[Di Ujung Samudra] Kekasihku adalah Adikku

Liana Safitri

 

KETIKA kita sudah terbiasa dengan kehadiran seseorang lalu tiba-tiba orang itu menghilang, maka selanjutnya kita akan merasakan ada sesuatu yang kurang.

Mungkin itu juga yang terjadi pada Franklin. Sudah lama ia tidak melihat Fei Yang, membuatnya harus kembali jalan-jalan sendirian. Kenapa? Apakah Fei Yang merasa malu karena kejadian di toko buku Eslite sehingga berusaha menghindari Franklin? Padahal Franklin pun merasa bersalah pada Fei Yang. Tidak seharusnya ia bertanya tentang orangtua Fei Yang yang mengakibatkan gadis itu menangis. Saat Fei Yang berada di dekatnya, Franklin lebih sering mengabaikannya. Sekarang setelah Fei Yang tidak muncul, Franklin malah mencarinya. Sungguh aneh! Franklin ingin tahu apa yang terjadi pada Fei Yang.

Usai melakukan kegiatan rutin semenjak mengalami insomnia, jalan-jalan, Franklin menunggu Fei Yang pulang di depan pagar rumah. Hampir dua jam Franklin menunggu, akhirnya ia melihat Fei Yang dari kejauhan. “Kau dari mana? Mengapa beberapa hari ini aku tak melihatmu?” Franklin bertanya dengan tenang, seolah-olah ia sudah terbiasa melontarkan pertanyaan itu pada Fei Yang setiap hari.

“Kau… apakah kau menungguku pulang? Ya ampun! Tentu saja mengajar les piano… Kemudian aku juga ke rumah teman untuk latihan piano.”

“Latihan piano?”

Fei Yang mengangguk. Franklin dapat melihat gadis itu tersenyum dalam kegelapan. “Aku memutuskan untuk kembali bermain piano…”

Karena dirimu… karena kau pernah berkata ingin melihatku bermain piano…

“Benarkah?”

“Karena itu sekarang aku jarang di rumah. Nanti setelah punya piano sendiri, aku tidak akan terlalu sering bepergian dan bisa menemanimu jalan-jalan lagi.”

Franklin tidak berkata apa-apa. Namun sesungguhnya ia terus memikirkan perkataan Fei Yang sampai pagi, sampai beberapa hari kemudian…

Tiga orang laki-laki datang ke rumah Fei Yang. Salah seorang dari mereka bertanya sambil melihat tulisan pada kertas yang dipegangnya, “Maaf, apakah ini rumah Nona Xu Fei Yang?”

Fei Xiang yang membukakan pintu mengangguk, “Benar.”

“Kami dari toko alat musik, mau mengantarkan piano.”

“Piano?” alis Fei Xiang bertaut. “Tolong tunggu sebentar!” Fei Xiang buru-buru masuk ke kamar Fei Yang dan langsung menginterogasi kakaknya. “Kakak, bukankah kau mengatakan kalau tidak punya uang? Kenapa sekarang malah membeli piano?”

“Membeli piano apa? Jangan sembarangan!”

“Kau lihat saja sendiri!”

Fei Yang keluar bersama Fei Xiang. Benar saja, selain tiga orang laki-laki asing, ada sebuah mobil yang mengangkut piano berhenti di depan rumah mereka.

“Pianonya mau diletakkan di mana?”

“Saya sama sekali tidak memesan piano!” Fei Yang berkata bingung sekaligus geli.

“Tapi orang yang membelinya menyuruh kami mengantarkan piano kemari…”

Fei Yang terpana, kemudian menoleh ke rumah sebelah. Satu-satunya orang yang tahu jika sekarang ia sedang membutuhkan sebuah piano hanya Franklin! Tepat pada saat itu pintu rumah Franklin terbuka. Fei Yang segera memanggil-manggil sambil melambaikan tangan, “Franklin! Franklin!”

Franklin mendatangi rumah Fei Yang. “Ada apa?”

“Apakah kau membelikan piano untukku?”

“Itu…” Franklin tampak agak gugup. Selanjutnya ia berkata dengan nada pura-pura tidak peduli, “Kemarin aku baru saja pergi ke toko alat musik. Kemudian aku melihat piano yang bagus dan ingin membelinya. Karena aku suka mendengarkan musik piano, tapi tidak bisa memainkannya jadi… sebaiknya piano ini dititipkan di rumahmu saja…” Penjelasan Franklin yang berputar-putar cukup untuk memberitahu Fei Yang bahwa pemuda itu peduli padanya!

Sudahlah Franklin, tidak perlu banyak alasan! Kalau kau memang mau membelikan aku piano, ya katakan saja terus terang! Aku pasti menerimanya dengan senang hati!

Franklin membantu memindahkan beberapa barang hingga piano berwarna putih indah itu bisa diletakkan di ruang tamu. Setelah orang-orang dari toko alat musik pergi, Fei Yang berdiri mematung di depan piano lama sekali. Ia membuka tutup piano dengan jantung berdebar-debar, lalu perlahan-lahan menekan beberapa tuts. Dentingan nyaring dan jernih memenuhi seluruh ruangan. Fei Yang menarik napas dalam-dalam. Mata gadis itu berkilau memancarkan sinar, lebih dari ungkapan kebahagiaan. “Selain mengucapkan terima kasih… aku tidak tahu harus bagaimana lagi… Ini… terlalu berharga untukku…” kata Fei Yang tulus.

Fei Xiang berdiri di sudut ruangan menyaksikan pemandangan ini dengan mata terbelalak. Kakaknya mendapat hadiah piano dari seorang laki-laki! Sungguh sulit dipercaya! Meski Fei Yang selalu menyangkal, tapi sekarang Fei Xiang bertambah yakin sekali kalau ia punya hubungan istimewa dengan Franklin. “Baik hati sekali dia, mau membelikanmu piano! Franklin, kau tidak punya maksud tersembunyi, kan?”

Fei Yang berjalan mendekati Fei Xiang, memelototinya, dan menggeram lirih, “Sebaiknya kau pergi keluar dulu!” Setelah berkata begitu Fei Yang menjejalkan beberapa lembar uang ke tangan Fei Xiang.

Seperti baru mendapat lotre, wajah Fei Xiang berubah cerah dalam sekejap. “Ah, Kakak! Kenapa tidak dari kemarin? Baiklah, kalau begitu aku tidak akan mengganggu kalian!” Fei Yang mengangkat tangan bermaksud memukul Fei Xiang, tapi anak itu sudah melarikan diri.

Setelah Fei Xiang pergi, Fei Yang merasa lega. Bagaimanapun ia ingin agar hari ini menjadi hari yang indah, yang hanya dilewati berdua saja bersama Franklin. Fei Yang membalikkan tubuh, bertanya pada Franklin, “Kau mau mendengar permainan pianoku, kan? Kau suka lagu apa?”

Franklin berpikir sejenak lalu menyebutkan sebuah juul, “Kiss the Rain! Kau tahu? Lagu karya Yiruma, seorang pianis dan komposer asal Korea Selatan.”

Kiss the Rain? Aduh… sayang sekali, aku tidak tahu!” Fei Yang tampak kecewa, namun beberapa detik kemudian ia berkata menghibur, “Tidak apa-apa! Aku akan mencari tahu dan mempelajari lagu itu, jadi besok bisa memainkannya untukmu. Sekarang kita mainkan lagu lain… Romance de Amor? Serenade? Ave Maria? Cuckoo Waltz? atau Träumerei?”

Serenade yang kaumaksud lagu Franz Schubert, kan?” tanya Franklin memastikan. “Jika ya, aku ingin mendengar lagu itu.”

Lagu Serenade sudah tidak asing bagi Fei Yang, ia pernah memainkannya beberapa kali. Dan sekarang saatnya menguji ingatan! Nada demi nada, mengalir lembut namun mantap. Franklin yang berdiri di samping Fei Yang mendengarkan dengan saksama. Setelah lebih dari empat menit, lagu pun berakhir.

“Bagaimana menurutmu?” tanya Fei Yang.

“Bagus.”

“Aku sengaja membuat kesalahan empat nada! Kau mengatakan bagus hanya untuk menghiburku!”

