Menghormati Gambar – Mulanya Adalah Arang

Prasodjo Chusnato Sukiman

 

Di sebuah sore, di sepotong jalan perkampungan teduh di timur Jakarta — yang ia sudah lupa tepatnya di mana– ia ajeg menyaksikan seorang anak yang menangis karena dimarahi ibunya.

Sesampainya di rumah, bukan mandi atau istirahat, ia malah diserang rasa risau yang berat.

Meski berlama-lama melihat kejadian itu, Ia tidak sempat bertanya siapa nama si ibu dan anak yang menangis meraung-raung itu.

“Saya tak ingin memberinya cokelat atau permen,” Suyadi mengenang kejadian itu pada tahun 80-an, ketika film serial Unyil masih berjaya.

Si anak tentu dimarahi bukan tanpa sebab. Ia mencoret-coret dinding rumahnya dengan kapur, yang dengan sengaja ia beli dari warung.

“…tidak pikir panjang, pulang dari studio saya langsung ke toko buku. Saya belikan anak itu buku gambar yang banyak dan pensil warna yang paling bagus. Saya lupa berapa harganya, pokoknya hampir seper tiga penghasilan saya sebulan…”

***

Dunia di mata seorang Suyadi seperti dongeng. Kalau disodorkan pernyataan tadi, dia punya cara untuk menjelaskannya. Baginya, dongeng itu juga punya akar dari kejadian dunia.

Si anak dalam cerita di awal tadi adalah hanya satu dari banyak kejadian seperti penggalan sebuah dongeng.

Untuk menolong, Ia tak perlu mengenal siapa orang tersebut, apalagi untuk pasal berkesenian dan kebutuhan berkarya.

Saat ia kecil, kenangnya, ia dibiarkan orang tuanya mencoret-corer dinding dan lantai dengan arang.

Tak pernah satu hardikan yang ia dengar.

“Malah saya dipuji-puji. Dibelikan buku gambar dan pensil warna. Yang saya ingat selalu ditanggapi dengan baik, dipuji lalu bertanya gambar apa itu? Atau mereka pernah menyebut, ‘gambar awannya bagus’, padahal saya sedang menggambar seekor ayam.”

Suyadi besar dalam didikan orang tua yang toleran terhadap kemauan anak anaknya. Jadi ketika ia mengingat kejadian si anak tadi, ia merasa sangat beruntung.

“Saya nyaris tidak berpikir panjang kalau ada seniman yang baru mulai merintis tapi kekurangan modal. Meski tidak banyak, saya pasti usahakan bantu.”

Pada tanggal 28 November 2015, akan digelar perayaan kecil untuk memperingati hari lahir Suyadi. Tema dasarnya tentu dari spiritnya berkesenian.

Saya menangkap jiwa filantropi dari sang seniman, yang begitu bersikukuh dengan keinginannya menggambar. Ia memulai segalanya dari tangannya sendiri: menggambar.

Maka dalam acara perayaan “Menghormati Gambar” ini akan disumbangkan sebuah kanvas besar dari milik sang legenda yang belum digunakan, untuk dilukis bersama-sama oleh seniman muda dalam acara tersebut.

***

Mulanya dari sebatang arang, Suyadi kemudian membesut dirinya menjadi seorang seniman.

Dari menggambar logo atau komik strip, Suyadi mendapatkan uang tambahan kuliah. Dari kebisaannya menggambar ia membuat buku cerita anak.

Anugerah energi di tangannya, membuat ia bisa melukis, dari kebisaannya menggambar ia bisa membuat visual karakter rekaannya menjadi boneka. Dan dari menggambar dia bisa menggabungkan bakat mendalangnya dan menjadi orang pertama di Asia yang mendongeng sambil menggambar (1973).

Saya membuat konsep sederhana yang menjadi patisari jiwa berkesenian seorang Suyadi dengan tabal acara “Menghormati Gambar”.

Sebuah perayaan kecil yang dengan harapan kita semua bisa mendapat cipratan semangat sang legenda yang begitu menghargai cita-citanya hingga akhir nafasnya.

Acaranya sendiri digelar pada hari Sabtu malam (mulai jam 19.00 WIB sampai selesai) di ruangrupa, Jakarta, tepat tanggal 28 November 2015. Menjiwai semangat dasar dari sang legenda yang menitikberatkan hidupnya dengan berkarya dan berderma, acaranya sengaja dibuat sedemikian santai. Jauh dari tendensi, tanpa sentuhan politis.

menghormati gambar

Setiap ditanya mana yang dia pilih dari sekian banyak “julukan” antara ilustrator, pelukis, dalang, pendongeng, animator, atau penulis buku anak, dia punya pernyataan sendiri, “saya ini tukang gambar. Sebut saja begitu, maka hidup saya jadi ringan…”

(Ditulis oleh Prasodjo Chusnato, penggagas acara MENGHORMATI GAMBAR, artikel ini disarikan dari biografi Pak Raden: Dongeng Seorang Pendongeng–yang masih dalam proses editing).

 

 

8 Comments to "Menghormati Gambar – Mulanya Adalah Arang"

  1. J C  16 December, 2015 at 08:47

    Apik! Hehehe…Ivana, berarti kita mengalami masa kecil yang sama…

  2. james  15 December, 2015 at 14:24

    iya mbak Lani, lagi tongkrongin kompinya dalam waktu samaan

  3. Ivana  15 December, 2015 at 13:12

    Bikin ingat masa kecil, setiap sore selalu menunggu2 acara Pak Tino Sidin menggambar.
    Minggu pagi sepulang gereja, kami semua selalu minta cepet pulang supaya bisa nonton Si Unyil jam 8 pagi di TVRI.
    Jaman sekarang tontonan anak2 bisa 24 jam tiada henti…

  4. djasMerahputih  15 December, 2015 at 09:48

    Ha ha ha…. djas kebagian nomer tiga aja deh…

    Kagum dengan sosok Pak Raden. Tapi, bukannya yang Tukang Gambar itu Pak Tino Sidin…??

  5. Lani  15 December, 2015 at 08:48

    James aku ngakak2 sendirian nih……….kita berdua balapan ngejar no 1……

  6. james  15 December, 2015 at 08:44

    he he keduluan ci Lani di ruang ini euy

  7. james  15 December, 2015 at 08:44

    1…..nya dibabat semua sambil menantikan para Kenthirs lainnya

  8. Lani  15 December, 2015 at 08:40

    sambil mengingat trio kenthirs

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.