Sekolah Itu Candu

Handoko Widagdo – Solo

 

dalam rangka Hari Guru Nasional 25 November

 

Judul: Sekolah Itu Candu

Penulis: Roem Topatimasang

Tahun Terbit: 1998

Penerbit: Pustaka Pelajar dan INSIST

Tebal: 139

ISBN: 979-9075-58-0

sekolah itu candu

Siapapun orangtua, pasti ingin anaknya masuk sekolah. Sekolah adalah sebuah institusi sosial yang sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari peradaban modern saat ini. Sekolah dianggap sebagai sarana yang paling jitu untuk mempersiapkan diri menyambut kesuksesan di masa depan. Berhasil dalam sekolah berarti berhasil dalam karier di masa depan. Gagal dalam sekolah berarti gagal menjangkau masa depan. Benarkah begitu? Apakah sekolah bukan sekedar candu yang membuat kita sakaw? Apakah sekolah memang berperan dalam mempersiapan masa depan, atau sebenarnya sekolah telah gagal mengemban misinya? Apakah sekolah masih memegang teguh tujuan utamanya?

Buku yang ditulis berdasarkan beberapa tulisan lepas Roem Topatimasang pada saat kuliah di IKIP Bandung pada tahun 70-an, diedit ulang pada tahun 1988 ini masih sangat relevan untuk dibaca dan direnungkan. Sebab isu-isu yang dibahas memang masih terjadi hingga saat ini.

Persoalan hakekat sekolah dibahas secara khusus di bab 9 “Sekolah Itu Candu”, yang sekaligus menjadi judul dari buku ini. Roem menggunakan kasus seorang pelajar SMA yang melakukan penelitian perilaku seks bebas di Jogjakarta untuk membahas persoalan hakekat sekolah. Karena kreativitasnya tersebut, Eko Sulistyo dikeluarkan dari sekolah, ditolak untuk masuk universitas karena dianggap menyimpang dari galibnya seorang pelajar. Sampai akhirnya ada universitas yang mau menerimanya sebagai mahasiswa, saat Eko sendiri sudah tidak berminat untuk sekolah. Dalam kasus Eko, sekolah telah gagal mengemban hakekatnya mewadahi dan mengembangkan mereka-mereka yang kreatif.

Roem mengajak kita memeriksa berbagai gagasan tentang sekolah. Berbagai aliran pemikiran tentang sekolah dimunculkan. Diantaranya adalah sekolah sebagai tempat untuk melatih dan mempersiapkan mereka yang terpilih dan berbakat untuk menjadi pemimpin di masa depan (Bylinsky dan Hirsch), atau sebagai tempat untuk membebaskan manusia dari berbagai hal yang menghambat kemerdekaannya (Freire), atau taman untuk menumbuhkan yang muda (Ki Hajar Dewantoro), atau sebuah kebun bagi semua anggota masyarakat (Julius Nyerere). Roem kemudian menukik kepada gagasan yang lebih instan tentang peran sekolah, yaitu menyiapkan pekerja untuk mengisi kebutuhan Industri (Link and Match – era Mendikbud Wardiman Joyonegoro).

Di Bab 6, Roem secara lebih luas membahas peran sekolah dalam menyiapkan sebuah generasi untuk menyongsong masa depan. Apa yang anak-anak pelajari di sekolah saat ini, adalah apa yang mereka kerjakan di masa depan. Roem menggunakan kasus pendidikan di Palestina. Negaa Palestina yang akan lahir akan menghadapi masalah dalam pemerintahannya, karena anak-anak di Palestina sekarang ini berlajar tentang radikalisme. Sementara anak-anak di sebuah negara lain dibesarkan dengan gagasan-gagasan yang imajinatif seperti penjelajahan angkasa luar akan menghasilkan karya-karya yang imajinatif. Bagaimana dengan Indonesia? Apakah kita akan terus mengajari anak-anak kita di kelas dengan kepatuhan dan menghafal segala hal? Akankah kita besarkan anak-anak kita di kelas dengan mempelajari teks karakter sementara disuguhi dengan keteladanan yang jelek tentang karakter? Boleh nyontek saat UN? Ingat, apa yang dipelajari anak-anak di sekolah sekarang ini adalah hal yang akan dilakukannya di masa depan.

Salah satu kepiawaian Roem adalah menjelaskan teori-teori atau gagasan-gagasan yang njlimet dengan contoh yang ada di depan mata kita. Sindiran George Bernard Shaw yang mengatakan bahwa: “Siapa yang bisa mengerjakan, siapa yang tidak bisa mengajar, siapa yang tidak bisa mengajar mendirikan sekolah,” dijelaskan melalui seorang pensiunan pegawai negeri bagian tata usaha yang ingin mendirikan lembaga kursus dan nantinya menjadi sebuah universitas. “Masyarakat tanpa Sekolah” Ivan Illich dijelaskan melalui kisah frustasinya kepala sekolah swasta. Pandangan Freire dijelaskan melalui sekolah di sebuah kampung di Latimojong.

Roem juga memberi bonus di dua bab awal tentang sejarah sekolah dan berbagai penggunaan istilah sekolah di luar yang kita kenal sekarang ini.

 

 

About Handoko Widagdo

Berasal dari Purwodadi, melanglang buana ke berpuluh negara. Dengan passion di bidang pendidikan, sekarang berkarya di lembaga yang sangat memerhatikan pendidikan Indonesia. Berkeluarga dan tinggal di Solo, kebahagiaannya beserta istri bertambah lengkap dengan 3 anak yang semuanya sudah menjelang dewasa.

My Facebook Arsip Artikel

15 Comments to "Sekolah Itu Candu"

  1. Handoko Widagdo  2 December, 2015 at 09:27

    Lani, daripada ngamuk kan lebih baik menjadi Menteri to?

  2. Lani  2 December, 2015 at 09:24

    Hand ngamuk-e bs ditrima kok

  3. Handoko Widagdo  2 December, 2015 at 09:19

    Kang JC tidak boleh capek. Anda cocok menjadi Mendikbud!

  4. J C  2 December, 2015 at 09:13

    Di Indonesia yang namanya sekolah, kurikulum dan sistemnya semakin lama semakin bikin bludrek saja…semakin sedikit sekolah yang memperhatikan kebutuhan yang sebenarnya untuk anak-anak. Yang dikejar hanyalah hasil akhir, tanpa mengedepankan prosesnya…capek, pak Hand…

  5. Handoko Widagdo  27 November, 2015 at 07:57

    Avy, itulah yang dibahas oleh Roem Tomatimasang dalam buku ini. Dia melihat bahwa sekolah sudah menjadi sebuah “kewajiban” yang tidak lagi sensitif terhadap tugas utamanya yaitu “memerdekaan manusia”, atau mempersiapkan manusia supaya lebih tegar menghadapi dunia.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *