Me and Paulina’s Mom

Dian Nugraheni

 

Ketika prompt Alma dari Middle School beberapa waktu lalu, dalam keramaian di antara para orang tua, dan anak-anak yang sedang merayakan kelulusannya, di sana aku bertemu dengan seseorang yang sangat berkesan bagiku. Dia adalah Paulina’s Mom, Mamanya Paulina, atau Ibunya Paulina.

extended_family

Mari aku ceritakan tentang Paulina’s Mom, dan Paulinanya tentu saja. Sewaktu Alma masih sekolah kelas 3 SD, meski jarak sekolah dengan rumah hanya 5 menit, tapi anak-anak usia ini belom boleh jalan kaki sendiri ke sekolah atau pulang sekolah, harus diantar jemput, plus, sepulang sekolah dia belom boleh ada di rumah sendiri, sampai dia berumur 11 tahun. Itu pun masih ada ketentuan, sekian jam ditinggal di rumah sendiri, bukan malam hari, dan seterusnya. Intinya, saat itu usia Alma baru sekitar 9 tahun, dan harus ada yang take care dia sepulang sekolah, karena aku bekerja hingga sore hari, dan Cedar, kakaknya, pulang lebih lambat dari Alma.

Lalu bagaimana ini..? Beberapa kali aku sewa Nanny untuk beberapa jam. Yaa, Nanny-nya sih temen-temen Indonesia sendiri, tapi, sekali lagi, ini America, Beibeh..! kalau bicara minta tolong sama para Nanny ini ya hitungannya per jam mau bayar berapa. Itung punya itung, para Nanny ini minta bayaran, yang per jamnya, lebih gede ketimbang bayaran per jamku ketika kerja di sebuah toko swalayan saat itu. Hlaa.., sama aja bohong kan..

Maka kisah bermula ketika Alma akhirnya akrab dengan gadis kecil teman sekelasnya bernama Paulina, anak seorang imigran dari Guatemala, selatan Amerika, dan akhirnya aku berkesempatan bertemu Ibunya, dan berkunjung ke apartemennya. Apartemennya kecil, penuh barang, sumpek, dan punya seekor kucing. Meski di apartemen yang seperti itu, nampaknya Alma senang dan betah.

Maka hampir tiap saat sepulang sekolah, dan nggak ada yang take care Alma, pastilah Alma pulang ke rumah Paulina, lalu sore sepulang kerja aku jemput ke sana. Ketika aku tanya, berapa aku harus bayar, Ibunya Paulina yang bertubuh agak gemuk dan pendek, berambut keriting, dan sangat sederhana penampilannya itu, bicara dengan bahasanya, tertawa-tawa, gigi palsu berwarna emasnya terlihat nyata, geleng-geleng, lalu memelukku, alias nggak mau dibayar.

Istimewanya adalah, Ibunya Paulina ini sama sekali nggak tau bahasa Inggris, dan mungkin juga nggak bisa baca tulis, dan cuma berbahasa Spanish. Waktu itu, aku juga masih berbahasa Inggris grothal-grathul, kalau aku bicara langsung sama Paulina pakai bahasa Inggris, maksudnya biar disampaikan ke Ibunya, jelas Paulina akan meraba-raba, sebenernya mama Alma ini bilang apa.., maka untuk menghindari kesalahpahaman, ketika berkomunikasi dengan Paulina’s Mom, aku bilang dulu ke Alma pakai bahasa Indonesia, lalu Alma bilang ke Paulina dalam bahasa Inggris, lalu Paulina akan bilang ke Ibunya dalam bahasa Spanish. Jadi percakapan yang pendek, bahkan cuma basa-basi, antara aku dan Ibunya Paulina, akan memerlukan dua penterjemah, yaitu Alma dan Paulina, agar maksud yang aku sampaikan, bisa diterima dengan tepat. Nahh, kalau ada yang bikin ketawa, maka tentu saja, ketawanya akan telat, atau malah bahkan tertawanya bisa berkepanjangan alias susul menyusul.

Karena Ibunya Paulina nggak mau dibayar, suatu hari aku sepakat ajak Paulina dan Mamanya nonton film di gedung bioskop, filmnya Gnomeo and Juliet, film animasi. Setelah selesai, keluar dari gedung bioskop, Ibunya Paulina berkata sesuatu pada Paulina, dan Paulina bilang ke Alma, “My Mom will treat us some food at Mc Donald…” Meski aku nggak tau bahasa Spanish, harusnya aku bisa menangkap kata Mc Donald, karena ini merujuk sebuah gerai makanan yang semua orang tau, tapi tetep aku ga bisa nangkap ketika Mama Paulina bilang itu, karena kebanyakan orang Spanish akan mengucapkan Mc Donald seperti kedengerannya “Madana” dengan huruf “d” yang diucapkan sangat lemah. Ya.., beda bangsa, beda bahasa, beda “treatment”nya terhadap pengucapan huruf-hurufnya tentu saja.

Lalu Alma ke aku, “Mah, mau diajak ke Mc Donal sama Ibunya Paulina..”

Aku, “Ya, tapi bilang, Mamah yang bayarin..”

Alma ke Paulina, “My Mom said okay, but she’s the one who will treat us..”

Paulina ke Ibunya, pakai bahasa Spanish..ha..ha.., ya aku nggak tau kalau suruh nulis ya, tapi intinya bilang, “Alma’s Mom will treat us..”

Lalu Mama Paulina ngeyel, bilang ke Paulina dalam bahasa Spanish, diteruskan oleh Paulina ke Alma dalam bahasa Inggris, aku sih tau artinya, “My Mom said, kamu sudah bayarin tiket bioskop, sekarang gantian dia bayarin makan..”

Bla..bla..bla.., cuma mau bilang, ayo makan di Mc Donald, aku yang bayar ya…, ahh, enggak, aku aja yang bayar…, gitu aja butuh waktu bermenit-menit untuk beneran terkomunikasikan..he..he…

Tapiiii…ada bahasa yang lebih simpel, singkat, dan langsung nyambung antara aku, Paulina, dan Ibunya. Setelah Alma di Middle School, berangkat dan pulang sekolah pakai bus sekolah, juga sudah boleh berada di rumah sendiri ketika orang tuanya bekerja, maka kami jarang bertemu. Lalu ketika bertemu di jalanan, di groseri, atau di mana saja, karena sebenarnya kami tinggal dalam satu neighborhood yang sama, kami langsung berpelukan, dan aku bisikkan di tengah pelukan itu, “I miss You, I love You….” sambil tetap kudekap erat. Begitu juga Ibunya Paulina, mendekapku, seperti biasa sambil tertawa-tawa, lalu melepas pelukan, masih sambil tertawa-tawa, berkata-kata pakai bahasa Spanish, sambil mengelus-elus rambut Alma, “bonita..bonita…” Cuma itu yang kutahu, “cantik..cantik..” Juga setiap saat aku memeluk Paulina, rasa indah cinta yang terjadi saat pelukan itu, tak beda dengan ketika aku memeluk-meluk Alma, anakku sendiri.

paulina mom

Ahh, entah kenapa, aku nggak bisa ungkapkan lebih banyak lagi, tapi aku benar-benar mencintai mereka, Paulina, dan Ibunya…Ya, bertemu mereka berdua, selalu membuatku tersedak dan ingin meneteskan air mata. Mungkin aku berpikir, bahwa kehidupan mereka di Amerika ini, tentu jauh lebih baik dibanding ketika mereka masih berada di negaranya dulu, meski di Amrik pun mereka tetap kerja sangat keras. Dan Ibu Paulina ini satu-satunya imigran dari selatan Amerika yang aku kenal, yang tetap berpenampilan sederhana, bahkan sering kali dia memakai kain songket Guatemala, yang setelah aku amati, sangat mirip dengan songket dari daerah Manggarai, Nusa Tenggara Timur.

Segini dulu ceritanya yaa..sekali lagi, Paulina and her Mom, selalu membuat hatiku mampu mencintai…

 

Salam Aku Mencintai Mereka,

Virginia,

Dian Nugraheni,

Minggu, 1 November 2015, jam 7.35 sore,

(Musim Gugur terlalu cepat berjalan, belom juga foto-foto lhooo…dedaunan udah pada luruh aja..tahan dulu yaa…he..he..siapin kostum..)

 

 

Share This Post

Google1DeliciousDiggGoogleStumbleuponRedditTechnoratiYahooBloggerRSS

5 Comments to "Me and Paulina’s Mom"

  1. J C  16 December, 2015 at 08:28

    Cerita-ceritamu selalu mak nyessss…

    (Btw, si Mbarep minggu lalu baru kasih tau aku, bahwa buku’mu adalah salah satu favorit dia)

  2. Lani  9 December, 2015 at 12:17

    Dian: cerita yg menyentuh kalbu! Kadang klu tdk kenal kita tdk tau.

    Aku percaya walau ibunya Paulina hrs kerja di America akan ttp tetep lebih baik kondisinya dibandingkan ktk di Guatemala.

    Aku punya teman jg asal Guatemala akan ttp dia dan keluarganya pindah ke America sejak temanku ini kecil, jd layaknya spt orang America, walau begitu dia kdg msh suka jenguk Negara asalnya.

  3. James  9 December, 2015 at 09:31

    hadir bang Djas meski telat dikit

  4. djasMerahputih  8 December, 2015 at 16:22

    Nice story madam…
    Absenin Trio Kenthirr..

  5. Dj. 813  8 December, 2015 at 15:20

    Terimakasih Dian…. untuk cerita Paulina Mom nya .
    Salam,

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *