Maaf, Sesekali Memang Saya Perlu Bertindak Egois

Awan Tenggara

 

Berada di dalam sebuah mobil yang dipenuhi alunan lagu dangdut pantura adalah hal yang bagi saya perlu sekali dijauhi. Alasannya jelas, karena saya memang tidak suka dengan jenis musik ini. Namanya tidak suka, tentu akan melahirkan ketidakgembiraan jika kita nekat mendekatinya.

Tapi naasnya, saya justru berada dalam situasi seperti itu beberapa malam lalu ketika saya berangkat ke Jogja bersama lima orang yang sudah saya anggap sebagai kawan karib karena selama dua bulan yang sudah lewat ini kami sudah berjuang bersama-sama dalam sebuah Pilkada.

Jika boleh jujur, sebenarnya saya lebih suka mendengarkan musik-musik jenis klasik. Maka tidak pernah memberitahukan akan hal ini kepada mereka saya akui adalah kesalahan terbesar saya. Sehingga hasilnya, ketika lima kawan saya ini merasa gembira di dalam mobil yang dipenuhi alunan lagu dangdut malam itu, saya menjadi satu-satunya manusia yang paling menderita.

egois

Sudah dangdut, “ngeter” pula. Sempurna sekali disebut sebagai ruang siksa. Volume musik yang tidak bisa dikecilkan lantaran remotenya rusak, jelas menyulap perjalanan dengan mobil yang seharusnya bisa melahirkan kenangan yang menyenangkan—sebab perjalanan malam itu bagi kami merupakan ‘closing’ Pilkada—menjadi sebuah perjalanan dengan odhong-odhong yang melahirkan sesuatu yang sungguh tidak ingin sekali saya kenang.

Saya ingat sering merasa kegi melihat mobil dengan suara musik keras yang melintas di samping saya. Apalagi jika lagu itu adalah lagu dangdut. Maka ketika kemudian saya menumpang jenis mobil yang membikin saya kegi seperti itu, hal pertama yang wajib saya lakukan adalah jelas mematikan musik di dalamnya supaya dibilang konsisten. Tidak penting kata konsisten itu sebenarnya, yang paling penting adalah saya harus berani memberitahu mereka.

Untungnya malam itu saya duduk di depan. Dan CTET! Matilah musik di mobil itu oleh ulah saya.

“Kepala saya pusing.” Kata saya mencari alasan kenapa saya harus mematikan musik di mobil tersebut. Tanpa peduli kemudian mereka akan membenci saya atau tidak. Dan yang perlu disyukuri, mereka ini ternyata adalah orang-orang yang bisa memahami.

Nah, yang kerap kita tidak pernah sadari, kita sering mengajak orang melakukan hal yang kita anggap menyenangkan tanpa tahu bahwa orang yang kita ajak itu sama sekali tidak menyukainya. Yang paling sial adalah kita tidak pernah diberitahu itu jika kawan yang kita ajak itu sungguh pemalu (baca : tidak tega mengatakan bahwa dia tidak suka). Maka, ketika kita sering melakukan hal-hal demikian kepada pihak kedua yang saya sebutkan tadi, tanpa kita sadari kita telah menzaliminya.

Oleh sebab itu, jika di kemudian hari nanti anda menjadi pihak yang kedua tersebut, beranilah melakukan hal yang seperti saya lakukan. Kita memang sesekali harus bersikap egois seperti itu. Memang pada awalnya sungguh tidak menyenangkan, tapi percayalah, hal itu sangat efektif membuat mereka tidak akan mengulangi hal yang sama kepada anda. Apalagi jika yang menjadi pihak pertama nanti adalah saya. Saya tentu sudah siap untuk berlapang dada. Karena diberitahu hal-hal yang tidak saya ketahui merupakan sesuatu yang sungguh saya tunggu-tunggu.

 

 

5 Comments to "Maaf, Sesekali Memang Saya Perlu Bertindak Egois"

  1. djasMerahputih  24 December, 2015 at 11:03

    Pernah naik bus ke luar kota. Kesal dengan lagu yang diputar, tapi ngga djas matiin, cuma ganti kasetnya dengan lagu SLANK.. Belum cukup dua lagu, tapenya dimatiin sama sopir…

  2. J C  24 December, 2015 at 07:38

    Oh lha ya jelas perlu lah…

  3. Dj. 813  24 December, 2015 at 04:37

    Nah ya,setiap orang harus tahu apa yang dia akan diperbuatnya .
    Saya orang yang kurang suka diskusi yang berlebihan, apalagi bertengkar .
    Mungkin karena dirumah, kami selalu tenang dan entah kapan kami bertengkar, sudah lupa .
    Hahahahahahaha . . . ! ! !
    Jadi . . . daripada berdiskusi yang tidak membawa hasil . . . . ( hanya akan membawa kerenggangan )
    Saya memilih diam atau pergi , dari pada mendengarkan orang mgomel .
    Sampai dua belah pihak tenang, baru bisa berbicara secara baik-baik dan tanpa emosi.
    Hahahahahahahaha . . . ! ! !
    Salam Damai dari Mainz .

  4. Sumonggo  23 December, 2015 at 09:51

    Bukan egois, itu namanya asertif.

  5. james  23 December, 2015 at 09:43

    1….kadang-kadang memang perlu

    halo para Kenthirs, apakah egois ?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.