Perempuan dan Tindak Kejahatan

Desi Sommalia

 

Dalam film Twilight, pada sebuah adegan, salah satu pesan yang diucapkan sang Ayah kepada puterinya, Bella Swan (Kristen Stewart), saat sang anak akan pergi ke luar rumah bersama teman lelakinya Edward Cullen (Robert Pattinson) adalah jangan lupa membawa semprotan merica di dalam tasnya. Pesan ini dapat diartikan bahwa sang Ayah ingin memberikan perlindungan pada anak gadisnya dari tindak kejahatan melalui benda kecil berupa semprotan merica.

Semprotan merica adalah alat yang dapat membantu atau mengantisipasi dalam hal memberikan perlindungan terhadap kejahatan yang selalu mengintai perempuan. Semprotan merica diciptakan mirip seperti gas air mata yang bisa melumpuhkan pihak lawan yang berniat tercela. Jika mengenai bagian mata maka cairan yang keluar dari benda kecil tersebut akan memberikan efek perih dan bisa membuat seseorang kehilangan konsentrasi. Karena efek yang ditimbulkan oleh alat ini pula tampaknya sang Ayah yang berperan dalam film Twilight tersebut mewanti-wanti anak gadisnya agar tidak lupa membawa semprotan merica ketika akan ke luar rumah.

Namun, dari pesan tersebut sejatinya tersirat jelas betapa besar kecemasan sang Ayah akan keselamatan anak gadisnya saat berada di luar rumah dari tindak kejahatan yang bisa saja sewaktu-waktu menimpa anak perempuannya. Twilight memanglah sebuah film, tetapi dalam kehidupan nyata sekalipun kekerasan terhadap perempuan merupakan sesuatu yang amat sering terjadi. Bahkan tingkat kejahatan terhadap perempuan sudah semakin tinggi dan kian meresahkan masyarakat. Berbagai tindak kriminal seperti pencurian, perampasan, penculikan, perkosaan, hingga pembunuhan kerap kita dengar terjadi dihampir semua tempat di dunia, di barat dan timur. Termasuk di Indonesia.

pelecehan

Indonesia bahkan seolah menjelma menjadi surga bagi tindakan kekerasan, pelecehan seksual, dan perkosaan terhadap perempuan. Lihatlah misalnya lokalisasi menjamur baik terselubung maupun terang-terangan. Perempuan seakan hanya dipandang dan dihargai sebatas pada tubuh dan vaginanya semata. Jika kita tilik lebih jauh, perempuan di lokalisasi tersebut semata-mata hanya dijadikan obyek pemuas nafsu lelaki dan tidak ada nilainya. Tak ubahnya seperti tebu diambil manisnya lalu sepahnya dibuang.

Tak hanya ditempat-tempat pelacuran, pelecehan terhadap perempuan kerap pula menimpa para pekerja perempuan ditempat-tempat mereka bekerja baik resmi maupun tidak resmi. Terhadap buruh migran misalnya. Banyak kasus buruh migran yang kita jumpai-terutama para perempuan yang bekerja sebagai pembantu rumah tangga, yang disiksa majikan, tidak mendapat perlindungan hak, dilecehkan, dan diperkosa. Dan jika boleh jujur kasus-kasus kekerasan yang menimpa para buruh migran di luar negeri tersebut terjadi secara berulang. Tetapi yang tak kalah menggiriskan dari itu, nasib buruk terhadap pekerja perempuan Indonesia tak hanya terjadi di luar negeri. Di tanah air pun tak sedikit perempuan mengalami berbagai macam kekerasan ditempat-tempat mereka bekerja.

Pelecehan terhadap perempuan di tempat kerja misalnya berupa prilaku negatif, tidak senonoh, ataupun yang berkonotasi seksual yang dilakukan secara sepihak dan tidak diharapkan oleh mereka yang menjadi sasaran. Salah satu contoh dari beberapa pelecehan seksual yang lebih ekstrim adalah mengintimidasi atau mengancam para perempuan untuk melakukan berbagai kegiatan yang bisa membuat korban mau melakukan berbagai kegiatan yang tidak diinginkan. Seperti ajakan melakukan hubungan seksual atau perkosaan. Tatapi tak jarang kita temui reaksi korban terhadap kasus pelecehan seksual tersebut bersikap pasif karena berbagai faktor seperti ancaman, rasa malu dan sebagainya.