“Benarkah?” Franklin tak percaya. “Menurutku tidak ada yang salah! Mungkin karena aku tidak bisa bermain piano jadi tidak menyadari kesalahan yang kaubuat!”

Fei Yang menggeleng, “Seharusnya aku bisa bermain lebih bagus daripada ini. Tapi sudah terlalu lama tidak berlatih dengan piano sendiri.”

“Kalau begitu mulai sekarang kau bisa berlatih setiap hari!” Franklin menyemangati.

 

“Bayinya laki-laki! Semua baik-baik saja, semua sehat…” Telepon itu mengejutkan Franklin di tengah malam, suara Tian Ya terdengar lega.

Lydia sudah melahirkan.

Franklin sulit menggambarkan bagaimana perasaannya sendiri. Apakakah ia punya keberanian untuk melihat bayi itu? Insomnia Franklin kambuh, ia tidak bisa tidur sampai pagi.

“Aku sudah menghubungi mama, papa, Xing Wang, Fei Yang, dan juga kakakmu…” Tian Ya duduk di pinggir ranjang. Lydia berbaring dengan beberapa bantal diletakkan di kepala tempat tidur sambil memeluk bayinya.

Lydia mengangkat kepala, “Lalu?”

“Mereka ingin menjenguk, tapi kusuruh besok saja saat kita pulang ke rumah. Hanya mama dan papa yang tidak sabar, mereka akan sampai di rumah sakit sebentar lagi. Mama memarahiku karena saat kau melahirkan dia tidak diberitahu,” kata Tian Ya.

Lydia tidak bertanya apa-apa lagi. Perhatiannya tercurah penuh pada makhluk kecil yang baru saja terlahir ke dunia. Rasanya masih sulit dipercaya kalau sekarang ia sudah menjadi seorang ibu. Sungguh sebuah keajaiban! “Lihat… anak ini tampan sekali… Rambutnya lebat dan berdiri seperti rumput, alisnya tebal, matanya besar, hidungnya mancung, bibirnya kecil… Mana yang mirip dirimu? Mana yang mirip aku?”

Tian Ya memandang anaknya, lalu beralih menatap istrinya, memandang anaknya, lalu istrinya lagi… Kemudian dengan satu tangan ia memeluk bahu Lydia, sedang tangan lainnya mengusap kepala anaknya. “Pasti… sangat berat, kan? Melahirkan itu…”

“Sepertinya kau lebih tegang daripada aku!” kata Lydia.

Tiga jam yang lalu mereka masih berada di rumah. Lydia mengeluh perutnya sakit sekali. Tian Ya panik sekali, menyuruh Bibi He memanggil taksi, menyiapkan baju, sementara ia tak beranjak dari sisi Lydia, menyeka keringat sebesar bulir-bulir jagung yang menetes dari dahi wanita itu. Setelah sampai di rumah sakit dan Lydia masuk ke ruang persalinan, Tian Ya menunggu di luar sambil mondar-mandir seperti cacing kepanasan, tak bisa duduk walau sekejap pun. “Seorang anak yang melihatku jalan-jalan di koridor sempat bertanya pada ibunya, ‘Apakah Paman itu sedang berolahraga?’ Aku kesal setengah mati!”

Lydia tertawa dengan wajah yang masih pucat.

Lydia dan Tian Ya sama-sama memandang ke luar jendela kamar rumah sakit. Bintang-bintang bertebaran di langit. Sebuah pemandangan yang sangat mereka sukai. Bintang, selama ini seolah menjadi saksi perjalanan cinta berliku yang harus dilalui kedua orang itu. Kemudian untuk anak laki-lakinya yang baru lahir, Tian Ya memberi nama Xing Dou. Sedangkan dari Lydia, mendapatkan nama Louis.

Mama dan papa Tian Ya sampai di rumah sakit ketika malam sudah sangat larut. Nyonya Li berkata pada suaminya sambil menangis terharu, “Akhirnya kita mempunyai cucu! Akhirnya kita menjadi nenek dan kakek! Oh… betapa tuanya kita sekarang…”

Mata Tuan Li bersinar-sinar menatap cucu pertamanya dan berkata pada Lydia, “Saat mengetahui kalau kau hamil, Tian Ya sangat senang. Tiba-tiba dia membagi-bagikan uang pada para pegawai sampai mereka berkata, ‘Kalau begitu kita doakan saja agar istri Pak Direktur sering hamil! Dengan demikian kita juga akan ikut beruntung!’ Aku benci dengan orang-orang yang suka bergosip dan selalu membicarakan pimpinan di belakang punggung mereka. Tapi kali ini aku setuju, anak memang membawa keberuntungan!”

“Itu benar sekali!” kata Tian Ya geli, sementara wajah Lydia langsung berubah masam.

“Kapan kalian diperbolehkan pulang?”

“Jika tidak ada masalah mungkin besok siang atau besok sore,” sahut Lydia.

“Sebenarnya aku ingin menginap beberapa hari di rumah kalian, tapi tidak bisa karena sudah ada janji untuk menemui seseorang. Atau… bagaimana kalau kalian saja yang pindah ke rumah kami sementara waktu?” usul Nyonya Li.

Lydia langsung menolak, “Tidak perlu, Mama… Aku dan Tian Ya bisa berbagi tugas…”

“Tapi… kalian belum pernah merawat bayi!”

Tian Ya mendesah. Mulai lagi! Mulai lagi! Mamanya ini selalu punya kekhawatiran berlebihan. “Mama… di rumah kami kan juga ada pembantu! Untuk apa pindah rumah segala? Itu justru akan menambah repot!”

“Tapi…”

“Sudahlah! Benar kata Lydia dan Tian Ya! Mereka bisa mengerjakan tugas bersama-sama. Mereka hanya perlu menjaga seorang bayi karena pekerjaan lain diselesaikan oleh pembantu! Dulu saat Tian Ya lahir, ibu-ibu kita tidak sebingung dirimu,” Tuan Li mengingatkan.

“Baiklah… mungkin aku akan mengatur agar bisa datang ke rumah kalian setiap hari.”

 

Franklin dan Fei Yang datang menjenguk besok sorenya. Suara tangis bayi membuat suasana rumah besar itu menjadi lebih hidup.

Lydia menyambut mereka dengan gembira. “Sudah lama tidak bertemu, ya! Sangat susah pergi dengan perut besar, jadi aku jarang keluar rumah.”

Fei Yang membungkuk melihat bayi yang sedang digendong Lydia. “Halo, Sayang… Ini Bibi Fei Yang… Siapa namanya?”

“Louis!”

“Hai Louis! Aduh, lucunya! Wah… dia membuka mata! Dia balas menggenggam jariku!” Fei Yang menatap Lydia dan Tian Ya, “Bagaimana rasanya mengasuh bayi? Pasti sangat melelahkan!”

Tian Ya tertawa. “Sedikit repot, tapi setelah satu atau dua minggu pasti akan terbiasa.”

“Sebenarnya tadi kami ingin mengajak Xing Wang, sayang dia terlalu sibuk. Katanya kafe tidak bisa ditinggal. Aku merasa Xing Wang agak aneh. Apa di antara kalian ada masalah?” tanya Fei Yang.

Ketika Fei Yang mengajak Xing Wang menjenguk Lydia yang baru ke luar dari rumah sakit, Xing Wang terang-terangan menolak. Fei Yang mendesak pemuda itu mengatakan alasannya. Akhirnya di hadapan Franklin dan Fei Yang, Xing Wang bercerita tentang pembunuhan yang dilakukan Tian Ya terhadap Xiao Long. “Aku tidak setuju! Apa pun alasannya aku tidak setuju Tian Ya membunuh! Apakah karena seseorang berbuat jahat kepada kita lantas hal itu bisa dijadikan pembenaran untuk kita melakukan kejahatan yang sama? Sejak dulu Tian Ya selalu begitu! Kalau sudah marah lalu bertindak tanpa pikir panjang! Tanpa memikirkan sebab akibat!”

