Dokter Juga Manusia

Ida Cholisa

 

“Pencapaian yang sungguh luar biasa.” Ia berdecak kagum sembari menyalamiku.

Aku mengangguk, sedikit tersenyum. Tak kusangka perempuan muda itu hadir di gedung rektorat tempat aku memaparkan dan mempertahankan disertasiku.

“Selamat, sekali lagi selamat,” ia kembali menyalamiku.

“Terima kasih.”

Tak jauh dari perempuan tersebut berdiri seorang lelaki yang menatap tajam ke arahku. Lelaki yang sangat kukenal. Sangat kukenal.

Ia berjalan lambat menghampiriku.

“Aku bangga, Irma. Kau wanita yang hebat.”

“Terima kasih. Kau juga lelaki yang hebat.”

Ia sedikit kaget dengan ucapanku. Aku buru-buru meninggalkannya sebelum ia mengajakku berbicara panjang lebar. Kerumunan saudara dan rekan kerja yang memintaku untuk berfoto bersama membuatku sedikit kewalahan. Belum lagi kedatangan para sahabat yang terlambat datang karena terjebak macet dan lain hal.

“Irma memang super,” beberapa kawan sambung menyambung memuji keberhasilanku.

“Nggak sia-sia punya semangat tinggi dan ketekunan yang luar biasa ya…” Nindy, salah satu kawan masa kuliahku di Program Magister Pendidikan Bahasa Inggris di sebuah universitas negeri di kota Jakarta turut mengomentariku

“Sayang kau tak kenal lelaki, Ir,” tawa bergemuruh seketika meledak mengiringi celotehan demi celotehan Nindy. Riuh rendah suara rombongan kawan masa kuliah S2 yang datang tiba-tiba itu sanggup memerahkan daun telingaku.

***

Kawan-kawanku benar. Aku Irma Yulianti adalah sosok berprestasi di kampus kebanggaan ini. Tidak sedikit kawan yang senang bergaul denganku, tak terkecuali kawan pria. Mereka bilang aku tekun, suka menolong dan tak pelit ilmu. Meski aku tergolong mahasiswi ‘kudet’ dan kurang gaul, kawan-kawanku berbondong-bondong merapat padaku. Bahkan ketika tiba wisuda S2-ku, seluruh teman satu angkatan datang memberi dukungan atas keberhasilanku menjadi wisudawati tercepat di angkatanku.

“Suatu saat kau harus studi lanjut ke S3,” katanya kepadaku. Andy, kawan satu almamater di program magister tempat aku menuntut ilmu memberi support kepadaku.

Kalimat Andy menjadi pemicu semangatku untuk terus menuntut ilmu. Setelah lima tahun kembali bekerja sebagai guru Bahasa Inggris di sekolahku, kerinduanku untuk balik ke bangku studi semakin berkobar tak terkendali. Atas ijin pimpinan sekolah, aku mengikuti tes masuk S3 di sebuah perguruan tinggi di kota Bandung.

Andy berperan besar dalam langkah panjangku menempuh studi di kota kembang ini. Sekali dalam seminggu ia akan mendatangi tempat kostku dan membantu tugas-tugas kuliahku. Belakangan aku tahu bahwa Andy telah menyelesaikan studi S3-nya di kota ini dua tahun lalu. Lelaki itu memang terkenal pintar sejak kuliah S2 dulu.

“Kalau kau fokus, tahun depan bisa selesai,” katanya memberi semangat padaku.

Andy semakin intens datang ke kostku. Lelaki itu tak hanya datang dengan pundi-pundi ilmu, melainkan membawa serta pundi-pundi cinta.

“Untuk yang satu ini, kuharap kau tak menolaknya.”

Aku memang jatuh cinta, akhirnya. Kehadiran Andy di tengah rasa hausku pada ilmu tentu saja menjadi semacam telaga yang menawarkan kesejukan dan mengobati dahaga besarku. Bahkan kedatangan pria itu di tengah kesendirian panjangku menjadi semacam bunga yang memperindah taman hatiku. Cukup lama aku hidup tanpa pernah merasakan jatuh cinta. Tapi dengan Andy, pria penuh pesona ilmu itu, aku sanggup hanyut terbawa pusaran indah asmaranya.

Aku mabuk cinta di usia yang tak lagi muda.

“Aku akan menikahimu usai kau menyelesaikan studi,” begitu katanya.

“Kau tak malu menikahi perempuan seusiaku?”

Ia menatapku.

“Empat puluh delapan tahun itu serasa dua puluh delapan tahun bagi seorang calon doktor sepertimu. Dan aku menikahimu bukan karena usia, tapi karena aku mencintaimu, menyayangimu.”

***

Andy memang tak pernah menikahiku sebelum usai kuliah S3-ku. Kendati demikian, ia tak pernah surut bahkan tak pernah mengurangi intensitas pertemuan denganku. Ia semakin menunjukkan perhatian yang sangat besar padaku.

Hingga kemudian…

Andy tak pernah datang ke kostku, hampir lima pekan. Setiap kuhubungi via telepon, Andy hanya berkata baik-baik saja, hanya sedikit sibuk dengan pekerjaannya sebagai dosen di sebuah perguruan tinggi swasta. Perubahan sikap yang benar-benar tak kumengerti usai janji yang ia katakan beberapa bulan lalu. Bahwa ia akan menikahiku, usai studi program doktorku.

Aku tak berhenti mencarinya. Berbekal secuil alamat aku menumpang taksi mendatangi rumahnya. Sengaja aku tak mencarinya di kampus demi menjaga nama baiknya, dan nama baik diriku tentu saja.

Tak sulit mencari alamat rumah lelaki itu. Di sebuah tempat aku melihat sosoknya. Di beranda sebuah rumah mungil yang berhalaman luas, ia tengah duduk bercengkerama dengan seorang perempuan muda. Ia tak melihat kedatanganku yang berjalan pelan di antara rimbunnya pepohonan. Aku melihatnya dengan sangat jelas, ia mencium pipi perempuan muda tersebut. Membelainya, memeluk mesra.

Dadaku berdegub sangat kencang. Antara kesal dan marah. Antara ingin berteriak dan memberontak.

“Assalamu’alaikum…”

Yang keluar dari mulutku ucapan salam yang tertahan. Lelaki itu menoleh dan terhenyak. Ia tampak gugup melihat kedatanganku. Buru-buru ia melepaskan dekapan tangan perempuan muda yang bersandar manja di bahunya.

“Mm… Mari silakan masuk… maaf…”

Ia melangkah tergesa-gesa, memasuki rumahnya. Si perempuan muda tergopoh-gopoh mengikuti langkahnya.

“Silakan masuk…”

Aku menatap lelaki tersebut. Ia tak bisa menyembunyikan rasa gugup.

“Ada yang bisa saya bantu? Apakah Anda mahasiswi bimbingan saya?”

Kalimatnya tegas menyambar telingaku. Dadaku bergemuruh. Mataku berkilat-kilat.

“Besok lagi jangan bawa urusan kampus ke rumah ya Mbak. Mengganggu saja,” perempuan muda di sampingnya turut mengomeliku.

dokter

Kutatap mata perempuan berambut lurus sebahu itu. Seketika bayangan pisau mengkilat menari-nari di kepalaku. Rasanya ingin menebas batang leher perempuan yang panjang, jenjang dan mulus itu. Bahkan rasanya ingin mencekik leher ranum dengan beberapa tanda merah bekas kecupan di sekelilingnya itu. Rasa marah di hatiku seketika berpindah ke lelaki di depanku, Andy!

 

bersambung…

 

7 Comments to "Dokter Juga Manusia"

  1. Lani  30 December, 2015 at 11:10

    Lo? Waaaaah…………ketularan kenthir iki

  2. Dj. 813  29 December, 2015 at 20:43

    Dokter juga menusia , itu sangat benar .
    Terimakasih dan salam,

  3. djasMerahputih  29 December, 2015 at 13:13

    Bang James:
    Yang benar Love is Blind…

  4. James  29 December, 2015 at 13:06

    Dokter bukan Dewa…….

    Bang Djas, apa bukan blin is lop ?

  5. djasMerahputih  29 December, 2015 at 09:08

    Wah, ngeri… Lop is blin….

  6. Kornelya  29 December, 2015 at 08:32

    Smart people can be bad man too.

  7. J C  29 December, 2015 at 07:25

    Wah, ini namanya bener-bener kurang ajar…

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.