[Di Ujung Samudra] Bahagia Tumbuhkan Luka

Liana Safitri

 

BULAN Juni cuaca mulai cerah.

Tidak tahu apakah cuaca bisa benar-benar berpengaruh pada suasana hati seseorang, tapi Tian Ya merasa Lydia sangat berbeda hari ini. Ia tidak membangunkan Tian Ya pagi-pagi sekali seperti yang biasa dilakukan. Lydia hanya meletakkan secangkir kopi panas di meja sehingga aroma kopi itulah yang membuat Tian Ya terbangun.

“Hai! Apakah tidurmu nyenyak?” sapa Lydia sambil membuka tirai jendela. “Tadinya aku akan meminum kopimu kalau kau belum bangun sampai jam sembilan. Cepatlah berganti baju kalau tidak ingin terlambat!”

“Aku kan, harus mandi dulu!” Tian Ya mengulurkan tangan meraih cangkir kopinya.

“Kalau kau merasa terlalu dingin tidak usah mandi juga tidak apa-apa!”

Tian Ya menatap Lydia dengan heran. Ada apa dengan istrinya ini? Bukankah dia selalu mengomel kalau Tian Ya tidak mandi di pagi hari? “Apa pun jika sudah terbiasa jadi aneh kalau tidak dilakukan! Sebaiknya aku mandi saja!”

Lima belas menit kemudian pintu kamar mandi terbuka. Tian Ya muncul bertelanjang dada, bercelana pendek, dengan handuk tersampir di bahu. Ia sempat memergoki Lydia memegang tas kerja miliknya.

“Lydia, kau sedang mencari apa?”

Lydia tersentak mendengar suara Tian Ya, buru-buru memindahkan tas kerja dari pangkuannya ke kursi. “Eh… tidak! Tidak sedang mencari apa-apa! Aku hanya ingin… meminjam pulpen…”

Tian Ya mendekati meja, mengambil pulpen yang ada di samping cangkir kopi. Ditunjukkannya benda itu pada Lydia, “Ini?”

Lydia mengambil pulpen dari tangan Tian Ya lalu berseru, “Ah, iya! Pulpen ini… aduh… padahal ada di dekat cangkir kopi, bagaimana bisa aku tidak melihat?”

“Bukankah kau mau memakainya?”

“Apa? Ya, ya! Aku akan memakainya! Aku harus mencatat hal penting!” Sekarang Lydia kebingungan mencari kertas.

Tian Ya mengambil buku memo kecil yang tergantung di lemari pintu, lalu kembali menyodorkannya ke hadapan Lydia. “Apakah ini cukup?”

“Memo! Kenapa aku melupakannya! Cukup, sudah cukup!” Lydia buru-buru merebut buku memo itu. Ia duduk di kursi dan akan menulis, tapi sedetik kemudian terdiam. Sebenarnya Lydia tidak bermaksud meminjam pulpen, juga tidak perlu mencatat apa pun. Oleh karena itu ia gugup sekali.

Tian Ya melihat dengan jelas kegugupan Lydia. “Sebenarnya kau mau apa?”

“Aku mau mencatat!” sahut Lydia. Kali ini ia buru-buru menulis. Menulis apa saja! Dan setelah pulpen di tangannya bergerak-gerak Lydia baru sadar kalau yang ditulisnya adalah bahan-bahan untuk memasak! Mengenai bahan-bahan untuk memasak apa ia juga tidak tahu! Setelah tulisannya memenuhi satu halaman memo, Lydia mengembalikan pulpen pada Tian Ya. “Ini!”

Tian Ya menggeleng. “Tidak usah! Ditinggal saja, siapa tahu kau memerlukannya lagi! Aku masih punya pulpen cadangan!”

“Oh… ya sudah kalau begitu…”

“Lydia!”

“Hmmm?”

“Tidak ada masalah yang terjadi, kan?” Tian Ya bertanya curiga.

“A… apa? Masalah? Tentu saja tidak ada! Kenapa kau bertanya seperti itu?”

“Hari ini kau aneh sekali!” Tian Ya membuka lemari, mengambil baju, dan tidak berkata apa-apa lagi.

Diam-diam Lydia mengembuskan napas lega.

Lydia dan Tian Ya siap-siap berangkat. Saat Tian Ya akan mengangkat tas kerjanya, Lydia cepat-cepat mengambil alih. “Biar aku yang bawakan!” Ia tersenyum lalu mendahului Tian Ya ke luar rumah.

Dalam perjalanan kedua orang itu lebih banyak diam. Barulah ketika Tian Ya menghentikan mobilnya di depan butik Nyonya Li, ia menatap Lydia lekat-lekat. “Apakah kau benar-benar ingin aku membelikanmu teropong bintang?”

“Apa? Teropong bintang?” Lydia teringat malam saat mereka berkemah di belakang rumah dan tertawa. “Aku tidak menginginkan teropong bintang! Daripada digunakan untuk membeli benda seperti itu, lebih baik simpan saja uangnya untuk hal yang lebih berguna! Tak lama lagi kita harus mengeluarkan banyak biaya!”

