibolehkan membuka pakai pesawat telepon genggam.

Purser yang ngganteng orang Australia putih, air crew  dari maskapai penerbangan Quantas, ketika melewati tempat duduk saya selangkah, dia mundur kembali dan bergerak mendekat ke saya. Wah saya pasti ditegur, nih. Eh ternyata dia mendekatkan kepalanya dan matanya memelototi gawai saya itu. Dia tanyai saya ini dan itu mengenai gawai baru itu, tetapi pada akhirnya dengan amat sopan dan halusss sekali dia meminta saya untuk menutupnya. Ada juga kecualian seperti ini eh..Beberapa kali berikutnya bila dia lewat, selalu mengangguk sopan sambil tersenyum kepada saya. Hanya karena gawai baru saja, bisa begitu !!

 

Anwari Doel Arnowo  –  10 Nopember, 2015

 

 

7 Comments to "GAWAI"

  1. J C  15 November, 2015 at 17:05

    Pak Anwari, gawai memang semakin hari semakin tidak bisa dilepaskan dari keseharian kita semua. Bahkan orang-orang lebih rela ketinggalan dompet atau SIM dibanding ketinggalan gawainya…hehehe…

  2. Alvina VB  15 November, 2015 at 07:20

    Hadir walaupun telat mbakyu Lani.
    Ikutan nyimak dah…jadi tahu kl gawai itu gadget. Dulu terjemahan gadget itu bukannya alat/perkakas?

  3. djasMerahputih  13 November, 2015 at 19:25

    Nyusul di belakang bang James..

    Menjadi orang pertama memiliki sesuatu pasti terasa spesial.
    Thanks sharingnya Cak Doel.. Sehat selalu.
    Salam dari tanah air..

  4. James  13 November, 2015 at 13:01

    Hello ci Lani, hadir nih biar telat juga

  5. Handoko Widagdo  13 November, 2015 at 10:27

    Gawai telah menjadi pahlawan? Ini 10 November.

  6. Lani  12 November, 2015 at 23:27

    Mengingat trio kenthirs lagi pd kemana ya?

  7. Lani  12 November, 2015 at 23:27

    CAK DOEL : Gadget=Gawai dlm bhs Indonesianya? Wah, baru tahu………nampaknya hrs belajar dan memantau perkembangan bhs Indonesia klu tdk mau ketinggalan

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.