Nikah itu Mudah, yang Bikin Sulit itu Adat, Budaya dan Gengsi Orangtua

Dewi Pobo

 

Jamannya babe masih sangat kolokan, beliau pernah berpesan “menikahlah dengan orang jawa, dari kasta yang sama, dan PNS”. Kok ya apes anaknya “mbeling” semua, tak satu pun menikah dengan orang jawa, tak satupun mantunya PNS. Lha dalah. Yah… yang legawa ya Be.. terima saja kalau selera dalam memilih pasangan hidup di antara kita berbeda.

nikah

Ngomong ngomong soal judul di atas, pasti banyak yang senyum senyum malu mengiyakan, hayolah.. mengaku saja. Banyak kok temannya, you are not alone.

Ini beberapa cerita cerita pernikahan:

Sebutlah Rita, seorang sarjana yang fresh graduate, berpacaran dengan Rito yang masih belum lulus kuliah S2. Hubungan keduanya mendapat restu dari kedua belah pihak, sayangnya si Rito ini belum lulus kuliah, tapi orang tua Rita pengin anaknya segera menikah dengan Rito yang konon katanya agak kaya (orang tua Rito maksudnya), tapi kok agak gengsi juga kalau anaknya nikah dengan pemuda yang belum lulus kuliah.

Apalagi orang tua Rita ini merasa agak terpandang di kampungnya. Kalau dapat mantu lulusan S2 kan agak sedikit terangkat derajat kesombongannya. Kong kalikong, orang tua Rita pun punya ide, sulap pun jadi. Undangan disebar bahkan disebar ke dosen-dosennya Rito.

“Lho Rito kemarin masih masuk kelas ku lho, dia kan belum lulus, wong tesis aja belum. kok ini undangannya sudah bergelar M.Eng” begitu komentar dosennya, ya iya lah pak dosen, itu M.Eng nya bukan master engineering tapi master Engapusi. Lho, jadi sudah lulus apa belum si Rito? Belum.. belum lulus dia, baru mau, itupun kalau mau menyelesaikan. Orang tua Rita senang dapat banyak pujian. Wah mantune master. Hoki ya.. menggelembung rasanya dada orang tua Rita karena bahagia.

Sementara orang tua Rito ketar-ketir takut tetangga tau kalau sebenarnya anaknya belum lulus. Setahun dua tahun pernikahan, Rito pun mulai sibuk cari nafkah untuk menghidupi istri dan lupa untuk melunasi hutang Master  di undangan pernikahannya. Ternyata melunasi hutang gelar itu lebih sulit dari pada mencetak undangan palsu. Rito galau karena mertua “ngoyak-ngoyak” untuk segera menyelesaikan kuliahnya. Mertua ternyata ingin kebahagiaan yang sesungguhnya, bukan kebahagiaan palsu seperti gelar di undangan nikah. Kebahagiaan palsu itu ternyata cuma selesai di resepsi pernikahan saja, setelah selesai acara, semuanya bubar. What a comedy.

 

Cerita lain lagi, sebutlah Rosa, orang tuanya tinggal di desa berprofesi sebagai petani. Rosa kuliah di kota, ketemu pujaan hati yang berasal dari kota lain, mereka memutuskan untuk menikah, riangnya hati orang tua Rosa bakal dapat calon mantu orang kota. Maka di sebarlah woro woro “anak ku akan menikah dengan orang kota, kaya tentunya” bagi orang tua Rosa, semua yang tinggal di kota itu kaya. Lha kok calon mantu datang ke rumah orang tua Rosa hanya membawa pakaian yang melekat di badan. Orang tua Rosa pusing tujuh keliling menutupi rasa malunya.

Jual tanah adalah solusi untuk membiayai prosesi pernikahan anaknya. Apa mau dikata, orang kampung terlanjur percaya calon si Rosa kaya. Sepetak tanah pun di jual dengan harga 50 juta untuk membiayai pernikahan Rosa. Tanah lenyap, uang dari hasil menjual tanah pun lenyap secepat lenyapnya sate kambing yang tersedia di meja prasmanan. Bahagia sehari di pesta pernikahan, setelah itu bertahun-tahun hidup orang tua Rosa ngenes, tanah tempat bercocok tanam yang menghasilkan uang sudah jadi milik orang lain, sekarang orang tua Rosa bekerja serabutan untuk nyambung hidup. Rosa pun tak kalah pahitnya, hidup di kota dengan penghasilan pas pas-an, mau pulang kampung takut tambah membebani orang tuanya. What a tragedy.

 

Masih soal gengsi ortu nih, pernah nggak dapat undangan nikah, trus di bawahnya ada tulisan: turut mengundang pak RT, pak RW, pak Dukuh, Pak Lurah, Pak Camat, Pak Bupati, Pak Polisi, Pak Haji, pak Hakim, pak Dokter, Pak Guru? Horok… ini yang nikah mau nakut-nakutin warga biar pada datang apa gimana ? Kok pakai ancaman halus yang ngundang banyak banget sampai pak polisi pun ikut mengundang, apa sekalian pengobatan gratis kok ada dokter segala, eh jangan jangan mau dapat amplop dari Bupati karena bentar lagi musim coblosan, jadi sekalian pas ngumpul di acara nikah bagi bagi amplop nya. Sebenarnya maksudnya apa ya, lucunya lagi kadang-kadang yang turut mengundang nggak tahu yang diundang siapa. Coba sekali-kali yang diundang itu ketemu dengan yang turut mengundang di acara nikahan, terus yang diundang bilang “wah… saya ke sini karena Bapak turut mengundang saya lho” terus di jawab “lho.. anda siapa ya?” What a invitation.

 

Ini ada lagi yang lebih menggelikan, sebutlah Yanto namanya, berniat meminang gadis pujaan, kebetulan pula si gadis selain berparas cantik, pandai pula orangnya. Sudah ketemuan orang tua segala, tapi kenyataan tak sejalan dengan hasrat hati, karena mereka cekcok dan menyadari bahwa tak ada cinta di antara keduanya. Tapi sudah terlanjur lamaran, undangan sudah dicetak, sanak saudara sudah dikabari. Masing-masing orang tua dari kedua belah pihak protes “Mau ditaruh di mana ini muka orang tua mu kalau sampai pernikahan ini nggak jadi?” Horok.. ya di taruh di tempat biasanya aja lah, lha wong mereka sudah sepakat nggak mau nikah kok. Tapi ya gitu, setelah di wanti-wanti, disebut sebagai anak durhaka, tak tahu balas budi dan lainnya, akhirnya mereka dinikahkan. Kali ini pernikahan atas nama rasa malu orang tua. What a Sacrifice.

 

Cerita yang lainnya, Rani hamil sebelum nikah, maka cepat-cepatlah orang tua menikahkan Rani dan pacarnya bukan untuk menyelamatkan baby dalam kandungan tapi lebih menyelamatkan rasa malu. Sayangnya mereka dinikahkan saat kandungan sudah menginjak usia 7 bulan. Dua bulan kemudian babynya lahir. “itu Rani bayinya prematur” begitu kilah orang tua Rani. What a mistery.

 

Yang ini lain lagi ceritanya, sebutlah Rohani yang baru tamat SMA. Jatuh cinta sama Rudi, 16 tahun, tidak sekolah. Keduanya saling mencintai walau pun masih cinta monyet. Orang tua Rudi sudah parno hubungan cinta kedua anak bau kencur digosipin tetangga. Orang tua Rudi pun menikahkan mereka berdua, karena umur Rudi baru 16 tahun, maka KTP Rudi pun dibuat dan umurnya dipalsukan 20 tahun. Nah kalau yang ini sih sebenarnya nggak cocok sama judul di atas, judul yang cocok untuk kasus ini “nikah itu mudah, apalagi didukung ortu”. What a drama.

 

Ada juga orang tua pendendam dan anak berbakti. Sang anak jatuh cinta pada bule. “mau jadi apa kamu nikah sama bule? Mau ditaruh mana muka Bapak mu? Mereka itu menjajah nenek moyang kita, sekarang kamu mau menikah dengan mereka? Tujuh turunan Bapak nggak setuju!!”  sang anak hanya sanggup menangis di kamar. Sang pacar bule kehilangan akal meyakinkan Bapak pacarnya kalau dia tidak menjajah nenek moyangnya, hanya menjajah isi hati anak gadisnya saja. Demi rasa tanggung jawab Bapak telah membuat anaknya nangis, sang Bapak mencarikan calon suami sebangsa, anaknya manut, walau hatinya nggak bisa move on dari mas bule. What a story.

 

Tapi ada juga orang tua dan anak sama sama keras kepala. Kasusnya sama, anaknya pacaran sama bule, sumpah hidup sampai mati orang tuanya nggak setuju, segala daya upaya di lakukan termasuk memaksakan pasangan bulenya untuk pindah keyakinan agar hubungannya direstui. Ternyata tidak berhasil, orang tua tetap nggak setuju. “Udah abang bela belain pindah agama lho dik, kurang apa abang ini”. Merasa orang tuanya keras kepala, anaknya pun ikut ikutan keras kepala, “Pokonya walau Bapak nggak setuju, aku tetap akan nikah”. Maka menikahlah mereka tanpa restu dari orang tua. “Mulai saat ini, kamu bukan lagi anak ku” begitu kata kata Bapak ketika sang anak memutuskan tetap menikah. Sabar to pak, jangan memaksakan kehendak. Jodoh itu di tangan Tuhan, masak lupa? What a funny story.

 

Roni, ingin meminang Rika, tapi ya mikir lagi, adatnya itu lho, harus ada ini ada itu, seserahan sekian, mahar sekian, biaya ini itu sekian, kalau nggak dituruti gimana, nanti nyalahin adat, eh nyalahin adat sih mungkin Roni sanggup, tapi sanksi tak tertulis yang diberikan oleh masyarakat setempat terhadap dirinya karena dianggap menyimpang, itu yang Roni nggak sanggup. Roni lebih sanggup membujang sampai sekarang dari pada dikucilkan masyarakat karena nyalahi adat. Membujang sambil sekali kali membayangkan “andai menikah tak perlu ini itu, kita sudah bersama sayang”. What a dream

 

Nah kalau Hayati, pas mau nikah dulu, Mami dan Babe bikin list undangan, ada 1000 nama boook… itu pun Mami bilang “ini udah Mami kurangin, tadinya ada 1500” jedeeer!! Bayangin kalau itu diundang semua, terus datang bawa pasangan dan bawa anak, Ya Allah… ada dua ribu orang yang datang sodara-sodara, apa nggak gempor tangan ini nyalamin dua ribu orang, dan aku nggak kenal semua tentunya wong itu temannya Mami dan Babe. Gontok-gontokan sama Mami dan Babe…

Hayati mau yang simpel aja, karena biaya nikah ditanggung sendiri tanpa sponsor ortu termasuk ongkos ojek semua didanai sendiri, Irit Be, sudah kuniatkan tabungan ku bukan untuk pesta pernikahan, tapi untuk keperluan lain Be, ini yang nikah aku lho Be, please Be.. ini bukan bermaksud jadi anak nggak berbakti Be, beda kemauan dan selera itu jangan disalah artikan nggak berbakti Be, please Be, masak tega sih Be, aku kerja, nabung bertahun-tahun hanya untuk pesta 2 jam? Baru dengar aja udah pilu rasa hati ini Be, Babe ngambek, Mami ngambek. Cuma sebentar ngambeknya, melihat anaknya hidup bahagia dan dapat cucu cantik dan lucu Mami dan Babe udah nggak ngambek lagi.

Begitulah, banyak kisah drama dalam pernikahan, yang sebenarnya nggak perlu ada, asal ya itu…. legawa saja lah dengan apapun keputusan si calon mempelai. Anyway, kalau ternyata semua jalan menuju pelaminan sudah ditempuh tapi masih belum bisa nikah juga, karena adat, budaya dan gengsi ortu, solusinya cuma satu, pacaran saja tengah malam di Purwakarta…

 

 

24 Comments to "Nikah itu Mudah, yang Bikin Sulit itu Adat, Budaya dan Gengsi Orangtua"

  1. Evi Irons  10 January, 2016 at 16:19

    panjang banget ya ceritanya! nanti kalau ada waktu saya baca sampai habis. Memang masalah perkawinan adalah salah satu masalah yang pelik, urusan cinta adalah penemunya tapi harus pakai logika juga untuk memikirkan bagaimana masa depan terutama pasangan itu sendiri.

    Orang tua terlalu mencampuri urusan anak-anaknya padahal yang mengalami dan mejalani pernikahan adalah anak itu sendiri, orang tua hanyalah membantu meringankan, mencari solusi, dsb.

    Belum lagi masalah agama! Saya sendiri mending cari bule aja deh, habisnya cari cowok Indonesia saya tidak beruntung, beda agama lah, sama agama tapi pengangguran, orang tua gak setuju, reeeepott DEEEEHHHH!!!!!

  2. Lani  2 January, 2016 at 15:58

    James : ternyata kamu menggunakan aji mumpung ya hahaha………..aku msh lama pensiunnya, gini2 aku lebih muda dari kamu ya kkkk

  3. J C  2 January, 2016 at 09:05

    Cerita seperti ini bukan saja terjadi di Indonesia, di China juga buanyaaaakkkk…

  4. Linda Cheang  2 January, 2016 at 08:54

    what the wedding stories, hehehehehe

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.