[Di Ujung Samudra] Teman dalam Kesendirian

Liana Safitri

 

MEREKA berdua masih sama-sama menempelkan ponsel di telinga. Franklin dan Fei Yang saling bertatapan dengan terkejut.

“Apakah tidak apa-apa… aku datang malam-malam begini?” Franklin bertanya ragu.

Fei Yang mematikan ponsel lebih dulu. Berbeda dengan suaranya yang terdengar bersemangat ketika berbicara di telepon, kini ia menjawab dengan gugup, “Ah… ya, tidak apa-apa! Tidak masalah! Ayo masuk!”

Franklin juga mematikan ponselnya lalu melangkahkan kaki memasuki ruang tamu.

Aku tidak tahu kenapa bisa terpikir untuk datang kemari…

Franklin sendiri yang mengatakan ingin ke rumah Fei Yang. Anehnya sekarang setelah duduk bersama, pemuda itu tidak berkata sepatah pun. Fei Yang menunggu Franklin bicara tapi sampai lama sekali kesunyian tetap melingkupi mereka.

“Bukankah kau ingin menanyakan sesuatu? Tulisan yang tidak bisa kaubaca?” Akhirnya Fei Yang membuka suara lebih dulu.

Franklin tersentak. “Ya? Oh… tulisannya… aku baru sadar kalau kamera ponselku rusak, jadi tidak bisa mengambil foto…” Tentu saja itu hanya alasan.

“Memangnya kau dari mana?”

“Jalan-jalan…”

“Ke mal?”

“Tidak, hanya jalan-jalan saja. Keliling kota, melihat keramaian, kadang duduk-duduk di taman…”

“Sendirian saja?”

“Ya. Kau tidak usah heran! Aku memang sering pergi sendiri!”

lonely-in-golden-place

Tepatnya sejak Lydia menikah dengan Tian Ya kemudian Franklin tinggal di sebelah rumah Fei Yang. Hidup sendiri sangat kesepian dan Franklin harus melakukan sesuatu untuk mengalihkan perhatiannya. Apalagi sekarang urusan pekerjaan di Taiwan sudah selesai. Karena tidak ada kegiatan, hampir setiap hari Franklin naik bus atau menyewa sepeda, jalan-jalan tanpa tujuan yang jelas dan baru pulang sampai larut malam. Kebetulan hari ini bertemu Lydia, setelah beberapa bulan tidak melihatnya kerinduan itu meluap dan Franklin tidak dapat mengendalikan diri.

“Setidaknya… kau bisa mengajakku… Kalau ada teman pasti lebih menyenangkan!” kata Fei Yang.

“Aku tidak tahu kalau kau juga suka jalan-jalan.” Franklin tidak terbiasa pergi bersama seorang wanita yang belum benar-benar dikenalnya.

“Ah, seharusnya aku membuatkanmu minum! Coba kutebak, kau suka minum apa? Kopi? Atau teh?”

“Teh saja.”

“Baiklah, tunggu sebentar.”

Aku lupa yang suka minum kopi itu kan, Tian Ya!

Sementara Fei Yang membuat minuman, Franklin mengamati keadaan di sekeliling. Setelah seharian berada di luar dan kedinginan, rumah Fei Yang langsung menyambut Franklin dengan suasana hangat. Banyak sekali foto dipajang di dinding, dalam pigura berbagai ukuran. Franklin berdiri melihat foto-foto tersebut. Foto Fei Yang bermain piano, foto Fei Yang sedang berdiri di atas panggung, ada juga foto Fei Yang bersama beberapa orang. Mungkin mereka dewan juri di kompetisi piano, fans, teman artis, atau musisi. Di sudut ruangan terdapat rak kayu pendek berisi koleksi CD musik. Kebanyakan musik klasik dan instrumental, sebagian lagi lagu pop Mandarin. Ada satu buah CD terpisah dari kumpulan dan kotaknya terbuka. Franklin mengambil CD tersebut. Pada sampul CD itu tidak ada gambar penyanyi atau komposer, juga nama perusahaan rekaman. Hanya daftar lagu dengan huruf Cina yang ditulis tangan.

“Itu CD berisi lagu-lagu favoritku!” Fei Yang keluar dengan membawa nampan berisi dua cangkir teh.

Franklin memasukkan lagi kepingan CD ke dalam kotak dan mengembalikannya ke rak. “Kurasa setiap orang memiliki lagu favorit, tapi tidak semua orang dapat memainkan lagu favorit untuk diri sendiri.”

Fei Yang menatap Franklin, menanyakan maksud kalimat yang diucapkan pemuda itu.

Franklin mengambil cangkir teh di hadapannya, meminumnya beberapa teguk. Kemudian ia mengalihkan pandangan pada foto-foto Fei Yang di dinding. “Kenangan yang sangat berharga!”

“Oleh karena itu aku tetap memajangnya…” kata Fei Yang. “Bagaimanapun juga aku meraihnya dengan susah payah.”

“Aku jadi ingin tahu, seperti apa jika kau bermain piano di atas panggung?” Franklin menunggu reaksi Fei Yang.

Fei Yang menundukkan kepala dalam-dalam. Seperti ingin mengalihkan perhatian, gadis itu lalu berbicara panjang lebar. “Kau tahu, CD yang baru saja kaulihat… lagu-lagu di dalamnya aku copy sendiri. Semua adalah lagu yang populer sekitar lima sampai sepuluh tahun lalu, jadi agak sulit didapatkan. Aku paling suka lagu Chìbăng (翅膀 —Sayap) milik Cyndi Wang. Kau mau dengar?” Tanpa menunggu jawaban Franklin, Fei Yang mengambil CD yang sebelumnya dilihat Franklin, kemudian memutarnya di player.

Franklin mengembuskan napas panjang. Lagu Mandarin. Ia tidak tahu lagu itu, tapi mungkin Lydia tahu! Di rumah mereka, di Indonesia, Lydia memutar lagu Mandarin setiap hari. Otomatis Franklin, ayah, dan ibu juga ikut mendengarkan. Tidak ada yang tahu judul lagu atau penyanyinya kecuali Lydia. Awalnya ayah dan ibu sering menggerutu, mengatakan itu “lagu tidak jelas”, tapi lama-lama mereka mendiamkan saja. Franklin pernah bercanda, jika orang dapat dengan mudah mengetahui Lydia ada di rumah atau tidak, hanya dengan cara apakah mereka mendengar lagu Mandarin dari kamarnya.

Aih! Kenapa aku memikirkan Lydia lagi?

Franklin dan Fei Yang kembali tenggelam dalam diam.

Memutarkan sebuah lagu yang tidak kaumengerti, sama seperti mengharapkan dirimu memahami perasaanku…

Ini aneh, tapi meski mereka tidak berkata-kata, Fei Yang sudah cukup senang dengan kehadiran Franklin di dekatnya. Kesunyian jauh lebih baik daripada pembicaraan tanpa makna yang dapat merusak suasana. Saat Fei Yang melirik ke arah Franklin ternyata pemuda itu sudah tertidur dengan kepala bersandar di sofa. Fei Yang langsung mematikan musik. Ia pergi mengambil sehelai selimut lalu menyelimutkannya ke tubuh Franklin. Tatapan Fei Yang berhenti di wajah Franklin cukup lama. Jantung Fei Yang berdebar begitu keras, sampai membuatnya khawatir jika suara itu dapat membangunkan Franklin! Takut pikirannya semakin melantur, Fei Yang pun buru-buru masuk ke kamarnya sendiri.

Franklin terbangun oleh suara bel.

Siapa itu?

Sangat jarang ada orang yang mencari Franklin. Ia segera menyimpulkan jika itu pasti tamu tetangga sebelah. Franklin menarik selimut sampai di atas kepala agar tak mendengar suara apa pun. Tapi… kenapa selimutnya harum sekali? Franklin membuka mata dan tampaklah selimut tebal berwarna kuning dengan gambar bunga-bunga.

Bunga-bunga? Sejak kapan aku punya selimut bergambar bunga?

Franklin menegakkan tubuh dan melihat kanan kiri. Rasa kantuknya hilang seketika. Tadi malam ia ke rumah Fei Yang lalu… sekarang sudah pagi, ya? Franklin mengusap wajah. Bagaimana ia bisa tidur di rumah Fei Yang? Ia pasti sudah membuat Fei Yang merasa serba salah!

Bel kembali berbunyi. Franklin berjalan ke bagian rumah yang lebih dalam. “Fei Yang! Kau di mana? Fei Yang!”

“Ya!” terdengar sahutan dari arah kamar mandi.

“Ada tamu!”

“Suruh masuk saja, Franklin! Aku sedang cuci muka, sebentar lagi ke depan!”

Franklin kembali ke ruang tamu dan membuka pintu. Di hadapan Franklin berdiri seorang laki-laki yang lebih muda darinya. Laki-laki itu memakai kaus bergambar tengkorak, celana panjang jins yang sengaja dirobek-robek pada beberapa bagian hingga terlihat serat-seratnya, dan sepatu olahraga usang. Tas berukuran cukup besar bertengger di bahu. Saat melihat Franklin wajah laki-laki itu mendadak berubah lalu bertanya curiga, “Siapa kau?”

Franklin juga bertanya keheranan, “Kau sendiri siapa?”

“Hei! Aku bertanya padamu, kenapa kau malah balik bertanya?”

Di telinga Franklin nada suara laki-laki itu terdengar sangat menyebalkan. Tapi ia tidak mau mencari masalah jadi hanya menjawab pendek, “Aku teman Fei Yang.”

Di dalam rumah ada bunga, di luar rumah ada tengkorak!

“Huhh! Teman? Teman apa yang pagi-pagi sudah datang kemari? Rajin sekali!” Penampilan Franklin agak berantakan, membuat laki-laki itu semakin tertarik. Ia kembali bertanya penuh selidik, “Semalam kau pasti menginap di sini, benar, kan?”

Franklin mulai kesal. “Kalau aku menginap di sini lalu apa urusannya denganmu?”

“Apa urusannya denganku? Tentu saja ada!” Tiba-tiba laki-laki itu menarik kerah baju Franklin dengan emosi. “Tidak usah bertanya-tanya tentang aku! Sebaliknya kaulah yang patut dicurigai! Pagi-pagi di rumah seorang gadis, sebenarnya apa yang kaulakukan, haa? Dari wajah dan logat bicaramu yang aneh sudah terlihat kalau bukan orang Taiwan! Sebenarnya kau siapa dan dari mana? Ayo cepat katakan!”

“Fei Xiang! Lepaskan dia!” teriak Fei Yang. Ia meraih nampan di meja yang belum sempat disingkirkan lalu memukulkannya ke kepala laki-laki itu.

Cengkeraman laki-laki itu pada baju Franklin langsung terlepas. Franklin bukannya lega, malah merasa ngilu, menyaksikan betapa keras Fei Yang memukul kepala tamunya. Ternyata Fei Yang cukup menakutkan juga saat marah!

“Aduh… aduh…! Aku baru datang, kenapa kau langsung main pukul? Memangnya kau tidak bisa ramah sedikit? Lagi pula aku peduli pada keselamatanmu…”

“Keselamatan apa?” sentak Fei Yang. “Sejak kapan kau peduli padaku? Dasar pengacau! Kuberitahu, ya, orang ini jauh lebih baik daripada kau!”

Fei Yang tersenyum malu pada Franklin. “Maaf ya, adikku memang tidak sopan!”

Mata Franklin terbelalak lebar-lebar. “Jadi orang ini adikmu?”

“Iya… dia masih SMA dan jika liburan tiba selalu menginap di sini. Memang sedikit badung!”

Aku baru ingat, waktu itu Fei Yang memintaku mengambilkan koper di atas lemari dan mengatakan kalau adiknya akan datang. Tapi adiknya ini berbeda sekali dengan kakaknya!

“Oh…” Ketegangan di wajah Franklin berangsur-angsur menghilang. “Kukira…”

“Kaukira siapa?”

“Tidak! Tidak apa-apa!” Franklin memalingkan wajah ke arah lain.

Fei Xiang masuk ke dalam rumah sambil mengusap-usap kepala, melemparkan tasnya sembarangan. “Kalau tahu akan ‘mendapat serangan’ seharusnya tadi aku memakai helm!”

Fei Yang tidak memedulikan gerutuan Fei Xiang, ia bertanya pada Franklin, “Apa kau mau kubuatkan sarapan?”

“Ah, tidak! Aku pulang saja, maaf sudah merepotkanmu.”

Fei Xiang memelototi Franklin dan Fei Yang, tidak tahu harus marah atau menangis. Ia berteriak, “Jiějie (姐姐 —Kakak perempuan), seharusnya akulah yang ditawari sarapan!”

Fei Yang balas melotot pada Fei Xiang, “Diam kau!”

Franklin mengulurkan tangan ke bagian belakang sofa, tempat Fei Xiang menyandarkan kepala. “Awas, aku mau mengambil jaket!”

Fei Xiang langsung berdiri seperti pegas, meninggalkan ruang tamu dan pindah ke ruangan lain! Ia kesal setengah mati!

Sebelum pergi Franklin berkata, “Kalau ada yang kau tidak tahu tentang bahasa Indonesia… kau bisa tanyakan padaku…”

“Baiklah…”

Fei Yang mengawasi Franklin berjalan keluar dari halaman rumahnya, berbelok, memasuki pagar, halaman, dan ke dalam rumah Franklin sendiri. Sampai pemuda itu tak terlihat lagi, teriakan Fei Xiang-lah yang menyadarkan Fei Yang.

Jiějie, aku lapar sekali!”

 

Sejak hari pertama Fei Xiang datang ke rumah Fei Yang, tak ada sedikit pun ketenangan. Dari pagi sampai malam kakak beradik itu bertengkar terus. Ada saja yang membuat Fei Yang marah atau mengomel, sementara Fei Xiang selalu menanggapi dengan tingkah menyebalkan. Bahkan suara Fei Yang dan Fei Xiang terdengar jelas sampai ke rumah Franklin.

“Hei, kalau sudah selesai makan, cuci piring! Apa sih, yang kaulakukan sepanjang hari? Tidur-tiduran, malas-malasan! Katanya liburan, tapi datang kemari hanya menambah pekerjaan rumahku saja!”

“Aduh, Kakak! Kenapa kauganti salurannya? Sekarang ada pertandingan bola, berikan remote-nya padaku!”

“Awas, ya, kalau kau pulang lebih dari jam dua belas! Aku tidak akan membukakan pintu!”

