Si Tiago dan Rumah Kos-kosan Itu

Luigi Pralangga

 

Sedikit gambaran tentang si Tiago, nama lengkapnya Tiago Belo, dia asli putra Timor Leste yang sebelum nyasar ke Monrovia, dia sudah bekerja di salah satu Misi UN di Timor Timur, namanya UNMISET (United Nations Mission Interim Supervision in East Timor), dimana dia telah bekerja sebagai staff lokal pada misi UN tersebut…

Pemuda berambut ikal, dan tentu saja berhidung pesek ini orangnya penuh dengan cerita-cerita lucu, dan berbekal kemampuan bahasa Inggris yang cukup handal serta bahasa Indonesia berlogat kental Timor, benar-benar membuatnya banyak disenangi oleh kawan-kawannya…

Di UNMIL – Liberia, ada sekitar 150-an staff yang berasal dari UNV (United Nations Volunteers) yang dulunya pernah bertugas di Dili (Timor Leste), yang notabene kenal baik dan dekat dengan si Tiago.

Kali pertama kenal dengannya ialah di kala gue sedang ngurus peralatan computer dan perangkat IT lainnya di Warehouse di Starbase HQ, dan kebetulan sedang terima telpon yang masuk di ponsel panggilan dari Jakarta, tentunya pasti bicara dalam bahasa Indonesia… pas saat itulah Tiago kebetulan lewat di depan, dan langsung menegur sapa dengan ramah, sejak itulah kita jadi teman dekat…..

Berbahagialah mereka yang (bisa) punya banyak temen… di kala suka dan apalagi di saat puyeng seperti sekarang ini. Alhamdulillah, si Tiago, kawan baik asal Timor Leste ini berbaik hati untuk ditebengin kamar tidurnya sampai gue nemu apartemen yang layak.

“Emang susah ya cari tempat tinggal di sana (Monrovia)?”

“Jelas susah!…”, banyak rumah yang cukup layak…hanya saja…mesti ada salah satu komponen penunjang hidup yang selalu tidak tersedia…kalau nggak listriknya gak ada (mati),…atau air susah! Dan mesti mompa dulu dari sumur pompa genjot umum terdekat sambil bawa-bawa jerigen plastik…dalam hati….”Males amaaat!…!!!!!”

Udah kerja ampe malem (Jam 8.30 PM), pulang harus nimba air pula…..???? Blom lagi urusan digembrong ama nyamuk! Biar dikate udah diusapin ma autan, tetep aja tuh nyamuk doyan deket-deket ama gue….dan bukan sembarang nyamuk kebon lagi yang ada di sini…menurut catatan WHO (Badan Kesehatan Dunia), nyamuk-nyamuk di sini adalah Nyamuk Malaria yang terganas di belantara Afrika, man!??!!!

Gua gak mau ambil resiko nimba-nimba air malem-malem…mending sabar..sambil cari rumahnya nggak dengan gerabak-gerubuk (baca: rusuh-terburu).

Buat negara yang baru-baru ini kelar perang saudara…banyak instalasi umum dan rumah-rumah yang hancur, tiang-tiang listrik hanya tinggal tiangnya saja…di mana kabel-kabel listrik yang tersambung di ujungnya ada yang masih tersambung dengan tiang lainnya…ada yang sudah juntai ke tanah, dan aliran listrik dari gardu-gardu utama sudah lama padam….di saat senja menjelang, perlahan cahaya-cahaya lilin dan lampu -lampu rumah mulai terlihat di beberapa tempat secara tidak merata…karena gak semua orang, terutama rakyat di sini mampu untuk beli Genset (Generator Listrik).

Sinar terang hanya umumnya terlihat dari cahaya lampu kendaraan di jalan dan beberapa rumah yang didiami para
staff internasional UN dan beberapa staff humanitarian lainnya,serta beberapa hotel saja yang bisa menerangi bangunannya di malam hari.

Rumah dimana si Tiago tinggal itu berada di daerah Sinkor, ibarat Jakarta SelatanKebayoran Baru-nya lah dimana di sana banyak terdapat rumah-rumah gedongan…lengkap dengan kampung-kampung dan warung beratapkan terpal gubuk reyot asal-jadi….dan warung-warung jadi-jadian dengan cat menor-mencolok mata…
yang notabene kebanyakan mereka berjualan rokok, permen, dan pengecer kartu isi-ulang pulsa GSM, dan sejenis warung kopi.

Dari jalan raya, rumah si Tiago harus terus masuk jalan berliku-liku ke dalam gang….sekitar 25 menit-an lah biasa ditempuh kalau jalan kaki santai (sambil dikerubutin nyamuks)…kebanyakan pra staff UNMIL yang tinggal serumah dengan Tiago umumnya adalah UNVs (UN Volunteers) yang notabene penghasilan yang diperolehnya kurang dari separuh dari para staff Internasional umumnya…ini tentu saja terbayang dong jenis akomodasi yang mampu mereka dapatkan….persis seperti kos-kosan mahasiswa di Depok-lah!, tanpa AC (Angin Cepoi-cepoi) dan tempat tidur ala kadarnya….

peacekeeping

Namun demikian teman-teman yang masuk ke UNMIL sebagai UNVs nggak kalah kompeten dengan pra staff internasional yang datang baik dari headquarters, atau dari Peacekeeping-peacekeeping Mission lainnya…..dan mereka orangnya cool!

Ada sekitar 4-5 roomates yang tinggal di situ dan masing-masing memiliki kamar masing-masing…., hanya dengan iuran kolektif sebesar (rata-rata) US $ 450.00 per bulannya…mereka menyewa kamar di sana kepada seorang Mami-mami Liberian (juragan kos) yang tinggal di lantai atasnya….dengan fasilitas listrik ala kadarnya yang mulai bisa dinikmati dari jam 19.00 sampai jam 23.00, setelah itu: “pet-byar”(mati listrik) sebab Genset harus dimatikan (biaya sewa hanya termasuk listrik sampai jam segitu)….

Satu hal yang cukup menarik ialah, masing-masing kamar memiliki “si-Inem”nya sendiri-sendiri yang bertugas ngurusi cucian pakaian dan bersih-bersih kamar..dan banyak dikunjungi oleh none-none lokal Liberians yang kebetulan kencan dengan beberapa penghuni di sana….. apalagi kalau udah dating hari Sabtu sore… tiap kali saya coba jemput ajak jalan si Tiago….mesti deh udah banyak yang nangkring di sana….wah udah deh, rameee….!!!!

Rata-rata harga sewa kamar type “kos-kosan” mahasiswa yang diminati oleh kalangan staff UNMIL berkisar antara 500 – 800 dollar per bulannya, an itu sebanding dengan harga sewa apartemen 1 bedroom dibilangan Queens, Brooklyn – New York atau di Secaucus, New Jersey, tempat dimana gue tinggal semasa kerja UNHQ.

The amount that we pay, may not compare to the facilities we normally get…that is why I am hesitant to jump-in to renting a house abruptly, knowing that I will be stuck there should I happen to dislike the place…

Doain yah bisa dapet tempat yang nyaman dan aman…

 

 

About Luigi Pralangga

Luigi Pralangga, currently serving for peace operations in Afghanistan - Previously lives and work in the Middle East, West Africa and New York - USA.

My Facebook Arsip Artikel

4 Comments to "Si Tiago dan Rumah Kos-kosan Itu"

  1. J C  29 December, 2015 at 07:23

    Wuuuiiihhh…negeri tempat bertugas kok “menyeramkan” gitu…

  2. djasMerahputih  28 December, 2015 at 19:17

    Hadir bang James,
    Pengalaman menarik di Liberia mas Luigi. Jadi ingat lagu apik Michael Jackson “Liberian Girl”..

  3. Lani  28 December, 2015 at 11:48

    James : para kenthir ndak semuanya nge-kost………..

    Aku doakan Luigi agar mendptkan tempat kos yg nyaman, aman…….agar mendukung dlm tugas

  4. james  28 December, 2015 at 09:01

    1……Tiago dan kos-kosan

    mengabsenkan para Kenthirs yang masih di kos-kosan

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.