Dewasa Berdemokrasi

Alfred Tuname

 

Proses pemungutan suara, sebagai bagian dari pesta demokrasi sudah usai. Demos (rakyat) sudah menggunakan haknya.

Dengan semarak keyakinan dan hening nurani, rakyat memilih pemimpin. Hak politik yang melekat dalam diri warga negara wajib pilih telah digunakan dengan penuh tanggung jawab.

Pada nurani rakyat, tersimpan harapan bahwa pemimpin yang terpilih merupakan figur yang benar dan bijak. Pemimpin terpilih ini mampu menggunakan kekuasaan itu secara adil dan jujur kepada rakatnya.

Kekuasaan adalah amanah yang ampuh untuk menggunakan semua “sumber daya” negara.

Tujuannya, demi kesejahteraan rakyat bersama, bukan kepentingan pribadi, kelas dan golongan.

Atas kekuasaan itu, pemimpin mendayagunakan segenap pikiran, ide dan tenaganya untuk membagi kemakmuran dan melebarkan rasa keadilan di tengah masyarakat.

Idealnya, dalam demokrasi, rakyatlah penguasa sejati. Melalui politik, rakyat melimpahkan kekuasaan itu kepada pemimpin terpilih. Adalah sebuah celaka politik apabila rakyat justru diarahkan oleh keinginan dan hasrat kuasa calon pemimpin.

Mereka yang muda diarahkan oleh penguasa adalah mereka yang secara sadar menimba keuntungan jangka pendek (pragmatis), dan secara tidak sadar menceburkan diri dalam lumpur ketidakadilan.

Ketidakadilan merupakan wajah lain dari ke-tidak-melek-an politik yang dilanggengkan oleh penguasa.

Melek politik adalah dasar transformasi. Gerak maju sebuah masyarakat akan menjadi mustahil tanpa gebrakan politik. Maka, melek politik dalam masyarakat harus ada.

Dalam pesta demokrasi, melek politik tidak hanya dengan ikut mencoblos di bilik suara, tetapi juga mengerti dan sadar konsekuensi politis akan pemimpin yang dipilih. Melek politik juga berarti melihat lebih jauh secara rasional akan visi dan misi pemimpin tersebut.

Sebab, dari visi dan misi itu akan terjabar detail program dan proyek pembangunan di lima tahun yang akan datang.

Sebelum pemimpin itu “datang”, seperti pada umumnya, pesta demokrasi juga meninggalkan kotoran dan sampah.

Vandalisme merupakan kotoran dan politik yang masih purba di tengah pesta demokrasi.

Pembakaran, pengrusakan, pengeroyokan, pemukulan, penistaan dan lain-lain masih menjadi kado busuk pesta demokrasi.

Vandalisme ini merupakan simptom ke-tidak-melek-an politik yang masih akut di masyarakat.

Di situ, masyarakat begitu mudah dihasut dan diadu demi kepentingan sebagian elite politik. Serbuk afiliasi emosional dan primordial mempercepat api kemarahan dan amukan yang justru memperlambat proses demokrasi politik dan keeratan sosial.

Akan tetapi, pesta demokrasi, Pilkada tahun 2015, sudah usai dan akan melahirkan pemimpin.

Siapa pun pemimpinnya, ia adalah pilihan rakyat. Apapun anggapannya, ia tetap pilihan rakyat. “Dari raykat, oleh rakyat dan untuk rakyat” bukanlah jargon, melainkan fitrah demokrasi yang harus dihayati dan diamalkan oleh pemimpin.

Pilkada bukanlah dogeng anak kecil yang senang anak figur pangeran atau putri; Pilkada merupakan momen bersejarah untuk sebuah transformasi.

Karenanya, pemimpin yang terpilih bukanlah pangeran imajinatif, melainkan figur riil yang harus mampu menterjemahkan imajinasi kesejahteraan bersama dari benak rakyat.

Ketika petani butuh kesejahteraan, pemimpin harus menterjemahkan itu dengan pembangunan irigasi, bukan mengizinkan perusahaan tambang.

Maka setelah terpilih, pemimpin harus menorehkan sejarah yang baik bagi rakyatnya.

Dobraklah ketidakadilan yang membatu; leburkanlah birokrasi yang beku; bagunkanlah ekonomi rakyat yang layu; patahkahlah dominasi kelas elite yang kaku.

Pemimpin terpilih tidak berlama-lama bernostalgia akan kemenangananya. Rakyat butuh ke-segera-an kerja. “Kerja, kerja, kerja”, kata Jokowi.

Yakinlah rakyat, bahwa mereka tidak salah memilih. Setidaknya, setelah bangunan demokrasi itu terbangun kokoh dalam Pilkada, ada lajur politik etis di haparan mata rakyat.

Atas pilihan rakyat, sejarah memang memperlancar langkah soal kepemimpinan. Bahwa atas dasar kekayaan, pengaruh, familisme dan partai politik tidak lantas mudah seseorang menjadi pemimpin.

Kekuasaan rakyatlah yang menggariskan sejarah kepemimpinan atas seseorang. Dalam Pilkada, rakyat mempertegas hak dan kekuasaannya sebab pemimpin (pemerintah daerah) seringkali lupa memberikan secara sukarela apa yang menjadi hak-hak rakyat: kesejahteraan dan keadilan.

Lalu, di balik cerita prograsif kemenangan, ada juga nostalgia akan pengakuan (recognition) rakyat pada kontestan lain dalam Pilkada.

Pengakuan itu menepis buih-buih kekalahan yang seringkali menghampiri psikologi kontestan tak terpilih. Bahwa setiap kontestan (calon pemimpin) dalam Pilkada diakui putera terbaik dan layak menjadi pemimpin, hanya saja belum dikehendaki oleh sebagian  besar rakyat.

Setelah kematian John F. Kennedy, presiden Amerika Serikat ke-35 yang tertembak tahun 1963, jandanya bertanya dalam sedih, “Tahukah kau, apa yang kupikirkan tentang sejarah?” Dalam Catatan Pinggir , 05 April 1980, esais Gunawan Mohammad mencatat tentang itu: sejarah adalah sesuatu yang penuh dengan para pahlawan.

Pilkada juga penuh cerita kepahlawanan. Di situ, ada kerendahan hati untuk mengakui kekalahan; ada kebijaksanaan untuk memaknai kemenangan.

Bagi masyarakat, pemimpin terpilih harus dimengerti sebagai kemenangan bersama, sebab pemimpin itu lahir dari proses politik yang sama.

Pemimpin terpilih adalah pemimpin kita semua. Setiap perbedaan pilihan politik yang pernah ada harus dilebur kembali untuk mewujudkan cita-cita bersama.

Tinggalkanlah semua perbedaan itu demi kepentingan bersama yang lebih besar dan luhur.

Bersama pemimpin terpilih itu rakyat bersama-sama mondorong perubahan dalam pemerintahan daerah yang bersih dan adil.

Penulis tinggal di Ruteng, Kabupaten Manggarai-Flores, meminati isu-isu sosial dan politik.

 

Sudah dimuat di: http://www.floresa.co/2015/12/12/dewasa-berdemokrasi/

 

 

4 Comments to "Dewasa Berdemokrasi"

  1. J C  16 December, 2015 at 08:42

    Di Indonesia democracy dan democrazy hampir tidak ada bedanya…

  2. djasMerahputih  15 December, 2015 at 09:19

    Nyusul di belakang bang James..

    Pilkada membutuhkan rakyat yang cerdas. Rakyat mata duitan akan menghasilkan pemimpin yang sama.

    Warga cerdas akan menghasilkan pemimpin seperti Risma, Ridwan Kamil dan Ahok.

  3. james  14 December, 2015 at 14:50

    hadir mbak Lani……sekarang sih lagi melek ya tadi malam sudah bobo karena di uploadnya telat

  4. Lani  14 December, 2015 at 13:34

    Salam buat trio kenthirs………..msh pd tidur ya?

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.