Kelas 205

Handoko Widagdo – Solo

 

kelas 205

Judul: Kelas 205 (Among Schoolchildren)

Penulis: Tracy Kidder

Tahun Terbit: 2005

Penerbit: Qanita

Tebal: 604

ISBN: 979-3269-34-0

Anak lelaki kecil itu sedang duduk di mejanya, hari demi hari, tahun demi tahun, hampir-hampir tidak mempelajari apapun, bahkan tidak memahami setengah dari apa yang dibicarakan (hal. 155).

 

Seringkali tanpa sadar kita telah membuat kutipan di atas terjadi di kelas-kelas kita. Kita tidak peduli apakah anak mengerti apa yang sedang terjadi di dalam kelas. Kita terlalu fokus kepada kurikulum, RPP dan skenario tatap muka yang sudah kita siapkan. Betapa kejamnya sekolah jika hal tersebut terjadi. Sekolah tak ubahnya seperti penjara.

Pendidikan dasar di Amerika adalah pendidikan yang berorientasi kepada pengembangan potensi anak. Setiap anak mendapat perhatian untuk mencapai kemampuan maksimal yang mereka bisa capai. Sekolah dan guru tidak dipaksa menjalankan kurikulum untuk setiap anak. Kurikulum menjadi acuan bagi guru untuk mengembangkan potensinya. Jika diperlukan, guru dan sekolah bisa membuat program khusus untuk mengembangkan potensi anak. Sekolah mendapat dukungan berupa akses kepada psikolog dan dinas sosial dalam membantu anak-anak yang mengalami masalah dalam belajar.

Kebijakan pendidikan dasar Amerika Serikat lebih mengutamakan ketersediaan guru bagi semua kelas daripada kualitas gurunya. Dengan demikian negara mampu menyediakan anggaran gaji guru yang tidak perlu dibayar mahal. Meski yang menjadi guru tidaklah orang-orang yang mempunyai kemampuan akademik yang tinggi, namun sistem pelatihan dan dukungan kepada guru dibuat sedemikian rupa sehingga guru bisa menjalankan tugasnya dengan baik. Calon guru melalui proses magang selama 36 minggu dengan kurikulum yang sangat baik dan dibimbing oleh guru senior. Program magang dilakukan di dalam kelas yang sama. Mula-mula si pemagang menjadi asisten guru dan pelan-pelan diberi kesempatan untuk mengajar di kelas. Pada akhir proses magang si pemagang benar-benar memegang kelas selama 3 hari. Jika ada buku pelajaran baru, maka penerbit wajib melakukan pelatihan kepada guru yang akan menggunakannya. Guru juga diberi kebebasan untuk berinovasi membantu semua muridnya satu per satu.

Obsesi untuk mewujudkan pendidikan dasar yang benar-benar mengembangkan potensi setiap anak seperti yang didambakan oleh Horace Mann, John Dewey dan Du Bois, telah membuat kritik terhadap pendidikan di Amerika sangat kuat. Kritik itu datang terutama setelah perang dunia II usai. James Conant, Kozol dan Kohl misalnya berseru-seru untuk membuat pendidikan dasar di Amerika benar-benar kembali kepada cita-cita utama, yaitu menyiapkan embrio bangsa.

Anak adalah pusat dari proses pembelajaran. Pelajaran matematika dan Bahasa dilakukan lintas kelas. Anak-anak dikelompokkan sesuai dengan kemampuannya. Tujuan pembelajaran matematika dan Bahasa adalah supaya setiap anak tuntas dengan kemampuan dasar yang disyaratkan saat mereka lulus sekolah dasar. Bagi anak-anak yang tidak berbahasa Inggris sebagai bahasa ibu, sekolah menyediakan kelas bi-lingual. Mata pelajaran lainnya disampaikan dengan cara yang menarik minat siswa. Contohnya, pelajaran IPS (sejarah) yang biasanya hanya menghafal tahun-tahun dan tokoh-tokoh, diajarkan dengan cara “IPS model Rambo” (hal 250 – 258). Pekerjaan rumah (PR) diberikan untuk menilai kemajuan siswa. Artinya guru akan memeriksa hasil pekerjaan siswa untuk mengetahui kemajuan belajarnya. Tidak semua anak harus mendapatkan nilai A. Jika kemampuan anak memang terbatas, maka nilai C sudah sangat menggembirakan. Yang terpenting setiap anak mengalami peningkatan dalam belajarnya.

Buku ini bercerita tentang Christine Zajac seorang guru kelas 5 di SD Kelly di daerah kumuh Holyoke, Massachusetts. Chris, demikian nama panggilannya –siswanya memanggilnya dengan Bu Guru Zajac, adalah putra daerah. Chris adalah guru yang bersemangat dan berupaya membantu semua muridnya. Sering kali semangatnya dan juga frustasinya dibawa ke rumah. Beruntunglah Chris yang memiliki suami yang bisa mendengar segala keluhannya dan perilakunya sebagai guru di kelas yang dibawanya ke dapur atau tempat tidur. Sering tanpa sadar Chris mengeluh secara berlebihan kepada Billy suaminya. Kadang-kadang dia memperlakukan Billy seakan-akan dia adalah salah satu muridnya.

Sebagai sekolah di wilayah kumuh, murid Chris beragam. Kebanyakan murid berasal dari keluarga imigran dari Puerto Rico. Anak-anak keluarga imigran ini memiliki perilaku dan kecerdasan yang beragam. Demikian pula dengan anak-anak kulit putih berlatar belakang Irlandia dan Perancis. Jadilah siswa di kelas Chris sangat beragam. Beragam dari sisi bangsa, warna kulit, status ekonomi dan kecerdasan. Ada anak yang sangat patuh, ada anak yang bahkan memanggil Chris dengan sebutan Tukang Sihir! Ada yang rajin belajar, ada yang tak pernah mengerjakan PR-nya. Chris harus berhasil mengajar semua anak yang beragam tersebut. Sebab bagi Chris, semua anak itu memiliki keunggulan. Bagi Chris semua anak berupaya untuk menarik perhatiannya, meski caranya berbeda-beda.

Kidder menggambarkan pergumulan Chris untuk mengembangkan semua muridnya. Chris menghadapi Clarence yang selalu bikin masalah di kelas, Pedro yang suka menyakiti diri sendiri, Claude yang tidak bisa konsentrasi, Judith yang dewasa dan memiliki bakat akademik yang tinggi, Robert yang memiliki gangguan jiwa dan sederet murid lain. Kidder mau mengatakan bahwa guru adalah kunci dari pendidikan. Guru seperti Chris, yang dari hatinya memang ingin membantu siswanya menemukan potensinya. Meski Clarence akhirnya harus masuk ke kelas khusus, dan Robert gagal untuk membuat karya akhir, namun kelas Chris berhasil membuat semua muridnya menemukan potensi yang mereka miliki.

Guru yang berhasil bukanlah guru yang membantu anak-anak yang siap belajar. Guru yang berhasil adalah guru yang membuat semua siswanya siap belajar.

 

 

About Handoko Widagdo

Berasal dari Purwodadi, melanglang buana ke berpuluh negara. Dengan passion di bidang pendidikan, sekarang berkarya di lembaga yang sangat memerhatikan pendidikan Indonesia. Berkeluarga dan tinggal di Solo, kebahagiaannya beserta istri bertambah lengkap dengan 3 anak yang semuanya sudah menjelang dewasa.

My Facebook Arsip Artikel

15 Comments to "Kelas 205"

  1. Handoko Widagdo  17 November, 2015 at 06:08

    Lani, yang pakai kata “nggenah” itu Kang JC, bukan aku. Aku memakai kata gemblung.

  2. Lani  17 November, 2015 at 01:52

    HAND : hahaha…….kata “nggenah” ditaruh dlm tand petik tau sendirilah artinya……….

    Benar banget, guru saudara pakenthiran

  3. Handoko Widagdo  16 November, 2015 at 10:26

    Mereka berdua itu guru gemblung Kang JC.

  4. Handoko Widagdo  16 November, 2015 at 10:23

    Ungkapan yang sangat tepat Avy.

  5. J C  15 November, 2015 at 17:04

    Paling tidak di BALTYRA ada 2 guru yang “nggenah”, yaitu mbakyu Probo dan Wesiati…

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *