Angkot si Bad Boy

Asrida Ulinnuha

 

Mula-mula saya minta maaf nih sama cowo-cowo, karena menganalogikan angkot dengan “boy”. Kan supir angkot biasanya lelaki, kecuali pernah saya lihat di terminal Kampung Rambutan supir angkot seorang ‘mamak’, itu pun karena menggantikan suaminya. Lalu, karena angkot sering menyebalkan, jadi pas sekali kalau dijuluki bad boy.

Catatan penting:

– Yang saya tulis berikut adalah murni pengalaman pribadi, namun banyak terjadi pada orang lain juga.

– Walaupun angkot, supir, dan trayeknya seringkali sangat menyebalkan, namun mohon tidak menyamaratakan.

– Pun demikian, menjadi buah tulisan karena kerap terjadi. Harap maklum.

Saya adalah pelanggan setia angkot (dahulu), maklum ngga bisa nyetir stang. Kemana-mana (kini) biasanya kalau tidak diantar pastilah naik ojek, atau angkot, atau taksi (opsi akhir).

Siang tadi, karena rindu naik angkot, saya memberanikan naik angkot dan menahan diri tidak memanggil ojek, taksi, apalagi jemputan.

angkot-di-bogor

Ternyata yang mengejutkan, ada banyak hal menyebalkan yang tidak berubah sejak 16 tahun lalu, seperti:

1. GANTUNG. Disuruhnya kita nunggu di dalam angkot dalam waktu tak terhingga. Mesin sih nyala, kadang maju barang semeter, tapi bisa mundur lagi dengan alasan jemput penumpang di belakang, ngga ada kepastian kapan berangkat, digantung kan?

2. PHP, alias pemberi harapan palsu. Emang enak di-PHP-in? Bikin patah hati tuh! Dia bilang “iye, Neng…bentaran lagi berangkat, nunggu atu lagi”, tapi kenyataannya penumpang satu per satu masuk, berangkat juga ngga, huh janjimu palsu.

3. PUTUS – NYAMBUNG. Kalau lagi santai putus sih ga pa-pa, tapi coba rasain kalau pas butuh dia suruh putus…aduuh…bukan cuma rasa nanggung, sakit ini hati. Yang ngga enak, pas nyambung kenanya angkot juga, yaahhh ngga ada beda. Mending dari awal eike sama cowo laen aja. Eh, mending ganti taksi aja lah…

4. EGOIS. Bagi para pengembara jalanan (ya..istilahnya koboi banget), semua udah tau kalau ngga boleh saingan sama angkot. Marah sama sopir angkot? Siap benjut. Walaupun ngga semuanya, tapi banyak juga yang begini: ngga suka diduluin, bayar ngga boleh kurang, semua harus apa kata dia, egois banget ya…mentang-mentang kita penumpang.

 

 

12 Comments to "Angkot si Bad Boy"

  1. Nonik-Louisa  6 January, 2016 at 14:27

    saya sangat setuju kalau angkos “dibuminhanguskan” saja ( Sorry nih kasar banget, tapi menurut saya kelakuan para sopir angkot di jalan sudah tidak bisa ditoleransi lagi. Ga perlu saya sebutkan lagi apa aja kelakukannya karena sudah ditulis semua di atas. Tapi intinya, transportasi publik di Indonesia memang sudah super parah dan MBENCEKNO….. gitu kalo kata orang Surabaya. Haha.

    belum lagi kalau bicara soal mentalitas para sopir angkot ini: gak mau kalah, omong kasar, suka mengumpat-ngumpat…. inikah cerminan mentalitas orang Indonesia???! sungguh memuakkan. Jalanan di Indonesia itu berlaku hukum rimba. Kampret…..

  2. J C  2 January, 2016 at 10:03

    Alvina, becak-becak di Jakarta sudah jadi rumpon ikan di Teluk Jakarta long time ago…

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.