“Mengeluarkan banyak biaya? Untuk apa?” Tian Ya tidak mengerti.

Lydia tidak menjawab, hanya tersenyum penuh rahasia. “Sudah siang! Mama pasti menungguku sejak tadi. Nanti jangan pulang terlalu malam, ya!” Ia mengecup pipi Tian Ya lalu keluar dari mobil.

Tian Ya menunggu sampai istrinya menghilang di balik pintu butik, baru menjalankan mobilnya kembali. Tian Ya tidak dapat mencegah pikirannya melayang ke mana-mana. Tadi pagi Lydia seperti baru saja membuka tas kerjanya. Apakah Lydia curiga Tian Ya menjalin hubungan dengan seorang wanita di luar? Apakah Lydia sedang mencoba menyelidikinya? Berusaha menemukan barang bukti seperti SMS di ponsel, foto, atau bekas lipstik di sapu tangan? Tian Ya merasa kecut. Lydia mulai paranoid. Tapi silakan saja kalau wanita itu mau mengecek isi tasnya setiap hari. Tidak ada apa-apa di sana, karena Tian Ya memang tidak pernah main di belakang Lydia!

Segalanya berjalan seperti biasa. Saat istirahat Tian Ya menghabiskan waktunya untuk berbicara dengan Lydia melalui telepon—karena khawatir terjadi sesuatu. Suara Lydia terdengar ceria, namun ia menanyakan hal-hal yang tidak biasa. Seperti, “Apa ada barangmu yang ketinggalan?”, “Kau yakin telah membawa semuanya?”, “Tidak ada yang lupa?”

Waktu pulang, di tempat parkir, Tian Ya sibuk mencari kunci mobil. Ia berkali-kali memeriksa kantong baju dan kantong celana, tapi tak juga menemukan kunci mobil tersebut. Salah seorang karyawan laki-laki yang mobilnya diparkir di dekat mobil Tian Ya tidak dapat menahan diri untuk bertanya, “Apakah Anda mencari sesuatu, Pak Direktur?”

“Tidak apa-apa! Aku hanya mencari kunci mobil. Lupa menaruhnya!” Sekilas Tian Ya sempat membaca nama yang tertulis pada name tag karyawan itu.

Wu Jing Tao

“Mungkin ada di dalam tas Anda?”

Seperti diingatkan, Tian Ya segera membuka tas kerjanya. Karena sangat susah mencari benda sekecil itu, ia berjalan ke sebuah bangku dan mengeluarkan semua barang yang ada di dalam tas. Kunci mobil ditemukan terselip di tengah halaman sebuah buku. “Sudah ketemu!” Tian Ya lalu memasukkan lagi barang-barangnya ke dalam tas. Karyawan yang tadi menyapa Tian Ya, Jing Tao, juga ikut membantu. Terakhir, ia memberikan sebuah amplop berukuran besar kepada Tian Ya.

Tian Ya melihat sekilas lalu mengibaskan tangan. “Itu bukan milikku!”

“Bukan milik Pak Direktur? Tapi amplop ini ada di antara barang-barang Anda!”

“Tidak! Aku yakin sekali itu bukan milikku! Mungkin seseorang tanpa sengaja meninggalkannya di sini,” Tian Ya tetap menyangkal.

Merasa penasaran, Jing Tao membuka amplop tersebut dan melihat isinya. Dahinya berkerut, “Ini… foto USG bayi dalam kandungan!”

Gerakan Tian Ya tiba-tiba terhenti.

Jing Tao kembali menyodorkan amplop itu pada Tian Ya. “Coba Pak Direktur periksa lagi dengan saksama! Di amplop ini tertulis nama rumah sakit, nama dokter, dan nama pasien. Mrs. Lydia itu istri Anda, bukan?”

Tian Ya langsung merebut amplop tersebut dari tangan Jing Tao, mengeluarkan isinya, menatapnya lama sekali. Tangan Tian Ya terkepal, tanpa berkata apa-apa lagi ia bergegas masuk ke mobil.

Aku tidak menginginkan teropong bintang! Daripada digunakan untuk membeli benda seperti itu, lebih baik simpan saja uangnya untuk hal yang lebih berguna! Tak lama lagi kita harus mengeluarkan banyak biaya!

Tian Ya teringat kalimat yang diucapkan Lydia tadi pagi.

Sampai di halaman Tian Ya berlari masuk rumah sambil memanggil-manggil, “Lydia! Lydia!”

Suara Tian Ya lebih terdengar seperti marah, membuat Bibi He khawatir sepasang suami istri ini bertengkar lagi. “Nyonya ada di halaman belakang, Tuan!”

Sejak gudang yang menyeramkan itu dirubuhkan dan rumput-rumput liar dibersihkan, Lydia memang suka jalan-jalan di halaman belakang. Apalagi sekarang juga sudah dipasang banyak lampu hias sehingga pada malam hari suasana menjadi terang-benderang. Tian Ya berlari menghampiri Lydia lalu menyambar lengannya, membuat wanita itu berteriak karena terkejut. “Ya ampun, Tian Ya! Kukira siapa! Kau membuatku hampir terkena serangan jantung!” seru Lydia. Ia melihat keringat menetes di dahi Tian Ya. “Kenapa? Kau habis berlari, ya?”

“Kaulah yang membuatku hampir terkena serangan jantung!” ujar Tian Ya dengan napas tersengal-sengal. Ia mengibaskan sebuah amplop besar dengan nama sebuah rumah sakit di depan wajah Lydia. “Jelaskan padaku!”

Mata Lydia membulat. “Kau sudah melihatnya?”

Ya, tentu saja aku sudah melihatnya!

“Sebenarnya ini apa?”

Mendengar suara Tian Ya begitu tegang, Lydia hanya tersenyum dan malah balik bertanya, “Menurutmu apa?”

Tian Ya mengamati amplop besar di tangannya. Sebenarnya Tian Ya punya jawaban tentang apa isi amplop tersebut. Bukankah Jing Tao sudah mengatakannya di tempat parkir? Tapi Tian Ya takut kalau ternyata jawaban itu salah dan hanya akan menimbulkan kekecewaan. Jadi lebih baik mendengar langsung dari Lydia.

“Aku tidak tahu!” tukas Tian Ya.

Sementara Lydia masih memasang senyumnya yang misterius dan menyebalkan itu. “Masa kau tidak tahu?”

Tian Ya mencengkeram kedua lengan Lydia tampak gusar sekali “Tidak bisakah kau memberitahuku dengan benar? Aku tidak suka main tebak-tebakan!”

Lydia mengusap perutnya. “Di dalam sini ada yang sedang tumbuh… teman kecil kita…”

“Kau… hamil?” sekarang Tian Ya merendahkan suara.

Lydia mengangguk.

Satu detik. Lima detik. Sepuluh detik. Tidak ada yang berbicara. Kedua orang itu hanya saling bertatapan, bahkan tak berani bernapas.

“Sudah berapa lama?”

“Dua bulan…”

“Oh… aku tidak percaya ini!” Tian Ya tampak seperti orang linglung. Kemudian dengan sekali tarikan Lydia sudah berada dalam pelukannya. Tian Ya menempelkan bibirnya ke kening Lydia lama sekali. Mata Lydia pun basah.

Kita akan punya anak!

Seperti kembang api yang meledak di angkasa Tian Ya berteriak keras, “Aku akan punya anak! Aku akan jadi ayah!”

Lydia juga tidak mau kalah ikut berteriak, “Aku akan jadi ibu!”

“Mengapa kau tidak mengatakannya langsung kepadaku? Kenapa harus diam-diam memasukkan hasil foto USG ke dalam tas kerjaku?” Tian Ya agak kesal karena Lydia pergi ke rumah sakit tanpa mengajaknya.

“Bukankah kau sendiri yang mengatakan jika sebaiknya kita saling berkirim surat seperti dulu?”

Dua orang itu lalu bergandengan tangan, berdansa tanpa alas kaki sambil tertawa-tawa, mabuk oleh kebahagiaan. Bukan hanya cahaya bintang, tapi bulan juga menyirami kedua orang itu dengan sinar kekuningan menyorot penuh, lebih terang dari lampu-lampu hias. Alam turut bernyanyi mengiringi gerakan Lydia dan Tian Ya. Membuat suasana mirip seperti di atas panggung. Setelah itu Tian Ya menggendong Lydia, membawanya berputar-putar mengelilingi halaman.

“Ah… Tian Ya! Turunkan aku!”

“Tidak!”

“Malu kalau Bibi He dan Paman Qi sampai melihat kita! Ayo turunkan aku!”

“Tidak!”

 

Selain Lydia dan Tian Ya, yang paling gembira dengan kabar kehamilan kedua ini tentu saja adalah orangtua Tian Ya, terutama Nyonya Li.

“Kalau begitu mulai sekarang kau tidak perlu datang ke butik lagi,” kata Nyonya Li.

“Kenapa?”

“Kenapa? Karena kau sedang hamil! Kau tidak boleh terlalu lelah, tidak boleh bekerja terlalu berat!”

Lydia tertawa melihat kekhawatiran ibu mertuanya yang berlebihan. Mungkin takut dirinya keguguran lagi. “Aduh, tidak perlu sampai seperti itu, Mama! Sampai saat ini aktivitasku tidak terganggu. Justru aku harus melakukan sesuatu agar tidak bosan. Hamil bukan berarti harus tidur-tiduran sepanjang hari.”

Nyonya Li beralih menatap Tian Ya dengan bimbang.

“Tidak apa-apa, Mama! Biarkan Lydia melakukan apa yang dia inginkan. Nanti kalau merasa lelah Lydia pasti istirahat sendiri. Lagi pula di sini dia hanya duduk saja menemani Mama, sebagian besar pekerjaan dilakukan para pegawai!” Tian Ya turut meyakinkan.

