Bukan Permainan

Dian Nugraheni

 

Hidup bukanlah permainan, dan tak layak dipermainkan. Tapi sebagai makhluk bermain, manusia bolehlah mengisi hidupnya sambil juga bermain biar hati gembira.

Sebagai nomaden, kami nggak perlu barang mahal atau mewah, karena bisa saja setiap tahun kami pindah dengan alasan tertentu. Maka kami tak malu-malu pergi ke toko barang-barang bekas, untuk mendapatkan beberapa perabot yang kami perlukan.

Juga bolehlah kami sesekali beli barang baru, sesuai ukuran kantong…Nahh, ini satu set meja, warna biru, adalah pilihan si Kakak yang memang hobby warna biru. Waktu itu dia sibuk meneliti dan mencari satu set meja makan, di website secara online. Dia sendiri yang pilih modelnya, warnanya, dan kemudian memesan secara online dengan memakai kartu kreditku, seharga cuma 91 dollar something.

meja

Ngeliat bentuk dan warnanya itu lho.., kayak rumah-rumahan barbie aja, satu set meja makan dengan warna “main-main”..he..he..Duduknya pun aku ragu, mbokan langsung gubraaak…secara si Mak kan udah gendut beeng sekarang.

Kata si Kakak, “Mamah, enggaklah kalau ambruk, orang bikin perabotan pasti sudah diukur…lagian Mamah nggak gendut-gendut amat…”

Nggak gendut-gendut amat itu ya berarti gendut, Kak, cuma nggak amat…hixixixixi..

Kemudian, “Ini Mah, uangnya 100 dollar buat Mamah, buat gantiin yang diambil dari credit card..”

Aku, “Nggak usah Kak…”

Si Kakak, “Nggak apa-apa, ini uang masih aku simpan, Mamah inget, yang dikasih tante Evi waktu kita makan malam bersama di (washington) DC…”

Lalu uang aku terima. Sambil agak “nggregel” dikit dalam hati, bersyukur bahwa si Kakak tau harus gimana, dan dia bukan anak yang pelit sama Mamahnya.

Tuhanmu menyayangimu, ya Kak…panjang umur, sehat, dan murah rejeki, diberi berkah kemuliaan di setiap langkahmu…

 

(Wong tuwa isane mung ndonga…)

 

 

5 Comments to "Bukan Permainan"

  1. J C  24 November, 2015 at 17:09

    Baca artikel Dian Nugraheni selalu mak nyeeessss…

  2. Kornelya  18 November, 2015 at 20:52

    Anak mengerti apa yg dimaksudkan dengan “EARN”, rata2 anak disini begitu ya, tidak ada mental foya-foya atau cari gampang. Mungkin karena di Amerika tidak punya budaya/kebiasaan uang jajan, sehingga anak sangat menghargai uang.

  3. Dj. 813  18 November, 2015 at 18:49

    Terimakasih mbak Dian . . .
    Anak-anak semakin besar dan semakin mandiri.
    Juga dengan tanggung jawab terhadap keluarganya .
    Sallam,

  4. Lani  18 November, 2015 at 00:09

    Mengingat trio kenthirs……………

  5. Lani  18 November, 2015 at 00:09

    Dian kali ini artikelmu bikin mesem2 sendiri……….

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.