Cahaya Surga

Ida Cholisa

 

Sungguh tak pernah terbayangkan olehku bahwa kegemaran menulisku berbuah simalakama. Kukatakan itu, karena permintaan yang datang padaku tak pernah terpikirkan sebelumnya olehku…

Perempuan itu bernama Ani. Aku tak pernah mengenalnya kecuali sebatas komen yang selalu ia berikan saat aku memposting tulisan-tulisanku.

‘Dik Ida… aku selalu menyukai tulisanmu. Sarat pesan moral untukku.”

Ia menuliskannya di inbox fb-ku.

“Dik, kapan ya aku bisa ketemu dirimu?”

Kembali ia mengirim pesan di wall fb-ku. Tak hanya itu, ia pun kerap meninggalkan komentar di setiap tulisan dalam blog milikku. Bahkan hebatnya pula, ia berhasil mendapatkan nomor kontakku.

Ani, Anita Sari, hanyalah satu dari sekian banyak penggemar tersembunyi. Kukatakan demikian karena mereka sendiri yang mengatakan padaku. “Ida.. aku kagum padamu. Ida… aku salut padamu. Ida… bla… bla… aku pengagum tersembunyimu.”

cahaya-surga

Aku tersenyum. Ah penggemar tersembunyi… pengagum tersembunyi…. sedemikian berartikah bagiku selama ini? Entah ya entah tidak, aku tak begitu memusingkannya. Bagiku menulis adalah kebutuhan jiwa di mana aku mampu melepas dan mengolah beban rasa sedemikian rupa. Jika kemudian tulisan-tulisanku berbuah kebaikan bagi mereka, tentu saja aku mensyukurinya. Itu saja.

Tapi perempuan ini lain. Ani, ya Mbak Ani. Ia begitu intens membangun komunikasi denganku. Ia berhasrat ingin menemuiku.

“Dik Ida, pertengahan bulan ini Mbak ada urusan bisnis di Jakarta. Nanti Mbak sempatkan main ke rumahmu, ya? Minta bawain oleh-oleh apa?”

Benar saja. Perempuan itu kembali menghubungiku. Ia katakan bahwa dua hari ini ia menginap di salah satu hotel di kawasan Kebayoran Lama. Lusa ia akan datang mengunjungiku.

Tak biasanya rasa gundah menyergap hatiku. Selama ini banyak kawan-kawan baru mendatangiku, dari beragam tempat, dan aku sangat menikmatinya. Bertemu kawan baru, mendapat pengalaman baru, mendulang banyak ilmu.

Tapi ini lain. Ada sesuatu yang mengganjal hatiku. Mbak Ani jauh-jauh datang dari Surabaya, bermaksud baik menemuiku di sela urusan bisnisnya. Haruskah aku gembira atau justru menaruh rasa curiga?

Oh tidak. Tak boleh aku berburuk sangka. Bukankah aku telah banyak tahu tentang diri Mbak Ani melalui informasi para sahabat di sekitarku?

Mbak Ani seorang pebisnis yang sukses. Sepak terjangnya di dunia resto mengundang decak kagum banyak orang. Setidaknya itu yang kutahu dari beberapa sahabat yang mengenal sosok perempuan tersebut. Bahkan rasa penasaranku pun terjawab saat aku mencoba browshing di internet. Semua informasi seputar sepak terjang perempuan berusia 48 tahun itu terpampang jelas.

“Dik, Mbak on the way ke rumah Adik. Ditunggu, ya?”

Mbak Ani mengirim pesan melalui WA. Ah waktu seakan berjalan sedemikian cepatnya..

Mbak Ani benar-benar berada di hadapanku, kini. Ini seperti mimpi. Seorang perempuan cantik berusia matang berpenampilan anggun dan menarik…

Tiba-tiba aku sedikit minder saat mata bening Mbak Ani menatap lembut ke arahku.

“Jadi Adik tinggal sendiri selama ini?”

Aku mengangguk. Wajah Mbak Ani meredup. Pipinya yang ranum,.hidungnya yang lancip, dagunya yang menggantung, matanya yang indah, bulu matanya yang lentik, alisnya yang hitam berbaris rapi, semua nampak sempurna di mataku. Aku seolah tengah berhadapan dengan seorang bidadari cantik…

“Dulu Mbak kagum padamu karena tulisan-tulisanmu, Dik. Kini Mbak mengagumimu karena ketangguhan dan ketegaranmu. Nggak salah jauh-jauh Mbak ke sini, Dik..”

Aku membiarkan perempuan cantik itu bercerita. Tentang keluarganya, tentang suaminya, tentang dirinya. Hingga sebuah kalimat membuatku terperangah sesudahnya…

“Mbak harap kamu tak menolak permintaan Mbak, Dik. Mbak sudah memikirkannya masak-masak dan meminta petunjuk Allah. Mbak harap pilihan Mbak tak salah…”

Aku mendadak gontai. Entah apa yang kuucapkan hingga kemudian perempuan cantik tersebut meninggalkan rumahku setelah sebelumnya menyelipkan selembar cek padaku…

Yang kuingat, aku mengatakan belum bisa menjawab permintaannya…

Hari-hariku tak lagi dipenuhi semangat usai kedatangan Mbak Ani di rumahku. Permintaan Mbak Ani sungguh menyisakan dilema besar bagiku…

Sebulan sessudahnya, seorang pria mendatangi rumahku. Wajahnya tampak berkilau dengan hiasan jenggot rapi di dagunya. Matanya yang teduh, suaranya yang lembut dan pelan, sungguh merupakan pukulan telak kedua bagiku.

Bagaimana tidak. Pria itu adalah suami Mbak Ani, perempuan yang selama ini meminta satu hal padaku…

“Dik Ida, Mbak ingin Adik menjadi madu Mbak. Adik tak akan menyesal menjadi istri kedua suami Mbak. Ia pria yang sangat baik..”

Kalimat Mbak Ani terbukti kini. Pria itu, meski baru sekejap muncul di hadapanku, sanggup meluluhlantakkan segenap perasaanku…

Pria itu sangat mirip dengan almarhum suamiku…

**
“Jika Adik sudah tak ada keraguan, Mas Heru akan segera meminang Adik. Pastikan hati Adik mantap ya…”

Hatiku bagai dicambuk rantai besi, puluhan ribu kali. Permintaan yang sungguh tak kumengerti, permintaan yang sulit untuk kupenuhi.

Aku mencanangkan setia sampai mati pada almarhum suamiku. Aku ingin bertemu kembali dengan suamiku, suatu saat nanti, di surga yang dipenuhi keindahan abadi. Akan tetapi, betapa terjal dan berliku menjaga setia ini…

Mbak Ani tak berhenti menghubungiku. Mas Heru beberapa kali menemuiku. Setia, sungguh berat merantai diriku…

Kuakui, ada titik cinta merambati hati. Ada desir rindu memukuli batin saat ia pergi. Ada riak cemas saat berita tentangnya tak kuketahui, meski hanya sehari. Kuakui, ya kuakui… ada sesuatu tak kumengerti hadir di relung hati…

Adakah aku tlah jatuh hati? Entahlah…

Jika aku menjatuhkan hati padanya, membiarkan aku berada dalam dekap lembutnya, bukankah itu artinya aku tak mampu menjaga setia?

Pun diriku, sanggupkah aku menyakiti batin perempuan itu, meski ia sendiri yang datang dan memohon padaku, untuk menjadi belahan hati suaminya itu?

“Dik Ida… kami telah menikah delapan belas tahun lamanya. Sejak kandungan Mbak diangkat karena kanker itu, Mbak tak akan mampu memberikan anak pada Mas Heru…”

Aku tersenyum masam saat itu.

“Mengapa Mbak tak mencari gadis lain yang lebih muda, yang mampu memberikan keturunan pada suami Mbak?”

Ia terdiam sesaat.

“Jujur, Mbak lebih ikhlas manakala perempuan yang mendampingi suami Mbak memiliki latar belakang yang sama dengan Mbak. Bahkan Mbak sangat yakin, Adik tak akan menyakiti hati Mbak..”

“Dik… Mbak tak akan berulangkali memintamu, andai suami Mbak tak benar-benar mencintaimu. Yakin pada Mbak, ia menaruh harap yang besar padamu…”

Aku masih terus mengelaknya.

“Bagaimana jika ternyata aku pun tak bisa memberikan keturunan?”

“Kau telah memiliki dua anak, aku yakin Mas Heru akan memperlakukan anak-anakmu dengan baik seperti anaknya sendiri.”

Bulan berlalu, tapi bimbang tetap bersemayam dalam hatiku. Mbak Ani kembali mendatangiku, bahkan kali ini bersama Mas Heru.

“Tak baik membuat kami bingung, Dik. Segera beri jawaban pada kami. Ya atau tidak. Jika boleh berharap, kami ingin Adik tak menolak permintaan kami…”

Aku memberi waktu satu bulan pada mereka. Sungguh jika mereka tahu, rasa bingung dan bimbang benar-benar merantai diriku…

Aku ingin bertemu mendiang suamiku. Aku ingin menjadi cahaya surga bagi suamiku. Aku ingin kami tinggal abadi di sana, di istana surga, selamanya…

Jika aku menikah lagi, maka pupuslah harapanku untuk bertemu suamiku nanti..

Itu yang membuatku bimbang hingga kini. Kebaikan suamiku semasa hidup membuat diriku terpasung dalam mimpi, tentang perjumpaan indah suatu saat nanti…

Salahkah aku? Entahlah.

Mbak Ani kembali menghubungiku. Aku tetap saja berselimut bimbang dan ragu.

 

 

5 Comments to "Cahaya Surga"

  1. djasMerahputih  24 December, 2015 at 11:10

    Hadir telat bang James….
    Para feminis pasti tak akan ragu mengambil keputusan soal ini… TOLAK…!!

    Tapi mba Ani ini apa termasuk perempuan yang diperjuangkan para kaum feminis…?? (?)

  2. J C  24 December, 2015 at 07:38

    Ikuti kata hati…

  3. Dj. 813  24 December, 2015 at 04:55

    Mbak Ida Cholisa . . .
    Terimakasih untuk artikelnya . . .
    Bila ini sekedar cerita, maka Dj. membacanya dan melihatnya sangat bagus jalan ceritanya .
    T api . . .
    bila ini kejadian yang sesungguhnya,apa yang mbak Ida alami , maka ini benar-benar satu
    yang membingungkan .
    Dj. rasa ini adalah hak mbak Ida untuk mengambil keputusan ya atau tidak.
    Lakukan apa yang menjadi kata hati mbak dan jangan mendengar apa kata orang lain .
    Semoga semua akan berjalan lancar seperti yang mbak Ida sudah pikirkan .

    Salam manisd ari Mainz .

  4. Sumonggo  23 December, 2015 at 09:49

    Cahaya surga, tapi bukan surga yang kurindukan.

  5. james  23 December, 2015 at 09:45

    1…..api neraka

    mengabsenkan para Kenthirs yang belom nongol

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.