SESAL

Anwari Doel Arnowo

 

Pada suatu saat saya pernah mensitir kata-kata seorang Jenderal (TNI kita) ketika dia diberhentikan dari jabatan pentingnya di jajaran atas kepangkatannya. Inilah bunyi kalimatnya: When I look back, I never regret. Benar seperti itu, di dalam bahasa Inggris. Untuk selanjutnya  amat sering arti kata-kata ini saya gunakan untuk bahan dari segala persiapan tindakan penting, sebelum saya lakukan pelaksanaannya, saya pakai dahulu sebagai satu impian atau pedoman agar saya tidak akan menyesali di masa akan datang karena salah perkiraan.

Saya sadar bahwa siapapun yang berbuat salah itu manusiawi. Akan tetapi apabila hal itu sudah terjadi dan menyesali, hampir tidak ada jalan bisa kembali dengan maksud dan tujuan memperbaiki atau melakukan koreksi. Itu saya lakukan sering sekali dan menghasilkan yang memuaskan dipakai sebagai pedoman agar tidak ada yang salah di dalam melakukan tindakan penting tadi.

regrets

Pernah saya diajak bisnis oleh beberapa orang asing yang bermodal duit tak terbatas tingkatannya, itu pandangan saya waktu itu. Eh, di dalam bathin saya ada bisikan: hati-hati.

Angka yang disebutnya amat luar biasa besar sekali dalam Pound Sterling. Mata mungkin saya sipitkan seperti orang Jepang untuk menyembunyikan emosinya. Saya berbuat sama, saya bersikap minta waktu beberapa lama dan mulailah saya lakukan selidik saya pribadi, dengan biaya tentu saja. Biaya operasi yang seperti ini mungkin sekali akan sirna dan hilang tanpa hasil.

Saya bayar informasi yang masuk baik dari upaya yang saya usahakan sendiri maupun dari detective yang saya sewa. Hasilnya ? Saya memutuskan tidak menerima tawaran. Apa pasal? Kekayaan salah satu dari group itu sungguh amat meragukan asal usulnya. Dari pada terlalu banyak mengeluarkan biaya seperti ini, informasi, yang amat mahal ini, saya hentikan meneruskan peluang ini, tidak saya manfaatkan.

Kejadian ini adalah salah satu bentuk kehati-hatian di dalam dunia bisnis. Bagi diri saya  berlakulah isi makna kalimat tadi yang intinya adalah: Bila di kemudian hari saya menengok ke belakang saya tidak akan menyesalinya. Eh dengan biaya informasi yang saya keluarkan waktu itu saya setidaknya memang meyakini merasa pantas untuk dbelanjakan, sesuai kemauan agar tidak menyesal di kemudian hari.

Hal keributan yang terjadi karena kurang kehati-hatian seperti ini, telah terjadi antara dua teman saya.

Satu orang Inggris tinggal di Singapura sekian tahun lamanya lawan seorang Australia, bertengkar masalah bisnis menggunakan lawyers (mirip dengan liars, ya?) kurun waktunya memakan dua tahunan. Si Inggris mengeluarkan dua setengah juta USDollars dan lawannya si Australian habis lebih dari tiga juta untuk biaya-biaya para liars itu..

Apa hasilnya? Kejadian akhirnya mereka berdua masuk ke dalam kamar sebuah hotel dan selama setengah hari berceloteh, memuaskan diri saling memaki -maki satu sama lain, juga menangisi saling menyesalkan  serta mencela ego masing-masing. Konon makan waktu setengah hari, di Perth, Western Australia. Sesungguhnya saya selaku teman kedua-duanya, sudah menawarkan penghentian yang terhormat, gentlemen like. Tetapi mereka dua-duanya memang memilih seperti itu.Ego yang ongkosnya mahal, tanpa hasil yang memuaskan.

Yang seperti ini bisa saja terjadi terhadap siapa-siapa saja, bukan saja dalam soal bisnis tetapi juga dalam pernikahan / perkawinan, pertemanan dan semua jenis pergaulan. Saya juga pernah mengalami hal yang mirip tetapi cara saya menekan perasaan memakan waktu bertahun lamanya. Saya bisa berhenti menyesali seperti itu hanya dengan cara: MEMINTA MAAF KEPADA DIRI SAYA SENDIRI. Jangan ditertawai saya, meskipun ini benar-benar telah terjadi kepada diri saya. Sungguh sesuatu yang membantu mendewasakan diri saya dalam mengalami yang seperti ini. .

Hal semacam ini jangan-jangan amat banyak orang mengalami yang serupa, hanya sayalah yang belum pernah membaca pengakuan seperti saya lakukan ini. Bagi saya sekarang, saya tau benar, tidak ada sesuatu kehidupan yang amat sempurna, yang tanpa salah dan yang tanpa nasib sial.

Dalam kenangan saya yang lain adalah mengenai bentuk  keputusan yang pernah saya ambil yang tidak pernah saya sesali saat ini. Memang sudah pernah saya tuliskan bahwa saya pernah mengajukan minta berhenti dari pekerjaan saya.

Waktu itu jabatan saya amat penting dan membawahi lebih dari beberapa Perseroan Terbatas, gaji saya paling tinggi dan tentu saja tanggung jawabnya segunung. Oleh karena para pemegang saham menggunakan private placement masing-masing, disertai uang hasil go public, maka uang puluhan juta US juga berlalu lalang meliwati meja kerja saya.

Tanggung jawab seperti itu agak terlalu mencurigakan karena justru mereka itu terlalu sangat amat percaya kepada saya seorang. Kalau saja ada iblis sedang mampir di sekitar saya ketika saya lemah, dan membujuk saya untuk berbuat curang, bukankah saya akan menjadi lelah dalam upaya harus menutup-nutupi perbuatan iblis melalui saya itu, kan? Maka nama saya bisa jelek dan saya akan membawa memori masalah ini nanti sebelum mati dengan penuh penyesalan. Saya putuskan itu pada tahun 1998 dan saya katakan alasan utama saya ingin masih sehat sepuluh tahun lagi.

Saat ini, cita-cita saya yang sepuluh tahun itu telah mencapai tujuh belas tahun. Saya bersyukur. Tidak ada penyesalan meninggalkan gaji dan fasilitas kelas satu dan kesenangan duniawi oleh karenanya menjadi hilang. Itu cuma sebuah konsekuensi kecil saja. Tidak usahlah disesali.

Meskipun beberapa bagian dari tulisan saya ini sering merupakan ulangan, akan tetapi saya sendiri bilamana menuliskannya atau membacanya kembali, menjadi seperti diingatkan dan memang kembali mulai lagi lebih menjadi berhati-hati. Hanya saja saat ini setelah mulai menginjak masa senja usia, saya merasakan tiada lagi adanya teman yang bisa saya ajak berdiskusi mengenai hal-hal semacam ini. Teman-teman berdiskusi yang sebaya sebagian besar sudah terlebih dahulu meninggal dunia. Istri sayapun sudah mendahului saya pada tahun yang telah lalu. Pandai-pandailah saya mengisi waktu yang banyak luangnya, agar otak tetap bisa digunakan dengan mangkus, berhasil guna. Saya tumpahkan ke dalam dunia maya Internet agar longgar dada, tidak sesak dengan penyesalan.

 

Anwari Doel Arnowo – 16 Nopember, 2015

 

 

6 Comments to "SESAL"

  1. Lani  27 December, 2015 at 04:12

    James, mahalo menyesal? Ya pernah tp hrs bangkit dan melanjutkan berjalan kedepan

  2. Alvina VB  27 December, 2015 at 03:41

    Halo James, gak ada sesal, yg terjadi ya sudahlah, let it go….emang dunia bisa diputar balik? he..he…
    Pak Anwari, trima kasih buat artikelnya, mencerahkan di penghujung thn ini. Selamat Tahun Baru pak…

  3. J C  24 December, 2015 at 07:39

    Petuah dan cermin kehidupan yang luar biasa, pak Anwari…selalu menjadi pelajaran tersendiri untuk saya…

  4. Dj. 813  24 December, 2015 at 04:26

    Cak Doel . . .
    Terimakasih . . .
    Dj juga pernah mengalami hal yang sama, walau jumlah biaya bisnis tersebut tidaklah terlalu besar.
    Melihat gelagat yang kurang baik, maka saya hentikan .
    Walau sampat dapat makian, tapi saya rasa itu uang saya dan hak saya, apakah saya mau melanjutkan,
    atau berhenti .
    Puji TUHAN . . . ! ! !
    Walau saya juga kehilangan uang, namunn tidak sebanyak teman saya yang melanjutkan bisnis tersebut.
    Ada sih penyesalan sedikit dan benar-benar merasa bodoh dann berkata . . .
    Saya ini buaya, kok mmasih bisa dikadali . . . Hahahahahaha . . . ! ! !
    Syukur saya jadikan pengalaman yang sangat berharga .

    Salam Damai ejahtera dari Mainz.

  5. djasMerahputih  23 December, 2015 at 16:16

    Hadir bang James..
    Makasih Cak Doel.. Kisah lalu adalah sejarah. Sesal tak perlu ada. Kalaupun harus ada yang jadi penyesalan manusia, maka kita akan menyesali kelakuan Adam memakan buah terlarang. Kalo tidak tentu anak cucunya masih pada keluyuran si surga..

  6. james  23 December, 2015 at 09:42

    1…….sesal tiada berguna

    halo para Kenthirs, sesalkah ?

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.