INTERSEPTOR vs KONTRASEPTOR

djas Merahputih

 

Perkenalkan satu jenis manusia bernama Interseptor. Mungkin jenis manusia seperti inilah maksud Bung Karno sebagai lawan yang lebih tangguh dari Londo. Bung Karno pernah berucap, melawan penjajah lebih mudah sebab secara fisik jauh berbeda dengan kita. Mereka mudah dikenali. Generasi penerus, generasi penikmat kemerdekaan justru akan menghadapi musuh yang jauh lebih sulit, sebab mereka akan berhadapan dengan lawan dari kalangan bangsanya sendiri.

Jenis musuh sebangsa ini berada dalam zona antara ada dan tiada. Mereka tak mudah terdeteksi. Menggunting dalam lamunan, musuh dalam selangkangan, menyelam sambil ngetwit. Bagai serigala bermantel domba, menikam dari belakang, menikung bak pembalap kebelet pipis. Mereka sangat pandai berkamuflase. Pakaiannya rapih dan wangi, santun dalam berbicara, sangat intelek dan terkadang malah menggunakan topeng para pemuka agama.

Cukup sulit membedakan keahlian mereka dengan iblis. Faham tertentu meyakini bahwa bintang jatuh adalah bola api yang dilemparkan oleh malaikat pembawa wahyu/informasi kepada iblis yang berusaha membajak informasi dari Sang Pencipta. Seringkali informasi tersebut bocor dan kemudian dimanipulasi. Kebiasaan iblis ini ternyata juga digemari oleh manusia, jenis manusia berkarakter Interseptor.

Manusia-manusia interseptor banyak berkeliaran di sekitar kita. Bentuk sederhana makhluk ini bisa tergambar pada sosok seorang calo tiket kereta. Para calo membeli tiket meskipun dia sendiri bukanlah penumpang. Kemudian menjual tiket walau mereka bukanlah petugas stasiun kereta. Mereka hanyalah interseptor dan pemintas. Keahlian utamanya adalah mencatut apa saja dan siapa saja. Mereka bermain di luar arena sehingga sulit untuk dijerat oleh para penegak hukum. Mereka tak memiliki kepentingan pada siapapun selain pada sebuah nilai keuntungan (oportunis).

Meskipun mirip, calo dan interseptor memiliki perbedaan mendasar. Calo relatif temporer dan individualis, sedangkan interseptor bekerja dalam sebuah sistem rahasia dan mempunyai sebuah misi khusus berjangka panjang. Organisasi mereka rapih dan sulit terdeteksi. Personilnya beragam dan dari latar belakang berbeda-beda. Persamaan mereka satu-satunya adalah mereka tak memiliki rasa nasionalisme sedikitpun. Meskipun ada, nasionalisme mereka tak lebih hanyalah wilayah antara perut dan selangkangan.

Kaum interseptor tak memiliki empati, sebab dalam setiap masalah atau kesulitan seseorang akan selalu berarti peluang untuk mendapatkan keuntungan. Kadang mereka sendirilah yang menciptakan masalah bagi orang lain dan kemudian datang dengan sejumlah solusi jebakan. Kaum ini tak mengenal nurani kemanusiaan apalagi nasionalisme. Mereka bahkan mampu menjual negaranya tanpa sedikitpun rasa bersalah.

Kaum interseptor, selain merupakan pemintas yang lihai biasanya juga adalah seorang isolator yang baik. Mereka mampu menyandera seorang presiden di dalam istana sendiri. Secara fisik Sang Presiden bisa bebas ke mana-mana namun ia tak akan memperoleh akses maupun informasi akurat dari rakyat dan menteri-menteri di lapangan. Bung Karno sudah pernah mengalami sendiri pengasingan psikologis dari para pemintas ini. Mereka sanggup menjauhkan pemimpin dari rakyatnya dan bahkan mampu menyihir rakyat untuk membangkang pada Sang Pimpinan.

Kita patut waspada dan kemudian belajar untuk mengenali dan mencermati gerak-gerik kaum interseptor pengkhianat negara. Koruptor hanyalah bagian kecil dari komunitas ini. Terkadang pula seorang yang disangka koruptor justru merupakan korban jebakan para kaum interseptor. Pemburu adalah mangsa, mangsa adalah pemburu. Meskipun sulit, ciri-ciri para interseptor bisa dikenali dari produk pikiran maupun aksi-aksi mereka.

Seperti sudah dipaparkan sebelumnya, kaum interseptor tak memiliki ideologi selain untuk memperoleh keuntungan sebanyak-banyaknya, kapan, dimanapun dan dengan cara apapun, serta dalam hal dan situasi apapun. Pikiran dan aksinya semata-mata berorientasi pada keuntungan finansial. Meskipun mengarah pada bentuk ideologi kapitalis, kaum interseptor bukanlah seorang kapitalis murni. Bisa dibilang mereka adalah kapitalis keblinger, kombinasi antara kemampuan memanipulasi sebuah robot dan watak serakah anak manusia. Robot yang tak bernurani ditambah keserakahan seorang manusia. Ideologi kapitalis hanyalah kendaran paling efektif dan efisien untuk melaksanakan misi mereka.

Dengan tingkat kesulitan seperti itu, bisa dipahami jika masyarakat hanya mampu berharap pada kedatangan seorang Ratu Adil seperti yang banyak dikenal dalam kisah para leluhur Nusantara. Manusia biasa tak akan mampu menghindar dari hasutan, buaian, senandung maupun teror dan ancaman kaum interseptor. Seluruh titik lemah manusia menjadi sasaran empuk aksi-aksi para pemintas. Baik jadi buruk, salah jadi benar, putih jadi hitam hingga kiri menjadi kanan. Seorang Jaya Suprana mengidentifikasi fenomena serba terbalik tersebut sebagai Ilmu Kelirumologi.

Bisa jadi, hanya kepada orang yang melek Ilmu Kelirumologi saja kita dapat menyandarkan harapan akan perubahan signifikan dalam kehidupan berbangsa kita. Kaum seperti merekalah yang memiliki kapasitas untuk membasmi para pemintas dan kaum interseptor. Sangat mungkin Sang Ratu Adil kelak adalah seseorang yang ahli dan menguasai Ilmu Kelirumologi.

Interseptor sendiri hanya bisa diredam oleh sesuatu yang bernama Kontraseptor. Kaum Kontraseptor bukanlah para pemuda radikal dan haus perang. Mereka tak ofensif seperti Real Madrid atau Marquez. Mereka lentur dan fleksibel namun tetap tak mudah ditembus oleh ideologi cemilan, yang hanya lezat sesaat. Yaah, kira-kira karakter mereka mirip-mirip alat kontrasepsi paling modis dan populer itu. Ada yang tau?

Memang, mereka hanyalah orang biasa. Bukan pejabat, pemegang kuasa, artis ataupun tokoh masyarakat. Mereka hanyalah individu yang sangat sadar akan kodrat kemanusiaannya. Meskipun tak mudah terlihat sesungguhnya mereka ada dan berlipat ganda. Satu hal menonjol dari para Kontraseptor adalah selera humor mereka yang di atas rata-rata. Mereka sudah mampu menertawakan hal-hal serius, bukan sekedar guyon yang mengeksploitasi tubuh manusia, apalagi tubuh hewan. Mereka juga sangat mahir mencermati sesuatu dari kaca spion. Meskipun terlihat benar di kaca spion, mereka pasti sadar dan tau bahwa tulisan di depan mobil ambulance itu aslinya adalah terbalik. Dalam hal humor mereka telah makrifat.

Nah, setelah membaca paparan di atas dan melihat rakyat yang sudah semakin tak sabar, masih adakah peluang bagi kita untuk segera menemukan Sang Ratu Adil itu? Apakah ia masih tetap bersembunyi di sudut-sudut ruang gelap? Atau malah sesungguhnya telah hadir tanpa kita sadari? Untuk memastikan, mari bersama menunggu dengan sabar. Orang sabar disayang Tuhan. Bersahabatlah dengan Sang Waktu sebab Tuhan Maha Asyik.

 

*****

 

 

About djas Merahputih

Dari nama dan profile picture'nya, sudah jelas terlihat semangat ke-Indonesia-annya. Ditambah dengan artikel-artikelnya yang mengingatkan kita semua bahwa nasionalisme itu masih ada, harapan itu masih ada untuk Indonesia tercinta. Tinggal di Sulawesi, menebar semangat Merah Putih ke dunia melalui BALTYRA.

My Facebook Arsip Artikel

10 Comments to "INTERSEPTOR vs KONTRASEPTOR"

  1. djasMerahputih  16 December, 2015 at 19:36

    Ha ha ha… tepatnya ketoprak politik..
    Tapi selera humor para politikus masih cukup rendah, terlalu vulgar..!!

  2. J C  16 December, 2015 at 08:24

    Masyarakat sudah capek disuguhi gedubrakan politik tiap hari…

  3. djasMerahputih  15 December, 2015 at 15:47

    Ooo.. gitu,
    Semoga lancar dan sukses travelingnya.
    Jangan lupa mampir ke Makassar…

  4. Lani  7 December, 2015 at 13:10

    Kang Djas : kenthir satunya lagi sibuk mabur2 melanglang buana………….

  5. djasMerahputih  6 December, 2015 at 19:59

    Donald:
    Thanks sudah mampir….
    Mengapa kata “RIGHT” selalu identik dengan kebenaran yah..??

    Tji Lani:
    Thanks sudah ikutan absen. Kenthir satu lagi ngumpet di mana ya…??

  6. djasMerahputih  6 December, 2015 at 19:54

    Bang James:
    Thanks sudah ngantri paling awal…

    Om DJ:
    Thanks om DJ..
    ha ha ha..
    Adil itu susah om DJ,
    Adil bagi diri sendiri saja sudah susah apalagi buat orang lain…

  7. Lani  5 December, 2015 at 13:18

    James udah mencungul wlu telat……..

  8. donald  4 December, 2015 at 21:44

    I always choose the Right, definitely!

  9. Dj. 813  4 December, 2015 at 20:00

    Terimakasih djas . . .
    Sangat interesant . . . ! ! !
    Bikin adil saja sendiri . . .
    Hahahahahahaha . . . ! ! !
    Salam sejahtera dari Mainz

  10. James  4 December, 2015 at 14:42

    1……hadir bang Djas sembari menunggu para Kenthirs yang belom muncul

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.