Tak Terhingga

Anwari Doel Arnowo

 

Apa yang tak terhingga dan tak terbatas? Apapun saja! Mari kita tinjau bilangan. Apakah ada batas bilangan? Ke atas tak terhingga sampai belum diciptakan apa nama satuannya. Satuan, Puluhan, Ratusan, Ribuan, Ratus Ribuan, Jutaan, Ratus Jutaan, Miliar …… Ribuan Miliar Ratus Ribuan Miliar…. Jutaan Miliar …. masih ada atasnya lagi Triliun terus ke atas lagi apa namanya: JUTA TRILIUNAN?

Miliar Triliunan selanjutnya nama apa pula yang akan diberikan? Apakah ada keperluan manusia untuk membuat istilah satuan bilangan yang paling besar  dan tak terbatas? Saya sudah pernah secara  iseng-iseng saja menghitung berapa jarak antara Planet tercinta kita: BUMI dengan MATAHARI. Lalu saya cari sebesar berapa kecepatan cahaya bila berjalan terus menerus dalam satu tahun: (TAHUN CAHAYA) dan seterusnya. Sampailah saya kepada perhitungan kalau MATAHARI itu berhenti berfungsi dan mati sinarnya yang paling akhir?

Berapa lamakah BUMI kita ini bisa menerima sampai seberkas sinanya Sang Surya, artinya kapankah masih ada sinar matahari yang terakhir mencapai muka BUMI kita?? Saya juga mengutak-atik berapa lama diperlukan waktu seberkas sinar matahari saat ini hingga sampai di muka BUMI? Kalau saya tidak salah hitung, saya menemukan angka sekitar 7 hari lamanya baru seberkas sinar matahari, sampai ke muka bumi, anda akan kagum membayangkan alangkah lamanya perjalanan seberkas sinar matahari itu.

Di dalam memenuhi proses perhitungan macam-macam akal saya itu, saya terpaksa harus membaca angka hasil kalkulasi dalam proses, yang jumlah angkanya sudah 30 atau lebih jajaran angkanya. Baru saya terpesona apa nama dari deretan angka itu?? Bingung? Ya nggak usah bingunglah, hanya karena cara bacanya kita tidak bisa mengucapkannya. Sayapun memikirkan bagaimana ya, mengucapkan angka yang mewakili JARAK ANTARA DUA TITIK YANG DI NOL SAMPAI TAK TERHINGGA?

Eh tunggu sebentar, apakah angka NOL itu sebenarnya ada? Mungkin saja angka NOL itu tidak ada lho, karena harus terlebih dahulu melalui TITIK TIDAK TERHINGGA KECILNYA, kan? Jadi sekarang ini saya meragukan bahwa satu dikurangi satu itu mungkin bukan angka yang selama ini kita kenal degan istilah NOL. Yang sudah jelas sekarang ini bagi saya adalah NOL tidak bisa terbilang, demikian juga yang ke arah atas, apa namanya?

Anda boleh saja menuduh saya mencari gara-gara yang sudah tau tidak akan mampu kita menjawab. Oke saja bila anda berpendapat seperti itu, mungkin anda bisa benar kan?!?

Oleh karena saya percaya seratus persen bahwa semua yang ada di dalam alam semesta itu tidak ada satupun yang tidak berubah, maka saya juga percaya bahwa pada suatu saat nanti, pada jaman anak cucu cicit sekian juta tahun lagi, akan ada jawabnya terhadap apa yang saya sekarang tidak tau, yang kita juga tidak tau. Kita peduli atau tidak peduli, semua tetap berubah tanpa henti. Detik demi detik.

Yang dulu bayi bernama Anwari itu sekarang sudah tua, mulai sering lupa sesuatu dan bicaranya juga sudah mulai mengulang-ulang apa yang sudah pernah diucap, bahkan juga yang sudah ditulisnya. Saya mengakui kondisi ini, tetapi memang begitulah menjadi bertambah tua. Saya sepenuhnya sadar dan selalu membaca demi untuk menambah pengetauan yang terbaru tentang masalah penuaan dan sejenisnya, juga bagaimana tata cara  menyikapinya. Saya tidak melawan, akan tetapi berusaha mengelola (managing) perihal itu: agar saya bertubuh yang tetap sehat dan bersemangat, biarpun secara pasti sebenar-benarnya sedang menurun sekali peringkatnya nanti. Tak apa-apa. Saya harus menerima karena telah terjadi dan berulang-ulang. Kalaupun saya berusaha melawan itu paling bisa saya kelola adalah pola pikir saya sendiri.

Saya perintahkan diri saya sendiri agar sigap melakukan upaya begini dan begitu yang tujuan akhirnya secara maksimum menggunakan kemampuan otak yang sudah ada dilengkapkan di dalam tubuh saya. Otak manusia itu berfungsi sebagai administrator dan eksekutor seluruh, sekali lagi, seluruh bagian tubuh saya. Saya sudah yakin soal itu karena sejak lama, setelah saya melampaui utamanya umur 60 tahun saya memerhati dengan cara sungguh-sungguh. Selama ini meskipun harus sering-sering membuka-buka search engine di komputer, tetapi semangat saya untuk bisa memenuhi rasa ingin tau tak pernah saya hentikan. Ambil jeda sering saya lakukan kalau memang itu proses yang memang saya harus lalui. Sabar saja.

Sebaliknya, bilamana saya menemui kegagalan di dalam berdaya upaya menemukan sesuatu, saya ambil saja jeda, memulainya sekali lagi dan akan siap bersedia agar menerima, bila memang tidak berhasil. Saya selalu ingat bahwa dimensi waktu itu ada. Jadi saya mengubah diri,  agar mampu memberi peluang menerima bahwa yang nanti akan berhasil menemukannya adalah mungkin generasi cucu-cucu dan cicicit-cicit saya di masa depan. Itu wajar. Karena apa yang pernah dicita-citakan orang dalam rangka memudahkan semua proses kehidupan, tentu faktor waktulah yang penting. Tidak sekarang biasanya nanti akan terlaksana. Saya menulis masalah penuaan dengan masalah tidak terbatas / tak terhingga itu memang ada hubungannya.

Tidak terbatas dalam kehidupan saya yang akan datang itu adalah masalah ke-tidak-tauan saya kapan akan tiba berakhirnya kehidupan saya. Persis seperti hal dengan tidak terhingga atau tak terbatas jumlah bilangan ke arah atas. Prosesnya  berlangsung sama. Dua-duanyapun saya tidak paham. Seperti halnya angka NOL dan seperti angka tidak terbatas.

Apakah kita bisa dalam menahan diri agar mampu memahami hal seperti ini? Nah di sinilah kebijakan yang diAMBIL HARUSLAH MIRIP SEPERTI TEORI YANG DICIPTAKAN OLEH Albert Einstein. Menyerah saja menerima meskipun masih sukar dalam memahami karena masih nisbi sifatnya, masih dominan tergantung oleh siapa yang melihat atau menafsirkannya. Bahasa mudahnya: terima saja meskipun belum terlalu mengerti karena pada suatu saat nanti akan mengerti.

Semua itu bersifat relative (Teori Relativitas Einstein). Mari kita bicarakan relatif itu, yang ternyata memang ada di mana-mana. Kita semua mempunyai ukuran masing-masing sebagai patokan. Bagi yang belum pernah pergi ke tempat jauh, sebuah perjalanan, jauh maupun dekat akan tergantung kepada siapa yang mengalaminya. Si Polan yang orang Medan, pergi ke Padang Sidempuan saja sudah seperti perjalanan yang amat mengesankan dan diingatnya seumur hidup setelahnya. Si Polan lain sudah pergi ke Pulau Jawa dan Bali, yang menurut dia biasa saja rasanya bila dia menjalani bepergian ke Ujung Pandang atau Makasar. Tetapi bagi yang menunaikan ibadah Haji, maka pengalaman si Polan tadi, bukan apa-apanya bagi pak Haji.

Bagi yang pernah berpengalaman berkeliling dunia ke arah Barat terus menerus sampai kembali ke tempat asalnya memulai perjalanan, akan merasakan rasa senang tertentu. Akan tetapi masih ada keinginannya yang lain, yakni: melakukan terbang dari sekitar garis khatulistiwa ke Kutub Utara, terbang di atas Kutub Utara dan meneruskannya ke Khatulistiwa melalui BUMI dari sisi yang berlawanan 180 derajat Garis Bujur. Apa rasanya setelah itu? Oh, anda tidak bisa bercerita meski dan apalagi belum pernah mengalaminya, belum pernah merasakannya. Berikut adalah salah satu contohnya: Bila ada pesawat yang bisa membawa anda berkeliling dunia ke arah Barat secara terus menerus dengan kecepatan yang bisa menempuh lengkap satu putaran keliling BUMI di dalam waktu 24 jam tepat.

Bila bisa mampu berada kembali di tempat asal lepas landas, apa yang terjadi? ANDA akan lebih muda usia sebanyak 24 jam. Kalau ada kesempatan melakukannya 365 kali putaran? Anda akan lebih muda satu tahun!! Kalau saya bisa melakukannya 77 kali 365 hari maka saya akan menjadi bayi berumur kurang dari satu tahun. Owèèk owèèek lah suara saya. Itu boleh anda katakan khayalan akan tetapi bukan mustahil akan bisa tercapai dalam waktu sekitar 200 tahun lagi. Apa sebab 200 tahun? Pada 200 tahun yang lalu belum ada mobil balap secepat yang ada sekarang, telepon antar benua bahkan ke seluruh muka Bumi.

Saat ini kita sudah mengincar Planet Mars, karena ditemukannya cairan / air di sana, sebagai tanda adanya penunjang kehidupan makhluk.

Sampai di sini saya berharap anda tidak lagi memandang hidup di dunia itu hanya masa sekarang saja. Yang saya usahakan menggambarkan melalui tulisan ini adalah bagaimana anak cucu dan cicit kita nanti memasuki dunia yang amat lain, dan masih tetap berada di dalam Jagad Raya di mana sekarang kita juga berada. Saya tidak menggambarkan dunia setelah kita semua nanti akan mati. Tetapi menggambarkan dunia yang sama yang menampung kehidupan anak-anak dan cucu serta cicit, hidup di atas muka Planet BUMI, kemudian hari.

Semua yang telah saya gambarkan di atas menyangkut masalah pandangan dari tempat masing-masing di BUMI di alam fana bukan alam baka. FANA MASA DEPAN! Kata fana sebenarnya berarti dapat rusak, tidak kekal. Ini adalah kata yang lawan dari kata baka yang artinya kekal abadi, tidaK berubah. Alam baka saya sama sekali tidak mau membayangkan seperti apa, karena memang tidak bisa saya prediksi oleh dan dengan menggunakan otak saya sendiri. Saya tidak sanggup membayangkan akan bagaimana. Belum ada seorangpun yang pernah ke sana dan kembali serta sanggup memberikan gambaran apa dan bagaimana alam Baka itu. Jadi saya hindarkan diri saya terlibat di dalam diskusi ilmiah selama ini mengenai Alam Baka. Saya merasa selamat karena hindarkan diri sebaik dan juga sesopan mungkin.

infinity-takterhingga

Hal ini karena saya memang tidak sanggup melibatkan pemikiran saya ke arah itu. Seperti yang digambarkan oleh Eisntein mengenai relatif-relatif yang tidak mampu kita terangkan.

Tambahkan visi bahwa segala sesuatunya itu memang relative, silakan mencari mendapatkan dan menikmati hal-hal yang membuka masalah relatiif di mana-mana. Di sinilah kita akan sesadar-sadarnya mengetaui dimensi waktu perannya teramat-amat penting. Demikianlah cara saya menjauhkan horizon saya pribadi, dengan tujuan damai dan akan tanpa menimbulkan kegaduhan apapun. Damailah di hati saya, bahagia rasanya kalau tiba saat saya nanti mati, tanpa rasa takut menghadapinya apalagi sanggup dan mampu tanpa memikirkan apa yang akan terjadi di alam baka nanti.

 

Anwari Doel Arnowo  –   29 Nopember, 2015

 

 

8 Comments to "Tak Terhingga"

  1. Dj. 813  29 December, 2015 at 20:50

    Cak Doel . . .
    Betapa dasyiatnya sang pencipta .
    Terimakasih dan salam .

  2. Lani  29 December, 2015 at 11:57

    Nggalah James klu ngambek…………krn hukumnya dr penduduk Brazil klu ngambek bayar satus ewu=bayar seratus ribu………dollar kkk

  3. J C  29 December, 2015 at 07:23

    Infinity, keniscayaan, kenisbian…semuanya berpulang ke prinsip ada tapi tiada, tiada tapi ada…

  4. djasMerahputih  28 December, 2015 at 19:29

    Hadir bang James..
    Topik menarik Cak Doel.. Menurut djas yang tak terhingga itu adalah cahaya, treknya lurus. Sedangkan waktu berjalan memutar mengikuti rotasi dan revolusi bumi. Ruang dan waktu diadakan oleh cahaya, tanpa cahaya (matahari) maka ruang menghilang dan waktupun berhenti.

  5. james  28 December, 2015 at 13:21

    mbak Lani, tak terhingga telatnya ha ha ha cuma guyon kok ci Lani, jangan ngambek ala Kona yah

  6. Lani  28 December, 2015 at 11:35

    James: mahalo, apanya yg tak terhingga?

    Begitulah Han……….tdk bisa diukur dgn ukuran apapun

  7. Handoko Widagdo  28 December, 2015 at 09:24

    Menujukkan betapa luasnya alam semesta.

  8. james  28 December, 2015 at 09:07

    1…..duh fotonya indah banget deh

    para Kenthirs tidak terhingga

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.