Tuhan, Produk dari “Wishful Thinking”

Itsmi – Belanda

 

Orang yang menganut agama mereka percaya sekali bahwa manusia itu diciptakan oleh Tuhan yang Maha Esa, Tuhan yang Maha Kuasa dan yang Maha Baik, dia atau Tuhan bisa menciptakan dunia beserta isinya antara lain ciptaannya adalah manusia dan kehidupannya tanpa kejahatan /kekerasan dan kesengsaraan. Namun kalau kita mengikuti berita-berita dunia atau melihat dan merasakan di sekitar kehidupan sehari hari, kita tidak bisa terlepas dari kejahatan/kekerasan dan kesengsaraan untuk itu berarti Tuhan bukan Maha Kuasa dan Maha Baik atau Tuhan bukan yang menciptakan dunia ini. Kata lain: Tuhan tidak ada. Pendapat klasik ini adanya sudah lampau tetapi sampai sekarang tidak bisa dibantah.

where is god

Sekuat-kuatnya argumentasi, kebanyakan orang yang menganut agama tidak bisa menerima hal ini atau kekurangan imajinasi untuk diyakinkan oleh argumentasi yang di atas. Orang yang percaya kepada Tuhan yang Maha Esa akan tetap mencari jalan keluar dan menyatakan bahwa kesengsaraan bukan dari Tuhan tetapi datangnya dari manusia itu sendiri.

Oleh karena itu saya akan berikan satu contoh saja seperti penyakit Tay – Sachs, penyakit tay-sachs adalah sejenis penyakit genetik yang diderita pada manusia.

Awalnya bagaimana kebahagiaan orang tua yang melahirkan anak yang sehat, inginnya mereka segera memberitahukan ke semua orang di dunia ini atas kebahagiaan yang baru didapat dari kelahiran seorang bayi yang sehat wal’afiat, selanjutnya dengan cara membagi kebabahagiaan orang tua tersebut, antara lain mereka memasang foto-foto bayinya contoh pada facebook dan lain-lain, mengadakan pesta mengundang famili-famili dan teman-teman guna memperlihatkan bayi mereka yang baru lahir.

Pada suatu hari bagaikan disambar petir di siang hari bolong, orang tua tersebut setelah tiba-tiba mendengar berita kalau ternyata bayi mereka yang baru lahir beberapa minggu lalu ternyata menderita penyakit Tay-Sachs, betapa sedih, pedih, sakitnya hati orang tua, yang mendengar berita buruk tentang penyakit anak mereka yang baru lahir. Selanjutnya dalam sekejab kebahagiaan beberapa minggu ini yang telah dinikmatinya lenyaplah sudah karena Tuhan yang Maha Baik dan Maha Kuasa telah memberikan siksaan dan kesengsaraan pada si anak dan merampas kebahagiaan orang tuanya, oleh karenanya untuk orang tua dari si anak Tuhan Maha Baik menjelma menjadi Tuhan Maha Jahat.

Bayi yang menderita penyakit tay-sachs beberapa minggu sesudah kelahiran, mereka hidup secara normal, proses perkembangan ini untuk orang tua di masa-masa kebahagiaan sebagai orang tua benar-benar dinikmatinya dan menyadari bahwa kehidupan itu sangat berharga.

Setelah beberapa waktu kemudian urat syaraf dengan progresif dirusakkan oleh penyakit ini. Tanda-tanda pertama akibat dari penderita penyakit ini seperti: komunikasi dan inteligensi menghilang. Proses perusakan pada urat saraf ini sampai anak berumur kira kira 3 – 4 tahun kemudian meninggal dunia.

Sebagai orang tua dari si bayi mengalami kesedihan yang sangat dalam dan kesengsaraan selama 3 – 4 tahun ini, kesimpulannya apalagi tidak berdaya, begitu juga untuk bayi ini, hidup hanya untuk kesedihan dan kesengsaraan yang sia-sia.

Pertanyaan yang muncul, bagaimana dan apa tindakan dari Tuhan yang Maha Kuasa dan Maha Baik?

Apa sih sebenarnya penyakit ini? Penyakit ini disebabkan oleh gangguan dari genetik material. Penyakit ini adalah penyakit keturunan tapi tidak selalu dari keturunan, yang jelas tidak ada yang salah dan disalahkan, kecuali yang telah menciptakan DNA-code bahwa pekerjaannya tidak benar.

Apabila alasan yang di atas tidak bisa dibantah lagi, yang menganut agama akan mengatakan bahwa kesengsaraan tersebut datangnya dari Tuhan dan ini sebagai hukuman atau kutukan pada manusia yang berdosa. Bagaimana dengan halnya yang bayi yang menderita tay-sachs????? Untuk berbuat satu dosa pun tidak diberikan waktu untuknya.

Atheist_Synonyms_by_Unikraken

Masih ada argumentasi lain menurut orang yang menganut agama bahwa anak itu di dunia dia menderita dan sengsara namun di Surga kelak akan mendapatkan dan merasakan kebahagiaan. Tetapi kalau dijawab bahwa Tuhan yang Maha Kuasa dan Maha Baik, anak bayi itu kan tidak perlu disengsarakan terlebih dulu di dunia apalagi selama 3-4 tahun kasian kan? Jawaban terakhir dari orang yang menganut agama bahwa manusia itu tidak bisa menilai kemauan dan jalannya Tuhan yang berliku-liku…. dan benar untuk bertanya dan menjawab adanya keberadaan Tuhan, argumentasi ini tidak bisa dijawab / bantah lagi dengan pemikiran yang sehat dan prinsip-prinsip moral yang dasar.

 

 

18 Comments to "Tuhan, Produk dari “Wishful Thinking”"

  1. Itsmi  8 January, 2016 at 21:50

    JC, saya mengerti sekali mereka, siapa yang mau masuk penjara atau di singkirkan dari masyarakat dan juga keluarga, bapak ibupun…

    Saya hidup di Belanda, bukan berarti saya tidak tahu bagaimana kehidupan di Indonesia…

  2. Itsmi  8 January, 2016 at 21:47

    Donald, Tuhanmu aneh… dia sempurna tapi dia menciptakan penderitaan… itu bagaimana ?

  3. J C  2 January, 2016 at 09:02

    Hahaha…Itsmi, tulisanmu tidak sia-sia, justru semakin paham pemikiran yang mengaku atheist…aku juga punya buanyaaaaaaaaakkk sekali teman-teman, dan ingat, buanyak sekali saudara-saudara istri yang atheist atau agnostic, mereka tidak perlu berusaha meyakinkan bahwa Tuhan tidak ada…hahaha…mereka santai saja, hidup dengan atheist dan agnostic mereka. Sesekali mereka menanyakan tentang agama, tapi sudah sampai di situ saja…

  4. donald  1 January, 2016 at 02:06

    Tuhan memang selalu misteri, banyak pengandaian memberi peluang untuk memojokkan si Tuhan, tetapi beliau selalu hadir. Tatkala ada ‘sesuatu’ (mungkin makhluk hidup, atau siapa pun bila manusia – baik yang sudah dewasa, atau masih bayi sekali pun) yang menderita, kesusahan, kesulitan, dia hadir di sana.

    Tak sulit mencari Tuhan, merasakannya, tatkala seseorang melihat penderitaan, di dekatnya. Tak perlu banyak penjelasan filosofis untuk itu, manusia kadang-kadang suka berlagak rumit.

  5. Itsmi  29 December, 2015 at 17:34

    Jc, pemikiranmu benar dasar pemikiran dari seorg fundamentalis… hahaha

    Dgn menulis artikel, kalau satu org yg membacanya dan benar2 berpikir intinya dan akhirnya dia sadar atau sebaliknya di memilih agama bagi saya tulusan ini tdk sia sia….

  6. J C  29 December, 2015 at 07:22

    Itsmi, sebenarnya kamu MASIH percaya Tuhan. Lihat judul dan isi artikel ini, kalau kamu yakin dan percaya Tuhan tidak ada, kenapa capek-capek nulis artikel ini…hahaha…

  7. Itsmi  28 December, 2015 at 16:25

    Alvina VB, orang seperti Lee Strobel banyak….

    Ateis yang memeluk kembali agamanya itu banyak karena menjadi seorang ateis tidak gampang, terutama bukan bagi orang yang penakut.

    Seorang ateis harus bisa mengisi arti hidupnya sendiri tanpa ada buku panduan… nah disinilah banyak yang kesulitan dan merasa kosong bla bla bla… sedangkan orang yang beragama sudah ada satu buku untuk menjawab semua hal sampai sains pun sudah di jawab semuanya…

    Juga bagi orang ateis bilamana dia mempunyai problem, harus memecahkan sendiri, itu tidak mudah… oleh karena itu orang yang memeluk agama lagi dan menemukan Tuhan, itu sangat populer bagi orang yang kecanduan drugs, pelacur, perceraian, intinya penuh dengan problem….

  8. Itsmi  28 December, 2015 at 16:16

    ariffani, bagusnya Tuhan di hati di terangkan oleh seorang psikolog…

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.