Rumah Pemandian

Handoko Widagdo – Solo

 

Judul: Rumah Pemandian

Judul Asli: The Bathhouse

Penulis: Farmoosh Moshiri

Tahun Terbit: 2007

Penerbit: Olongia

Tebal: 199

ISBN: 978-15622-0-2

rumah pemandian

Semua yang ada di dalam ruangan ini adalah perempuan biasa. Tidak seorang pun yang menjadi aktivis militan, atau ahli politik (hal. 101). Namun mereka, karena sebuah revolusi, ditangkap karena prasangka. Mereka dipaksa untuk mengakui apa yang diyakini oleh para penguasa. Mereka harus mengakui bahwa mereka anggota gerakan kiri, gerakan penentang revolusi, kelompok sesat pemuja iblis. Mereka adalah ibu, istri, adik, anak dari para lelaki yang dicurigai menentang revolusi. Mereka semua dikumpulkan di rumah bekas pemandian yang diubah menjadi penjara. Siksaan yang mereka terima adalah sebuah kisah horor yang tak terbayangkan.

Dalam bukunya “When Religion Become Evil”, Charles Kimball memperingatkan bahwa agama bisa menjadi setan bagi kemanusiaan. Dalam novel ini Moshiri mengisahkan bagaimana kekejaman atas nama revolusi agama. Pembersihan terhadap mereka yang dianggap tidak sejalan dilakukan dengan sangat kejam. Bahkan kepada mereka yang sama sekali tidak terlibat di dalamnya. Hanya karena prasangka.

Tokoh aku dalam novel ini adalah gadis berusia 17 tahun. Dia adalah anak seorang dosen filsafat, dimana kakaknya menjadi aktifis. Dia ditangkap di rumahnya karena kakaknya yang dicari tidak ditemukan. Dia dipaksa mengakui apa-apa yang disangkakan kepadanya dengan siksaan. Dia sedang haid saat siksaan itu dilakukan. Tokoh lain adalah Nyonya Moradi. Dia adalah seorang ibu yang anaknya dituduh berhalauan kiri. Dia dipaksa mengaku bahwa dia adalah pendukung golongan kiri karena menyediakan tempat dan makanan bagi teman-teman anaknya. Dia harus menyaksikan anaknya digantung terbalik seharian supaya mengaku siapa saja teman-teman anaknya.

Sedangkan Dr. Mina ditangkap bersama ibunya saat berkendara. Kebetulan di mobilnya terdapat banyak buku yang tidak sejalan dengan ajaran revolusi. Leila ditangkap karena sebagai bidan dia dianggap tidak berpakaian layak dan mengumbar aurat. Zohre adalah perempuan yang paling layak ditangkap diantara para perempuan yang berjubel di salah satu kamar rumah pemandian. Sebab suami Zohre memang seorang aktifis. Dan Zohre tahu itu. Dan masih banyak lagi perempuan yang datang dan pergi di sel di rumah pemandian itu.

Mereka mengalami penyiksaan dengan pukulan mistar karet, makanan dan minuman yang terbatas, dan waktu membersihkan diri di pagi hari yang juga sangat terbatas. Siksaan yang paling kejam adalah saat para tahanan itu diminta untuk ikut merajam tahanan lain yang dihukum di tengah kolam. Bagi tahanan yang tidak mau ikut melempar batu, dia didorong ke tengah kolam untuk ikut dilempari.

Berbagai siksaan ini membuat beberapa perempuan memilih untuk bertobat atau pura-pura bertobat. Mereka mengikuti ritual pertobatan supaya bebas dari siksaan. Zohre misalnya memilih untuk pura-pura bertobat demi menyelamatkan bayinya. Sedangkan mereka yang tidak bertobat dieksekusi. Karena sebuah keyakinan bahwa mereka yang mati masih perawan akan masuk sorga, maka gadis-gadis yang akan dieksekusi diperkosa terlebih dahulu supaya mereka tidak masuk surga.

Perempuan memang makhluk yang hebat. Dalam siksaan seperti itu mereka berupaya untuk saling melindungi. Mereka saling menghibur. Dr. Mina menasihatkan supaya mereka bercerita tentang hal-hal yang menyenangkan daripada menceritakan tentang penderitaan. Laeli selalu menenangkan Robab yang setengah gila. Mereka saling memberi pelukan kepada temannya yang baru pulang dari penyiksaan. Mereka juga berbagi makanan dan minuman yang sangat terbatas.

Revolusi adalah kejam. Siapa yang memang akan membabi buta menghancurkan siapa saja yang dianggap lawan.

 

 

About Handoko Widagdo

Berasal dari Purwodadi, melanglang buana ke berpuluh negara. Dengan passion di bidang pendidikan, sekarang berkarya di lembaga yang sangat memerhatikan pendidikan Indonesia. Berkeluarga dan tinggal di Solo, kebahagiaannya beserta istri bertambah lengkap dengan 3 anak yang semuanya sudah menjelang dewasa.

My Facebook Arsip Artikel

18 Comments to "Rumah Pemandian"

  1. J C  2 December, 2015 at 11:04

    Aku ada bukunya di rumah…

  2. Lani  2 December, 2015 at 10:08

    hahaha………indoserpong? jd hrs belajar ngluruk kesana?

  3. Handoko Widagdo  2 December, 2015 at 09:30

    Lani, itu Bahasa Indoserpong kok.

  4. Lani  2 December, 2015 at 09:29

    Hand, baca komentar lurahe “lupa pleng” aku jd mesem2 kecut, sakbenere kan “lali sak pleng-an”

  5. Handoko Widagdo  2 December, 2015 at 09:28

    Kang JC, ayo coba dicari judul bukunya.

  6. J C  2 December, 2015 at 09:26

    Pak Hand, ada buku yang mirip seperti ini…tapi aku kok lupa pleng judulnya. Tentang penjara wanita Plantungan, korban salah tuduh dan salah comot kejadian 1965…

  7. Handoko Widagdo  1 December, 2015 at 15:42

    Tante Maryati, memang ceritanya sangat menyeramkan.

  8. maryati  1 December, 2015 at 15:39

    Duh ceritanya menyeramkan sekali ya…disiksa spt itu..gak tega sambil membayangkannya…hhmmmm…aplg byk kaum hawa yg disiksa..serem Om..

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.