“Kakak, kausembunyikan di mana ponselku? Bagaimana kalau pacar baruku menelepon?”

Suatu ketika Fei Xiang mendekati Fei Yang yang sedang asyik membaca. “Buku apa yang sedang kaubaca itu?”

Fei Yang menjauhkan bukunya dari jangkauan Fei Xiang. “Jangan menggangguku! Pergi sana!”

Fei Xiang melihat judul pada sampul buku. “Apa buku itu berbahasa Indonesia? Kakak, kau menyukai laki-laki yang beberapa hari lalu bermalam di sini, ya? Sampai sejauh mana hubungan kalian?”

“Apa kau tidak bisa menutup mulutmu yang besar itu?” ujar Fei Yang kesal sekali.

Fei Xiang tidak peduli, ia kembali bertanya penuh rasa ingin tahu, “Untuk apa dia datang ke Taiwan? Apakah dia kaya? Kalau memang orang itu punya banyak uang tidak ada salahnya kau menjalin hubungan yang lebih serius dengannya. Aku pasti akan mendukung Kakak!”

“Sekali lagi kau bicara, aku akan memukulmu!” bentak Fei Yang. “Tidak usah mengurusiku, urus saja masalahmu sendiri! Memangnya kau sudah bersekolah dengan benar? Jangan kaukira karena aku tinggal di tempat jauh lalu tidak tahu apa saja yang terjadi denganmu! Bibi menelepon, katanya tahun ini nilaimu turun drastis! Pasti karena kau malas belajar dan setiap hari pergi keluyuran tidak jelas dengan pacar-pacarmu!”

Sepertinya Fei Xiang sangat alergi dengan kata “belajar”. Terbukti setelah itu wajahnya berubah masam. “Bagaimanapun juga aku memikirkan kepentinganmu! Kalau kau menikah dengan orang kaya hidupmu tidak akan susah seperti sekarang!”

“Ya! Agar hidupmu tidak susah seharusnya kau belajar! Belajar! Aku harus mengatakannya berapa kali baru kau mengerti!”

“Kenapa Kakak marah-marah-marah terus? Dasar Nenek Sihir!”

“Apa? Kau mengatai aku apa? Nenek sihir?” Fei Yang mengacungkan buku setebal batu bata, yang pasti akan sakit sekali kalau kena kepala.

Fei Xiang buru-buru menghindar, tapi Fei Yang mengejarnya.

“Kemari kau! Jangan lari!”

“Aku hanya bercanda!” Sekarang Fei Xiang tidak berlari di lantai, tapi juga naik kursi, naik meja sambil menendang barang yang menghalanginya. Barang-barang itu berjatuhan menimbulkan bunyi sangat berisik.

“Jangan membuat berantakan rumah! Berhenti!”

“Aku akan berhenti kalau Kakak berjanji tidak akan memukulku!”

Fei Yang berhenti mengejar adiknya setelah mendengar suara bel. Ia melempar tatapan mengancam pada Fei Xiang, “Awas kau, ya!” Kemudian membuka pintu melihat siapa yang datang.

Franklin berdiri dengan mata terkantuk-kantuk. Tidur pemuda itu terganggu oleh keributan yang ditimbulkan Fei Yang dan Fei Xiang. “Bisakah kalian… tenang sedikit?”

“Ah, ya ampun, Franklin! Maafkan aku…” Fei Yang merasa bersalah. “Ya, ya! Kami tidak akan ribut lagi, kembalilah beristirahat! Maaf… maaf…”

Franklin pergi sambil menggeleng-gelengkan kepala.

 

Lydia duduk di kursi, melihat pemandangan dari balkon kamar. Usia kandungannya sudah delapan bulan, perutnya membengkak besar sekali. Lydia merasa gelisah menjelang hari persalinan yang semakin dekat. Nyonya Li hampir setiap hari datang ke rumah melihat keadaan Lydia, menanyakan kesehatannya, memberitahunya banyak hal tentang persiapan melahirkan, dan membawakan berbagai makanan. Tian Ya jauh lebih khawatir dibanding mamanya. Setiap hari pria itu pulang cepat. Melarang Lydia pergi ke mana-mana, tapi juga tidak mau meninggalkannya jika sudah berada di rumah.

Sejauh ini tidak ada masalah yang berarti. Tapi tidak tahu kenapa tiba-tiba Lydia merindukan rumahnya di Indonesia dan… ibu! Bagaimana kabar ibu yang dulu ia tinggal kabur itu? Franklin sudah mengirimkan foto pernikahan Lydia dan Tian Ya pada Pak Yudha dan Bu Yudha, tapi tidak ada tanggapan sama sekali. Sekarang jika ibunya melihat Lydia dalam keadaan hamil, apakah ia masih tetap tidak peduli? Apakah nanti setelah anak Lydia lahir, nenek dan kakeknya yang ada di Indonesia itu mau menggendongnya?

Lydia dikejutkan oleh Tian Ya yang memeluknya dari belakang. Lydia hanya menoleh sebentar lalu kembali memandang ke langit.

“Kau sedang memikirkan sesuatu?”

Lydia mengangguk.

“Kalau begitu kau harus mengatakannya padaku.”

Lydia terdiam agak lama sebelum menjawab lirih, “Aku… ingin pulang ke Indonesia…”

Tian Ya tersenyum. Diusapnya perut wanita itu, “Tentu kita akan ke Indonesia, tapi tunggu sampai dia lahir. Tidak ada hadiah yang paling baik untuk ayah dan ibumu selain cucu pertama mereka!”

Sepertinya Franklin memang mengalami insomnia. Walaupun Fei Yang dan Fei Xiang sudah tidak berisik, ia tetap sulit tidur. Jam sepuluh malam ini Franklin jalan-jalan sendiri di lingkungan sekitar rumah sambil melamun. Entah apa yang dipikirkannya. Tanpa sengaja ia berpapasan dengan Fei Yang, gadis itu berjalan menuju arah sebaliknya.

“Kau dari mana? Kenapa malam-malam begini baru pulang?” Sesaat kemudian Franklin merasa ada yang salah. “Oh… maaf! Tentu saja kau pasti punya keperluan penting yang membuatmu harus pulang malam.”

Dulu aku juga selalu bertanya seperti ini, “Kau dari mana? Kenapa malam-malam begini baru pulang?” kepada Lydia kalau dia pulang terlalu larut tanpa memberi kabar…

Sedangkan Fei Yang, ditanya seperti itu malah gembira. “Tidak apa-apa… Aku baru pulang dari mengajar piano. Kau sendiri?”

“Aku… hanya jalan-jalan. Mmm… mau ikut?”

Hati Fei Yang melonjak. Kenapa tidak?

Sejak dari rumah Franklin memang tidak pernah menentukan ke mana ia akan pergi. Jadi pemuda itu hanya berjalan menuruti langkah kakinya. Fei Yang juga tidak bertanya.

“Tadi aku melihat adikmu pergi bersama teman-temannya,” kata Franklin.

Fei Yang agak terkejut karena Franklin berbicara lebih dulu. Biasanya Franklin tidak akan membuka mulut kalau tidak dipancing-pancing. Suatu kemajuan yang bagus, pikir Fei Yang. “Biar saja! Rumah jadi lebih tenang tanpa dia!”

“Kalau kalian sering bertengkar, kenapa Fei Xiang menghabiskan liburan di rumahmu?” Franklin bingung juga dengan kakak beradik ini. Jika Franklin dan Lydia adalah kakak beradik yang rukun sekali, maka Fei Yang dan Fei Xiang kebalikannya, ribut sekali!

“Karena di rumahku dia bisa tidur dan makan gratis! Dia juga membutuhkan orang yang bisa diganggu setiap waktu untuk mengusir rasa bosan! Dari kecil aku dan Fei Xiang memang sudah sering bertengkar. Bibiku selalu sakit kepala setiap kali melihat aku dan Fei Xiang berbuat ulah, apalagi jika salah satu dari kami menangis. Akhirnya kami sama-sama dihukum, tidak boleh bermain di luar rumah…“ Fei Yang menatap Franklin, “Memangnya kau dan Lydia tidak pernah bertengkar?”

Franklin tak segera menjawab, ingatan masa lalu datang menghampiri, menyodorkan rasa manis sekaligus pahit. “Tentu saja aku dan Lydia pernah bertengkar. Tapi jarang sekali, itu pun tidak sampai saling teriak dan pukul-pukulan! Lydia akan merajuk kalau keinginannya tidak dipenuhi, membuatku kewalahan dan… akhirnya aku yang mengalah. Batas pertengkaran kami paling lama adalah tiga hari.” Franklin sangat memahami kenyataan tersebut, selalu terjadi perselisihan dan pertengkaran di antara kakak beradik. Tidak peduli mereka masih kecil atau sudah dewasa. Memperebutkan sesuatu, bersaing mendapat perhatian orangtua, dan saling ejek. Namun Franklin dan Lydia tidak pernah dengan sengaja mencari gara-gara atau melakukan hal yang membuat salah seorang dari mereka marah. Mungkin juga status Franklin sebagai anak angkat membuatnya bersikap lebih hati-hati. Terlebih ketika masuk ke dalam keluarga Lydia, Franklin sudah cukup dewasa.

“Oya?” Fei Yang tampak heran.

“Lydia sering berselisih dengan ayah dan ibu karena segala keinginannya dianggap tidak biasa. Hanya aku yang selalu mendukung dan membela Lydia. Akibatnya Lydia sangat manja padaku dan terlalu bergantung padaku. Berangkat dan pulang sekolah aku yang antar jemput, pergi ke mana-mana aku yang menemani. Kalau ada tugas keterampilan membuat sesuatu, aku pasti ikut turun tangan. Ketika Lydia ada masalah dengan teman-teman atau guru di sekolah, dia juga akan menceritakannya padaku. Memang merepotkan, aku pun sadar jika terlalu protektif terhadap Lydia. Pernah suatu kali saat Lydia SMA, ada anak laki-laki yang menyukainya. Anak itu datang ke rumah setiap hari mencari Lydia dengan alasan belajar. Aku terus mengawasi mereka, duduk di dekat Lydia dan anak itu. Pada dasarnya Lydia selalu bersikap cuek dengan semua teman laki-laki, jadi dia tidak menyadari bahwa anak itu sedang mengejarnya. Lama-lama keberadaanku membuat anak itu tidak nyaman dan berhasil ‘mengusir’ dia dari rumah kami. Ada dua orang lagi yang berusaha mendekati Lydia setelah itu dan aku melakukan hal yang sama terhadap mereka. Sampai akhirnya tidak ada lagi teman laki-laki Lydia yang berani datang ke rumah.”

Hanya terhadap Li Tian Ya aku tidak bisa berbuat apa-apa, karena Lydia sendiri juga menyukainya!

“Kau keterlaluan!” seru Fei Yang. “Teman-teman Lydia pasti menganggapmu sebagai kakak paling menakutkan sedunia! Kalau mendengar dari ceritamu hubungan kalian berdua tampak sangat baik. Berbeda sekali dengan aku dan Fei Xiang! Dia suka sekali mengganggu dan menjailiku, membuatku kesal! Huh… sebenarnya aku berharap punya kakak laki-laki yang baik, tapi malah mendapatkan adik laki-laki yang sangat menyebalkan!”

Franklin merasa geli, “Kita kan tidak bisa memilih akan terlahir sebagai kakak atau adik!”

“Begitulah! Ketika kecil kita bisa berkata, ‘Mama, papa… aku ingin punya seorang adik!’ Tapi kita tidak mungkin mengatakan, ‘Mama, papa… aku ingin punya seorang kakak!’ Apakah aku terlihat konyol?” Fei Yang menertawakan diri sendiri. Franklin juga tertawa.

Ini untuk pertama kalinya Fei Yang melihat Franklin tertawa lepas saat mereka bersama. Fei Yang mencuri pandang ke arah Franklin. Sikap Franklin malam ini begitu hangat dan bersahabat, sangat berbeda dengan hari-hari sebelumnya. Ia menawari Fei Yang ikut jalan-jalan, mau berbicara lebih banyak, dan… Karena melamun, langkah Fei Yang melambat. Tiba-tiba saja terbentang jarak beberapa meter antara dirinya dengan Franklin. Fei Yang cemberut.

Laki-laki macam apa yang membiarkan seorang perempuan tertinggal jauh di belakangnya saat berjalan bersama?

“Franklin, tunggu!”

Franklin dan Fei Yang lalu pergi ke kafe Xing Wang. Melihat mereka datang bersama, Xing Wang tahu pasti ada sesuatu. Namun ia menemani Franklin dan Fei Yang mengobrol sampai kafe tutup tanpa menanyakan masalah pribadi. Xing Wang pikir kalau Franklin dan Fei Yang merasa perlu, mereka akan bercerita dengan sendirinya.

Keluar dari kafe Xing Wang jam sudah menunjukkan pukul dua belas.

“Setelah ini kau masih mau pergi atau pulang saja?” tanya Fei Yang.

Sebenarnya Franklin enggan untuk pulang, tapi karena ia pergi bersama Fei Yang tentu tak boleh seenaknya. “Kau sendiri bagaimana?”

“Kalau kau tidak pulang, aku juga tidak mau pulang!” kata Fei Yang keras kepala.

“Baiklah! Sekarang terserah padamu…” Franklin menyerahkan pilihan pada Fei Yang.

Fei Yang tersenyum, meminta Franklin mengikutinya. “Aku tahu tempat yang mengasyikkan!”

“Kita mau ke mana?”

“Toko buku.”

“Toko buku? Memangnya masih ada yang buka?”

“Masih.”

Eslite.

Toko buku yang terletak di Dunhua South Road ini buka selama dua puluh empat jam. Franklin belum pernah datang kemari, jadi ia agak terkejut mengetahui kalau ternyata ada toko buku yang buka seharian.

“Pilih saja buku yang kausuka!” kata Fei Yang.

“Tapi… aku tidak membawa dompet…” bisik Franklin. Ia hanya membawa sedikit uang di saku, sama sekali tidak berencana membeli buku.

“Siapa bilang kita akan membeli buku! Kita hanya akan membaca saja!”

“Apa? Sebenarnya ini toko buku atau perpustakaan?” Franklin semakin heran.

“Anggap saja toko buku sekaligus perpustakaan!”

Mata Franklin menyapu ke segala arah. Dirinya seperti terdampar di istana buku. Rak-rak tinggi penuh buku tersebar di ruangan yang luas tersebut. Ternyata bukan hanya mereka berdua yang membaca buku. Anak muda, orang tua, kakek-kakek, bahkan turis asing, semua membaca buku dengan cara masing-masing. Duduk di kursi atau di tangga, ada yang sengaja mencari tempat tersembunyi, ada juga yang berdiri. Musik klasik mengalun lembut, memberi efek menenangkan.

Lydia suka sekali membaca, apakah dia sering datang ke tempat ini bersama Tian Ya?

Franklin memarahi diri sendiri karena sampai sekarang masih belum bisa melupakan Lydia. Ia sembarangan mengambil sebuah buku berbahasa Inggris, membuka acak halamannya sambil mengawasi gerak-gerik Fei Yang. Gadis itu duduk di lantai, menyandarkan tubuh ke dinding lalu membaca buku dengan santai.

“Fei Yang! Kau sedang apa?” bisik Frankilin, cemas jika ada petugas toko yang datang.

Fei Yang menarik Franklin hingga pemuda itu duduk di sampingnya. “Karena kita sama-sama sulit tidur, sebaiknya membaca buku saja. Ini jauh lebih bermanfaat, benar kan?”

“Apakah boleh kita membaca buku tanpa membeli? Berapa jam?”

“Mau menginap pun boleh!”

“Kau bercanda, ya?”

Fei Yang tidak menjawab, matanya terpaku ke satu tempat.

“Apa yang kaulihat?” tanya Franklin lagi.

“Itu…” Fei Yang memberi tanda dengan gerakan kepalanya. Di depan mereka ada seorang remaja perempuan duduk menghadap meja diapit oleh ayah dan ibunya. “Aku jadi teringat dengan mama dan papa… dulu kami sering pergi bersama seperti itu.”

“Mama dan papamu… mereka meninggal karena apa?” Pertanyaan yang sudah lama mengendap dalam benak Franklin akhirnya sekarang dikeluarkan.

“Papaku seorang nelayan, dan mamaku setiap hari pergi ke pasar untuk menjual ikan hasil tangkapan papa. Mama meninggal waktu melahirkan adik laki-lakiku. Tak lama kemudian kami juga harus kehilangan papa…”

 

Fei Yang tidak akan pernah melupakan hari terburuk dalam hidupnya.

Waktu itu Fei Yang yang masih berusia sepuluh tahun sedang menyantap makan siang bersama papanya. “Papa, kenapa manusia tidak bisa terbang?”

“Karena tidak punya sayap,” jawab Papa.

“Bagaimana caranya membuat sayap? Aku ingin bisa terbang seperti Tinker Bell!”

“Kau terlalu banyak menonton film kartun! Tinker Bell hanya dongeng, tidak ada dalam kehidupan nyata! Sayap juga tidak bisa dibuat pada manusia!”

“Tapi burung dan kupu-kupu punya sayap, juga bisa terbang. Kenapa hanya manusia yang tidak bisa? Lalu kenapa Papa memberiku nama fēiyáng (飞扬 —terbang melayang-layang) kalau tidak bisa terbang? Bukankah itu aneh?”

Papa menatap Fei Yang dan berkata dengan sungguh-sungguh. “Nak, Tuhan memang tidak menciptakan manusia dengan sepasang sayap. Tapi manusia diberi akal pikiran untuk membuat benda-benda yang bisa terbang dan memudahkan kehidupan mereka. Misalnya pesawat!”

“Kapan kita bisa naik pesawat, Papa?”

“Aduh! Kenapa kau selalu menanyakan pertanyaan yang aneh-aneh dan tidak bisa kujawab?” Papa mendengus kesal. “Kau harus belajar yang rajin dan jadi orang pintar, barulah bisa terbang keliling dunia dengan pesawat. Untuk itulah Papa memberimu nama Fei Yang! Semua harapanku padamu ada di dalam nama itu!”

Karena seharian itu Fei Yang terus-menerus ribut mengatakan kalau ia ingin terbang, Papa lalu membuatkan sesuatu untuknya. Fei Yang mengawasi Papa memotong bambu, membuat kerangka, menggunting kertas, hingga membentuknya menjadi sebuah layang-layang sederhana.

“Apa itu?”

“Layang-layang!” Papa tersenyum. “Dulu Papa sering bermain layang-layang. Senang sekali kalau bisa menerbangkannya dan melihatnya melayang melintasi langit.”

“Benarkah?” Fei Yang tidak percaya.

“Tentu saja! Besok pagi kita terbangkan layang-layang ini bersama. Sekarang Papa harus pergi berlayar, sementara menunggu Papa pulang kau bisa menggambar dan mewarnai layang-layang ini agar terlihat lebih indah.”

Kemudian Papa menitipkan Fei Yang dan adik laki-lakinya kepada Yímā (姨妈 —bibi dari pihak ibu) yang tinggal tak jauh dari rumah mereka. Hal tersebut biasa dilakukan setiap hari selama Papa pergi berlayar. Setelah menggambar dan mewarnai layang-layang sampai larut malam Fei Yang tidak bisa tidur. Anak itu tidak sabar menunggu pagi tiba, melihat Papa pulang dari laut, lalu mereka akan menerbangkan layang-layang di tepi pantai. Tapi yang terjadi sungguh di luar dugaan. Fei Yang masih berbaring sambil memandangi layang-layangnya yang disandarkan di dinding, ketika tiba-tiba pintu kamar terbuka. Bibi berlari menghampiri Fei Yang dan memeluknya erat-erat.

“Malam itu, mungkin saat aku sedang melukis layang-layang, badai besar datang menghantam kapal milik Papa hingga terbalik. Bibi berkata kalau Papa tidak mungkin pulang kembali. Aku tidak mau mempercayainya. Bagaimana bisa dia tidak pulang? Papa sudah berjanji akan bermain layang-layang bersamaku… Aku menangis dan terus menangis—tidak tahu berapa lama—memanggil-manggil Papa sambil memandangi layang-layang yang dia buatkan untukku, sampai layang-layang itu koyak oleh air mata. Aku juga belum sempat menunjukkan gambar yang kubuat di layang-layang pada Papa. Aku marah karena Papa tidak menepati janji, marah karena dia meninggalkan aku dan adikku setelah Mama meninggalkan kami.”

Franklin ikut terjebak dalam suasana muram yang ditimbulkan oleh cerita Fei Yang.

“Aku belajar menerbangkan layang-layang sendiri tapi gagal. Setiap hari, selama bertahun-tahun, aku berjalan ke tepi pantai sambil menatap di kejauhan. Berharap Papa akan muncul dan berkata padaku sambil tersenyum, ‘Maaf Fei Yang, Papa pulang terlambat! Ayo kita terbangkan layang-layang bersama…’ Tapi hal itu tidak pernah terjadi. Jenazah Papa juga tidak ditemukan. Aku tidak dapat menguburkannya apalagi datang ke tempat dia dimakamkan jika merindukan Papa. Terkadang aku benar-benar ingin mempunyai sepasang sayap agar bisa terbang mencari Papa. Sekarang aku selalu merasa sedih saat melihat laut, padahal sebelumnya aku sangat menyukai laut…” Tanpa disadari air mata Fei Yang menetes. “Maaf… aku…” Ia mengusap pipi dengan punggung tangannya, merasa sangat malu.

Ini pertama kalinya aku menangis di hadapan seorang pria selain Papa!

“Tidak! Tidak apa-apa!” Franklin buru-buru mengambil tisu dari sakunya, lalu menyodorkannya pada Fei Yang.

Ini pertama kalinya seorang wanita selain Lydia menangis di hadapanku!

Fei Yang berusaha mengendalikan tangisnya agar jangan sampai menarik perhatian para pengunjung toko, tapi sepertinya sangat sulit. Ia terlalu terbawa perasaan. Membicarakan mama dan papa selalu membuatnya sedih, meski mereka sudah lama meninggal.

Pada saat itu tangan Franklin terulur ke bahu Fei Yang, menarik gadis itu ke dalam pelukannya. Dan Fei Yang pun tak kuasa menahan tangannya bergerak balas memeluk Franklin.

Apakah salah jika aku menggunakan tubuhnya untuk tempat bersandar? Aku lelah, dan aku membutuhkan seseorang yang bisa menopang tubuhku…

 

 

10 Comments to "[Di Ujung Samudra] Teman dalam Kesendirian"

  1. J C  16 December, 2015 at 08:20

    Lhaaaa…semakin rumit ini…

  2. Lani  4 December, 2015 at 04:50

    Hahaha……….James kamu berkiwir ria di Harbour bridge aku di Kona…..bikin ngakak aja kamu

  3. James  3 December, 2015 at 14:36

    wah ci Lani, nanti aku ikutan pakai yang kiwir-kiwir lelakinya….ngakak juga bisa kebayangin…..kiwir-kiwirnya diatas Harbour Bridge

  4. Lani  3 December, 2015 at 13:01

    James mmg sll sendirian………..mau nemenin? Nanti bs lengket sama bikini kiwir2 hahaha………….

  5. James  3 December, 2015 at 09:36

    mbak Lani, lagi sendirian sama kompi yah ?

  6. Liana  3 December, 2015 at 06:42

    Karena semakin lama semakin menuju ke klimaks

  7. Dj. 813  3 December, 2015 at 00:40

    Baru baca setengah . . .
    Besuk dilanjut . . .
    Terimakaksih dan salam,

  8. Lani  2 December, 2015 at 13:42

    Liana nampaknya semakin asyik nih Fei Yang dan Franklin

  9. Lani  2 December, 2015 at 13:41

    James mahalo, mmg lagi sendirian

  10. James  2 December, 2015 at 12:00

    1……..lagi

    para Kenthirs dalam Kesendirian kah ?

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.