ONLINE DATING

Louisa Hartono (Nonik)

 

Disclaimer: postingan ini mungkin bernada dan dirasa narsis bagi beberapa orang. Semua ini hanyalah refleksi saya pribadi tanpa bermaksud menyinggung siapapun.

 

Sekarang kita sudah memasuki jaman yang serba online. Hampir segala sesuatu bisa dan sudah dilakukan secara online. Mau beli sesuatu, sekarang belanja online sudah tersedia dimana-mana dan menjamur. Reservasi tiket juga sudah online. Mau ngecek jadwal kereta atau bus (terutama di negara maju), juga tinggal keluarin hape. Ga tau jalan? Nyalain GPS, Google Maps, atau aplikasi Waze. Layanan transportasi umum pun sudah go online seperti Gojek dengan tawaran go-go lainnya, seperti go ride, go food, go shopping, go make up, go massage, go courier, dll.

Mau bikin gerakan, tinggal bikin petisi online, kumpulin tanda tangan online, dan lihat saja, efeknya bisa dahsyat di dunia nyata. Termasuk urusan percintaan dan dating, sekarang pun bisa dilakukan lewat dan dari dunia online. Pacaran sekarang tidak harus ketemuan langsung (meskipun akan lebih baik kalau bisa ketemu langsung sih….). Semuanya bisa mulai dan berakhir secara online: mulai dari kenalan, ketemuan, pacaran, bahkan putus!! Intinya, saat ini kita benar-benar sudah hidup di dunia yang serba online.

Ngomong-ngomong soal online dating (OD), mungkin muncul pertanyaan, kenapa sih sekarang OD jadi pilihan? Well, berkaca dari pengalaman pribadi, alasan pertama dan terutama adalah karena saya merasa susah mencari pasangan yang sesuai kriteria dengan cara konvensional, apalagi di Indonesia :p Ya tanpa bermaksud nyombong, dengan background pendidikan dan pengalaman yang saya miliki, saya tentu ingin memiliki pasangan yang sepadan, baik dalam hal spiritual, intelektual, emosional maupun fisik. Masalahnya susah untuk menemukan cowok dengan kualitas demikian di Indonesia.

Ada sih, tapi ga banyak…. Karena mereka itu jarang ditemui. Karena saya bukan sekadar cari cowok yang bisa sayang-sayang saya, tapi juga sparring partner yang bisa diajak diskusi dan ngobrol-ngobrol tentang hal-hal dan topik yang saya suka, terutama tentang sosial politik (sospol), community development, pendidikan, dll. Bukan orang yang sekadar ngemeng tapi juga yang bisa bikin saya tertantang dan intellectually challenged, dimana saya bisa belajar dari dia dan sebaliknya. Dan lagi-lagi, bagi saya, pria dengan passion seperti ini tidak banyak.

Kedua adalah alasan waktu. Bagi orang yang sudah bekerja termasuk saya, kami sudah terikat waktu dan tempat di pekerjaan ini. Sedikit banyak keterikatan dengan tempat kerja ini membatasi ruang gerak kami untuk berinteraksi dengan orang-orang lain untuk memperbesar chance ketemu gebetan baru (kekekekeke), terutama buat kerjaan kantoran yang harus duduk di depan computer jam 9-5 setiap harinya. Pulang kerja sudah capek, pinginnya istirahat di rumah. Belum kalau jarak dari rumah ke tempat kerja jauh, bisa makan 1-2 jam di jalan, apalagi kalau rush hour. Surabaya aja kalau pas jam-jam pulang ngantor bisa muacet, ga kebayang deh Jakarta kaya gimana. Sampe rumah bisa jam 7 or 8 malem, dan pinginnya segera mandi air anget, makan, terus rebahan di kasur. Besok harus bangun jam 5 or 6 pagi untuk berangkat kerja, begitu seterusnya. (Sungguh rutinitas yang membosankan….).

Nah, kalo kerjaannya lapangan, masih lebih mending. Setidaknya kita gak terus terkungkung di dalam kubikel di kantor. Saya mensyukuri banget bisa dapat kerjaan yang kombinasi kantoran & lapangan. Tapi dengan siapa kita berinteraksi di lapangan juga menjadi factor tersendiri. Kalo kerja lapangannya yang blusukan ke desa-desa, menangani orang miskin & membutuhkan (seperti para pekerja sosial dan aid worker), maka chance untuk ketemu dengan pasangan yang seimbang & sepadang kan juga kecil. Masak iya kita mau macari orang yang kita tolong?? Ya bukan berarti ga mungkin sih, cinta itu datangnya juga ga pilih2 hahaha…. Tapi secara logika, kemungkinannya kecil. Kalo kerjaan lapangan yang ketemu dengan para pejabat, CEO perusahaan, dan orang penting lainnya, naah itu lebih mending lagi. Tapi sekali lagi, tetap harus lihat-lihat “segmen” dengan siapa kita berinteraksi. Salah-salah kita malah jadi simpanan atau selingkuhan #eh.

Ketiga, alasan saya menggunakan OD adalah karena dengan OD, saya bisa menentukan dan menyeleksi kriteria pasangan seperti apa yang saya inginkan dan butuhkan. Saya juga bisa bebas berekspresi menulis tentang diri saya sendiri: siapa saya, hobi dan passion saya, karakter saya, apa kualitas dan karakter apa yang saya inginkan dari seorang pasangan, dll. Lalu nanti kalau sistim kasih notification tentang adanya pasangan yang cocok, saya bisa lihat dari profilnya, orangnya seperti apa sebelum memutuskan apakah saya mau membuka diri atau tidak :p Sehingga hemat waktu, energy, dan emosi juga kan…. Kalau dari profilnya ada sesuatu yang kita merasa ga cocok, ya untuk apa diteruskan lebih lanjut. Well…. Orang cari kerjaan aja kudu pake CV… lha kalo cari pasangan hidup – yang idealnya menikah hingga maut memisahkan – bukannya juga kudu lebih selektif dan ati-ati ya?? Sama lah kayak baca-baca CV orang. Huwahahaha…

Online-Dating

By the way itu semua dengan catatan kita memakai website OD yang benar lho yaaaa, bukan yang abal-abal!! Salah satu unsur untuk mengetahui apakah OD itu OD yang benar/terpercaya atau tidak adalah dengan melihat pertanyaan-pertanyaan yang diajukan saat kita membuat akun. OD yang benar biasanya akan kasih banyak pertanyaan untuk kita jawab: kelebihan, kelemahan, kepribadian, hobi, bahkan kadang-kadang kita diminta buat bikin esai pendek untuk mendeskripsikan diri kita itu seperti apa. Lalu biasanya ada penghitungan algoritmanya (ternyata cinta pun tetap butuh logika) untuk menentukan berapa persentase kita cocok dengan lawan jenis. Jadi kalau mau mencoba OD pilihlah OD yang berkualitas, terpercaya (kalau bisa resmi dan sudah ada nama, seperti misalnya Setipe.com), jangan OD yang dari namanya aja udah terkesan geje en meragukan.

OD memang sudah bukan barang baru, tapi sayangnya masih banyak orang yang terkesan skeptis atau meragukan OD (setidaknya dari pengamatan saya sendiri sih). Kalau ketemu pasangan lewat OD atau media sosial (medsos) lainnya, rasanya tuh kurang afdol dan kayak gimanaaa gitu. Rasanya kaya ga romantis. Pengalaman saya dengan OD kurang lebih jalan 1 tahun. Dari OD itu, saya sudah ketemu 4 orang (2 di antaranya sempat penjajakan serius), dan ini hendak bertemu yang kelima.

Thanks God pria-pria yang saya temui itu semuanya jujur-jujur, apa yang mereka katakana sesuai dengan profil yang mereka tulis. Bukannya saya naïf atau gimana sih, tapi come on…. Saat bertemu langsung dengan orang ybs, kita akan langsung tau orang ini bohong atau jujur. Lagian mereka pakai OD juga karena sama-sama serius mencari pasangan :p (tapi of course bukan berarti semua orang jujur, tetep ada yang bohooooong. Intinya ya pinter2 dalam memilih dan memilah lah). Pandangan skeptis orang terhadap OD tercermin dari pertanyaan berikut setiap kali ditanya orang, “Jadi, gimana kamu kenal sama si doi?” Mau jawab “Kenalan online,” kok rasanya gimanaaa gitu. Apalagi kalau yang Tanya generasi tua, duuuh -.-“ Padahal gak sedikit lho pasangan yang menikah gara-gara ketemu online, dan mereka ya langgeng2 saja (sekali lagi, cari pasangannya yang beneeeerrr).

Pernah saya ditanya gitu oleh orang yang saya tuakan. Anggap saja dia ini teman bos saya. Usia kira-kira pertengahan 30an dan penampilannya cukup casual, gaya anak muda gitu deh. Kalau ngantor kadang Cuma pakai kemeja longgar, celana pendek, dan sandal crocs. Suatu hari dia tanya ke saya, “Kamu kenal doi darimana?” Saya tadinya mo jawab jujur, “Kenal dari OD, Ko,” Tapi belum sempet saya jawab, beliau sudah nyletuk, “Nek kenalane dari internet yo bahaya wis…. Big no no. (Kalau kenalannya dari internet ya bahaya udah… Big no no)”. Whuuaaah, saya denger omongannya itu, jujur jadi keseeeeel banget. Buset, belum apa-apa sudah dijudge kalau cowok ini bahaya, gak bener, dll. Padahal kelakuan cowok yang waktu itu saya temuin jauh lebih nggenah daripada cowok-cowok di gereja yang ngakunya anak Tuhan. Saya jadi males menjawab dan melanjutkan percakapan tersebut, sehingga saya Cuma jawab balik, “Yaa…. Ada deh Ko.” Kemudian melenggang pergi.

Buat saya itu hipokrit banget. Katanya anak Tuhan dan dekat sama kaum muda, penampilannya juga anak muda. Lha tapi dengan sesuatu yang berbau kekinian kok sikapnya seperti itu. Apakah semua OD itu jelek, bahaya, pasti ngawur dan gagal total?? Kalau saya beritahu dia bahwa saya pernah kencan sama pendeta muda yang kenalan dari Tinder mungkin dia shock kali ya. Jiakakaakakaa…

Yaaa… saya ngerti sih maksudnya dia. Bahwa pertemuan yang sehat itu idealnya dari ketemu langsung, dari komunitas. Tapi di jaman sekarang dimana orang-orang pada sibuk dan go online… .tidak semua yang ideal (dan konvensional) itu bisa dipertahankan. Ada hal-hal yang dirasa lebih membantu dengan menggunakan aplikasi online, termasuk urusan dating dan percintaan. Bukannya OD ini emang dibuat untuk membantu mereka yang memang membutuhkan ya? Tanpa adanya kebutuhan ini, mustahil OD muncul atau dibuat. Terus sebenarnya yang naïf itu dia ato saya?

Saya tetap setuju bahwa kita harus berhati-hati dalam memilih pasangan. Mau ketemu online kek, offline kek, semua harus hati-hati. Emang yang ketemu offline udah pasti bener dan langgeng gitu?? Kerjaan saya banyak ketemu dengan orang-orang – mayoritas wanita – ekonomi menengah ke bawah yang ditinggal begitu saja oleh pacar atau suaminya. Dan mereka yang tinggal di daerah kumuh ini, mana tahu aplikasi OD? Bahasa Inggris aja mereka ga bisa. Jadi mereka sama (mantan) suami/pacarnya yang sekarang itu ya karena ketemu offline, bisa ketemu sendiri atau dijodohkan.

Dan nyatanya banyak yang ditinggal: mulai dari tahap pdkt lalu ditinggal, pacaran lalu ditinggal, tunangan lalu ditinggal, sampe sudah menikah lalu tiba-tiba lakinya hilang kemana, itu semua buanyaaaak. Rata-rata cowoknya begitu saja, ga kasih kabar, sang bini sudah melahirkan anak juga gamau tahu dan ga bisa dihubungi lagi, ga pernah kasih duit lagi, dan berbagai cerita ngenes lainnya. Lha masih mending cowok-cowok yang saya kenal secara online ini toh, kalau misalnya tidak ada kecocokan, maka kita akan ketemu dan membicarakannya secara langsung dan terbuka, sebelum hubungan ini masuk ke tahap yang lebih jauh dan dalam. Jadi semuanya clear dan ada kejelasan. Makanya, apa online dating ini pasti selalu buruk? Gak lah yaaw….

Kira-kira begitulah refleksi saya akan OD. Saya ga heran kalau suatu saat, generasi saya akan bercerita ke anak-anak kami bagaimana papa dan mamanya ketemu secara virtual. Entah bagaimana dengan jaman anak cucu saya nanti, udah secanggih apa media dan teknologi nanti untuk berkencan…

 

 

About Louisa Hartono

Nonik – cewek kelahiran Semarang dan besar di Purworejo. Setelah menamatkan studi masternya di Swiss, dia kembali ke Indonesia. Saat ini bekerja sebagai CSR Field Coordinator & Donor Liaison Officer di salah satu perusahaan ternama di Surabaya. Hobinya masih sama: jalan-jalan, membaca, dan belajar bahasa asing. Walaupun tulisannya banyak mengkritik Indonesia, tapi mimpi dan hatinya tetap bagi Indonesia. Suatu saat ingin bisa kerja di UNESCO sambil membawa nama Indonesia di kancah internasional, lalu pulang dan bikin perpustakaan dan learning center di Purworejo, kampung halamannya.

My Facebook Arsip Artikel

15 Comments to "ONLINE DATING"

  1. Nuchan  11 December, 2015 at 18:45

    Hahaha yupe zaman sudah berubah total…
    Saya pikir OD juga menarik#greget hahaha…
    Saya pikir saya sudah mencoba semua yg fasilitas ONLINE…hahaha…kalo bisa online kenapa tidak???

  2. Swan Liong Be  11 December, 2015 at 18:10

    Djoko tidak pernah beli secara OD (Online Dating),selalu bayar kontan. Apa yang dimaksud ya???

  3. prabupetra  11 December, 2015 at 13:14

    Kekinian typically, tll mengandalkan spec…
    Relationship is all about compatible n love make it works

  4. Lani  3 December, 2015 at 13:02

    James………ya numero uno………hahaha………..

  5. James  3 December, 2015 at 09:35

    ok ci Lani masuk daftar urutan paling atas yah ??

  6. Dj. 813  3 December, 2015 at 00:38

    Hallo Nonik . . .
    Terimakasih untuk refleksi nya . . .
    Mungkin Dj. saja yang norak . . .
    Tidak pernah beli dengan cara OD.
    Ada uang, ya beli bayar kontan . Hahahahahaha . . . ! ! !
    Salam manis dari Mainz .

  7. Lani  2 December, 2015 at 13:14

    Mahalo James……..daftarkan aku hehehe

  8. Nonik-Louisa  2 December, 2015 at 13:10

    @Pak Han: huahahahahahaa. ngakaaaaak Pak Han.

  9. Handoko Widagdo  2 December, 2015 at 13:03

    Ketika saya tanyakan ke kakek saya ternyata beliau juga sudah kenal dengan OD, yaitu Oesaha Dagang.

  10. James  2 December, 2015 at 11:59

    1……OD juga sama deh ada segi positif dan negatifnya, malah kalau negatifnya hasilnya bukan dapat jodoh tapi Pembunuh Tulen

    halo para Kenthirs masih pada OD yah ?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.