MKD, Pengadilan Etika Tanpa Etika

Handoko Widagdo – Solo

 

Perilaku bejat yang ditunjukkan MKD sungguh sudah sangat parah. Menyatakan pelanggaran berat supaya bisa menyelamatkan SN adalah pengadilan tanpa etika. Orang-orang ini sebaiknya tidak lagi ada di DPR kita. Sebab mereka adalah contoh LICIK bagi bangsa. Jika kita membiarkan mereka tetap bercokol di DPR dan menganggap mereka sebagai wakil kita, maka kita akan dicap sebagai bangsa licik dan tuna etika.

dpr-kocak

Mula-mula kita disuguhi oleh manuver partai-partai yang dengan tergesa-gesa mengganti para petugas partainya yang berada di Mahkamah Kehormatan Dewan. Bau busuk mulai tercium karena pergantian ini jelas-jelas dimaksudkan untuk membela satu pihak. Bisakah etika dibelokkan? Dengan orang-orang yang dari awal sudah ditengarai tidak beretika, sidang MKD siap digelar. Sungguh tidak etis. Sungguh mereka tidak punya etika.

Saya mulai terusik saat menyaksikan mereka memeriksa pelapor. Alih-alih mencari tahu esensi apa yang dilaporkan, mereka malah mencecar pelapor layaknya seorang pesakitan. Dalam hal ini sudah tidak jelas apa peran mereka yang sesungguhnya. Sungguh tidak etis. Sungguh mereka tidak punya etika.

mkd01 mkd02

Manuver berikutnya adalah saat mereka dengan gampang menerima permintaan terlapor supaya sidang dinyatakan tertutup. Berbagai alasan dicari supaya sidang bisa dilakukan secara tertutup. Sungguh tidak etis. Sungguh mereka tidak punya etika.

Puncaknya kita disuguhi pengadilan etika tanpa logika. Mereka-mereka yang awalnya membabi buta membela terlapor. Mereka-mereka tegak berdiri pada posisi terlapor tidak bersalah, tiba-tiba menyatakan terlapor MELAKUKAN PELANGGARAN BERAT! Namun tentu saja pilihan ini bukan untuk menghukum terlapor. Melainkan untuk mencari cara menyelamatkan terlapor. Sebuah tidakan tanpa logika, tanpa etika. Dan tindakan tersebut dilakukan oleh orang-orang (masihkah layak saya memanggilnya orang?) yang disebut sebagai YANG MULIA. Sungguh tidak etis. Sungguh mereka tidak punya etika.

Bagi saya pelacur lebih bermartabat dari para anggota MKD ini. Sebab pelacur memiliki etika. Mereka melakukan perselingkuhan di tempat yang tersembunyi dan sadar akan etika sosial. Para YANG MULIA ini? Mereka mempertontonkan perilaku jorok tanpa malu. Sungguh tidak etis. Sungguh mereka tidak punya etika.

yangmulia-mkd

Kawan-kawan, masihkan kita bisa menolelir mereka? Masihkah kita mau mereka mewakili kita? Masihkah kita membiarkan mereka bercokol di rumah kita? Kalau kita masih mengijinkan mereka di sana berarti kita tidak mempunyai etika!

 

https://indonesiana.tempo.co/read/56602/2015/12/17/handokowidagdo/mkd-pengadilan-etika-tanpa-etika

 

 

About Handoko Widagdo

Berasal dari Purwodadi, melanglang buana ke berpuluh negara. Dengan passion di bidang pendidikan, sekarang berkarya di lembaga yang sangat memerhatikan pendidikan Indonesia. Berkeluarga dan tinggal di Solo, kebahagiaannya beserta istri bertambah lengkap dengan 3 anak yang semuanya sudah menjelang dewasa.

My Facebook Arsip Artikel

14 Comments to "MKD, Pengadilan Etika Tanpa Etika"

  1. EA.Inakawa  1 January, 2016 at 01:28

    Pak Han : Begitulah MKD ketika Urat Malu mereka sudah Putus…..

  2. Handoko Widagdo  24 December, 2015 at 08:01

    Kang JC, masalahnya binatang punya etika.

  3. J C  24 December, 2015 at 07:29

    Pak Hand, sudah jelas mereka ini semua adalah sejenis binatang yang tidak ada etikanya sama sekali…

  4. Lani  21 December, 2015 at 23:24

    AL: Betul sgt amat memalukan akan ttp semua yg di MKD tak tau malu. Mrk bs dpt jabatan krn dipilih rakyat, dibiayai oleh rakyat tp mata dan hatinya telah dibutakan oleh kekuatan setan!

    Hukumnya gampang klu sdh mau memangku jabatan harus berani jujur, bersih, dan berani menolak godaan tapi ini???????

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *