Klimaks Drama Box Office Akhir Tahun 2015: Mundurnya Setya Novanto

Dwi Klik Santosa

 

Satu babak drama di Senayan baru saja selesai. Setya Novanto mundur dari jabatannya sebagai ketua DPR. Sebagaimana alur dalam sastra yang bermain-main metafora, kiranya terserah saja kemudian masyarakat menafsirkannya. Mungkin bagi Jonru, si pendekar pahit lidah juga akan menyiapkan sendiri nanti kata-katanya, sebagaimana apa yang disampaikan Firman Wijaya, pengacara Setya Novanto yang baru saja disiarkan di acara Mata Najwa Metro TV. Masih tetap setia dengan koridornya membela Setya Novanto sebagaimana pun keadaannya. Begitulah, barangkali gambaran profesionalisme yang telah menjadi tekad dan elan dari pekerjaannya.

Setya-Novanto-Bikin-Heboh

Kiranya tidak saja pertarungan dari sosok-sosok MKD yang ramai kita baca di layar TV, selain para tokoh, baik pengamat politik maupun pakar hukum yang dihadirkan, tapi juga persaingan ketiga TV berita menurut pantauan saya juga sangat menonjol. Tak kalah sengitnya menurut saya, seseru persaingan antar fraksi di DPR dalam tubuh MKD membuat statemen atau pernyataan-pernyataan.

Metro TV, TV One dan Kompas TV, merupakan 3 TV yang saya tongkrongi dan sama-sama getol dan gesit selama ini saya tandai menyiarkan secara langsung dan hendak menjadikannya peristiwa di MKD ini sebagai tendem bagi program TV-nya masing-masing. Jika satu TVnya masuk iklan, maka saya pindah channel ke TV satunya dan seterusnya. Perang presenter dan juga perang kegesitan kru dari TV dalam melobi nara sumber, betapa nampak sekali tergambar tanpa sadar di layar TV. Jika salah satu TV sedang mewawancarai secara langsung, di layar TVnya kelihatan bagaimana tim dari TV lain hilir mudik seperti menyiapkan strategi, tidak mau kalah. Menjadi pemandangan tersendiri menurut saya yang menarik untuk dicermati.

setnov-trump

Kecenderungan Metro TV menggamit tokoh siapa, TV One dan Kompas TV menggamit siapa, juga merupakan catatan yang menarik untuk dicermati, sekedar mengetahui sisi lain dari materi drama Indonesia masa kini, yang selama sebulan ini menjadi pertunjukan paling sentral menghadirkan dan menggulirkan polemik.

Setidaknya harus diakui memang melalui ketiga TV itu sebagai corong pemberitaan, semakin panas saja drama menimbulkan penasaran, geregetan dan kecanduan bagi publik Indonesia. Banyak kiranya masyarakat yang geram dan lalu menghujat keberadaan TV-TV itu sebagai apa yang dikatakan oleh pakar komunikasi, Marshal McLuhan, sebagai medium is the massage, yaitu media yang menyampaikan sebuah pesan — yang mana mendapatkan apriori sebagaimanapun oleh masyarakat pemirsa karena lebih berorientasi dan sarat dengan kepentingan pemiliknya — namun anehnya selalu setia juga mengikuti materi yang disiarkan.

trump-setnov

Bahkan, mungkin marah, jika sedang asyik-asyik dan tegang menikmati, tiba-tiba kemudian channelnya diganti oleh pasangan atau anaknya karena lebih tertarik misalnya nonton acara Terong-terongan yang penuh gelak tawa itu. Barangkali ini juga bagian dari materi dari drama itu sendiri. Nah, jadi memang tanpa kita sadari, kita semua yang ikut berempati, bersimpati dan bahkan terbakar hati mengikuti peristiwa sidang MKD yang berawal dari laporan Menteri ESDM soal pelanggaran etika Ketua DPR Setya Novanto ini rupanya adalah skenario drama yang box office dan secara fakta bisa diuji kiranya, mampu menyedot perhatian jutaan pemirsa.

Saya membaui, masih ada skenario babak berikutnya, yang tak kalah seru seusai drama babak pertama ini. Setidaknya setelah reses di akhir tahun nanti selesai akan menjadi bagian yang tak kalah seru bagi republik ini berproses dalam pertunjukan akbar berdemokrasi dan perjalanan menjawab sebuah tanya: mencari kebenaran di negeri ini masihkah sebuah utopia atau terbuka secara nyata?

 

 

9 Comments to "Klimaks Drama Box Office Akhir Tahun 2015: Mundurnya Setya Novanto"

  1. J C  24 December, 2015 at 07:28

    Drama lain babak baru dimulai…

  2. Kembangnanas  19 December, 2015 at 09:31

    piye ya itu castingnya?

  3. djasMerahputih  19 December, 2015 at 09:09

    Bang James:
    Sekarang rakyat mulai paham, untuk menjadi ketua fraksi “Gorkal” harus melakukan pelanggaran etik berat dahulu.. Etika jadi begitu penting di partai ini, penting untuk dilanggar… preett..!!

  4. Lani  19 December, 2015 at 00:12

    Kok enak sekali? Mengundurkan diri msh mendptkan jabatan lainnya? Kirim aja kelaut Kona para hiu sdg menanti memangsanya

  5. james  18 December, 2015 at 15:33

    hadir bang Djas makasih

    yang pasti pamor Golkar akan melorot kalau si SN tetap jadi Ketua Fraksi Golkar di DPR

  6. Sumonggo  18 December, 2015 at 09:33

    Yang punya Freeport happy-happy
    Rakyat tetap gigit jari
    Siapapun MKD-nya
    Siapapun DPR-nya
    Siapapun menterinya
    Siapapun presidennya
    Freeport ndak ada matinya

  7. djasMerahputih  18 December, 2015 at 09:21

    Eh, keduluan Mas Hand…
    Iya deh selamat juga pak Setnov… sampai bertemu dalam drama berikutnya…

  8. djasMerahputih  18 December, 2015 at 09:15

    Satoe: Absenin anggota trio MKD (Masyarakat Kenthir Dunia).
    Ujian kewarasan bagi negeri..

  9. Handoko Widagdo  18 December, 2015 at 09:12

    Selamat kepada Pak Setya Novanto atas jabatan barunya sebagai Ketua Fraksi Golkar di DPR.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.