Maaf, Tuhan Tak Ada di Rumah

Juwandi Ahmad

 

Haji bukan hanya tentang agama, yang sebaiknya begini, yang seharusnya begitu. Haji adalah juga tentang manusia, bahkan seringkali sepenuhnya tentang manusia. Karena itu, tidak semua hal dengan mudah dan dapat serta merta dikembalikan pada tujuannya, maknanya, substansinya. Dan karena itu pula, haji yang secara lahiriah dianggap, dikritik semakin materialistik, jauh dari kesederhanaan, perjuangan, dan konsepsi-konsepsi agung tentang permenungan, sebenarnya adalah perubahan alamiah dari cara kita hidup yang mengubah cara berpikir, cara bertindak, termasuk riuh rendah keagamaan itu sendiri.

Manusia juga ingin berbangga, bermegah-megah dalam urusan keagamaan. Mereka ingin menunjukkan betapa serius, agung dan hebatnya agama mereka, diantaranya dengan membuat bangunan monumental. Ini bukan tentang agama, bukan tentang Tuhan, tapi tentang hasrat manusia akan keindahan dan kemegahan. Karena itu, peribadatan yang kemudian tampak begitu glamor adalah sesuatu yang lumrah saja.

Dan lalu ibadah bukan lagi hanya soal sebatas suci dari hadats besar dan hadats kecil, bukan lagi sekedar perkara syarat dan rukunnya, tapi soal kenyamanan. Dan itupun belum cukup. Mereka perlu yang lengkap, yang dibalut keindahan dan kemegahan, dalam ketinggian, kebesaran, bentuk, warna, dan detail yang mencengangkan, menggugah, membuncah ketakjuban, kesyahduan, keharuan, dan air mata.

Dalam ritus peribadatan, suasana dan rasa semacam itu penting, agar kehadiran dan perjumpaan dengan Tuhan terasa betul. Itu sebentuk musik instrumentral dalam meditasi. Namun, ketakjuban, kesyahduan, dan keharuan yang muncul bisa jadi sekedar spritualitas semu yang menipu. Bukan lagi yang sungguh mengguncang, membentur sepenuh nalar batinmu, melainkan sekedar yang kau pandang dan suasana yang membangkitkan, yang secara sadar diciptakan – dibentuk. Saat ketakjuban, kesyahduan dan keharuan terbangkitkan, periksalah sebab bisa jadi sebatas kesan dari apa yang kau pandang, tarikan, dan ketenggelaman oleh suasana. Bila demikian, spiritualitas dapat menjadi sebatas remah-remah kebendaan.

Haji adalah juga tentang imajinasimu dan bayanganmu tentangnya, yang tersuci, teragung, yang di dalamnya membentang jejak sejarah orang-orang yang mengisi pikiran masa anak-anakmu, ketimbang tentang bangunan Kabah dan Masjid yang jauh disana. Haji bukan lagi soal sebisa mungkin kau laksanakan bila mampu.

Haji adalah soal mimpi tentang yang suci, yang agung, yang engkau sangat merindukannya, dan untuknya, kau relakan sedikit demi sedikit untuk bisa sampai disana. Kau sedang berkeras penuhi rindu. Haji juga bukan hanya tentang mimpi, tapi tentang betapa seorang engkau akhirnya bisa sampai disana. Itu prestasi duniawi. Dan bila hartamu terlampau banyak, haji bukan lagi bila mampu, bahkan bukan lagi perkara ibadah. Haji adalah tentang mengulang pengalaman yang menyenangkan, yang hanya sedikit lebih mulia dari berlibur. Kau hanya berharap suasananya, bukan Tuan Rumahnya.

Dengan hasrat berbangga dan bermegah-megah, dengan hasrat penuhi rindu, dan dengan hasrat mengulang yang menyenangkan, mereka bersatu padu mengubah wajah Baitullah. Itu perpaduan yang terlampau sempurna, dan Tuhan tidak akan pernah kesepian. Tamu-Nya akan semakin banyak, dan tempat-tempat baru harus segera dibangun, diperluas.

Bila tidak, itu akan melampau kesanggupan panitia-Nya untuk memuliakan para tamu-Nya. Ruang akan terlampau sempit, tamu berdesakan, dan saling injak. Dan jutaan tamu lain masih menunggu untuk waktu yang panjang. Itu peristiwa alamiah, dari cara kita hidup yang mengubah cara berpikir, cara bertindak, termasuk riuh rendah keagamaan. Sampai sedemikian jauh, haji bukan lagi tentang agama dan Tuhan yang sama, tapi soal siapa yang kau cinta dan kau benci. Dan haji yang bahkan tidak lebih penting dan mendasar dari berwudhu itu, menjadi sepenuhnya manusiawi. Itu adalah alasan terbaik bagi Tuhan, untuk meninggalkan Rumah-Nya, mengabaikan para tamu-Nya. Dan siapakah yang bersedia menampung Tuhan yang sedang bersedih?

 

 

6 Comments to "Maaf, Tuhan Tak Ada di Rumah"

  1. J C  17 December, 2015 at 05:59

    Tuhan sedang jalan-jalan bersama Itsmi…

  2. Dj. 813  16 December, 2015 at 22:07

    Maaf TUHAN tidak ada dirumah . . . .
    Datang saja bulan depan . . .
    Kasihan deh . . .
    Sudah capek-capek ditolak pula . . .

    Tapi dipikir-pikir ini yang nulis nyalinya besar dan sangat akurat .
    Belum ppernah baca yang seperti iini .

    Mas Juwandi . . .
    Terimakasih, Dj. tunggu cerita yang akan datang .
    Siapa tahu TUHAN sedang ada di Jogya . . ., Solo . . . atau Purwokerto .
    Kalau Jakarta, TUHAN bisa pusing, karena macet .

    Salam,

  3. djasMerahputih  16 December, 2015 at 18:42

    Hadir bang James… thanks.
    Haji adalah ibadah terberat dan termahal, wajar jika seorang haji dianggap hebat di mata manusia. Tapi di mata Tuhan belum tentu.. 9

  4. Sumonggo  16 December, 2015 at 17:26

    “Carilah Tuhan di antara orang-orang yang hancur hatinya”

  5. Lani  16 December, 2015 at 10:05

    James……telat tp muncul kenthir diparadise……..mahalo udah diingat

  6. james  16 December, 2015 at 08:36

    1…..Tuhan ada dimana-mana

    halo para Kenthirs

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *