Rona-rona Pelabuhan

Dwi Klik Santosa

 

Dulu sebelum diyakini strategis letaknya karena berada pada poros tengah jalur perniagaan kapal-kapal antar negara, pantai itu hening dan sepi. Jika pun ramai, selalu debur ombak dan suara camar yang berselingan memenuhi ruang.

Beton-beton dipancang, kayu-kayu disusun, ornamen-ornamen dibentuk dan dibentangkan sedemikian rupa dalam pergulirannya menjadi corak yang menandai hidup budi dan daya majunya pemikiran cendekiawan Kota Laut. Ambisi manusia telah meniscayakan pemberdayaan akal dan nalar, menjadikannya fungsi, guna dan manfaat sebagaimana dibutuhkan untuk mencapai targetnya. Galangan-galangan, bangunan-bangunan, pagar-pagar, jalan-jalan, dan kemudian lalu lalang kapal, datang dan pergi menaik-turunkan penumpang dan barang-barang adalah interaksi yang hidup serta semarak menandai majunya peradaban.

Pelabuhan Sabang, tahun 1915 (sumber : koopvaardij.blogspot.com)

Pelabuhan Sabang, tahun 1915 (sumber : koopvaardij.blogspot.com)

“Aku menjadi saksi atas perkembangan itu,” kata Pohon Beringin, “dan aku tidak kecewa terhadap pergeseran itu, sekalipun keasrian itu dari waktu ke waktu terabaikan dalam pembacaan rencana manusia. Sampah-sampah berupa cairan beracun dan benda-benda tak lumat air telah menjadikan lautan bau dan cemar. Banyak pula ikan yang mati dan terapung menebarkan busuk.”

“Ya, kita hanya makhluk yang diam tapi terbuka menyaksikan gejolak dan gelegak kehidupan,” sahut Pohon Nyiur, “bahkan jika angin prahara datang, membawa ombak menggulung-gulung hingga menghanyut seisi pelabuhan, kita menyaksikan pula itu. Manusia yang malang, manusia yang pantang menyerah. Sekalipun banyak yang rusak dan usang karena terpa gelombang bencana, toh, mudah bangkit mereka untuk membangunnya lagi, bahkan memperkokohnya agar tak sampai bahaya laut menghancurkan rencana-rencana mereka menyemai kewajaran dan kejayaan.”

Pagi yang berembun. Bulir-bulir air membasahi kayu-kayu pagar pelabuhan, membasahi besi tiang-tiang lampu,membasahi kursi-kursi panjang di sepanjang di bibir pantai, pun jalan setapak yang terbuat dari batu-batu yang disusun-susun sedemikian apik dan rapi, begitupun pot-pot sekalian tumbuhan dan pohonan yang tumbuh berjajar-jajar nampak dingin, basah oleh embun. Mulai meleleh dan cair tatkala fajar nampak merona di ufuk Timur.

Memudar-mudar permukaan air laut, ikan-ikan nampak menggeliat dan berloncatan menyambut hangat sang surya. Pagi yang tenang, sehingga gejolak ikan yang melompat sangat nyaring memecah sunyi.

“Lepaskan, lepas. Lepaskan aku.”

Kepiting itu muncul besar sosoknya dari permukaan air dan merambat di bebatuan karang yang dijadikan tanggul pantai. Capitnya yang besar sangat kokoh menjepit ikan mungil yang gemuk. Dibawanya ikan itu merambat di atas bebatuan datar.

“Jangan, jangan aku kau makan, ayolah kepiting,” ronta ikan itu, “masih terlalu pagi untuk kau jadikan santapan. Ayolah lepaskan. ”

Tak peduli, kepiting itu terus menjepit badan ikan.  Tapi keras ikan itu meronta-ronta, karena terlampau kuat, ketika capit kepiting itu membentur dinding batu besar, melonggar cekikan pada tubuh ikan. Menggelepar-gelepar ikan itu di atas batu. Melompat-lompat mendekati bibir bebatuan pantai.

Nampak keluar dari celah-celah akar liar Pohon Beringin, ular loreng seperti terbangun karena membaui amis ikan.

“Oh, hoho … betapa baik rezekiku hari ini. Pulas tidur malamku, bangun-bangun, pagi menyiapkan sarapan yang montok dan lezat.”

Menetes-netes air liur ular, mendesis-desis suaranya menjulurkan kepala keluar dari dalam celah pohon beringin tua nan keramat itu. Menjalar dan melata ia mendekati ikan. Ikan yang terterpa hangat surya terus menjula-jula, jika sebentar lagi panas sempurna, tentu akan kehabisan daya ia hidup di darat. Toh, dari naluri yang lain, sangat ia tercekam bahaya. Kepiting dan Ular, betapa sosoknya mutlak menjadi momoknya. Tak ada perlawanan yang terbaik baginya, kecuali sebaik-baiknya berharap keberuntungan dan berupaya menjangkau bibir pantai untuk kemudian .. hup! Kembali nyebur ke habitatnya yang luas.

Semakin dekat dengan ikan, semakin girang ular menyaksikan makhluk mungil, amis segar dan  melonjak-lonjak menjangkau gigir pantai. Matanya jalang dan air liurnya terus menetes-netes. Namun sebelum mulutnya yang rindu mangsa itu berkelebat akan mencaplok ikan, secepat itu ia merasakan sakit di leher kepalanya.

“Eeeeeee … apa-apaan kau ini, Ular,” seru Kepiting, “enak saja, maumu ingin mengambil bakal santapanku.”

Dalam capitan kepiting yang kokoh, ular merasakan sakit yang bersangatan. Tubuhnya yang loreng dan panjang menggeliat-geliat.

“Eh, kurang ajar. Ayo lepaskan aku .. lepaskan,” rintih ular.

“Apa pedulimu. Ini hukuman bagimu yang lancang hendak mengambil jatahku.”

Ular yang dicapit kepiting itu melakukan perlawanan. Ekornya yang panjang menggeliat menggubal ujung capit, sehingga terjadilah perkelahian. Sekian lamanya, mereka yang sedang bergelut di atas batu itu melupa ikan yang diincarnya hendak dijadikan santapan.

Buuuurrrrrr …

Dan pagi yang beranjak hangat itu telah mengajak air alut yang asing bergejolak bersama anginnya yang sepoi-sepoi landai. Gulungan ombak yang dibawa dari tengah pun sampai ke gigir pantai dan menyahut ikan yang gigih berjuang melepaskan diri dari bahaya dua calon pemangsanya, yaitu kepiting dan ular. Sedangkan air laut yang sampai pula kepada dua sosok yang saling bergumul di atas bebatuan pinggir pantai itu pun hilang pula sosoknya. Ikut tersapu oleh ombak hanyut di kedalaman.

Sudah mengering apa yang telah tersinari hangat mentari. Permukaan air laut yang tenang pun mulai bergejolak menampakkan putih-putih buih di setiap deburnya. Dedaunan pohonan angsana yang berjajar-jajar pun mulai berisik, saling bicara satu sama lain.

“Aiihhh …. matahari sepertinya cepat datang. Belum tanak lelapku, belum cukup rasanya merasai rembes embun-embun yang bercengkerama, sudah lenyap ia seiring panasnya yang membawa angin.”

“Ah, dasar pemalas. Saatnya kini bekerja. Bukankah rindu pula kita menyerap panasnya, untuk memasak dan menyegari alam panas pelabuhan ini dengan udara segar. Jika bukan karena dibutuhkan hijau kita menyegari alam sekitar ini, pastilah pohon kita ditebang, dan berguguran daun-daun kita dianggap sampah yang tak berguna.”

“Kwaaakkkkk …. Kwaaakkkk …  Kwaaakkkkk!!”

Ramai terdengar dari angkasa memekak seisi pelabuhan sejenak gaduhnya mengalahkan debur ombak. Burung-burung Pelikan yang berparade di angkasa, ratusan atau bahkan ribuan jumlahnya menuju pelabuhan. Satu yang berjambul cepat meluncur hinggap di Cagar Batu. Sedang satunya yang tak berjambul tapi berparuh lentik, hinggap di atas besi tiang lampu.

“Pelabuhan yang indah. Ada pohon beringin yang lebat dan rindang. Ada nyiur-nyiur menjulang dan kokoh di sebelahnya. Ada tanggul yang panjang dibentengi batu-batu kuno yang cadas. Oh, pohon angsana yang hijau segar dan tiang-tiang lampu yang unik di sepanjang itu, dari kejauhan seperti sorga bagi mata memandangnya,” kata Pelikan berparuh lentik, “Aha! Sepertinya tempat yang asyik untuk memanja rehat.”

“Ya, ya! Dari riak-riak di permukaan laut yang menyibak tenang, betapa ikan-ikan segar mudah kita sambar dan lebih dari cukup menjadi santapan kita,” kata Pelikan Berjambul.

Sekejap saja, di sepanjang gigir pantai, nampak putih-putih berbaris. Burung-burung Pelikan yang hijrah dari pulau laut yang gersang di kejauhan sana, rehat dan nangkring di bentangan kayu dan besi pagar-pagar di atas tanggul, di atas bebatuan, pula ada yang berenang-renang, hilir mudik menangkapi ikan. Ramai dan riuh gejolak para pelikan berpadu dengan dendang camar yang terbang bak halilintar di angkasa. Nampak sesekali sosok-sosok mungil itu terjun ke permukaan laut, gesit menyambar ikan.

“Aha! Menyenangkan sekali, kawan, melihatmu terbang seperti itu. Engkau seperti memiliki kemerdekaan yang leluasa,” seru Pelikan yang sedang asyik berenang.

“Ya, tentu saja. Seusai lelap, sedikit olahraga, sehingga lapar membuat mataku tajam membaui sosok ikan,” kata Camar, “selamat datang di kota laut yang permai, kawan. Mari bergembira menyambut hari.”

Matahari merambat naik, mulai condong dan jelas menjatuhkan bayang-bayang bagi apa saja dan siapa saja yang tertimpa sorotnya. Orang-orang mulai nampak.Tegas-tegap langkahnya nampak lalu lalang mengisi beberapa ruang. Ada yang duduk-duduk di kursi-kursi koridor. Ada yang kongkow sambil tertawa-tawa ngakak di warung. Ada yang naik turun tangga dari atas kapal ke selasar pelabuhan. Ada yang berdatangan dengan kuda, gerobak, delman dan mobil-mobil yang dapat dipastikan adalah pemilik pejabat dan pembesar saja berkompeten tinggal di KotaLaut. Makin panas surya menyengat, kian menggeliat aktvitas dan pergerakan orang-orang.

Buuuuum …. Buuuumm … bummmmm!!

Suara yang keras itu bagi yang terbiasa tinggal dan pernah beberapa kali datang ke pelabuhan itu, lalu mudah menandai, bahwa akan ada kapal yang datang. Benar saja, sebuah kapal besar, berkibar-kibar benderanya, menampakkan muasal dari negerinya. Berbaris-baris orang di selasar pelabuhan menyambutnya dengan tabuh-tabuhan dan tari-tarian, menunjukkan kapal yang merapat itu adalah dianggap penting hadirnya. Membawa duta kenegaraan biasanya. Wakil dari negerinya untuk menemui yang terhormat penguasa kerajaan kota laut.

“Dan .. Buuumm … Buummm .. Buuumm!!  Bukankah kau mengingatnya, bagaimana, kapal-kapal berbendera asing yang merapat itu melemparkan bola-bola meriamnya yang jahat memporak-porandakan apa saja di pelabuhan ini?” seru Pohon Nyiur.

“Tentu saja. Dan banyak manusia tiba-tiba dihanyut amarah. Saling tusuk, saling pukul, saling ingin membunuh di antara mereka. Penjajahan adalah kehendak dari kapal-kapal asing itu hendak merapat. Tapi kota laut dipenuhi para ksatria. Tak saja mahir mencipta keindahan menata, tapi juga dengan gagah dan trengginas mengusir siapa pun hendak menjarah kemerdekaan mereka mencipta dan merintis sejahtera. Bahkan, jika bukan karena kebijakan mereka, barangkali sosok-sosok kita yang tua di pelabuhan ramai nan permai ini sudah dianggap usang dan tak berguna. Ditebang saja daripada mengotori pandangan mata.”

Properti Maritim Rotterdam Lloyd Belawan di Pelabuhan Belawan, Sumatera Utara, 16 September 1928 (sumber : djadoelantik.blogspot.com)

Properti Maritim Rotterdam Lloyd Belawan di Pelabuhan Belawan, Sumatera Utara, 16 September 1928 (sumber : djadoelantik.blogspot.com)

Matahari menjadi saksi seutuhnya bagi apapun makhluk dan benda berada di bawahnya. Panasnya adalah tanda, bahwa tak ada yang pantas tertidur, jika memang mengutamakan prinsip “waktu adalah uang”. Berderak-derak kegiatan manusia di pelabuhan itu. Kapal yang menanam jangkar adalah pertanda siap melempar sauh. Barang-barang dagangan terbaik sebagai budaya unggulan negeri asing hendak dijadikan komoditi mengeruk pundi-pundidari kekaguman warga kota laut yang bergerak modern.

Saling bertukar minat para pendatang dan penduduk kota laut yang kaya. Saling menjual dan saling membeli, memamerkan barang-barang dagangan mereka untuk mencapai kekayaan yang tak terhingga, meninggikan harkat kemapanan dan kejayaan. Tak saja membawa menjadikan hartawan atas nama pribadi, tapi juga kesohor atas nama keagungan kerajaan kota laut.

Sedang tatkala sore tiba, cahya surya mulai meredup, melunak dari kegarangan membangunkan semangat orang-orang, mahkluk hidup lain bangsa tumbuhan dan sato mulai hangat lagi bercengkrama. Angin laut yang galak dari tengah seperti seorang dirijen yang menghidupkan layaknya orkestra. Dedaunan dari pohon-pohon mulai berisik, saling canda, saling nyanyi, saling bicara menjelang mereka lelap nanti selepas senja. Mengiring pergi sang bagaskara ke peraduan, mereka pun menghikmat pula lelap dalam renungan.

Senja di ufuk Barat, sebelum tenggelam di horizon laut. Itulah saat kembali para pelikan dan kaum camar bermunculan dari sembunyinya di bawah naungan segar pohon-pohon berdaun lebat. Bernyanyi-nyanyi mereka, berenang-renang, menari-nari dan terbang, memanja hasrat mensyukuri kemerdekaan dan mengenyangkan perut, mengambili ikan-ikan dari dalam rahim laut.

Ketika gelap merambat, meremang muncul di permukaan langit, rona-rona cahya rembulan. Langit yang biru bersih sedari pagi, siang hingga malam menjelang, pemandangan sempurna bagi siapa pun untuk melihat Dewi Soma, sang pujangga malam membagikan berkah syahdunya. Terbias di atas permukaan laut yang tenang, seluas laut seperti emas-emas yang mengambang. Bergoyang-goyang jika sesekali digoyang ombak. Menampakkan kesyahduan yang tak terbilang.

Pun, di tengah para makhluk penghuni kota pelabuhan beranjak rehat, berdatangan pasangan manusia muda-mudi bergelora saling memanja hasrat, memadu-madu kasih di sepinggirnya pantai. Duduk-duduk di kursi panjang, mereka saling bercerita, saling merayu, saling mencumbu, mengungkapkan cintanya sebagaimana kedalaman dan keluasan laut. Saling mematut-matut bahkan, umbar janji untuk rukun dan sejoli sebagaimana ditunjukkan oleh kemegahan mitos yaitu kehendak sang dewi bulan yang setia hanya kepada Kamajaya sang pemilik panah cinta Pancawisaya. Yakni panah yang jika dilepaskan, tak satupun bisa mengelak dan tertanam cinta muncul dari semurni kalbunya. Di pelabuhan, acapkali tempat bagi sejoli melabuhkan harapan-harapannya, tapi tak jarang pula menjadi saksi hidup dan kenangan yang membekas, jika terjadi perpisahan yang tak dapat diperkirakan kapan akan berjumpa lagi.

Malam merambat menjadi pagi. Begitupun menjadi perguliran dan selalu melaju. Matahari, bulan dan laut, pelabuhan dan makhluk serta benda-benda yang mengisi kekayaan alamnya merupakan rona-rona yang hidup.Terus berjalan seiring hari, meninggalkan peristiwa-peristiwa dan selalu tercatat dalam benak-benak sebagai sejarah.

 

Meruya

20 Mei 2015

: 10.20

 

 

8 Comments to "Rona-rona Pelabuhan"

  1. J C  16 December, 2015 at 08:46

    Aku sangat suka menikmati 2 foto apik ini…sembari menyimak artikel asik ini…

  2. Lani  15 December, 2015 at 13:36

    James, ternyata kamu romantis jg ya kkkkkk

  3. djasMerahputih  15 December, 2015 at 09:41

    Bang James:

    Apa sebab sebuah cinta harus berlabuh…??
    Bukankah kapal nampak lebih anggun saat berlayar…??

    Renungan mendalam. Keren ilustrasi tempoe doeloenya..

  4. james  15 December, 2015 at 08:08

    mbak Lani, lah itu hatiku itu adalah Pelabuhan Cinta kan ? kalau punya hati tanpa cinta rasanya hambar dong

  5. Lani  14 December, 2015 at 23:50

    James, ada2 aja pelabuhan asmara? Mmgnya ada ta?

  6. james  14 December, 2015 at 14:38

    foto arsipnya Pelabuhan Sabang dan Belawan keren euy……rupanya pada jaman itu pasti Laut-laut di Indonesia masih bersih semua, belum terkena polusi seperti sekarang ini

  7. james  14 December, 2015 at 14:33

    hadir ci Lani…..

    pelabuhan asmara

  8. Lani  14 December, 2015 at 13:32

    Rona-Rona……sambil mengingat trio kenthir tercinta

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.