Air Mata Kekasih

Dwi Klik Santosa

 

Berproses, menulis dan membacakan sendiri karya-karyaku, seperti alur yang ingin kuhikmati sendiri maknanya. Panggungku seperti terpilih sendiri untuk membawakan pesan-pesan yang ingin kusampaikan. Tidak selalu mercusuar dan riuh oleh keplok, tapi setidaknya ada yang ingin kupastikan, aku hadir menyatu dengan jalan hidupku.

airmata kekasih-dwikliksantosa

Membacakan “Airmata Kekasih” di GOR Djarum Kudus dalam acara Ramah Tamah Kejuaraan Nasional bulutangkis antar media nasional 2015 di depan para peserta (juara zona wilayah nasional) dari Jakarta, Semarang dan Surabaya, pada Senin, 19 Oktober 2015, jam 21.05 WIB yang lalu.

 

tears

AIRMATA KEKASIH

 

Adakah manusia di bumi ini

yang dilahirkan tidak pernah menangis?

Tapi apa arti airmata itu?

 

Suatu kali, anak bangsa bernama Lius Pongoh

Berkisah atas nama sejarahnya sendiri

Di panggung kejuaraan Indonesia Open 1984

ibunya yang sakit adalah pilu bagi kabarnya

Muda dan enerjik, memang ia sedang menanjak

Tapi di Babak perempat final ia harus bertemu Liem Swie King sang raja

Tak banyak kata, dan pendiam

Begitu tabiatnya di tengah sorak sorai ribuan penonton

yang riuh dan semarak memadati arena Istora Senayan

Betapa lalu sejarah menuliskan nama Lius Pongoh dengan gagah

Menapak dari tangga ke tangga bahkan mampu mengalahkan sang raja

“Aku tidak mengerti dengan apa yang terjadi”

Ketika ditanya para wartawan, King pun seolah kehabisan kata

“Bukankah aku ini si raja smash, tapi toh, ia selalu bisa mengembalikannya

Kemana pun shuttlekock kuarahkan, kemana pun Lius bisa mengembalikan

Sungguh, aku tidak mengerti apa yang sedang terjadi.”

Bahkan ketika Morten Frost Hansen dilibas di semifinal

dan Hastomo Arbi dikalahkannya di Babak Final

tak nampak Lius Pongoh yang larut dalam euforia

Ia menghilang dari keramaian. Tak banyak kata dan pendiam

Kepada sunyi ia berkata :

“Aku mencintai ibuku

Tuhan, jika kemenangan ini dapat menyembuhkan ibuku”

 

Adakah manusia di bumi ini

yang dilahirkan tidak pernah menangis?

Tapi apa arti airmata itu?

 

Rendra sang penyair

Bersyair dengan kata-katanya sendiri atas nama hidup

Bersaksi di atas panggung-panggung mercusuar

Di Melbourne, Berlin, Amsterdam, Seoul, Den Haag, New Delhi, Kuala Lumpur

Tokyo, Natal, New York

Bahkan di pasar-pasar, di sekolah-sekolah

di gedung DPR/MPR, di jalanan

Menyuarakan cinta dan kemerdekaan yang terbelenggu oleh kekuasaan

Dipenjara, disiksa, dikucilkan, tapi terus ia bersyair

“Aku ingin hidup seratus tahun lagi”

Begitu seakan-akan kata-kata Chairil Anwar

ingin dihidupkan sebagai semangatnya.

Tapi ia hanya manusia biasa. Fana

Wafat dan tak selalu dikenang

 

Di mana mata air? Dimana mata air

dalam sepi kebanyakan kita suka bertanya

Tapi di tengah ramai kehidupan

seringkali kita alpa dan lupa kepada asalnya airmata

 

Mata yang indah adalah sepasang mata kekasih

yang ceria, berbinar bagaikan pijar mentari

Mata yang elok adalah sepasang mata basah

menangis kerna bersyukur memiliki cinta

Aku,

kau,

kalian,

kami,

kitakah,

kekasih?

 

 

Pondokaren

17 Oktober 2015

: 22.00

 

 

5 Comments to "Air Mata Kekasih"

  1. djasMerahputih  24 December, 2015 at 15:48

    Hadir telat bang James.
    Air mata, mata air.. puisi indah
    Thanks mas Dwi…

  2. J C  24 December, 2015 at 07:29

    Menyimak untaian kata-kata…

  3. Alvina VB  21 December, 2015 at 17:12

    Akoe di sini…hadir James.
    Wah mas puisinya kerennnn… jadi bikin inget kejayaan bulutangkis di Ind di thn 80an. Sekarang dah gak kedengeran lagi ya?

  4. Lani  21 December, 2015 at 12:28

    Aku disini James………mahalo udah diingat ya…….telat lagi nih sibuk melulu

  5. James  21 December, 2015 at 09:33

    1……..air mata kekasih …..asal jangan kekasihnya Buaya saja

    Halo para Kenthirs where are you all ?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.