Saya dan UKG

Wesiati Setyaningsih

 

Selasa siang, tanggal 24 Nopember kemarin, jam dua, saya melaksanakan UKG atau uji kompetensi guru. Sebenarnya saya sangat menunggu kesempatan untuk uji kompetensi ini. Dalam angan-angan saya, uji kompetensi itu akan mengukur kemampuan semacam kedalaman pemahaman saya terhadap materi. Well, saya salah. Tapi seenggaknya banyak hal menarik dari pengamatan saya.

Uji Kompetensi Guru

Sejak awal ketika jadwal UKG diumumkan, kehebohan sudah terjadi. Komentar bertaburan dalam kancah pergaulan teman guru di kantor. Pro dan kontra jelas muncul. Apalagi teman-teman yang sudah mau pensiun bulan depan dan semester depan juga masih masuk dalam daftar. Mungkin si pembuat jadwal tidak melihat lagi data perorang, jadi langsung copas nama-nama ke tempat tertentu dan waktu tertentu. Selesai.

Di balik keriuhan mereka yang suka heboh, ada mereka-mereka yang dengan gigih mencari materi dan soal, lalu memasangnya di Facebook. Saya sungguh berterima kasih tak terhingga pada mereka ini atas dedikasinya. Di UKG yang pernah saya ikuti, hal semacam ini belum ada karena Facebook belum seheboh sekarang. Teman-teman saya yang sekarang aktif di grup MGMP, waktu itu bahkan belum kenal apa itu Facebook. Ketika sekarang mereka mereka sudah aktif di Facebook, gencarlah mereka berbagi.

Di lingkungan MGMP (Musyawarah Guru Mata Pelajaran) saya, Bahasa Inggris, ada seorang yang sudah berbagi modul pedagogik sekaligus soalnya. Bu Grace namanya. Ada tujuh modul plus soal yang dia pasang di grup MGMP. Nah, mentalitas orang Indonesia yang cuma mau enak (dan kaya gini ini banyak) mulai muncul. Begitu dibagi di halaman bersama itu, seorang langsung komen, “kuncinya mana, Bu?” Gubrak.

Untungnya Bu Grace ini orangnya sabar. Entah apa yang dia rasakan, tapi tak muncul komentar balasan yang tidak enak dibaca. Dan salutnya, beberapa hari kemudian ditayangkanlah kunci soal per modul. Oh, my… Orang baik disayang Tuhan ya, Maam Grace. Begitupun mereka yang gaptek atau apa, kadang masih ribut menanyakan “kuncinya mana?” di postingan modul padahal kunci sudah diposting tersendiri, tinggal scroll down (tarik ke bawah) dan nyari-nyari. Saya yang gemes bacanya.

Saya sendiri begitu jadwal mulai dekat, modul dari Bu Grace saya print out semua. Saya serahkan teman sebelah yang sama-sama guru Bahasa Inggris. Saya bilang, kalau ada yang mau copy, bisa dipinjamkan dulu, toh saya belajarnya masih nanti-nanti karena masih agak lama. Soalnya kalau ada yang tahu saya punya copyan, kerjaan jadi nambah karena permintaannya bukan “Pinjem ya, saya copy..” tapi “Tolong copykan buat aku, ya. Nanti uangnya tak ganti”. Dan saya paling malas jalan ke tempat fotocopy. Jadi biar ‘aman’, print out saya serahkan ke teman saya itu saja. Biar beliau yang mengkoordinir kalau ada yang akan mengcopy.

Waktu UKG semakin dekat, teman-teman gelombang pertama sudah akan melaksanakannya hari Minggu. Hari Jumat diadakan pembahasan dan bagi-bagi soal lagi (judulnya ‘gila soal’) dan dibahas. Sehari sebelumnya saya menemui lagi kejadian yang ‘aneh’. Teman yang tak pernah muncul dalam heboh bagi soal, berpapasan dengan saya yang sudah akan pulang.

“Punya soal-soal UKG?”

“Ada, ini mau saya bawa pulang. Mau belajar di rumah. Kalau mau pinjem besok, ya?”

“Udah copykan aja sekalian, nanti uangnya tak ganti.”

Speechless. Agak menyesal juga bilang kalau punya materi. Tahu gitu bilang “nggak punya” aja.

“Eh, soal-soalnya yang profesi (menyangkut materi mengajar) lo ya. Bukan yang pedagogik.”

“Kalo yang profesi nggak ada. Ini pedagogik semua.”

Eh, lha kok lantas menyembur komentar sekitar tidak kompetennya Ketua MGMP karena tidak bisa berbagi soal profesi, sementara di MGMP mapel lain soal-soal profesinya bahkan sudah beredar di Whatsapp. Saya jelas enggak terima. Tujuh modul itu kan juga sebuah jerih payah, masak dibilang enggak kompeten sih? Lagian kan sebenarnya itu bukan TUPOKSI Ketua MGMP. Demikianlah, menyalahkan jelas lebih gampang dari pada berusaha.

Akhirnya beliau tidak jadi pinjam soal dan modul, tapi pinjam kisi-kisi, yang juga sudah dibagi Bu Grace di Facebook dan saya print. Saya pinjamkan. Namun ketika beberapa waktu kemudian saya minta lagi buat belajar, kata Beliau, “Hilang…” Speechless lagi.

Gelombang pertama akhirnya menjalani UKG. Mereka pulang dengan membawa kabar, “Udah, enggak usah belajar! Di modul yang kemarin itu enggak ada yang keluar sama sekali. Percuma copy sampai puluhan ribu.” atau “Percuma belajar. Rugi. Habisin waktu. Nggak ada di modul kok. “ Padahal saya lihat beliau-beliau ini juga sehari-hari sebelumnya enggak pernah buka-buka copyan yang mereka copy dengan mahal itu. Atau tiap kali buka langsung mengeluh, “Ah, pusing…. Nggak bisa mikir. Capek, ah. Pokok isinya mengeluh dan akhirnya nggak belajar. Jadi tahu dari mana kalau materi di modul sama sekali nggak ada yang keluar? Lagi-lagi speechless.

Jadwal saya tiba. Semua yang ada di modul sudah saya baca semua, tapi judul dan sub judulnya saja. Excuse-nya : males baca. Hehe… Dan ketika saya lihat soalnya, oh…

Jadi karena mapel saya bahasa, maka isinya bacaan-bacaan panjang untuk satu-dua pertanyaan. Karena saya terbiasa membaca, it is okay. Lah, pas di model pembelajaran, itu di modul ada semuaaa…. Tapi materi itu memang paling banyak dan saya malas menghafal satu-satu. Alhasil cuma ingat bahwa nama modelnya saja tapi penjelasannya saya lupa semua. Lalu saya juga gagal di aplikasi pembelajaran. Entah saya yang bego atau memang banyak guru yang sebenarnya juga enggak paham urutan mengajarkan satu materi. Wong teman-teman saya yang senior enggak paham.

Setelah mengerjakan 60 soal dalam waktu satu jam, dari waktu yang disediakan dua jam, saya klik saja tanda yang menunjukkan hasil. Tertera bahwa soal pedagogik yang berhasil saya jawab dengan benar ada 13, salah 5 jawaban. Sementara pada soal profesi saya berhasil menjawab benar 27 soal, dan salah 15 soal. Puas? Jelas enggak. Setidaknya saya tahu kekurangan saya di mana. Harapan saya jelas, diklat yang diberikan berdasar apa yang saya enggak tahu, dan bukan di hal-hal umum semacam psikologi pendidikan yang saya nggak butuh lagi. Saya butuhnya metode pembelajaran dan langkah-langkahnya karena di situlah saya gagal menjawab soal.

Last but not least, UKG ini sebenarnya bukan saja uji kompetensi guru, tapi juga uji kepribadian guru. Mentalitas dan attitude mereka saat menghadapi kesulitan dan masalah benar-benar tampak dan hal seperti ini jelas tak mudah untuk ditangani pemerintah.

 

 

About Wesiati Setyaningsih

Seorang guru yang tinggal di Semarang. Awalnya tidak ada niat untuk menjadi guru, tapi kemudian "kesasar" menjadi guru. Mencoba mendobrak "pakem baku" proses pengajaran, juga mendobrak ketidaklogisan pencekokan agama membabibuta di sekolah dan keseharian murid-muridnya. Sering dianggap "off-track" bahkan tidak jarang mendapat cap sesat karena sikapnya yang tidak seperti kebanyakan mainstream.

My Facebook Arsip Artikel

7 Comments to "Saya dan UKG"

  1. wesiati  17 December, 2015 at 18:02

    yah, karakter saya agak nggak cocok buat jadi guru. masalahnya, saya malah paling nyaman dengan profesi ini. enak, bisa ngajak murid saya gila-gilaan. hahaha….

  2. J C  16 December, 2015 at 08:34

    Guru terunik, ternyentrik dan tereksentrik yang aku pernah ketemu…

  3. Dj. 813  11 December, 2015 at 03:25

    Terimakasih mbak Wes . . .
    Baru saja dicerita oleh anak Dj. bahwa anak-anaknya lulus 100%.
    Susi komentari,hebat dong . . .
    Dia : Ma . . . Bagaimana hebat, 40% lulus dengan nilai 6, menyedihkan sekali .

    Lalu dia cerita, ada orang tua muurid yang telpon, bahwa putrinya sakit berat dan tidak
    bisa bangun .
    Dia bilang satu problem lagi, karena ini anak wanita sering membohongi orang tua dan yang lain .

    Lalu jam istirahat anak Dj. pergi berbelanja dan melihat dia ditoko pakaian .
    Anak Dj. lansung ambil foto dengan HP . dan dikiirimnya ke orang tua murid .
    Malah orang tuanya yang telpon polisi .
    Sehingga itu anak akan kena sangsi, kalau bolos lagi, sekitar 200 Euro ( 3 jt Rupiah ).
    Karena dia sudah dewasa, walau masih kelas 11 .

    Dj. hanya bisa menasehati, harus hati-hati, agar murid nya tidak amok . ( ngamok )
    Hahahahahaha . . . ! ! !

    Selamat berkaya . . .

  4. wesiati  10 December, 2015 at 12:58

    terima kasih komennya…..

  5. Lani  10 December, 2015 at 09:12

    James: mana aku tau klu diantara kenthir ada yg guru, yg jelas aku bukan guru, hanya jd guru buat diriku pribadi saja hehehe……….

    Mahalo sdh diingat

  6. djasMerahputih  10 December, 2015 at 08:17

    Nyusul bang James….

    Paling tidak berusaha menjadi guru bagi keluarga terdekat..

  7. James  10 December, 2015 at 07:22

    1…….Guru adalah Pioneer masa depan Generasi mendatang

    apa para Kenthirs juga Guru semua ?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *