Secangkir Kopi dan Sebuah Kisah

Dwi Klik Santosa

 

“Apa yang akan kau bawa ketika akan bertamu ke rumah salah seorang sahabat?”

Sebuah maksud tentunya.

“Ya, tentu saja. Bagaimana mungkin mendatangi suatu tempat tanpa sebuah tujuan. Lalu apa kira-kira yang kau pikirkan tentang sebuah maksud itu? Sebuah todongan untuk suatu keperluan yang tak bisa kau atasi? Sebuah tudingan karena kau merasa dirugikan? atau apa? “

Tidak. Aku hanya sekedar ingin menyampaikan saja. “Hai, aku datang kepadamu. Maukah kau mendengar mimpi-mimpiku?”

“Mimpi-mimpimu? ..”

Ya, akan selalu ada secangkir kopi untukku, pada setiapkali kunjungku, dari pintu ke pintu rumah para sahabat. Dan dengan senang hati mereka selalu mendengarkan kisah setiap mimpiku. Bahkan, akan terbiasa mereka menunggu kedatanganku, berharap akan bisa mendengar lagi apa yang ingin kukisahkan.

“Oh, ya …. mimpi-mimpi …. sebentar. Mimpi apa, sebenarnya yang selalu kau kisahkan kepada sahabat-sahabatmu itu?”

Kau ingin tahu?

“Ya, tentu saja. Kalau tidak keberatan, ayo cepat katakan.”

Oooww tentu saja. Tapi ….

“Tapi apa?”

Maukah kau membuatkan secangkir kopi untukku?

“Huh! … Baiklah …”

Wouwww … secangkir kopi dan sebongkah mimpi. Kamu siap mendengar kisahku.

“Ya, iya … sudahlah. Cepat kau teguk kopimu dan lekas kau beritahu kisahmu itu.”

Baiklah. Baiklah …. kau tahu, kenapa setiap pohon itu ditanam, disirami, dijaga daunnya agar tak dimakan serangga?

“Emmm .. ya. Untuk apa?”

Kau tahu, kenapa orang-orang baik itu suka tersenyum?

“Emm … ya. Tapi ada orang baik yang jarang tersenyum.”

Tapi orang baik, siapa pun itu, aku percaya punya sebidang hati yang lapang dan luas. Meski kadang tak nampak senyumnya, tapi sekali lagi aku percaya, aura yang dipancarkan sebungah mekar bunga. Lengkap dengan pesona warna dan aromanya tentunya. Para pecinta bunga adalah si pemilik hati yang senantiasa mekar mengagumkan keindahan. Tidak nampak kadang senyumnya, namun menyimpan keagungan itu dari sikapnya yang sabar dan penyayang.

“Ah, kau ini. Apa sebenarnya maksudmu. Mimpi-mimpi apa? Yang mana?”

Baiklah, biar kuseruput dulu kopi buatanmu. Biar kurasai dulu seberapa pahit dan manis itu beradu. Ya, ya … dengan begini aku bisa mengerti hal yang membuatmu penasaran dan menjadikan tanyamu bernada begitu.

“Emm .. ya, ya. Baiklah … emm ..”

Perjalanan. Kau tahu. Setiap yang lahir dan hidup. Pastilah bergerak. Dari catatan yang ada dan pernah kubaca. Semuanya saja bergerak ke arah cahaya. Sebuah pencarian, menyebabkan yang hidup itu mengikuti ritme perlawatan cahaya itu. “Aku ingin menangkap cahaya itu!” Kau bayangkan, jika setiapkali kukisahkan begitu, kepada siapa saja yang ingin mendengarkan kisah mimpi-mimpi itu. Dan karenanya, setiapkali, aku merasa seperti menjadi manusia yang paling beruntung. Tangan-tangan yang gemulai itu selalu melambai seperti tarian ilalang, mengajakku untuk sejenak mampir. Dengan secangkir kopi tentunya, dan selalu mengikatnya dengan tanya, “Hai, bagaimana lalu tangan-tangan yang senantiasa ingin menangkap cahaya itu?”

“Ya, ya .. bagaimana lantas dengan tangan-tangan itu. Pernahkah mampu menangkap cahaya itu?”

Waaahh …. Mendung yang tebal. Sepertinya sebentar lagi akan hujan. Kalau tidak keberatan. Aku ingin berpamit dulu kepadamu. Meski belum kukenal dan kurasai senyum itu darimu, tapi secangkir kopi yang kental ini. Pahit dan manisnya sudah terasa padu di lidahku. Dan pertanyaanmu itu .. pertanyaan yang sama dengan pertanyaan-pertanyaan para sahabat lainnya. Yang baik hati dan selalu tergugah untuk mendengarkan kelanjutan dari kisah pencarian dan perjalanan cahaya itu.

Terima kasih, sudah mau mendengar kisahku. Kalau nanti ada waktu dan Tuhan bermurah hati menuntunku kembali menuju pintumu, semoga bisa kurasai lagi secangkir kopi buatanmu. Dan tentunya, menarik bagiku untuk tahu, senyum itu muncul dari seraut wajahmu. Mekar sebagaimana senyum-senyum yang pernah kukenal. Dengan begitu, aku percaya, pastilah akan kau tanyakan lagi, lanjutan dari kisah yang belum selesai itu. Cahaya yang akan terus muncul dari asalnya dan membagi sebagaimana indah seperti adanya. Panas yang akan mampu menerbitkan gelora dan elok bunga-bunga. Dan menyegarkan aura bagi sesiapapun para pemilik cinta dan cita-cita. Untuk bergerak dan lalu mencari asal mula cahaya itu. Sekali lagi, terimakasih, atas kebaikanmu hari ini, telah sudi mendengar ceritaku. Sampai jumpa lagi.

 

 

7 Comments to "Secangkir Kopi dan Sebuah Kisah"

  1. J C  15 November, 2015 at 17:05

    Asik menyimak…sambil ngopi juga…

  2. James  15 November, 2015 at 08:04

    Alvina dan Ci Lani, ngebayangin pakai rokok dulu sebelum stop rokok, bukan sekarang ini sudah quit sejak tahun 92 lalu

  3. Alvina VB  15 November, 2015 at 07:16

    Ikutan menyimak ceritanya walaupun telat. Setuju sama mbakyu Lani. James, kl ngopi ditemenin singkong rebus/ goreng/ketela rambat yg ungu/sweet taro, sip lah…apa enaknya pake rokok?
    Thanks Djas.

  4. Lani  14 November, 2015 at 08:48

    James no rokok, tp kopi dgn singkong rebus, goreng, atau ketela rambat yg ungu/ube/sweet taro

  5. james  14 November, 2015 at 04:48

    hadir lagi bang Djas…….halah Captcha code nya kebagian WC 39 euy

    paling enak secangkir kopi dan sebatang rokok atau sepotong ketela atauun singkong atau pisang goreng manis

  6. Lani  13 November, 2015 at 23:24

    KANG DJAS : mahalo ya

  7. djasMerahputih  13 November, 2015 at 19:09

    Nah, ceritanya belum lengkap udah pamitan..
    Baiklah.. kutunggu kedatanganmu di lain waktu.
    Akan kusiapkan secangkir kopi terlezat..!!

    Absenin trio Kenthir.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.