Dari sini dapat kita lihat bahwa perempuan masih sangat rentan terhadap berbagai tindak kejahatan. Padahal dalam perspektif yang lebih luas, penindasan terhadap perempuan sejatinya adalah penindasan terhadap peradaban.

 

Desi Sommalia, menetap di Pekanbaru.

Dipublikasikan di website maknasia.com pada kolom ‘Dunia Perempuan’, edisi 11 Januari 2015

 

 

About Dessi Sommalia

Desi Sommalia Gustina, Alumnus Pascasarjana Jurusan Ilmu Hukum Universitas Andalas, Padang. Saat ini menggerakkan komunitas menulis Rumahkayu Pekanbaru. Menetap di Pekanbaru. Bekerja sebagai tenaga pengajar di Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Riau.

Arsip Artikel

9 Comments to "Perempuan dan Tindak Kejahatan"

  1. Nonik-Louisa  6 January, 2016 at 14:56

    baca cerita ini bikin aku bersyukur karena lahir & tumbuh besar di keluarga yg menjunjung tinggi pendidikan, termasuk jg untuk anak2 perempuannya. Malah papaku sangat mendukung agar aku sekolah yang tinggi, kalau bisa ga usah hidup di Indonesia sekalian hahahahaha (sayang yang terakhir ini belum kesampaian or belum nemu kesempatannya).

    Jadi penasaran…. kenapa ya di kultur/negara yg sangat menjunjung tinggi anak laki2, ibunya sendiri pun bahkan terkesan membenci anak perempuannya sendiri?

  2. Alvina VB  26 December, 2015 at 11:36

    Mbakyu Lani, ya maklum aja dia lahir di jaman feodal dan jaman dia lahir Kartini belum ada tentunya dan wanita jaman itu jarangggg yg sekolah tinggi2. Syukur banget mbakyu Lani punya org tua yg mendukung pendidikan tinggi anak wanitanya. Jaman sekarang org2 yg pemilirannya masih spy abad pertengahan dan jaman feodal belum merdeka 100%, masih terkukung dengan mind-set jaman itu.

  3. Lani  26 December, 2015 at 06:46

    “Pengalaman saya pribadi sbg seorg anak wanita yg lahir di Indonesia gak jauh beda, dulunya tidak akan dididik tinggi2 krn akan masuk dapur dan akan dibawa pergi suami ini… itu menurut papi saya yg pemikirannnya kolot spt kebanyakan (gak mau mengeneralisasi ya… kaum pria Asia. Ttp mami saya bilang NO WAY (thanks mom!)”

    AL : sekelumit copy paste dr komentarmu. Baru tau klu papimu begit sadis ya?

    Kebalikan dgn ortuku, mrk datang dr old generation, dan mendidik sgt keras/disiplin akan ttp perkara pendidikan mrk berdua akur, hrs diraih setinggi mungkin klu bs mencapai langit yg tanpa batas.

    Alasan mrk agar nantinya bila anak2 nya menikah bisa mandiri, tdk dijadikan babu/dihina oleh pasangannya. Apalagi klu ditinggal mati sama pasangan msh bisa tegak berdiri, ngasih makan anak2nya klu punya anak, klu tdkpun msh bs melanjutkan kehidupannya sendirian.

    Aku salut banget sama kedua ortuku walau mrk telah tiada 30 tahun yl

  4. Alvina VB  25 December, 2015 at 12:39

    James: Itu unek2 saya dah dikeluarin semua…emang suka susyah ya… jadi perempuan di Asia/Tim-Teng; nyebelin banget kl sesama wanita malah saling mengeritik, bukan mendukung. Di sini mah wanita bebas donk…. mau jungkir balik, koprol sekalian juga gak ada yg peduli, ha..ha…

    Selamat Hari Natal ya…

  5. Alvina VB  25 December, 2015 at 12:29

    Kunci adanya kekerasan terhadap kaum wanita sebetulnya dimulai dari rumah. Kl ibu/ bapaknya menghargai anak perempuannya, maka anak laki2nya dan org2 di sekeliling kel. tsb juga akan respect/menghargai anak perempuanya. Bukan hal yg baru lagi di Asia, Timur Tengah dan Afrika, anak laki2 adl yg didambakan kel, kl punya anak perempuan ya ampyunnnn malunya kaya punya dosa guede, kenapa kok gak bisa melahirkan anak laki2? Lah salah siapa coba? Kl mau dituding yg laki2nya donk, kok malah salahin perempuannya? Yg punya kromosom penentu jadi anak laki/perempuan siapa coba???

    Di India sana kl ada segelas susu di dalam satu rumah yg dikasihkan selalu utk anak laki2, anak perempuan dianggap tidak layak dan gak usah aja dikasih, toch gak ada gunanya, krn nanti diambil org ini ya…. Yang mereka sering katakan ngapain ngurusin kembang di pekarangan sendiri kl nanti dipetik org lain? Laki2 yg dibesarkan di lingkungan spt ini, tidak akan menghargai wanita, lah banyak kejadian kok mereka malah memperkosa adik perempuannya sendiri dan gang rape minta ampyun di India sana marak banget. Anehnya nanti yg merasa bersalah malah perempuannya. Sama aja kaya di tim-teng, korban perkosaan yg malah digiring ke pengadilan/malah tragis mati dirajam, bukan yg memperkosa, dia malah bebas merdeka dan ngelakuin aja lagi ke perempuan lainnya, lah wong bebas kok gak ada ganjarannya sama sekali.

    Contoh lain adl Malala Yousafzai yg Bapaknya adl seorg pendidik, dialah yg jadi pendukung utama Malala, bukan ibunya, krn spt wanita di TimurTengah lainnya, punya anak perempuan dianggap gak mampu meneruskan nama kel.nya. Ibunya cenderung memanjakan anak2 lakinya dan ayahnya Malala yg mendukung Malala dlm dunia pendidikan sampai dia berani berdiri membela pendidikan anak wanita dan ditembak Taliban. Ayahnyalah yg mencantumkan nama Malala, seorg wanita di dlm garis keturunan kel.nya dan ini blm pernah dilakukan sebelumnya utk seorg anak wanita. Ayahnya bilang dia tidak mengunting sayap anak perempuan nya, itu yg jarang banget terjadi di negara Tim-teng.

    Pengalaman saya pribadi sbg seorg anak wanita yg lahir di Indonesia gak jauh beda, dulunya tidak akan dididik tinggi2 krn akan masuk dapur dan akan dibawa pergi suami ini… itu menurut papi saya yg pemikirannnya kolot spt kebanyakan (gak mau mengeneralisasi ya… kaum pria Asia. Ttp mami saya bilang NO WAY (thanks mom!), semua anak wanitanya akan punya kesempetan yg sama utk belajar spt anak laki2nya. Generasi saya adl generasi pertama yg para wanitanya masuk jenjang Universitas. Ini di Indonesia jadul lah…semoga sekarang gak kaya gitu lagi.

    Hargailah anak perempuan krn dia akan jadi ibu yg nantinya mendidik anak-anak masa depan. SAY NO utk kekerasan perempuan!!!

  6. Lani  25 December, 2015 at 11:35

    James jelas lurahe memborong krn dia lagi melepas gawean dan travel, relax………

  7. djasMerahputih  24 December, 2015 at 10:32

    Hadir bang James…
    Ki Lurah lagi liburan, makanya lebih siap balapan…

    Makanya Endonesa tak pernah lepas dari masalah, makhluk yang derajat surga saja masih di bawah telapak kakinya belum dihargai dengan layak.

  8. james  24 December, 2015 at 07:58

    terutama di Indonesia kebebasan Perempuan masih terlalu jauh dari Merdeka atau Persamaan

    kemana para Kenthirs Perempuan ? nomor satunya diborong semua sama Ki Lurah euy……jadi gak kebagian hari ini

  9. J C  24 December, 2015 at 07:41

    Oh jelas sekali kalau di Indonesia perempuan dianggap sebagai objek belaka, terutama karena BUDAYA dari padang pasir yang berorientasi pada selangkangan…sialnya budaya selangkangan ini justru semakin marak dan dipuja, rancu dengan ajaran agama…

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.