Satu Kisah dalam Satu Penerbangan Internasional

Jemy Haryanto

 

Hendak bertolak dari Dubai, usai menjemput istri yang kebetulan mendapat cuti dari pekerjaannya di perusahaan penerbangan plat merah milik negara itu, kami satu pesawat dengan ibu ini. Pertama kali kenalan, si ibu tidak dalam kondisi baik, tapi wajahnya diselimuti kebingungan.

Itu terjadi ketika seorang pramugari bertanya pada si ibu untuk memilih menu makanan antara chicken dan fish.

”Chicken or Fish, please?” tanya si Pramugari.

Tapi si ibu diam saja, tidak menjawab pertanyaan itu. Dia tidak mengerti bahasa Inggris. Bahkan saking bingungnya, kedua matanya pergi ke mana-mana, mencari pertolongan siapa saja yang ada di situ, salah satunya adalah kami.

Kami duduk di sebelah si ibu. Merasa iba, istri saya langsung memberi respon terhadap sikap bingungnya itu. Menggunakan bahasa Indonesia yang tidak sempurna, dia katakan bahwa si pramugari bertanya kalau ibu bisa memilih, ayam atau ikan. Dengan cepat si ibu memilih salah satu dari menu tersebut.

“Iya ya, ikan, ikan,” ucap si ibu.

Tak lama, si pramugari pun berlalu. Tapi setelah itu, si ibu mulai terlihat bingung lagi, seperti tidak siap dengan pilihannya. Itu terbukti ketika makanan yang dipesan tiba, kening si ibu langsung berkerut.

“Kenapa saya jadi pesan ikan ya….” tanya si ibu pada dirinya sendiri, polos.

Melihat tingkah laku si ibu, tentu saja kami tidak bisa menahan senyum. Lalu muncul inisiatif untuk mengajak si ibu bertukar makanan. Dia menerima tawaran itu antusias dan terlihat makan dengan lahap, begitu juga kami.

Usai makan, kami berbincang satu sama lain. Si ibu mengenalkan diri dengan nama Aisyah, sama seperti nama baru istri saya. Dia sendiri baru saja selesai menunaikan ibadah umroh di Tanah Suci.

Menurut bu Aisyah, ini adalah pengalaman pertama dirinya mengambil penerbangan internasional, sebelumnya cuma penerbangan domestik, tapi itu pun jarang sekali dilakukan, sehingga dia minta dimaklumi. Mendengar itu, kami menyampaikan pada bu Aisyah untuk tetap tenang. Kami juga membuka diri untuk bantuan ketika diperlukan.

Setelah itu bu Aisyah mulai bertanya kepada saya terkait asal muasal. “Anak ini orang mana?” tanya si ibu.

“Orang Indonesia, sama seperti ibu,” jawab saya.

“Bugis?” Tanya dia lagi.

“Bukan, bu. Damai.”

Mendengar jawaban itu, bu Aisyah tampak bingung lagi. “Suku apa lagi itu Damai?”

“Maksud saya, campuran, Sunda-Melayu Cinta Damai,” jelas saya sedikit bercanda.

Tanpa diduga bu Aisyah membuncah. Dia kemudian bertanya hal yang sama pada istri saya. Tapi kali ini beliau sedikit ngotot sambil menebak-tebak. “Nah kalau nona ini, dari mana?”

“Italia, ibu” jawab istri.

“Oh, Turki.”

“Tidak. Italia.”

“Mesir,” ucap si ibu.

“Tidak ibu. Tapi Italia.”

“Oh Amerika ya…”

“Tidak, tidak. Tidak itu, tapi Italia.”

“Ya ya Inggris,” ucap bu Aisyah sambil manggut-manggut…

“Tidak. Tidak. Italia,” sanggah istri lagi, sambil melempar senyum, membuat kening bu Aisyah berkerut kembali.

Sesaat mereka berdua tidak terdengar bercakap-cakap. Bu Aisyah terlihat bingung. Saya pun bertanya pada bu Aisyah apakah dirinya mengetahui keberadaan Italia atau tidak. Ternyata, dia memang tidak tahu sama sekali.

Melihat kebingungan bu Aisyah, saya pun teringat suatu pengalaman pertama kali berkunjung ke kampung halaman istri, di mezzoccorona, di wilayah Trento. Di mana wajah-wajah bingung seperti bu Aisyah juga ditemukan.

Saat itu saya dan istri berlibur ke ladang anggur, di perbatasan Italia – Austria. Beberapa orang tua, tepatnya para petani di situ, bertanya dari mana kiranya saya berasal. Dengan bangga penuh nasionalisme saya menjawab Indonesia, sambil berharap mereka tertarik, sehingga akan banyak pertanyaan diajukan seputar Indonesia.

Tapi ternyata, tidak. Yang muncul malah, wajah-wajah bingung para petani anggur. Mereka menerka-nerka apakah Indonesia itu bagian dari ‘Cina, India atau Arab’.

Saya mencoba sebutkan satu per satu provinsi terkenal di Indonesia, mulai dari ‘Bali’, mereka bingung. ‘Sumatera’, mereka juga bingung. Ketika kata ‘Borneo’ disebut, seorang laki-laki tua yang baru saja tiba di ladang anggur buru-buru menghampiri, lalu menepuk pundak saya. “Wow kau dari Borneo,” katanya.

Orang tua itu terkejut mendengar kata Borneo, apalagi salah satu orangnya ada di situ. Dia mengetahui banyak tentang Borneo dari literatur yang sering dibaca, bahkan sampai sekarang masih menyimpan kekaguman besar terhadap kehidupan suku Dayak di bumi Borneo.

flight

Kami pun memberi penjelasan pada ibu Aisyah, dimana itu Italia. Sehingga sedikit banyak dirinya mengetahui bahwa Italia bukan bagian dari Mesir dan sebagainya. Tapi bagi saya pribadi, tidaklah penting apakah ibu Aisyah tahu atau tidak terkait negara lain, yang jelas hal ini memberi nilai satu sama antara bu Aisyah dan para petani anggur itu. Intinya, kita orang Indonesia, kemana dan dimana kita pergi atau tinggal, akan selalu mencintai Indonesia.

Kami senang bisa bertemu ibu Aisyah. Sikap polos beliau ternyata memberi kesempatan terbukanya pintu silaturahmi, bahkan tetap terjalin sampai sekarang. Semoga bu Aisyah selalu diberi kesehatan oleh Allah. Amin.

 

 

10 Comments to "Satu Kisah dalam Satu Penerbangan Internasional"

  1. Jemy haryanto  22 December, 2015 at 19:42

    Merinding denger ceritamu Vin. Aku sebenarnya org yg takut naik pesawat, takut ketinggian. Tapi karena kebutuhan, mau tak mau hrs naik. Klu sudah di atas pikiranku mulai horor,, tapi syukurlah tak terjadi hal2 terhadapmu dn penumpang yg lain. Mba Linda :

  2. Alvina VB  22 December, 2015 at 18:40

    Hadir James….satu pengalaman yg menarik bung Jemy kl naik pesawat dari negara2 tertentu. Pengalaman saya yg paling mengerikan itu pas pesawat udah mau jatuh krn turbulence yg hebat, pesawat turun drastis dari ketinggian sekian dan ampi terjun bebas dan lalu naik sedikit-sedikit. Wah dengerin org yg teriak-teriak sampe berdoa komat-kamit dlm bhs yg beda-beda, sampe yg berjanji muacem-macem sama kel.nya kl bisa lewat dari zone tsb. Saya sich dah pasrah aja….doa dlm hati aja sambil tutup mata rapet2 he..he…Pas mendarat ya semua tepuk tangan, kata satu bapak belum waktunya kita pergi ya…saya juga mikir iya masih banyak banget yg saya blm lakukan selama masih hidup di dunia ini, he..he….

  3. Linda Cheang  17 December, 2015 at 11:43

    pengalamannya memang unik

  4. Jemy haryanto  17 December, 2015 at 09:09

    Sekedar catatan ringan di pesawat mas jc. Hehehe @ pak dj. Terimakasih. Salam hangat dr borneo. @ djas merah, james, mba lani : satoe

  5. J C  16 December, 2015 at 08:48

    Cerita yang apik, mas Jemy Haryanto…

  6. Dj. 813  15 December, 2015 at 15:48

    Bung Jemmy . . .
    Terimakasih untuk ceritanya . . .
    Memang bisa terjadi satu pengalaman yang lucu di pesawat .
    Itu baik adanya, agar duduk lama dipesawat tidak menjadi bosan .
    Salam Sejahtera dari Mainz .

  7. djasMerahputih  15 December, 2015 at 09:55

    Hadir di belakang duo kenthir.. he he he…

    Selalu menarik bertemu teman sebangsa di luar tanah kelahiran..
    Kisah yang lucu dan menggembirakan. Thanks or sharing..

  8. Lani  15 December, 2015 at 08:40

    Lo disalip aku sama James hikkkks………kecewa nih

  9. Lani  15 December, 2015 at 08:39

    Sambil mengingat trio kenthirs

  10. james  15 December, 2015 at 08:39

    1…….suatu pengalaman yang menggelikan

    absenin Kenthirs lainnya yang belum hadir

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.