Fei Yang dapat melihat jika Tian Ya berusaha menutupi perselisihan yang sedang terjadi antara dirinya dengan Xing Wang. “Tidak! Aku dan Xing Wang baik-baik saja! Hanya beberapa hari ini kami memang jarang berhubungan. Terakhir kali aku meneleponnya kemarin malam saat mengabarkan tentang kelahiran Louis. Oya, Fei Yang… kaubilang adikmu sedang berada di sini? Bagaimana dia? Kenapa tidak diajak kemari?”

“Kau seperti tidak tahu Fei Xiang saja! Yang dia lakukan setiap hari hanya pergi bersama teman-temannya!” Tahu jika Tian Ya enggan membicarakan tentang Xing Wang, Fei Yang pun tidak bertanya lebih jauh.

Lydia berseru terkejut, “Jadi kau punya adik, Fei Yang? Kukira kau anak tunggal!”

Di antara semua orang Franklin-lah yang sejak tadi hanya diam. Tidak tahu apa yang dipikirkannya. Mungkin Franklin merasa tidak seharusnya datang kemari. Sebagai tuan rumah Tian Ya mencoba berbasa-basi, “Franklin, bagaimana dengan pekerjaanmu di Taiwan?”

“Semua sudah beres. Tapi aku berencana tinggal di sini beberapa lama lagi untuk jalan-jalan.

Untuk mengawasi Lydia!

“Oh, itu bagus! Banyak sekali tempat menarik untuk dikunjungi! Kapan-kapan kita berempat bisa pergi bersama.”

Franklin menyerahkan oleh-oleh pada Tian Ya. “Ini dari aku dan Fei Yang.”

“Terima kasih…” Tian Ya menerima bingkisan plastik dan buket bunga yang diberikan Franklin. “Kau mau menggendong Louis?”

“Apakah boleh?”

“Boleh!”

Biasanya yang paling sering mengajak Franklin berbicara adalah Lydia. Namun hari ini Lydia tidak berkata sepatah pun. Bahkan saat menyerahkan Louis pada Franklin, Lydia menghindari tatapan matanya. Kejadian di jalan raya saat Franklin memeluk Lydia seolah membentangkan jurang lebar tak terlihat di antara mereka. Lydia sengaja mengambil jarak dari Franklin, kali ini lebih jelas. Pemuda itu semakin merasa menyesal.

Franklin merasakan gerakan-gerakan lembut yang menembus selimut ke tangannya.

Namanya Louis… Bayi ini anak Lydia… dan Li Tian Ya! Mereka akhirnya mempunyai anak, dan anak ini akan semakin merekatkan hubungan mereka sebagai suami istri serta orangtua. Tidak menyisakan celah sedikit pun bagiku untuk menyusup di antara keduanya.

Pada sore hari meja dan kursi diangkut ke halaman belakang. Mereka berempat minum teh bersama. Meski udara sangat dingin, tapi berkumpul sambil membicarakan hal yang remeh-remeh membuat suasana jadi terasa hangat. Apalagi dari tempat ini mereka bisa melihat matahari terbenam. Lydia dan Tian Ya ditodong dengan pertanyaan seputar proses kelahiran putra pertama mereka. Sementara Fei Yang bercerita tentang hari-harinya “bertetangga” dengan Franklin. Dari mulai kegiatan mereka barter pelajaran bahasa, pergi jalan-jalan di malam hari, juga tentang bagaimana Franklin membelikan piano untuk Fei Yang. Yang terakhir ini membuat Lydia dan Tian Ya sama-sama terkejut. Franklin, seperti biasa menjadi seorang pendengar setia. Ia hanya membuka mulut kalau ditanya. Kemudian entah bagaimana obrolan mereka menjalar ke masalah cinta pertama.

“Kemarin di jalan tanpa sengaja aku bertemu dengan Dong Kai Xiang. Kau ingat, Tian Ya? Dulu kalian berdua nyaris berkelahi…”

“Tentu saja aku masih ingat! Dong Kai Xiang itu cinta pertamamu, kan?” Tian Ya tak dapat menahan diri menggoda Fei Yang. “Aku dan Dong Kai Xiang berkelahi karena dia tidak suka melihatmu pulang bersamaku!”

Fei Yang mencibir. “Cinta pertama? Huh! Kalau dipikir-pikir itu karena Dong Kai Xiang terus-menerus mengejarku, jadi aku terpaksa jalan dengannya! Dong Kai Xiang masih bertingkah menyebalkan, sama seperti dulu!”

Lydia juga tergelitik mengganggu Fei Yang, “Kalau kau menganggap Dong Kai Xiang begitu menyebalkan, kenapa mau bersamanya?”

“Sudah kukatakan, aku hanya tidak ingin dia terus menggangguku! Aku pura-pura menerima cintanya, lalu setelah satu bulan kuputuskan dia!” Fei Yang pun menggunakan kesempatan ini untuk bertanya balik, “Lydia, siapa cinta pertamamu?”

“Haruskah aku menjawabnya?”

“Kau harus menjawabnya! Tian Ya pasti juga sama penasarannya denganku!”

Lydia menundukkan kepala menahan malu, “Cinta pertamaku adalah orang yang sekarang menjadi suamiku!”

“Apa?” Mata Fei Yang terbelalak lebar-lebar. “Jadi kau tidak pernah menjalin hubungan dengan laki-laki mana pun selain Tian Ya?”

Lydia menggeleng.

“Oh! Sungguh sulit dipercaya…” Fei Yang bertanya pada Tian Ya untuk meyakinkan, “Tian Ya, benarkah itu?”

Tian Ya hanya mengedipkan mata, “Aku sudah tahu jawabannya!”

Fei Yang berdecak. “Kau sendiri, siapa cinta pertamamu? Meski kita pernah berpacaran, aku yakin sekali cinta pertamamu bukan aku!”

Tian Ya agak kikuk karena Fei Yang mengungkit-ungkit hubungan mereka dulu. Ia hanya menoleh ke arah Lydia. Mereka saling bertukar pandang lalu tersenyum.

Melihat reaksi Lydia dan Tian Ya Fei Yang bertanya tak percaya, “Jangan-jangan… cinta pertama Tian Ya juga… Lydia?”

“Aku dan Lydia adalah teman sekolah saat kelas satu SMP. Kami satu kelas dan bahkan duduk bersebelahan. Kami berangkat dan pulang sekolah bersama, mengerjakan pekerjaan rumah bersama, kalau liburan juga menghabiskan waktu bersama. Saat itu kami menganggap satu sama lain adalah sahabat yang paling baik. Sekarang setelah dipikir-pikir hubungan kami dulu malah lebih dekat daripada teman. Mungkin bisa dianggap cinta monyet, kalau bukan cinta pertama! Benar kan, Lydia?”

“Ya!”

“Wah… memangnya kalian tidak bosan ya? Menyukai satu orang yang sama sampai bertahun-tahun?” Fei Yang sungguh tidak bisa memahami Lydia dan Tian Ya. Cinta pertama di masa SMP, itu terjadi belasan tahun yang lalu! Bagaimana mereka dapat menyimpan kenangan begitu lama, terpaku pada masa lalu sementara banyak orang baru yang mereka kenal tahun demi tahun? Membingungkan, menggelikan, sekaligus mengagumkan! “Tapi… cinta monyet itu apa?”

“Cinta monyet maksudnya cinta yang tidak serius, hanya main-main. Biasanya ini berlaku bagi para remaja atau anak sekolah,” jelas Tian Ya.

“Oh…” Fei Yang mengangguk-anggukkan kepala. Kemudian ia bertanya lagi, “Lalu kalau cinta yang serius disebut apa? Misalnya untuk suami istri seperti kalian?”

Tian Ya melemparkan pertanyaan itu pada Franklin, “Cinta yang serius, bagaimana orang Indonesia menyebutnya?”

“Mungkin cinta gorila?” jawab Franklin asal-asalan. “Itu bisa dianggap kebalikan dari cinta monyet, kan?”

“Cinta gorila?” Tian Ya tertawa terbahak-bahak mendengarnya. Lydia juga ikut tertawa.

Sementara Lydia dan Tian Ya tertawa memikirkan “cinta gorila”, perhatian Fei Yang beralih pada Franklin. Sejak awal perkenalan hingga sekarang tak banyak yang ia ketahui tentang Franklin. Kalau berkumpul berempat seperti sekarang Franklin tidak banyak bicara, cenderung menarik diri. Pemuda ini, entah memiliki kisah cinta yang bagaimana?

“Kalau kau, Franklin? Kau masih ingat siapa cinta pertamamu? Kapan pertama kali kau memiliki seorang kekasih?”

“Aku? Cinta pertamaku… kekasih?” Franklin melirik Lydia sekilas.

“Siapa?”

Cinta pertamaku terjadi setelah aku kehilangan orangtua dan dibawa masuk ke dalam sebuah keluarga. Anak perempuan keluarga itu sangat baik. Di hari ulang tahunku yang ketujuh belas dia memberi hadiah jam tangan. Menghilangkan perasaan asing dari dalam hati dan membuatku merasa diterima. Memanggilku “Kakak”. Cinta pertamaku, kekasihku… adalah adikku…

“Franklin!” panggil Fei Yang lagi.

Yang dipanggil tersentak. “Ya? Cinta pertama… itu… Aku tidak ingat! Kukira dia juga sudah melupakanku!”

Bibi He muncul dari dalam rumah dan berjalan ke halaman belakang. Ia menghampiri Lydia sambil menggendong Louis. “Nyonya, Louis terbangun!”

Lydia tersentak. Ia buru-buru berdiri, mengambil Louis dari tangan Bibi He. “Aduh… kau sudah bangun, ya, Sayang? Ayo ikut Mama!”

Franklin mengembuskan napas lega, merasa terselamatkan dari pertanyaan konyol seputar cinta pertama.

Fei Yang yang berdiri di samping Lydia ikut berbicara pada Louis. “Aduh… anak pintar tidak boleh menangis…”

“Mungkin dia masih mengantuk!” kata Tian Ya. “Kauurus Louis saja, biar aku yang membereskan tempat ini!”

Sementara Lydia membawa Louis masuk rumah ditemani Fei Yang, Franklin membantu Tian Ya membereskan cangkir dan teko bekas minum teh. “Penjahat itu… sudah mati, kan?”

Kata-kata Franklin membuat gerakan tangan Tian Ya terhenti. “Maksudmu Xiao Long? Kau tahu dari siapa?”

“Temanmu yang punya kafe. Dia bercerita padaku dan Fei Yang… katanya kau melakukan semua dengan sangat rapi sampai polisi tidak dapat menemukan pelakunya.” Franklin menoleh menatap Tian Ya. “Apakah ini bisa dianggap sebagai keberuntungan?”

Tian Ya tersenyum sinis. “Aku memang menyuruh orang untuk menangkap Xiao Long lalu membunuhnya dengan tanganku sendiri! Aku tidak keberatan kalau kau menyalahkanku atau menganggapku kejam. Tapi itu adalah caraku untuk melindungi Lydia, melindungi istriku, keluargaku!”

“Aku tidak menyalahkanmu. Meski aku tidak akan melakukan hal yang sama seandainya berada dalam posisismu! Aku hanya mengingatkan agar kau lebih berhati-hati. Mereka seperti tumbuhan liar di musim hujan. Mati satu, teman-teman lainnya maju. Kalau tidak mengenai sasaran, maka akan mengincar orang-orang di sekitarnya. Tidak pandang bulu!” Franklin mengingatkan. “Dulu ketika anak buah Xiao Long menculikku dan membawaku ke sebuah gedung tua, mereka tidak peduli aku datang dari mana. Dengan bahasa Inggris yang berantakan mereka bertanya apa hubunganku dengan Lydia dan meminta nomor telepon Li Tian Ya. Saat itu aku tahu bahwa mereka tidak hanya menginginkan Lydia, tapi juga menginginkanmu. Mungkin jika tidak berhasil mempekerjakan Lydia di kelab malam mereka akan memerasmu. Jadi aku tidak berkata sepatah pun. Aku dihajar habis-habisan. Kalau kau dan Xing Wang tidak muncul tepat waktu pasti aku akan mati! Akhirnya malah kau yang tertembak…”

“Aku tidak akan lupa, Franklin! Justru karena itulah aku membunuh Xiao Long. Tumbuhan liar harus dicabut sampai ke akar-akarnya, barulah pohon bisa berbuah. Aku dan Lydia hanya ingin hidup normal tanpa gangguan.”

Louis masih menangis. Fei Yang jadi penasaran ingin menggendongnya, padahal sejak dulu ia tidak suka dengan bayi. Lydia menyerahkan Louis pada Fei Yang. “Tidak tahu kenapa hari ini dia rewel sekali. Biasanya kalau menangis hanya sebentar…”

Cukup lama Fei Yang menggendong Louis, membawanya berjalan ke seputar ruangan sambil bersenandung. Akhirnya Louis diam dan memejamkan mata. “Wah… dia tidur! Dia tidur!” Fei Yang berseru senang. “Kau tahu, ini pertama kalinya aku menggendong bayi sampai dia tertidur.”

“Langsung baringkan dia di kamar saja!” kata Lydia.

Fei Yang mengikuti Lydia masuk kamar. Ia lalu meletakkan Louis ke dalam boks bayi di sebelah tempat tidur Lydia dan Tian Ya. Tanpa sengaja Fei Yang melihat sepasang sepatu warna putih dengan hiasan bunga lili di dekat meja rias. Gadis itu tertegun. “Sepatu… bunga lili?”

Aku pernah melihat sepatu yang sama di rumah Franklin.

“Apa?” Lydia tak mendengar gumaman Fei Yang. “Kau mengatakan apa, Fei Yang?”

“Tidak! Tidak apa-apa!” Fei Yang tersenyum demi menutupi perasaan aneh yang tiba-tiba muncul. Ia mendekati sepatu tersebut. “Lydia, sepatu bunga lili ini milikmu, ya? Modelnya bagus sekali. Kau beli di mana?”

“Sepatu itu dibelikan Kakak ketika kami akan menghadiri acara yang diadakan sebuah majalah sastra di Indonesia sekitar tiga tahun yang lalu.”

“Oh, sudah lama sekali!”

Lydia sama sekali tidak tahu apa yang sedang dipikirkan Fei Yang, jadi ia melanjutkan, “Tiga tahun itu belum lama, Fei Yang! Jam tangan yang dipakai kakakku lebih lama lagi. Aku memberikannya sebagai hadiah ulang tahun saat dia berumur tujuh belas! Aku saja heran bagaimana dia masih memakainya sampai sekarang? Apakah bisa berfungsi dengan baik? Saat di toko ada jam tangan yang lebih bagus, kakak tetap tidak mau menggantinya.”

Fei Yang teringat saat ia dan Franklin berjanji bertemu di halte bus untuk melihat rumah baru Lydia dan Tian Ya. Waktu itu Franklin datang terlambat. Masih ada lagi ketika Franklin lupa mematikan kompor kemudian Fei Yang masuk ke rumahnya kemudian mencoba satu-satunya sepasang sepatu wanita yang ada di sana. Saat Franklin melihat, pemuda itu tampak tidak senang dan meminta Fei Yang segera melepas sepatu tersebut.

Keesokan harinya Fei Yang menemui Tian Ya di sebuah restoran dekat kantor.

“Fei Yang, mengapa kau memintaku datang ke tempat ini?”

“Aku ingin menanyakan sesuatu,” ujar Fei Yang serius. “Ada hubungan apa antara Lydia dengan Franklin?”

 

 

5 Comments to "[Di Ujung Samudra] Kekasihku adalah Adikku"

  1. Dj. 813  16 December, 2015 at 22:08

    Hadir bersama para Kenthir . . .
    Hahahahahahaha . . .
    Terimakasih dan salam,

  2. djasMerahputih  16 December, 2015 at 18:46

    Hadir bang James…
    belum kelar bacanya, ngabsen dulu..

  3. Lani  16 December, 2015 at 10:21

    James aku belum tidur mahalo ya

  4. J C  16 December, 2015 at 08:51

    Alur cerita yang semakin berkelindan…

  5. james  16 December, 2015 at 08:38

    1…….love has no barrier

    hai para Kenthirs bangun dong…..

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.