Hidup dan Masalah

Dewi Aichi – Brazil

 

Aku percaya dengan kekuatan doa. Berdoa bukan berarti meminta. Berdoa sangat menenangkan jiwa. Inilah hakikatnya doa yang kita panjatkan.

Hidup pasti tidak selamanya sesuai dengan yang kita harapkan. Hidup itu ya sakit, ya miskin, ya kaya, ya bahagia, ya menderita, ya kemudahan, ya kesusahan. Semua itu adalah ujian. Namun, kita sebagai manusia yang berharap bahwa hidup ini baik-baik saja sesuai dengan apa yang kita inginkan, maka otak pasti mengolah reaksi bahwa semua itu adalah kenikmatan, bukan ujian.

cara-menikmati-hidup

Lain jika kita sedang dihadapkan dengan segala persoalan hidup, sakit, sedih, masalah, kehilangan dan sebagainya. Itulah ujian. Di sinilah kesabaran kita diuji. Apa yang bakal kita lakukan saat kita sedang diuji? Bagaimana menyelesaikan dan menyikapinya? Setiap orang akan melakukan dengan cara yang berbeda. Dan yang terpenting adalah tetap berusaha, jangan putus asa. Yakinlah dengan kekuatan doa. Semua adalah kehendak Tuhan.

Terkadang orang merasa bahwa dirinya paling menderita, paling bermasalah. Tanpa menengok bahwa masih banyak sekali yang lebih menderita. Sehingga yang dilakukan bukan berusaha, tapi justru merasa terpuruk dan hancur lebur.

Dunia sedang menyaksikan migrasi besar-besaran di seberang sana. Lihatlah mereka yang berbondong-bondong meninggalkan rumahnya, hartanya, kampung halamannya dikarenakan perang. Mereka kehilangan masa depan, mereka kehilangan kenyamanan, mereka kehilangan hartanya, nyawanya, dan terpisah bercerai berai dengan orang-orang tercintanya. Mereka menuju suatu tempat dengan penuh resiko.

Lihatlah di camp pengungsian antara Siria dan Jordania. Ribuan rumah-rumah darurat berdinding seng, beratap seng, beralas tikar, tidak ada sekat, di area Padang pasir yang panas sekali dengan suhu 50 derajat Celcius. Anak-anak kecil yang terpaksa mengangkut derigen berisi air yang Ia bawa dari jarak 3 km. Bayi-bayi terlahir tanpa punya identitas sebagai warga negara mana?

Berapa banyak pintu tertutup untuknya? Terusir dari negerinya sendiri. Pria , wanita, lanjut usia, bayi, remaja dan anak-anak, mereka yang sehat dan mereka yang sakit terluka, semua berbondong bondong menyebrang lautan dan Padang pasir, dengan menenteng bekal sebisanya. Kenyamanan yang terampas.

Pernahkah mengalami kekurangan makanan? Hari ini bisa makan, besok tidak tau mau makan apa. Sementara banyak orang yang bisa makan dengan enak dan berlimpah. Seperti yang ditulis teman saya Mohamad Enief Adhara,

Saat detik ini ada yang berduka, di sisi lain sedang ada yang bahagia

Saat detik ini ada yang gak ada duit satu sen-pun, di sisi lain sedang ada yang asik menghamburkan uangnya

Saat detik ini ada yang sekarat, di sisi lain ada yang baru lahir

Saat detik ini ada yang menyesali hidup, di sisi lain sedang ada yang penuh syukur

Saat detik ini ada yang kehilangan pekerjaan, di sisi lain ada yang sedang mendapat promosi kenaikan jabatan

Bla bla bla…

Dalam itungan detik atau menit, selalu ada 2 sisi walau tak saling terhubung. Semua ada masanya, ada gilirannya. Itu sebab dibilang hidup bagai roda berputar.

Yang rodanya lagi di bawah kadang menyalahkan takdir, yang rodanya di atas kadang lupa diri.

Semua kejadian bukan tanpa alasan, baik atau buruk sudah ada yang mengatur dan semua hal … It could be happen to you … it could be happen to me … it could be happen to us

Yah….inilah hidup. Ketika kita sedang diuji dengan ketidaksenangan, maka terasa bahwa hidup kita paling menderita. Tapi tidak demikian jika kita mau melihat keluar.

Demikian juga perjalanan hidupku. Suatu ketika di saat umurku 38 tahun, aku mengalami cobaan hidup yang aku rasa paling berat di sepanjang hidupku. Aku rasakan semua kepahitan dan kegetiran hidup saat itu sendiri. Orang tua, adik-adik, sodara, teman, siapapun tak tau apa yang kurasakan. Sebuah catatan kecil dalam buku suami yang sampai kini masih ku simpan sebagai pengingat. Namun apa yang aku rasakan sesungguhnya hanyalah aku yang tau. Tuhan selalu menguatkanku, dan memberi kesabaran atas segala masalah hidupku.

Kagum kepada pasangan yang keduanya divonis mengidap kanker, suami 41 tahun, mengidap kanker tulang belakang yang ketika itu dokter bilang, bahwa ia sudah tak akan lagi bisa berdiri, bahkan kemungkinan hidup tinggal 20% setelah dilakukan tindakan operasi. Dokter mengatakan bahwa berat badannya akan menyusut drastis. Kini 2 tahun sudah hidupnya dilalui. Tubuh menggemuk, meski bulan lalu setelah operasi ginjal, tubuh menyusut hingga 25 kg dalam waktu sebulan. Namun Ia masih bisa berjalan-jalan, bercanda. Selama aku mengenalnya 1 tahun terakhir ini, aku dan suami makin akrab dengannya. Tak sedikitpun menunjukkan beban deritanya di depan kami.

Ketika ia dinyatakan tipis harapan untuk hidup, istrinya yang juga menderita sakit kanker payudara shock, menangis. Tak tau apa yang harus ia lakukan. Wajah si anak lelaki satu-satunya yang ketika itu berumur 12 tahun berkelebat. Rasa putus asa yang sangat mendalam. Tapi tidak, mereka tetap percaya dengan kuasa Tuhan. Serahkan semua kepada Tuhan. Tetap berdoa dan menjalani hidup mereka. Aku kagum karena mereka tak menampakkan sama sekali masalah hidupnya. Bahkan si suami berjanji ingin menyaksikan anakku berada di tengah-tengah sebuah pertunjukan orkestra sebagai salah satu yang ikut memainkan musik. Sungguh suatu keyakinan yang memberikan hidup.

Seorang sahabat yang juga berhasil melalui ujian hidupnya dari rasa sakit. Bahkan suami tercinta yang dulu merawatnya, dan mendampinginya ketika Ia tak berdaya, justru dipanggil Tuhan. Kini sahabatku harus menjaga dan membesarkan anak-anaknya. Hidup sebagai orang tua tunggal, yang terkadang iapun sakit tak berdaya, sungguh berat sekali .

Kita semua tau bahwa setiap orang mempunyai masalahnya sendiri-sendiri. Ada yang diam dengan masalahnya, ada yang sharing dengan teman, ada ayng menyembunyikan masalahnya, ada yang mudah menunjukkan masalahnya kepada orang lain. Dan ada yang mereka tak sadar bahwa dirinya punya masalah.

Kita tidak tau masalah orang lain seberapa berat. Namun kita bisa sedikit menoleh untuk melihat masalah orang lain. Dan renungkan , jika masalah sendiri begitu berat dan merasa sangat menderita, seakan-akan tak ada jalan keluar. Putus asa, merasa sangat berat. Tetapi jika kita menoleh ke banyak orang lain yang punya masalah berat, ternyata kita masih sangat beruntung bahwa kita masih punya kesehatan fisik, dan mental untuk tetap berpikir jernih, ikhlas dan terus berusaha.

 

Nilai hidup manusia tidak ditentukan dari banyak atau sedikitnya masalah yang dihadapinya, tetapi dari bagaimana ketabahan dan kekuatan seseorang mengatasi setiap masalah tanpa atau dengan orang lain bersamanya (anonim)

 

 

About Dewi Aichi

Berasal dari Sleman Jogjakarta, saya blasteran (antar kelurahan maksudnya), happily married to a Brazilian guy. Dari Jogja merambah dunia. Pernikahan lintas benua adalah pilihannya. Setelah beberapa tahun di Distrik Aichi, Jepang, sekarang tinggal di Brazil bersama keluarga tercintanya. Tingkat sudrunnya setara dengan saudara-saudara sepersudrunannya seperti Nur Mberok, Elnino, Fire dan jelas Lani van Kona. Di sini saya bukan siapa-siapa dan bukan apa-apa, saya hanya sekedar menulis apa yang saya rasakan, apa yang saya alami, dan apa yang menarik buat saya untuk ditulis. Jika ini bermanfaat untuk diri saya sendiri dan juga untuk teman-teman, saya sangat bersyukur

My Facebook Arsip Artikel Website

20 Comments to "Hidup dan Masalah"

  1. J C  2 January, 2016 at 09:06

    Apik menyimak komentar Alvina…sebagai penutup tahun 2015 dan menyongsong tahun 2016…

    SELAMAT TAHUN BARU 2016….

  2. Dj. 813  1 January, 2016 at 19:27

    Mbak DA . . .
    Doa adalah komunikasi dua arah .
    Sama dengan kalau kita berbicara dengan seseorang .
    Jadi saling bercakap dalam keadaan hening dan tenang .
    Hanya salahnya, banyak yang berdoa nyricisb(mbrondong ) . . . seperti peluru yang keluar dari senapan autmatis.
    Tidak memberi kesempatan yang diajak bicara untuk menjawab . . .
    Terus memberondong dengan segala permintaan .
    Bahkan berani menyuruh dengan permintaan yang aneh-aneh , seolah TUHAN itu jongos nya.
    Sembuhkan aku ya TUHAN , kasih aku berkat yang berlimpah . . . Jauhkan aku dari segala penyakit dll…
    Semua merupakan perintah . . . Hahahahahahaha . . . ! ! !
    Padahahl TUHAN begitu baiknya , melihat kita dengan senyum, merasa sedikit aneh melihat tingkah kita .
    Seperti Sarah yang umur 2 tahun, semua yang baik, ingin dia miliki, tidak ingat yang lain nya .

    Doa juga merupakan ucapan SYUKUR . . .
    Akan segara berkat dan dalam doa , kita belajar menenangkan diri kita agar semakin bisa mendengarkan suara TUHAN .
    Doa pujian, kita bisa iiringi dengan is´nstrument seperti gitar atau teppuk tangan sambil menyanyikan pujian .Karena kita sadar, bahwa kita itu hanya debu dan akan kembali menjadi debu .

    Banyak yang salah berdoa, karena minta kesabaran, untuk sabar ya harus latihan .
    Dan untuk latihan, maka diberi persoalan . Jadi semakin parah .
    Mintalah KEKUATAN , agar bila ada persoalan datang, kita bsa menanganinya ( menyelesaikan nya )
    Hahahahahahaha . . . . ( Dj. yang sok tahu )

    Apalagi kalau sudah kaya, pintar, dia pikir dia sudah biisa menggantikan TUHAN .
    Karena merasa kuat dan tidak perlu TUHAN lagi .
    Nah inilah akibat ketamakan, akan menjadi fatal.
    Semoga kita selalu dilindunginya , di tahun yang baru ini.
    Salam manis dari Mainz .

  3. james  1 January, 2016 at 08:45

    iyah ci Lani, bener karena Samoa dan Kiribati duluan tahun barunya karena time zone itu

  4. Lani  1 January, 2016 at 08:19

    James: Kemungkinan bisa begitu lebih dulu time zone nya dibanding dgn OZ, krn melihat dr map nya sejajar dgn Indonesia

  5. james  1 January, 2016 at 08:16

    ALVINA, horreee thank you buat sharing komennya bagus euy

    ci LANI, itu seingat saya sekitar tahun baru an 2012 gitu ditayang di TV Ozi bahwa pulau itu akan lebih duluan masuk tahun barunya

  6. Lani  1 January, 2016 at 04:52

    Al: Aku setuju dgn positive thinking………mungkin aku bisa bilang it’s a must! Soalnya klu komplain terus menerus malah mendatangkan kesialan

  7. Alvina VB  1 January, 2016 at 04:47

    Numpang sharing…..forward dari seorg kawan kemarin:
    (ada bagusnya punya positive thinking & be grateful)

    Seorang suami duduk di ruang kerjanya, mengambil penanya: & mulai menulis :
    ✏ Tahun ini, saya harus dioperasi untuk mengeluarkan batu empedu. Saya harus terbaring cukup lama di ranjang.

    ✏ Di tahun yg sama saya berusia 60 th & harus keluar dari pekerjaan di perusahaan percetakan yg begitu saya senangi, yg sudah saya tekuni selama 30 thn.

    ✏ Di tahun yg sama saya ditinggalkan papa yg tercinta.

    ✏ Dan masih di tahun yg sama anak saya gagal di ujian akhir kedokteran, karena kecelakaan mobil. Biaya bengkel akibat kerusakan mobil adalah bentuk kesialan di tahun itu.

    Akhirnya dia menulis :
    Sungguh ! Tahun yg sangat buruk !

    Istrinya masuk ke ruangan & menjumpai suaminya yg sedang sedih & termenung. Dari belakang sang istri melihat tulisan sang suami. Per-lahan2 ia mundur & keluar dari ruangan, 15 menit kemudian dia masuk lagi & meletakkan sebuah kertas berisi tulisan sbb :

    ✏ Tahun ini akhirnya saya berhasil menyingkirkan kantong empedu saya yg selama ber-tahun2 membuat perut saya sakit.

    ✏ Tahun ini sy bersyukur bisa pensiun dgn kondisi sehat walafiat. Sekarang saya bisa menggunakan waktu saya untuk menulis sesuatu dgn fokus yg lebih baik & penuh kedamaian.

    ✏ Pada tahun yg sama ayah saya yg berusia 95 tahun, tanpa kondisi kritis menghadap Sang Pencipta.

    ✏ Dan masih di tahun yg sama, Tuhan melindungi anak saya dari kecelakaan yg hebat. Mobil kami memang rusak berat akibat kecelakaan tsb, tapi anak saya selamat tanpa cacat sedikit pun…

    ✏ Pada kalimat terakhir ia menulis :
    Tahun ini adalah tahun yg penuh berkah & kami lalui dgn takjub.

    Sang suami tersenyum & mengalir rasa hangat di dadanya atas interpretasi rasa syukur atas tahun menakjubkan yg dilewatinya.

    Dear friends…

    Di dalam hidup ini kita harus mengerti bahwa bukan kebahagiaan yg membuat kita bersyukur. Namun rasa syukurlah yg membuat kita bahagia.

    Berlatihlah melihat suatu masalah dari sudut pandang positif. Mari kita lalui th 2015 dgn ucapan syukur.

    Be grateful for what you have and stop complaining…

    Selamat mempersiapkan diri memasuki tahun 2016..‎

  8. Lani  1 January, 2016 at 04:44

    James : silahkan dibuka http://www.worldatlas.com/webimage/countrys/oceania/ki.htm

  9. Lani  1 January, 2016 at 04:38

    James: aku familiar dgn nama kepulauan itu, akan ttp tdk tau klu itu lebih dulu time zone dibanding dgn OZ.

    Aku kurang mengenal kepulauan itu apakah indah ya? Mungkin perlu bantuan mang google nih

  10. james  1 January, 2016 at 04:08

    mbak Lani, kalau gak salah kepulauan Kirribatti gitu ? lupa deh…..

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *