Kenangan Cerdas Cermat

Fire – Yogyakarta

 

Melihat adegan cerdas cermat dalam pilem Laskar Pelangi, saya jadi teringat kenangan cerdas cermat waktu SD dulu. Sewaktu kecil, setiap Sabtu sore, kalo nggak salah sekitar setengah lima sore, ada acara yang kami tunggu-tunggu. Bukan pilem kartun, tapi acara cerdas cermat dari TVRI Jogja.

Jadi setelah mandi sore, kami duduk manis di depan tipi. Sambil ikut cepet-cepetan nyeletuk jawaban. Pembawa acara sekaligus pembaca pertanyaan yang sering tampil pada waktu itu adalah Ken Utami. Kami waktu itu sering guyonan, “Siapa nama suaminya Ken Utami? Ken Arok apa Ken Norton?” Juri yang bertugas memberi nilai maupun sang pencatat nilai di papan tulis sering berganti-ganti, tetapi ada satu posisi yang tetap, walaupun orangnya hampir nggak pernah ngomong dan hanya diwakili oleh bunyi bel. Dialah sang pencatat waktu, Dewobroto.

Waktu SD saya pernah berharap semoga suatu saat sekolahku juga bisa ikutan acara cerdas cermat di tipi, tapi sayang nggak kebagian. Mungkin karena sekolah yang ngantre juga banyak, dari tingkatan SD,SMP, sampai SMA. Padahal acaranya cuma seminggu sekali. Nggak bisa masuk tipi deh, hiks …

CerdasTangkas

Ada juga acara cerdas cermat dari TVRI pusat yang dulu saya suka nonton, meski jam waktunya nggak pasti, yakni cerdas cermat P4 tingkat nasional. Kadang ditayangkan secara langsung, kadang juga rekamannya ditayangkan di sebuah acara bernama Gema Pancasila. Saya lebih suka kalo pas ada cerdas cermatnya daripada pas dialog di acara tersebut, soalnya saya nggak mudeng dialognya diisi oleh orang-orang bertampang serius yang ngomongnya mbulet.

Waktu SD, kami ikut perlombaan cerdas cermat P4. Saat itu Pak Guru sampe mengadakan pelajaran tambahan di sore hari, khusus men-drill murid-murid  dengan materi cerdas cermat P4. Dari  isi pembukaan UUD’45, sampe hampir seluruh pasal dan ayat di batang tubuh UUD’45, kami hapal nglothok di luar kepala. Termasuk juga sejumlah TAP MPR dan TAP MPRS, yang sampe hari ini masih terngiang-ngiang di kepala, seperti TAP MPR no II/MPR/1978. Sebagian mengenai GBHN.

Dan yang pasti harus hapal adalah 36 butir, sila kesekian butir kesekian, mesti hapal. Tapi kalo yang 36 butir ini sekarang sudah banyak lupa. Dan satu lagi materi yang entah nyambung entah nggak sama P4, yaitu ngapalin nama menteri. Untung waktu itu nggak ada istilah reshuffle, jadi nama menteri nggak gonta-ganti sampe 5 tahun kecuali menterinya mati. Meski waktu itu ada yang namanya menteri muda, tapi kok nggak ada menteri tua ya?

Singkat cerita setelah melalui sebuah seleksi yang murni dan konsekwen, terpilihlah kami 3 orang siswa, mewakili sekolah dalam lomba cerdas cermat P4. Siapa yang ditunjuk oleh Pak Guru sebagai juru bicara? Tentu saja yang paling ganteng …meski waktu itu Pak Guru belum mengenal Brad Pitt, tahunya baru Barry Prima dan Advent Bangun. Sementara saya sendiri tahunya baru Eva Arnaz dan Enny Beatrice …. Saya belajar dengan giat, sambil diam-diam memendam sebuah cita-cita luhur …. pengin masuk tipi … Yah, siapa tahu suatu saat ada produser pilem yang tertarik mengajak casting, bisa main bareng sama Rhoma Irama dan Suzanna, katakanlah judul pilemnya semacam “Petualangan satria bergitar menumpas kutukan Nyi Roro Kidul …”

Berkompetisi dengan sekolah lain dalam satu rayon, lalu naik ke level selanjutnya, sampe kemudian kami tampil di sebuah gedung pertemuan besar. Kalo dulu biasanya cuma ditonton teman sekelas, lalu mesti tampil di hadapan ratusan orang yang nggak kami kenal. Jantung berdebar-debar, suarapun ikut bergetar. Kadang jawaban yang sudah beratus kali dihapal pun jadi ambyar.

gambar1

Akhirnya perjuangan kami pun harus terhenti. Meski belum lagi masuk tipi. Yo uwis, aku rapopo. Sebuah pengalaman berharga. Terus terang, itulah pertama kalinya kami bicara di depan mikropon di hadapan banyak orang, tentu saja bila nggak dihitung episode bermain-main dengan mikropon di sekolah. Waktu SD ada empat mikropon di sekolah yang biasanya dipergunakan untuk keperluan upacara bendera. Satu buat pembaca acara, satu buat pembina upacara, satu untuk pembaca pembukaan UUD, dan satu untuk paduan suara. Biasanya sebelum upacara, kami sering iseng bermain-main dengan mikropon dengan resiko dimarahi Pak Guru.

Kini masih kusimpan hadiahnya, buku Tabanas dengan saldo lima ribu rupiah. Saat itu harga es puter dalam jepitan roti tawar di depan sekolah adalah duapuluh lima rupiah. Jadi dengan lima ribu rupiah, saya bisa jajan es puter selama 200 hari, atau sekitar dua caturwulan.

gambar2

Tapi saya memilih untuk nggak jajan, dan membiarkan saldo lima ribu rupiah itu mengendap abadi. Entah, apakah mungkin sekarang catatan tabunganku pun sudah terhapus dari bank, tapi kenangan itu nggak bakal terhapus.

