Menyapa Sang Air

djas Merahputih

 

Seorang wartawan terlihat duduk di sebuah kafe dengan mimik gelisah. Ia sedang menunggu tamu spesial untuk diwawancarai. Sang tamu bukanlah orang biasa. Ia memang tampak seperti manusia biasa, tapi kali ini yang hadir adalah jelmaan sebuah makhluk paling penting di bumi ini, dialah Sang Air.

Selamat pagi, Bang. Apa kabar?“, si wartawan berdiri menyapa sang tamu dan bersiap memulai percakapan.

Pagi, baik. Silakan duduk…“, Sang Air kali ini menampakkan wujud asli dan siap menjawab pertanyaan tentang dirinya.

Makasih, Bang. Langsung saja, akhir-akhir ini nampaknya anda dan teman-teman seringkali terlihat berada di tengah perkampungan dan perkotaan. Apakah anda sudah tak betah lagi di wilayah anda?

“….Hmm.., bukan tidak betah. Kami hanya ingin kalian para manusia bisa merasakan apa yang dirasakan oleh bangsa dan kawan-kawan kami. Anda mungkin belum mengenal kami. Kami adalah makhluk seperti kalian. Kepala kami ada di gunung, badan kami di hutan, tangan kami di sungai dan kaki kami di laut serta samudera. Kulit kami adalah seluruh permukaan sungai dan lautan. Apakah kami harus menjelaskan apa yang akan terjadi jika kalian coba-coba mengusik kepala, badan, kaki, tangan dan kulit kami?

E..e eh.., ngga perlu Bang“. Si wartawan agak kaget dengan respon Sang Air, namun berusaha melanjutkan perbincangan. “Maaf bang, kira-kira hal apa saja yang paling membuat Abang dan teman-teman menjadi segusar ini?

sunset-from-the-campsite

Trip Advisor

Sang Air terdiam sejenak, lalu mulai melanjutkan pembicaraannya kembali. “Yang paling menyakitkan itu, bahwa kalian para manusia cerdas tak pernah peduli terhadap keberadaan kami. Coba kalian rasakan, ketika kalian berada di tengah-tengah sebuah hajatan dan tak seorangpun memperdulikan anda. Kalian tau, nggak? Sakitnya tuh di sini..!!” Sang air menunjuk bagian tubuhnya yang perasa.

Iya Bang, tau, tau… Tapi bisa dijelaskan lebih spesifik lagi ngga, Bang?

Kami mengalir di parit-parit dan manusia menyuguhkan deterjen serta zat pembersih lain untuk kami teguk. Kami bermain di sungai namun manusia menyuguhkan bungkus cemilan hingga bangkai untuk kami makan. Kami berpesta di lautan dan manusia menawarkan plastik serta ampas nuklir untuk dihidangkan. Kami sedang merenung di pegunungan lalu manusia mengagetkan kami dengan mesin pemecah batu. Dan ketika kami sedang pesta serta berkumpul di tengah hutan, kalian para perusuh tiba-tiba saja datang lalu mengobrak-abrik pohon dan tumbuhan tempat kami bersenang-senang.

Sang Air masih melanjutkan protesnya, “Jadi, jangan heran jika kami-kami akan lebih sering lagi menampakkan diri di permukiman manusia. Supaya kalian juga bisa merasakan penderitaan bangsa kami.

Si wartawan baru saja hendak menyela, namun Sang Air memberi isyarat untuk tetap diam dan kemudian berkata, “Satu lagi, kalian para manusia, telah meningkatkan suhu bumi lewat polutan udara, industri dan kendaraan bermotor. Kulit kami terus-menerus mengeluarkan keringat. Jangan salahkan jika volume air laut semakin banyak dan akan menenggelamkan pulau dan pantai-pantai indahmu“.

Maaf, Bang. Tapi apakah sudah terlambat untuk mengubah segalanya?

Masih ada waktu. Mungkin tak akan cukup. Tapi kesabaran kami akan sedikit membantu“.

Mulainya dari mana, Bang?

Waktu kalian tak banyak. Mulailah dari yang besar, dari industri-industri serakah penghasil sampah dan polusi. Mereka harus bertanggungjawab atas sampah yang mereka produksi.” Sang Air diam sejenak.

Jangan lupa, kembalikan pula waduk-waduk di tengah kota tempat kami berpesta, dan jangan mengganggu kami saat sedang berpesta di tengah musim penghujan..!!

B..bb..baik, bang..!!” Si wartawan gelagapan.

Satu lagi, kami tak mau tau siapa nama dan identitas pengacau dan pengganggu kami. Kami hanya tau mereka adalah manusia dan manusia pula yang akan kami jadikan sasaran kemarahan kami. Tak peduli ia orang baik atau jahat, tua atau muda, kaya atau miskin..!!

Si wartawan menarik nafas panjang membayangkan betapa sulitnya memenuhi permintaan Sang Air. Keduanya terdiam cukup lama. Wawancara ditutup setelah si wartawan berhasil mengalihkan topik pembicaraan. Mereka bahkan nampak tertawa cekikikan saat mengalihkan pembicaraan pada cerita dan drama-drama politik tanah air. Ternyata kisah banjir dan bencana alam lain masih kalah top dibanding drama dan reality show para politisi kita.

Si wartawan lega dan tak lagi merasa tertekan, ia mulai lupa dengan segala kisah Sang Air. Si wartawan lebih sibuk mebayangkan episode seru drama politik di tahun mendatang. Sang Air mungkin akan menyesali pertemuan sia-sia ini. Tapi entah siapa yang patut dikasihani, Sang Air atau Manusia..??

 

 

About djas Merahputih

Dari nama dan profile picture'nya, sudah jelas terlihat semangat ke-Indonesia-annya. Ditambah dengan artikel-artikelnya yang mengingatkan kita semua bahwa nasionalisme itu masih ada, harapan itu masih ada untuk Indonesia tercinta. Tinggal di Sulawesi, menebar semangat Merah Putih ke dunia melalui BALTYRA.

My Facebook Arsip Artikel

10 Comments to "Menyapa Sang Air"

  1. djasMerahputih  24 December, 2015 at 15:24

    TJI LANI: Ngga kebalik kok. Takut maen api, takut tambah gosong..
    MAS SUMONGGO: Nguwongke air bentuknya seprti apa yah..??
    KANG JC: Pentingnya sesuatu baru terasa saat ia telah hilang atau rusak..

  2. J C  24 December, 2015 at 07:33

    Seandainya lebih banyak lagi yang sadar tentang hal ini… * sigh *

  3. Alvina VB  22 December, 2015 at 22:18

    Iya mbakyu sudah balik dan lagi jetlag. Gimana di Kona saat ini?

  4. Sumonggo  22 December, 2015 at 04:31

    Banyak bencana terjadi karena kita enggan “nguwongke” air.

  5. Lani  21 December, 2015 at 23:27

    Kang Djas: sapa bilang? Apa tdk kebalik kang?

  6. Lani  21 December, 2015 at 23:26

    AL: Beku? Udah balik kandang to?

  7. djasMerahputih  21 December, 2015 at 20:05

    Pentulise… Waahh komplit nih kenthir Baltyranya.
    Lebih suka maen air daripada maen api… he he he…

  8. Alvina VB  21 December, 2015 at 17:23

    3. Menyapa Sang Penulis….hello James…hadir dan gak main air soalnya dah dinginnnn, ntar beku lage…

  9. Lani  21 December, 2015 at 12:29

    James dingin2 kok ber-basah2 brrrrrrrrr……….dingin, mahalo udah diingat

  10. James  21 December, 2015 at 09:26

    1………hadir pertama bang Djas

    Sembari menanyikan Kenthirs lainnya yang masih basah kena air

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.