“Ya sudahlah!” Nyonya Li mengalah. “Tapi tidak perlu sampai malam! Tian Ya, kalau kau akan lembur sebaiknya jemput Lydia dulu. Setelah mengantarnya pulang baru kembali ke kantor lagi. Oh… papamu harus tahu ini!” Nyonya Li kebingungan mencari ponselnya.

“Mama, aku akan segera ke kantor!” Tian Ya juga geli menyaksikan mamanya begitu panik. “Biar aku saja yang memberi tahu papa tentang kehamilan Lydia. Papa pasti jauh lebih tenang daripada Mama! Ini kan baru hamil, belum melahirkan!”

Nyonya Li mendengus kesal. Bagaimana mereka ini, orangtua maksudnya perhatian malah ditertawakan!

“Baiklah, sampai jumpa nanti malam! Bie wangji da dianhua gei wo!” (别忘记打电话给我 —Jangan lupa meneleponku!)” Tian Ya memberikan sebuah ciuman di kening Lydia sebelum pergi.

Semua orang di kantor dapat melihat jika bos mereka sedang senang sekali hari ini. Meski tidak tahu apa sebabnya, tapi perasaan positif itu langsung menular seperti virus. Tian Ya menyapa siapa saja yang berpapasan dengannya.

“Selamat pagi!” Tian Ya menepuk bahu seorang pria setengah baya yang sedang mengelap kaca pintu.

“Selamat…” Kata-kata itu seperti tersangkut di tenggorokan, tidak jadi diteruskan. Apakah tidak salah? Li Tian Ya, direktur yang biasanya bersikap sangat dingin dan tidak peduli dengan apa yang ada di sekitar, tiba-tiba mengucapkan selamat pagi pada seorang petugas kebersihan!

“Ada apa Paman Jiang? Kenapa menatapku seperti itu? Apakah ada sesuatu di wajahku?” Tian Ya mengusap pipinya.

Paman Jiang gelagapan. “Oh, tidak! Tidak, Pak! Saya hanya…” Ia pura-pura batuk. “Tenggorokan saya sedikit gatal…”

“Benarkah? Kenapa Paman tidak minta izin saja barang satu dua hari dan menunggu sampai tenggorokan Paman sembuh?” Tian Ya mengeluarkan dompet dari kantong celananya, lalu memberikan beberapa lembar uang pada Paman Jiang. “Nah, ini untuk berobat ke dokter!”

Paman Jiang menerimanya dengan bingung, “Hah? Tapi… tapi Pak Direktur…”

“Sudah, diterima saja! Selamat bekerja!” Tian Ya melambaikan tangan dan berlalu.

Paman Jiang masih berdiri di tempatnya, berganti-ganti memandangi punggung Tian Ya dan uang yang ada di tangan dengan tak percaya.

Lebih banyak dari gajiku selama sebulan.

Saat akan masuk ke ruang kerja Tian Ya berkata pada asistennya, Zhong Yuan, “Cari karyawan yang bernama Wu Jing Tao, suruh dia menemuiku sekarang juga!”

“Baik!”

Tak lama kemudian Wu Jing Tao tampak berdiri di hadapan Tian Ya. “Apakah Anda mencari saya, Pak Direktur?”

Tian Ya mengangguk, “Ya!”

Baru sekali ini Jing Tao dipanggil Pak Direktur dan masuk ke ruangannya. Sebenarnya ia merasa gugup dan takut. Apalagi dari pembicaraan orang yang sering ia dengar, sikap Direktur Li sungguh sulit diduga. Pagi-pagi tenang dan hangat seperti matahari, malamnya bisa saja berubah bagaikan hujan badai. “Apakah… ada sesuatu yang penting sehingga Pak Direktur meminta saya menemui Anda?”

Tian Ya mengambil sebuah amplop dari dalam laci dan memberikannya pada Jing Tao.

“Kenapa Anda memberi saya ini?” Jing Tao belum membuka amplop itu, tapi ia bisa menebak jika isinya adalah sejumlah uang.

“Anggap saja sebagai hadiah dariku!”

“Hadiah?” Sama seperti Paman Jiang, Jing Tao kebingungan menerima pemberian Tian Ya.

“Hadiah karena kemarin kau membantuku mencari kunci mobil!”

“Apa?”

Tidak masuk akal!

“Orang yang menerima hadiah biasanya senang, kenapa kau malah seperti orang yang baru menerima hukuman? Kau bisa membelikan sesuatu untuk istrimu atau mengajaknya makan malam di restoran!”

“Tapi Pak Direktur…” Jing Tao tetap merasa tidak enak. “Saya tidak melakukan apa-apa! Sepertinya saya tidak pantas menerimanya…”

“Jing Tao, kau tahu ini jam berapa?” tanya Tian Ya tidak sabar. “Entah ada berapa orang yang sedang menunggu di luar untuk bertemu denganku!”

Jing Tao tersentak, buru-buru membungkukkan badan pada Tian Ya. “Maafkan saya! Saya sangat berterima kasih atas pemberian Anda! Saya akan pergi sekarang! Permisi!”

Dalam sekejap Tian Ya menjadi bahan pembicaraan orang di kantor.

“Hari ini direktur kita sangat aneh!” Tiga orang wanita berdiri bergerombol di depan pintu toilet sambil bergosip.

“Kenapa?”

“Dia tiba-tiba memberi uang pada petugas kebersihan dan seorang karyawan!”

“Yang benar saja? Dia kan terkenal galak setengah mati! Apa kau tidak bohong?”

“Mungkin mereka bekerja dengan giat sehingga Pak Direktur memberikan bonus?” seseorang mencoba menebak.

“Tidak, tidak! Kabarnya karena istri Pak Direktur sedang hamil, dia menjadi sangat senang dan lebih bermurah hati! Apa kau tidak merasa jika hari ini Pak Direktur sedikit berbeda?”

“Ehheemmm!” Terdengarlah suara orang berdeham cukup keras, membuat ketiga wanita itu mengangkat kepala.

Mereka melihat seseorang keluar dari toilet pria. “Pak… Direktur…” Tidak ada yang berani bicara lagi, sementara kaki ketiga wanita itu gemetaran. Apakah Pak Direktur mendengar semua pembicaraan mereka? Saat mengata-ngatai dirinya galak?

Dengan tenang Tian Ya mendekati ketiga wanita itu lalu bertanya santai, “Apakah kalian suka menyaksikan acara infotainment di televisi?”

“Eh… iya… iya, Pak!”

“Apa berita yang sedang hangat akhir-akhir ini?”

Ketiga wanita itu kebingungan sekaligus takut. Akhirnya salah satu dari mereka menjawab, “Mmm… mungkin… pernikahan Jay Zhou dengan Hannah Quinlivan…”

“Ada apa? Apakah Pak Direktur membutuhkan informasi tentang seorang artis?” Wanita yang lainnya lagi bertanya ragu-ragu.

“Tidak! Tapi sepertinya kalian sering begadang demi menonton acara infotainment.” Tian Ya lalu menunjuk pada matanya sendiri, “Ada lingkaran hitam di mata kalian!”

Ketiga wanita itu langsung meraba bagian sekitar mata masing-masing dengan raut khawatir sekaligus malu. Mereka berbisik-bisik, “Benarkah? Aduh… bagaimana ini?”

Tian Ya merogoh saku celana, lalu seperti sebelumnya, mengeluarkan sejumlah uang dari dompet dan membagikannya pada ketiga wanita itu. “Untuk membeli kosmetik!” Setelah berkata demikian ia langsung pergi. Ketiga wanita itu terpana, saling bertukar pandang seperti sedang bermimpi. Kemudian mereka bersorak berisik sekali, untuk sesaat lupa dengan masalah lingkaran hitam di mata.

Beberapa hari ini masalah Tian Ya memang tidak jauh-jauh dari sebuah amplop! Tian Ya hanya ingin berterima kasih pada Jing Tao karena karyawan itu telah menyadarkannya tentang amplop berisi foto hasil USG kandungan Lydia. Rasanya cukup pantas jika Tian Ya membalas dengan memberikan amplop juga. Seandainya kemarin tidak bertemu Jing Tao, mungkin Tian Ya tidak akan tahu kalau Lydia hamil, sampai beberapa bulan kemudian perut istrinya semakin membesar! Tidak ada salahnya juga kalau Tian Ya berbagi kebahagiaan dengan petugas kebersihan dan beberapa pegawai wanita, agar mereka berhenti membicarakannya atau menyebutnya galak.

Meski Nyonya Li sudah menyuruh Tian Ya agar menjemput Lydia lebih awal, tapi sampai jam sepuluh malam Tian Ya belum muncul. Nyonya Li berniat menelepon sopirnya untuk mengantar Lydia pulang.

Lydia buru-buru menolak, “Tidak usah, Mama! Sambil menunggu Tian Ya aku akan pergi ke toko perlengkapan bayi dan mainan anak yang ada di sebelah. Aku harus mempersiapkan kelahirannya mulai dari sekarang.”

Nyonya Li pun paham. “Ah, benar juga! Kalau begitu pergilah… Dulu waktu hamil Tian Ya, aku juga paling suka berbelanja baju bayi atau mainan. Tapi sebaiknya kau beli barang yang mudah disimpan.”

“Aku akan melihat-lihat dulu. Kalau ada yang cocok baru dibeli.”

Beberapa meter dari butik Nyonya Li ada sebuah toko yang khusus menjual perlengkapan bayi. Baru sekarang Lydia berkesempatan datang ke tempat itu. Ia melihat-lihat baju, topi, sepatu, peralatan makan, dan mainan. Lydia tersenyum membayangkan anaknya kelak memakai pakaian yang lucu-lucu. Kalau datang ke sini bersama Tian Ya pasti akan lebih menyenangkan. Lydia keluar dari toko tanpa membeli apa-apa, tapi kapan-kapan ia akan mengajak Tian Ya kemari.

“Lydia!”

Lydia menoleh dan terkejut melihat seseorang berjalan menghampirinya. “Kakak!”

Delapan bulan telah berlalu sejak pertemuan terakhir mereka di rumah Franklin.

“Bagaimana kabarmu?” Lydia bertanya kaku setelah keduanya saling berdiam diri dalam waktu lama.

“Baik!” jawab Franklin datar. “Kenapa waktu itu kau tidak membalas pesanku?”

“Eh… karena aku… sibuk… kemudian jadi lupa…”

Di depan mereka adalah jalan raya yang lebar, berbagai kendaraan lalu-lalang tanpa henti. Lampu lalu lintas menyala berganti-ganti. Franklin baru saja dari rumah Tuan Wang. Begitu turun dari taksi Franklin melihat Lydia di depan sebuah toko, ia pun mengurungkan niat untuk menyeberang.

“Setelah tahu kau keguguran aku datang ke rumahmu… tapi Tian Ya tidak memperbolehkan aku menemuimu…” kata Franklin terus terang.

“Oya? Mungkin… ketika itu dia sedang kesal…” Lydia terlihat salah tingkah.

“Jelas sekali terlihat kalau Tian Ya tidak menyukaiku!”

`“Kau salah mengerti!” Lydia buru-buru menyangkal. “Tian Ya hanya… sedikit pencemburu. Tapi dia…”

“Dia ingin kita memutuskan hubungan!” tukas Franklin. “Aku masih sulit menerima kenyataan ini, kau tidak ada di sampingku, tidak dapat melihat wajahmu, dan tidak dapat mendengar suaramu lagi! Aku marah karena sulit sekali melupakanmu!”

Lydia tidak mampu berkata apa-apa.

Franklin menatap wanita yang ada di hadapannya itu lekat-lekat. “Aku menyesal telah melepaskanmu…”

Lydia tidak sanggup berada di tempat itu lebih lama. “Sudah terlalu malam. Aku harus segera pulang!” Ia berbalik hendak meninggalkan Franklin, tiba-tiba pemuda itu menarik pergelangan tangan Lydia lalu memeluknya. Lydia terkejut sekali. “Kakak! Apa yang kau lakukan?”

“Apakah kisah kita sungguh telah berakhir? Kau akan meninggalkanku seperti ini?” Franklin berbisik lirih di telinga Lydia.

“Lepaskan aku!” Lydia meronta, namun suaranya tenggelam dalam dekapan Franklin.

“Aku rindu padamu, Lydia…”

Aku tahu sekarang kau sangat kesepian… Tapi sungguh maaf, tak ada yang bisa aku lakukan…

“Kakak, kumohon lepaskan aku…” seru Lydia memelas. “Kita tidak boleh begini! Ini tidak benar! Kau tahu aku sudah… menikah…”

Franklin merasa ingin tertawa sekaligus menangis. “Kau berkata, tidak benar aku memelukmu karena kau sudah menikah? Lalu apakah menurutmu yang kau lakukan selama ini benar? Pergi dari rumah meninggalkan ayah dan ibu, sampai di tempat asing tinggal satu atap bersama seorang laki-laki tanpa ikatan pernikahan, setelah menikah pun tidak mau memberitahu keluarga! Apakah tindakanmu bisa dikatakan benar?”

“Kakak, kau tidak bisa menyalahkanku! Waktu itu kau sendiri yang setuju untuk menjadi wali nikahku!”

“Benar… benar… memang akulah yang bodoh telah merestui pernikahanmu dengan Tian Ya…” ujar Franklin pedih. Ia semakin emosional, “Lalu memangnya kenapa? Dulu ketika kita menikah kau menolak tidur sekamar denganku tapi diam-diam tetap berhubungan dengan Tian Ya! Bukankah itu sama saja dengan berselingkuh? Kalau kau dan Tian Ya berani berbuat nekat mengabaikan segala aturan juga tidak peduli dengan perasaan orang lain, maka aku pun bisa melakukannya! Sekarang… aku menarik kembali restuku dan memutuskan untuk merebut istri orang! Sejak awal kita semua sudah keluar jalur!”

“Kau tidak bisa melakukannya! Lepaskan aku!”

Lydia tidak ingin menyakiti Franklin, tapi… bagaimana caranya membuat pemuda itu mengerti dan mau menerima kenyataan? Akhirnya dengan sangat terpaksa Lydia mengucapkan satu kalimat, “Kakak, aku sedang hamil!”

Franklin merasa ada sebuah palu yang dipukulkan ke kepalanya dengan keras. Pelukannya mengendor dan Lydia langsung mendorong pemuda itu. Seraut wajah dipenuhi air mata membuat Franklin terhuyung-huyung, sebelum menatap nanar punggung yang mulai menjauh.

Apa yang terjadi denganmu, Kak?

Franklin seperti kehilangan akal sehat. Padahal biasanya ia tidak pernah demikian. Dulu setiap kali Lydia panik karena tertimpa suatu masalah, Franklin bisa membereskannya dengan tenang. Juga dalam menghadapi “pemberontakan” Lydia yang bersikeras ingin bersama Tian Ya. Dengan berbesar hati Franklin membeli sepasang cincin untuk Lydia dan Tian Ya lalu menjadi wali nikah Lydia. Kenapa tiba-tiba sekarang berubah pikiran? Lydia merasa kasihan pada Franklin tapi tidak mampu berbuat apa-apa, inilah yang membuatnya sedih.

Sebuah mobil berhenti di samping Lydia. Lydia berhenti berlari dan mengusap wajah dengan tangan, membersihkannya sisa-sisa air mata. Tian Ya turun dari mobil menghampiri Lydia. “Kenapa kau tidak menungguku di butik? Kau dari mana?”

Lydia tidak menjawab, malah balik bertanya, “Kenapa kau lama sekali?”

Tian Ya membukakan pintu mobil untuk Lydia. “Aku sudah memberitahu papa tentang kehamilanmu, katanya dia sangat gembira akan menjadi seorang kakek. Tapi papa tetap tidak membiarkanku pulang cepat!”

Untung Tian Ya tidak melihat!

Tian Ya memperhatikan Lydia terburu-buru masuk ke mobil dengan wajah pucat. “Ada apa dengannmu? Kau seperti orang yang baru saja melihat hantu!”

“Aku memang baru saja melihat hantu!” ujar Lydia asal-asalan.

“Benarkah?” Tian Ya menahan tawa. “Dari kecil sampai akan mempunyai anak kecil, aku belum pernah bertemu hantu! Di tempat seramai ini mana ada hantu? Ada-ada saja! Kau pasti masih sering menonton film horor Indonesia!”

Lydia tidak memperhatikan kata-kata Tian Ya, ia menelepon Nyonya Li. “Halo! Mama, Tian Ya sudah menjemputku! Iya! Jangan khawatir!” Setelah menutup telepon Lydia mengamati cincin yang melingkar di jari manisnya, kemudian beralih menatap cincin yang dikenakan Tian Ya. Agak aneh juga karena Tian Ya bisa memakai cincin hadiah pernikahan dari Franklin tanpa perasaan apa pun. “Tian Ya…”

“Ya?”

“Belikan aku cincin!”

“Cincin apa?”

“Cincin apa saja!”

“Ya sudah, besok pergi saja ke toko perhiasan dan pilih cincin yang kau mau! Nanti aku yang bayar tagihannya, beres, kan?”

“Aku ingin kau yang pilihkan cincinnya!”

Tian Ya menolehkan kepala, menatap Lydia keheranan. Ada apa dengan istrinya ini? Kemarin menyuruh Tian Ya menyimpan uang untuk persiapan menyambut kelahiran anak mereka karena katanya membutuhkan banyak biaya, kenapa sekarang minta dibelikan cincin? Tian Ya pernah mendengar kalau ibu hamil itu biasanya minta yang aneh-aneh. Misalnya menginginkan makanan yang sulit diperoleh pada waktu-waktu tertentu, atau makanan dari tempat yang jauh. Kenapa Lydia malah menginginkan cincin? Bagaimana kalau bulan depan minta kalung, bulan berikutnya minta gelang, lantas bulan berikutnya lagi minta anting-anting? Begitu terus sampai sembilan bulan! Merepotkan sekali! Ini lebih menghabiskan uang daripada membeli satu buah teropong bintang! Tapi bukankah permintaan itu harus dipenuhi demi bayi yang ada dalam kandungan? Logikanya, kalau permintaan si ibu terpenuhi pasti membuat ia merasa senang dan akan berpengaruh baik pada kandungannya!

“Baiklah! Besok aku akan pilihkan cincin yang bagus untukmu!”

 

happiness

 

Kukira semuanya akan mudah… Kukira aku bisa merelakanmu untuknya… Tapi ternyata membayangkan sangat berbeda dengan mengalami… Lydia, menjalani hari-hari tanpamu rasanya sangat sulit. Tolong katakan, bagaimana caranya agar aku dapat bertahan?

Franklin berjalan tanpa tujuan, berada di tengah keramaian seperti orang hilang.

Kakak, aku sedang hamil!

Lydia hamil lagi, ini berita baik dan seharusnya Franklin ikut bahagia. Tapi kenapa ia sedih? Tidak dapat dipungkiri jika Franklin patah hati, bahkan hatinya hancur berkeping-keping! Cukup! Hentikan sekarang juga! Taiwan memang tempat Lydia menemukan kebahagiaan, Franklin tidak akan mendapatkan apa-apa di tempat asing ini! Taiwan sangat tidak cocok untuknya! Sebaiknya Franklin segera pulang ke Indonesia! Lydia sudah menikah dengan Tian Ya, tidak perlu diawasi kakaknya lagi! Jika Franklin masih tidak mau mengalah, tidak mau melepaskan, bukankah justru ia sendiri yang menghalangi kebahagiaan Lydia?

Franklin kembali teringat dengan perbuatan gegabah yang ia lakukan beberapa menit lalu. Ia menyesal sekali. Franklin mengeluarkan ponsel, bermaksud menelepon Lydia untuk meminta maaf. Lama Franklin menatap nama Lydia di daftar panggilan. Namun seolah ada sesuatu yang menggerakkan tangannya. Jari Franklin bukan menyentuh tulisan Lydia, tapi tulisan nama orang lain.

Sudah terlambat untuk memutus sambungan karena Franklin mendengar suara itu. “Halo?”

“Halo… Fei Yang?”

“Iya, ini aku. Kau Franklin, bukan?” Fei Yang bertanya tak percaya.

Franklin tidak tahu harus berkata apa karena ia memang tidak berniat menelepon Fei Yang.

“Franklin?” Fei Yang memanggil lagi.

“Fei Yang… aku pasti mengganggumu, ya? Aku ingin menanyakan sesuatu, tapi kurasa sebaiknya besok saja! Maaf…”

Kemudian Franklin mendengar Fei Yang berkata terburu-buru, “Tunggu! Tunggu! Kau sama sekali tidak menggangguku! Kau mau menanyakan apa?”

“Itu…” Franklin sibuk mencari-cari “pertanyaan yang ingin ditanyakan”. Tidak ada pertanyaan lebih baik yang bisa ia temukan selain, “Bahasa Mandarin…”

“Oh, ya? Coba katakan!”

“Aku tidak bisa membaca sebuah tulisan…” Franklin melihat papan reklame yang berdiri di dekatnya.

“Foto saja tulisannya lalu kirimkan padaku!”

“Baiklah…” Namun Franklin tidak segera melakukannya.

Untuk apa? Kenapa aku harus peduli dengan tulisan-tulisan rumit dan memusingkan itu?

“Franklin, kau ada di mana?” tanya Fei Yang tidak sabar.

“Aku ada di…” Franklin menatap ke sekeliling. Ia ada di jalan yang tidak jauh dari rumah, tapi tidak tahu kenapa tubuhnya terasa sangat lelah. Franklin mengangkat tangan melihat jam. Pukul sebelas, semoga saja jam tangannya tidak rusak. Ia berbicara di telepon sambil terus melangkahkan kaki. “Fei Yang… biasanya kau tidur jam berapa?”

Fei Yang merasa heran mendengar pertanyaan Franklin yang aneh. “Tidak tentu! Kadang jam sembilan, kadang jam sepuluh, kalau sedang banyak pikiran bahkan baru tidur jam tiga!”

Franklin berjalan semakin cepat. “Kalau tidak bisa tidur apa yang biasanya kau lakukan?”

“Membaca majalah, menonton televisi, mendengarkan musik, mengobrol dengan teman di telepon, lalu…”

Franklin memotong kalimat Fei Yang, “Bolehkah aku ke rumahmu sekarang?”

“Kau… apa? Ke rumahku? Sekarang?”

Di rumah Fei Yang, gadis itu sampai melompat dari kursi yang didudukinya setelah mendengar pertanyaan Franklin. Bel berbunyi nyaring, memberitahu Fei Yang jika ada seseorang yang datang. Fei Yang bergegas pergi ke ruang tamu. Ia berdiri terpaku dengan jantung berdebar liar.

Apakah mungkin itu kau?

Fei Yang memejamkan mata sementara tangannya menarik pegangan pintu. Sebenarnya ia tidak mau terlalu banyak berharap, tapi… Angin dingin berembus menerpa wajah Fei Yang. Gadis itu kembali membuka mata.

Aku tidak sedang bermimpi!

Orang yang berdiri di hadapannya pada detik ini, benar adalah Franklin!

 

 

8 Comments to "[Di Ujung Samudra] Bahagia Tumbuhkan Luka"

  1. elnino  1 December, 2015 at 13:41

    Waduuuh, piye iki… jadi gak sabar nunggu lanjutannya…

  2. Liana  25 November, 2015 at 09:54

    Pelarian? Lihat saja nanti…

  3. J C  24 November, 2015 at 17:18

    Wah, wah, wah…semakin rumit ini…

  4. Alvina VB  24 November, 2015 at 11:40

    Ini kayanya si Fei Yang jadi pelariannya si Franklin nich…
    James, hadir…ada di sini…cuman masih sibuk euy….

  5. Lani  21 November, 2015 at 02:39

    Bakalah seru nih critanya ant Fei Yang dan Franklin

  6. Lani  21 November, 2015 at 02:38

    Kenthir lagi berhujan ria di Kona jd telat mencungul hehehe………mahalo, James

  7. Dj. 813  20 November, 2015 at 18:43

    Wadoooooh . . .
    Bacanya sampai menggeh-menggeh . . .
    Terimakasih dan salam,

  8. James  20 November, 2015 at 16:10

    1……permisi….para Kenthirs kemana ?

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.