Berikut, kita imajinasikan suasana cerdas cermat Baltyra. Hadiah utamanya sebuah dingklik multiguna yang bebas guna-guna. Hadiah hiburannya adalah bebas komen di Baltyra tanpa mesti nyetor capcay…habis sekarang tiap komen mesti pake capcay, bukan bakwan …

“Regu A, dari SD Kenthir Bersatu 06 pagi Berbantuan, dengan juru bicara Brad Pitt, didampingi oleh sebelah kanan saya, Sharon Stone, sebelah kiri saya, Pamela Anderson …”

“Regu B, dari SD Ngupoyo Waras 110/220 AC/DC, dengan juru bicara Lani van Kona, didampingi oleh sebelah kanan saya, Papa Josh, sebelah kiri saya, Mbokdhe Elnino.”

“Regu C, dari SD Mblarak Sempal 69 unlimited – syarat dan ketentuan berlaku, dengan juru bicara Mugiyem de Janeiro, didampingi oleh sebelah kanan saya, Yu Mberok, sebelah kiri saya James Bonyok”

Regu A punya strategi untuk memperpanjang waktu berpikir, kalo tiba pertanyaan yang memerlukan perhitungan lama, maka Sharon Stone segera mengambil posisi jegang. Dijamin pencatat waktu bakal ndomblong lupa mana yang harus dicatat ….

Regu B, lain lagi modusnya, bila tiba saat pertanyaan lemparan, maka juru bicaranya akan melempar asesoris kiwir-kiwir, sehingga para juri mendem semua.

Regu C, juru bicaranya ngumpetin smartphone di kutang, sayang lupa masih di-setting mode getar sehingga bila ada panggilan masuk maka sang jubir langsung menggelinjang bagai kesurupan Nenek Gayung, yang masih menjadi misteri adalah gimana caranya sang juru bicara tutal-tutul layar smartphone secara handsfree, soalnya waktu teman sebelah kirinya mau ikut bantu nutul langsung dikampleng …”

Klimaksnya adalah saat tiba pertanyaan rebutan. Maka terjadilah kehebohan di kalangan penonton, karena para wanita serentak maju ke depan, untuk ikut memperebutkan …. Brad Pitt….

Baiklah teman-teman, kenthir bersatu tak bisa dikalahkan …

Trilogi Baltyra:
1. Pertumbuhan silent-reader yang cukup tinggi
2. Stabilitas yang kenthir dan dinamis
3. Pemerataan kesudrunan dan hasil-hasilnya secara murni dan konsekwen

 

 

About Fire

Profile picture’nya menunjukkan kemisteriusannya sekaligus keseimbangannya dalam kehidupan. Misterius karena sejak dulu kala, tak ada seorang pun yang pernah bertatap muka (bisa-bisa bengep) ataupun berkomunikasi.

Dengan tingkat kreativitas dan kekoplakannya yang tidak baen-baen dan tiada tara menggebrak dunia via BALTYRA dengan artikel-artikelnya yang sangat khas, tak ada duanya dan tidak bakalan ada penirunya.

Arsip Artikel

15 Comments to "Kenangan Cerdas Cermat"

  1. J C  24 November, 2015 at 17:08

    Ladalaaaaaaahhhh aku kok jadi melu Regu B… (bener Dewi, iki murid Pakem ucul…huahahahahaha)

  2. Linda Cheang  20 November, 2015 at 14:00

    Dingklik memang multi guna, ya, HUAHUAHAHAHAHAHAHA

  3. elnino  20 November, 2015 at 13:20

    aku pernahi kut cerdas cermat di tvri jogja dg pembawa acara ken utami, bret. juara 2 sd ku.

    nama lainnya tebak tepat, cepat tepat.

    kamu urik bret, cerdas cermat baltyra kok kamu pake topeng.

  4. Dewi Aichi  20 November, 2015 at 08:32

    Oya cerdas cermat yang saya ikuti saat itu adalah mengenai P4 dan Uu ketenagakerjaan.

  5. Dewi Aichi  20 November, 2015 at 08:29

    Wakakakakkakkaa..Fire kenthir asli ucul dari Pakem.

    ngomong2 soal cerdas cermat, saya juga punya pengalaman. Tapi bukan saat sekolah, justru selagi saya menjadi karyawan di bogasari. Babak awal bertanding melawan antar perusahaan yang saat itu masuk dalam salim grup…tau sendiri kan salim grup itu perusahaan besar ketika masa orba? Kami mewakili bogasari cibinong, saat itu ada bogasari pusat, bogasari tanjung priuk, bogasari surabaya, beberapa perusahaan tekstil dari bandung, beberapa perusahaan makanan dari cikarang, juga indocement dan indoshoes(bubar saat gonjang ganjing 9. keren kan kami masuk final melawan bogasari pusat dan indocement? dan dimenangkan oleh indocement, kami nomer 2 waktu itu hadiahnya 3 juta….langsung saya ajak ibu saya dan adik saya piknik di TMII hahahhaa…sama ancol. waktu itu tahun 1993. selain hadiah uang, dapat juga produk2 dari beberapa perusahaan makanan. foto2nya ada di album di Sleman..hahaha..masih foto yang pakai film itu. pakai baju atasan batik warna hijau dan rok span pendek warna hitam…saat cerdas cermat, yang ada di barisan penonton antara lain pak lim soe liong, pak priambodo, pak anthony salim, pak sudwikatmono, pak djuhar sutanto dan pak ibrahim rasjid. keren kan ???? hehehe…
    saya pernah di divisi kemasan di citeureup, makanya saya bisa mewakili bogasari citeureup saat itu.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *