Kecerdasan Berkendara dan Berlalulintas

Josh Chen – Global Citizen

 

Hiruk pikuk dagelan politik dan sepak terjang Setya Novanto – Ketua DPR dengan topik “papa minta saham”, yang menodong Freeport Indonesia dengan mencatut nama Presiden dan Wakil Presiden untuk meminta saham demi kepentingan pribadi menjadi pemberitaan besar di seluruh media Tanah Air dan media internasional. Kehebohan pemberitaan tentang Setya Novanto dan persidangannya di Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD) juga mengalahkan seluruh dagelan manapun. Sampai-sampai keluar tagar #MKDBobrok menjadi trending topic dunia di Twitter.

Gedebak-gedebuk Setya Novanto dan para badut punggawanya mengalahkan pemberitaan mengenaskan melayangnya nyawa 19 orang secara sia-sia dalam kecelakaan Metromini yang menerobos palang kereta api. Yang lebih miris lagi justru Kompas yang merupakan mainstream media terbesar di Indonesia justru menurunkan tulisan berjudul “Benahi Manajemen Bus dan Upah Sopir”. Apakah semata-mata permasalahan angkutan umum di seluruh Indonesia secara umum ‘hanya’ masalah upah sopir? Terlalu naif jika berpikir seperti itu.

metromini-hancur

Sumber: kompas.com

metromini-kereta

Sumber: kompas.com

Upah sopir Metromini tidak ada relevansinya dengan kebiadaban mengemudi di jalan raya. Sudah jelas sekali palang kereta api sudah turun, namun masih nekad menerobosnya, padahal sinyal tanda kereta api akan lewat sudah berbunyi, tidak ada kaitannya dengan rendahnya upah sopir, namun lebih terkait dengan mentalitas dan kecerdasan individu. Bukan saja kecerdasan intelektual, namun lebih kepada kecerdasan berkendara. Kecerdasan intelektual dan berkendara jelas berperan penting di sini. Entah terlalu rendah kecerdasannya atau entah alasan apa yang ada di kepala sopir Metromini maut tersebut ketika menerobos palang kereta api. Yang jelas walaupun ilmu fisikanya mungkin tidak cukup untuk memperkirakan jarak dan kecepatan maut menjemputnya, namun setidaknya logika akal sehat dan kecerdasan pengendara seharusnya dapat menyelamatkan nyawanya sendiri dan para penumpangnya.

Beberapa hari sebelumnya, 11 nyawa melayang di jalan Tol Cipali. Tidak ditemukan jejak pengereman kendaraan yang menghajar bagian belakang kendaraan lain. Sayangnya kendaraan yang ditabrak (kemungkinan besar tabrak belakang) kabur karena ketakutan. Sudah menjadi pengetahuan umum, urusan dengan polisi, salah tidak salah akan mengeluarkan dana yang tidak sedikit, apalagi jika ada nyawa yang melayang.

Beberapa bulan sebelumnya, di kisaran seputar mudik Lebaran 2015, dimana terjadi juga kecelakaan fatal terjadi pada Bus PO Rukun Sayur menewaskan 12 penumpang disusul berita utama di Kompas (15/7) “Kelaikan Moda Jadi Masalah” memfokuskan pembahasan kelaikan kendaraan bermotor dan kompetensi pengemudi.

Dua pemberitaan Kompas sebagai media nasional terbesar menitikberatkan semata pada kelaikan kendaraan, manajemen angkutan umum dan upah sopir dengan sedikit menyinggung masalah kompetensi pengemudi.

Ini adalah puncak gunung es kegagalan dan kesalahan sistem di seluruh negeri. Sudah menjadi rahasia umum SIM di Indonesia “bisa dibantu”. Ujian teori dan praktek hanyalah sebatas prosedural belaka. Berapa persen pengendara di Indonesia yang benar-benar memahami aturan lalulintas dan menghayati berlalulintas serta berkendara yang baik. Lupakan safety driving, aturan paling dasar berlalulintas pun masih jauh dari angan-angan.

Sudah jamak rasanya menjumpai mobil di jalan tol berkendara di jalur paling kanan dengan kecepatan pelan. Diberikan tanda lampu jauh meminta jalan untuk mendahului, namun cuek saja. Sering pengendaranya marah karena terus menerus mendapat tanda lampu jauh dan mungkin klakson. Sering ‘terpaksa’ pengendara harus mendahuluinya dari sebelah kiri; yang seharusnya tidak sesuai aturan lalulintas. Ada juga jenis pengendara yang berkendara di jalur tanggung, bukan di jalur dua ataupun jalur tiga dengan kecepatan yang tanggung, pelan tidak, kencang juga tidak.

Hanya di Indonesia yang bisa dijumpai pengendara baik mobil ataupun motor yang dengan santai melakukan texting sambil berkendara. Pengendara motor di tengah jalan yang ramai cuek saja texting, entah membalas pesan atau malah update status di media sosial. Sering sedikit nggeloyor ke kanan atau ke kiri dan lebih marah jika ada pengendara lain yang menglaksonnya. Hampir semua pengendara mobil akan melakukan texting serempak jika tersendat atau terhenti di tengah kemacetan; minimal menengok ke layar smartphone untuk cek apakah ada pesan masuk atau status update dari kontaknya.

Hanya di Indonesia dimana tempat penyeberangan untuk pejalan kaki, baik dengan zebra cross ataupun lampu pengatur lalulintas, justru malah semakin cepat menekan atau memutar pedal gas jika melihat penyeberang jalan hendak melintas. Bandingkan dengan negara tetangga Singapura atau Malaysia yang jauh lebih beradab terhadap penyeberang jalan, otomatis pelan dan berhenti mendahulukan penyeberang jalan. Yang lebih parah jika ada kendaraan yang berhenti saat ada yang menyeberang, kendaraan di belakangnya malah marah dan menekan klakson kuat-kuat. Terkadang ada juga yang terkaget-kaget karena ‘tiba-tiba’ mobil di depannya berhenti di penyeberangan jalan yang lampu merahnya menyala.

Melawan arus dan nangkring di trotoar yang sejatinya disediakan untuk pejalan kaki, sudah jadi pemandangan keseharian di seluruh jalanan Jabodetabek. Dengan segala macam pembenarannya, bahwa pengendara sepeda motor sudah cukup ‘menderita’ dan ‘sengsara’ harus menyusuri jalanan Jabodetabek dalam perjuangan hidup mencari sesuap nasi setiap harinya seakan jadi kredo yang ‘disepakati’ secara luas. Dengan pembenaran tersebut, jadi pengesahan sepak terjang para pengendara sepeda motor untuk melawan arus di manapun dirasa perlu dan menerabas trotoar untuk menyingkat waktu dan menerobos kemacetan sehari-hari.

Beberapa kredo untuk pengendara kendaraan bermotor di jalanan:

Untuk motor:

  • Jangan pernah takut dengan mobil, truk, container, tronton, dsb. Jika terjadi tabrakan, srempetan, senggolan, serudukan, apapun itu, sepeda motor tak pernah salah (biar mati sekalipun).
  • Jika melihat ada mobil menyeberang atau memberikan lampu sein tanda berbelok, gas’lah motor lebih cepat untuk sebisa mungkin menghalangi, memotong atau melaju di depannya sebelum berbelok.
  • (Khusus untuk Medan). Traffic light hanyalah asesoris. Hijau jalan terus, kuning putar gas, merah tengok kanan kiri. Tidak ada istilah stop, hanya buang-buang waktu.
  • Kolong fly-over, kolong jalan tol, kolong jembatan penyeberangan adalah tempat berteduh jika hujan, peduli amat dengan pengendara lain, sudah mending disisakan satu jalur.
  • Trotoar adalah jalur tambahan dan bukan untuk pejalan kaki. Kalau ada pejalan kaki, klakson kencang-kencang, jika tak mau minggir, makilah, pelototilah bila perlu senggollah.

 

Untuk mobil (dan truk, bus, angkot):

  • Jalur di jalan tol tak ada artinya. Kalau ingin melaju di jalur paling kanan dengan kecepatan 30-40 km/jam sah-sah saja.
  • Kalau ada mobil di belakang menglakson atau memberikan tanda lampu ingin mendahului, peduli amat, itu urusan dia mencari jalur yang kosong untuk mendahului.
  • Jika terus-terusan menglakson, makilah si pengendara.
  • Bus, truk boleh melaju di jalur mana saja di jalan tol. Kendaraan lebih kecil carilah sendiri jalurmu.
  • Bahu jalan adalah jalur tambahan, bukan jalur darurat.
  • Kecepatan tanggung, pelan tidak, kencang tidak, kiri tidak, kanan tidak, suka-suka gue lah, mobil juga mobilku.
  • Setiap ruas jalan adalah perhentian angkot untuk menaikkan dan menurunkan penumpang.
  • Ngetem penumpang sah-sah saja mau 2, 3, 4 lapis ke tengah jalan, yang penting masih tersisa satu jalur atau ¾ jalur untuk pengendara lain. Itu semua demi mengejar setoran dan sesuap nasi.

Kecerdasan berkendara dan berlalulintas di Indonesia ternyata masih sangat rendah. Yang diperlukan bukan hanya intelligence quotient (IQ) dan emotional quotient (EQ), yang terpenting sepertinya adalah traffic quotient (TQ).

 

Artikel terkait:

Konvoi Moge dan “Konvoi” Sepeda Motor, Apa Bedanya?

Indonesian Art of Driving

 

 

About J C

I'm just another ordinary writer. Seorang penulis lepas dengan ketertarikan bidang: budaya, diversity, fotografi, ekonomi dan politik.

Arsip Artikel Website

10 Comments to "Kecerdasan Berkendara dan Berlalulintas"

  1. J C  16 December, 2015 at 08:39

    James: awaaaasss…absen nomer satu jangan ngebut lho ya…

    djas Merahputih: hahaha…minta saham ya…

    Lani: tapi nek kowe nyetir sopir Metromini pasti semingkir…wedi…

    Ivana: hahaha…

    Kembangnanas: apakah termasuk dirimu?

    pak Djoko: semua bisa diatur di sini…

    oom SLB: bener Oom, kalau yang dimaksud para sopir ugal-ugalan, ya selamanya tidak akan pernah lulus di luar Indonesia…

    Nuchan: tooosss…kita sudah super hati-hati pun bisa kena juga…apalagi di Medan yah gak kenal lampu merah…hahaha…

    Hennie: lha ya gitu itu… (sudah mudik ya…sayang gak bisa ketemuan lagi kali ini) 5-3

  2. HennieTriana Oberst  11 December, 2015 at 21:18

    Pusing ya melihat gaya “asal-asalan” di Indonesia.

  3. Nuchan  11 December, 2015 at 18:34

    Wah semua yg ditulis Mas Josh bener banget…
    POKOKNYA SERBA KACAU
    Saya pernah juga menghadapi anak SMP yg menyalib saya dan kaget banget…ketika saya rem mendadak mobil yg dibelakang saya malah mencium pantat mobil saya. Anak SMP yg menyalib kabur saja…Bener2 kacau…(sigh)

  4. Swan Liong Be  11 December, 2015 at 17:54

    Ivana, belum tentu lho bahwa kalo bisa nyetir mobil diIndonesia , maka lebih mdah nyetir dinegara lain. Tergantung dinegara mana. Jerman terkenal pengemudi mobil relatif agresif dan dijerman mereka nyetir lebih kencang; diIndonesia kan kesempatan untuk kencang jarang sekali disebabkan macetnya, tapi dijerman sekarang juga tidak bisa jalan kencang2 apalagi diautobah karena sudah ada banyak bagian jalan dengan speed limit. Nyetir mobil paling santai ya diCanada atau Amrik.

  5. Dj. 813  11 December, 2015 at 03:16

    Dimas . . . .
    Hahahahahahahahaha . . .
    Terimakkasih untuk artikelnya yang benar-benar menarik .
    Dj. jadi ingat saat mencari SIM di Mainz .
    Kebetulan yang punya sekolah untuk mengendarai mobil, adalah bekas
    seorang Polisi yang tugas di Indonesia .
    Saat dia melihat formular yang Dj. isi, dia langsung tertawa .
    Dia bilang, kamu dari Indonesia, aku yakin kamu sudah sejak umur 12 tahun sudah bisa
    stir mobil . Hahahahahahahahaha . . .
    Dj. jawab, ya saya sudah bisa stir mobil.
    Dia bertanya, mengapa kamu tidak tukar dengan SIM Jerman . . .
    Mengapa mau car SIM lagi . . . ? ? ?
    Yaaaaah, karena sudah terlambat, waktunya hanya 1 tahun saja bisa dirubah .
    Tapi satu keharusan, Dj. harus 9 Jam mengikuti sekolah nyetir mobil.
    Tapi dia lupa kasih tahu ke guru yang akan bersama Dj. dalam mobil .
    Saat guru menjelaskan iti gas, iini kopling dan ini rem . . .
    Dia berkata, coba kamu start mesinnya dan pelan-pelan masuk gang 1.
    Dj.masukan gang 1 dan langsung jalan, gurunya teriak . . .
    Kaget . . .
    Dan dia minta agar pparkir, baru Dj. ceritakan . . .
    Setelah itu, kalau dia bersama Dj. dimobil, dia malah tidur . . .
    Hahahahahahaha . . . ! ! !
    Ujian teori ada salah 1 ( 3 point ), tapi lulus, karena boleh sampai salah 7 Point.
    Ujian praktek, yang punya ikut dalammobil dan dia cuma geleng-geleng kepala .
    Hahahahahahaha . . . ! ! !

    Salam Sejahtera dari Mainz

  6. Kembangnanas  10 December, 2015 at 12:56

    palagi kalo yg naik motor emak2… lampu sign kmn belok kemana… harusnya masang striker gede2 di blkg mobil, warning…. emak2 on board…

  7. Ivana  10 December, 2015 at 10:14

    Kalo bisa nyetir di Indonesia, nyetir di negara lain itu mudah (pengemudi Indo lebih terampil). Yang sulit (di luar negeri) cuma ngurus SIM-nya saja, karena di Indonesia SIM bisa nembak

  8. Lani  10 December, 2015 at 09:06

    James: waah telat tp hadir, mahalo. Jelas punya SIM bukan hasil sogok spt disini. Hrs bener2 berjuang utk mendptkannya.

    Ki Lurah: makane apa yg Jokowi bilang bener bingiiiit “revolusi mental” mbok sampai kapanpun jangan harap bisa tertib klu mental mrk bobrok. Klu sdh terjadi kecelakaan menyalahkan kiri kanan, mblundeeeeeeer………

    Sdh ketemu dgn kenthir yg dr Canada?????

  9. djasMerahputih  10 December, 2015 at 08:12

    Hadir bang James…
    SIM? Ya, punyalah. Surat Izin Mintasaham….

    Mengemudi memang butuh kecerdasan dan kesadaran. Pikir dan rasa.

  10. James  10 December, 2015 at 07:18

    1…….sopir di Indonesia semua itu Sopir Tembak alaias SIM nya dibeli tanpa prosedur ujian

    hayo para Kenthirs memiliki SIM yah sah ?

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *