Cadel atau Cedal

Dewi Aichi – Brazil

 

“Yem ….kowe ndak wis iyam?”

Hahaha…aku ngakak saat Wesiati ngebahas ini di statusnya. Lucu aja. Itu adalah bahasa Jawa, yang terjemahannya adalah: Yem, apakah dirimu sudah mandi? Iyam itu biasanya mewakili ucapan anak kecil yang masih cadel. Kata yang sebenarnya adalah “siram” artinya mandi.

Seperti beberapa hari yang lalu ketika saya ngobrol di taman dengan tetangga yang memiliki 2 anak laki-laki, yang besar umurnya 6 tahun, dan yang kecil umurnya 2 tahun.  Tiba-tiba anaknya yang besar mendekati mamanya dan bilang, “mae, eu quelo lefli!” Yang artinya: ” ma, aku ingin softdrink!”

cedal

Lucas yang berumur 6 tahun itu masih cadel, anak yang tidak cadel akan mengucapkan kalimat tersebut yaitu ” mae, eu quero refri”.  Lalu salah satu dari tetangga kami menyarankan kepada ibunya Lucas untuk berkonsultasi dengan specialista yang di Brasil disebut fonoaudiologia.

“Lucas harus segera di bawa ke specialis fonoaudiologia ” kata salah satu tetangga. Biasanya anak-anak cadel pada di bully, kan kasihan. Meski terlambat, namun setauku jika anak kecil ngomongnya masih cadel, lama-lama juga nanti bisa berkata “r”. Disebut cadel jika seseorang atau anak tidak bisa mengatakan “r”. Tetapi di Jepang kebalikannya.

Seingatku dulu, anakku tidak cadel. Tetapi karena pas masa kecilnya hanya berbicara bahasa Jepang, maka kadang-kadang ada beberapa kata yang dikatakan dengan cadel, itu juga karena mengikuti entah guru atau teman. Dan juga ada beberapa kata, yang jika digunakan untuk percakapan, diucapkan sesuai tulisan, tetapi jika dijadikan lirik lagu, maka dikatakan seperti orang cadel. Contohnya adalah kata “wakaranai” , dalam percakapan sehari-hari biasanya dibaca normal, sesuai tulisan, tetapi dalam beberapa lagu, diucapkan “wakalanai”.

cedal (1)

Untuk itu, saya bilang bahwa anakku tidak mengalami masa cadel saat kecil. Terbukti dia bisa mengucapkan “r” . Kadang-kadang kan orang tua berbicara dengan anak kecil dicadel-cadelin, dengan maksud agar lebih dekat dan akrab dengan si anak. Padahal anak seharusnya tetap dilatih untuk mendengarkan kata-kata yang benar, bukan mendengar kata-kata cadel dari para orang tuanya. Anak itu sangat tajam ingatannya, dan selalu meniru apa yang diucapkan atau didengarkan. Jika anak selalu mendengar kata-kata yang cadel, bukan tidak mungkin malah memperparah keadaan, cadel hingga dewasa. Meski hal ini jarang terjadi.

cedal (2)

Sebaliknya, orang tua justru mengajari anak untuk mengucapkan kata-kata dengan benar. Jika anak tidak bisa bicara yang jelas atau cadel, orang tua segera meluruskan dengan mengajarkan anak menirukan. Misalnya anak bilang “atit peyut” atau sakit perut, nah orang tua segera mengucapkan yang benar dan meminta anak menirukan atau mengucapkan berkali-kali.

Cadel atau cedal pada anak kecil itu normal, hanya butuh kesabaran untuk melatihnya. Semakin cepat dilatih, semakin cepat pula si anak bisa mengucapkan dengan benar. Diusahakan jangan sampai cadel sampai besar, karena hal ini bisa membuat si anak minder atau malu.

 

 

About Dewi Aichi

Berasal dari Sleman Jogjakarta, saya blasteran (antar kelurahan maksudnya), happily married to a Brazilian guy. Dari Jogja merambah dunia. Pernikahan lintas benua adalah pilihannya. Setelah beberapa tahun di Distrik Aichi, Jepang, sekarang tinggal di Brazil bersama keluarga tercintanya. Tingkat sudrunnya setara dengan saudara-saudara sepersudrunannya seperti Nur Mberok, Elnino, Fire dan jelas Lani van Kona.

Di sini saya bukan siapa-siapa dan bukan apa-apa, saya hanya sekedar menulis apa yang saya rasakan, apa yang saya alami, dan apa yang menarik buat saya untuk ditulis. Jika ini bermanfaat untuk diri saya sendiri dan juga untuk teman-teman, saya sangat bersyukur

My Facebook Arsip Artikel Website

7 Comments to "Cadel atau Cedal"

  1. J C  16 December, 2015 at 08:25

    Apakah di Anglo-saxon speaking ada yang cedal/cadel begini ya?

  2. ariffani  6 December, 2015 at 14:54

    katanya kalo orang cadel ngomong englishnyapinter….

    ehh tapi aku sendiri sampe sekarang kalo ada suatu kata yg ada huruf “L” dn “R” masih suka belibet dn sedikit cadel … aku juga ingat waktu kecil gak bs bilang huruf “S” bacanya selalu jadi huruf “X”

    hahahahhahaha,,,,,

  3. Lani  5 December, 2015 at 13:15

    James mahalo, kenthir satu ini tdk pernah cadel dan tdk pernah bercadel/cedal ria.

    DA : baru tau makane klu ketemu org Jepang di Hawaii mrk ndak bs nyepel Lani tp Rani kkkkkk

  4. donald  4 December, 2015 at 21:45

    Orang sabar tidak pernah cadel loh…

  5. Dj. 813  4 December, 2015 at 19:55

    Mbak DA . . .
    Hahahahahahahaha . . .
    INi ada kejadian teman di Indonesia . . .
    Cucunya minta apa yang opanya makan . . .
    Opa bertanya , mau pisang goreng . . . ? ? ?
    Maka si cucu mengangguk . . .
    Lalu dikasihnya sepotong pisang goreng . . .
    Saat si cucu pegang itu pisang goreng dia teriak . . . nanas….nanaaaaas . . . !!!
    Opa nya bingung, lho tadi bilang mau, sudah dikasih kok malah minta nanas . . . ? ? ?
    Tidak ada nanas goreng . . . . Le . . . . ! ! !
    Omanya lihat dan langsung mengerti dan nimbrung . . .
    Opa bodo . . . dia bukan minta nanas, tapi itu pisang gorengnya masih panas . .
    Olehnya dia teriak hanya nanas…. nanaaaas . . . ( Panas . . . panaaaas . . . )
    Hahahahahahahahaha . . .
    Terimakasih dan salam manis dari Mainz .

  6. Wesiati  4 December, 2015 at 19:20

    Lha yo. Ing atase aku kok dibasakne ‘iyam’. Salah dua kali. Iyam itu kan dari siram. Terlalu halus. Aku pantese dibasakne ‘adus’. Nah, iyam itu kan bahasa buat anak2 unyu. Aku kan nggak unyu…

  7. James  4 December, 2015 at 14:37

    1…….boleh dikata semua anak akan mengalami cadel

    haro para Kenthirs masih cader kah ?

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *