[Di Ujung Samudra] Konser Ungkapan Hati

Liana Safitri

 

“PERTANYAANMU sungguh aneh! Lydia dan Franklin kakak beradik, kami sudah menjelaskannya sejak dulu,” ujar Tian Ya geli.

“Yang aneh adalah Lydia dan Franklin! Kemarin saat kita minum teh, Franklin menatap Lydia dengan… Ah, aku bingung bagaimana menjelaskannya! Yang pasti aku merasa ada sesuatu di antara mereka berdua.”

Tian Ya tidak tahu “sesuatu” apa yang dimaksud Fei Yang. Tapi ia tidak mau berpikir tentang apa pun yang bisa merusak pernikahannya dengan Lydia. “Mungkin itu hanya perasaanmu saja. Lydia dan Franklin memang sangat dekat. Hubungan persaudaraan mereka sering membuat orang lain iri.”

Fei Yang menggeleng. “Jangan bohong Tian Ya. Aku memperhatikan mereka sejak lama. Sejak kau dan Lydia belum menikah dan masih tinggal di apartemen bersama Frida. Ketika kau bertengkar dengan Lydia dan membuatnya meninggalkan rumah. Tiba-tiba Lydia muncul bersama seorang pria, yang dia kenalkan sebagai kakak. Waktu itu aku belum belajar bahasa Indonesia. Meski tidak mengerti apa yang mereka katakan, aku bisa melihat kalau Franklin selalu melindungi Lydia, juga sangat perhatian padanya. Saat Franklin menghilang diculik anak buah Xiao Long, Lydia meminta pertolongan padamu dan Xing Wang. Dia menunggu dengan gelisah, terus-menerus menyalahkan diri sendiri. Kemudian setelah Lydia batal pulang ke Indonesia karena kau menyusulnya di bandara, Franklin sepertinya sangat marah padamu…”

“Fei Yang!”

Fei Yang tidak peduli, ia terus berbicara, “Dan seharusnya kau bisa melihat ini… Lydia dan Franklin pernah tinggal di hotel yang sama dalam satu kamar! Kau tahu aku punya adik laki-laki. Tapi jangankan tidur sekamar, Fei Xiang masuk ke kamarku sembarangan saja aku akan marah! Sedekat apa pun saudara, jika mereka laki-laki dan perempuan, mereka harus menjaga privasi masing-masing.”

“Kubilang hentikan!” Tian Ya berteriak. Semua pengunjung restoran segera berpaling ke meja Tian Ya dan Fei Yang.

Fei Yang mengamati Tian Ya beberapa detik. “Kenapa, Tian Ya? Sepertinya kau marah? Katakan padaku, kau juga merasakan hal yang sama, kan?”

“Baiklah…” Tian Ya memegang kepala dengan kedua tangannya lalu berkata pelan namun jelas, “Lydia dan Franklin… adalah saudara angkat!”

“Apa kaubilang? Saudara angkat?” Fei Yang sangat terkejut.

“Sebenarnya aku tidak ingin menceritakan masalah ini kepadamu karena menyangkut rahasia banyak orang. Tapi daripada kau berpikir yang bukan-bukan kurasa lebih baik kau mengetahui fakta yang ada di antara keluarga Franklin, keluarga Lydia, dan keluargaku…” Tian Ya menarik napas dalam-dalam. “Ayah Franklin adalah seorang pengusaha. Suatu saat ayah Franklin mengalami berbagai masalah. Dari mulai kesulitan keuangan dan pengkhianatan dari orang dalam. Ketika itu papaku yang berada di Indonesia mengenal ayah Franklin dengan baik. Papa memberikan pinjaman dana pada ayah Franklin dengan harapan bisa mencegah kebangkrutan usaha ayah Franklin. Tapi kemudian tiba-tiba pabrik milik ayah Franklin terbakar. Ayah Franklin lalu menuduh papaku sebagai musuh dalam selimut dan melaporkan papa. Papaku berada dalam kebingungan yang luar biasa. Papa curiga pelaku sebenarnya adalah asisten pribadi papa yang diam-diam tidak suka padanya. Tapi orang itu langsung menghilang sehari setelah membakar pabrik ayah Franklin. Yang dapat dilakukan papaku selanjutnya hanyalah berjuang keras di pengadilan agar dia bisa lepas dari tuduhan pembakaran itu. Papaku berhasil membuktikan dirinya tidak bersalah, tapi tidak sanggup menyeret assten pribadinya yang licik itu. Kebakaran pabrik ayah Franklin dianggap sebagai kecelakaan biasa. Ayah Franklin dihadapkan pada kenyataan pahit. Dia sudah tidak memiliki apa-apa, tapi juga masih punya tanggungan utang yang harus dibayarkan pada papaku. Tidak dapat bertahan, ayah Franklin lalu gantung diri. Tiga hari setelahnya ibu dan adik perempuan Franklin ikut bunuh diri dengan meminum racun.”

Fei Yang belum pernah mendengar cerita ini. Ia tidak menyangka jika Franklin memiliki masa lalu yang demikian suram.

Ternyata Franklin juga sudah tidak punya orangtua, tidak punya keluarga!

“Franklin tidak hanya kehilangan ayah, ibu, dan adik perempuannya, dia pun kehilangan seluruh harta benda peninggalan orangtuanya. Rumah dan tanah, semua harus dijual untuk melunasi utang-utang ayah Franklin semasa hidup. Franklin mengalami depresi berat sampai harus dimasukkan ke rumah sakit jiwa. Waktu itu papaku sebenarnya ingin menolong Franklin. Tapi dia terlambat karena Franklin telah dibawa pergi oleh salah seorang sahabat ayahnya, yaitu ayah Lydia. Ayah Lydia mangangkat Franklin sebagai anak. Papaku lalu mengajak aku dan mama pulang ke Taiwan dengan membawa perasan bersalahnya. Oleh karena itu Franklin pernah menaruh dendam padaku, menganggap keluargaku sebagai penyebab kehancuran keluarganya. Kalau sekarang aku dan Franklin bisa berteman baik, itu karena Lydia menjadi istriku. Ikatan pernikahan kami memperbaiki hubungan dua keluarga yang dulu bermusuhan.”

“Kemudian… setelah sekian lama tumbuh bersama sebagai kakak dan adik… Franklin mulai menyukai Lydia?” tebak Fei Yang.

“Ya! Franklin merasa berutang budi pada keluarga Lydia. Dia berusaha menjadi anak sekaligus kakak yang baik. Setelah dewasa Franklin menyadari jika rasa sayangnya pada Lydia telah berubah menjadi cinta. Orangtua Lydia pun sudah sejak lama ingin menjodohkan Lydia dengan Franklin. Namun Lydia menolak. Waktu Lydia menyebut namaku di depan ayah dan ibunya, mereka marah besar. Siapa itu Li Tian Ya? Kenapa dia menyukai laki-laki asing yang jauh-jauh dari Taiwan? Orangtua Lydia tidak pernah membiarkanku melewati ambang pintu rumah mereka. Aku dan Lydia sempat melarikan diri dan bersembunyi di suatu tempat, namun kami tertangkap. Pesta pernikahan antara Lydia dan Franklin benar-benar dilaksanakan. Aku tidak mau menyerah begitu saja dan menyusun rencana pelarian yang kedua. Akhirnya aku dan Lydia sampai di Taiwan. Apa yang terjadi selanjutnya kau sudah tahu…”

Fei Yang semakin penasaran, “Apakah pada saat Lydia menikah denganmu dia masih menjadi istri Franklin?”

“Tentu saja tidak! Mau tidak mau Franklin harus menceraikan Lydia. Bagi Lydia, pernikahannya dengan Franklin hanya sebuah upacara yang dilakukan untuk menyenangkan orangtuanya. Franklin bodoh sekali kalau masih meneruskan pernikahan sandiwara itu!”

“Kenapa kalian membohongiku?” tanya Fei Yang.

“Tidak ada yang membohongimu, Fei Yang! Lydia dan Franklin memang bersaudara, meski hanya saudara angkat. Lagi pula waktu itu kau belum dekat dengan Lydia dan Franklin, wajar kalau mereka tidak mau terlalu banyak bicara padamu.”

“Ternyata begitu…” Tiba-tiba hati Fei Yang terasa nyeri. “Berarti dugaanku tidak salah, kan? Masih ada kemungkinan bahwa Franklin masih mencintai Lydia.”

“Aku tidak pernah menyangkal kemungkinan itu, tapi aku tidak peduli! Yang bisa aku lakukan sekarang adalah berusaha sekuat tenaga mempertahankan Lydia. Untukku, untuk Louis…” Tian Ya menyandarkan tubuh ke kursi. Untuk mencairkan suasana ia berkata ringan, “Ngomong-ngomong, kenapa tiba-tiba kau menanyakan tentang hubungan Lydia dan Franklin? Setahuku kau tidak suka mengurusi masalah pribadi orang lain, kecuali jika… kau tertarik dengan orang itu?”

Kalimat Tian Ya yang terakhir tampaknya tepat mengenai sasaran karena wajah Fei Yang langsung berubah. Gadis itu masih tidak berkata apa-apa ketika Tian Ya berdiri. “Maaf Fei Yang, waktu istirahatku sudah habis!”

Setelah mengetahui hubungan yang sebenarnya antara Franklin dengan Lydia, Fei Yang tidak pernah lagi pergi keluar dengan Franklin. Ia seperti sengaja menghindar. Yang dilakukan Fei Yang setiap hari adalah pergi mengajar les piano kemudian sampai di rumah bermain piano lagi.

Dulu dari kamarnya Franklin sering mendengar suara Fei Yang belajar bahasa Indonesia. Sekarang sudah berganti dengan denting piano yang mengalun lembut setiap malam seperti lagu pengantar tidur. Franklin berpikir, mungkin Fei Yang sedang senang-senangnya bermain piano, jadi ia tidak ingin mengganggu. Pemuda itu kembali melewati hari-harinya dalam kesendirian.

 

Lydia dan Tian Ya tidak punya waktu lagi untuk mengurusi Franklin atau Fei Yang, karena sibuk mengurus buah hati mereka! Saat berada di kantor, Tian Ya meminta Lydia mengirimkan foto atau video Louis setiap waktu. Ini menjadi penghilang lelah sekaligus hiburan tersendiri baginya. Bulan demi bulan berlalu. Louis tumbuh dengan cepat dan menakjubkan.

Foto Louis sedang tengkurap—Papa, sekarang Louis sudah bisa membalikkan badan!

Foto Louis sedang duduk sambil melambaikan tangan—Halo Papa… Louis sudah bisa duduk!

Foto Louis sedang merangkak—Lihatlah, Louis tidak bisa diam! Merangkak ke sana kemari membuat mamanya kewalahan!

Tian Ya selalu ketinggalan selangkah dibanding Lydia dalam mengikuti perkembangan Louis.

Ketika Louis belajar bicara, kata pertama yang keluar dari bibirnya adalah, “Ma!” Lydia senang bukan main, lalu memamerkannya pada Tian Ya begitu pria itu pulang kerja. “Dia memanggilku, ‘Ma!’ Ayo Louis, biarkan Papa mendengarnya! Katakan sekali lagi, Ma-ma…”

Dengan wajah polos Louis mengulang, “Ma…! Ma…!”

Tian Ya terkejut. Ia membungkukkan tubuh lalu menunjuk diri sendiri, “Kalau ini siapa? Papa!”

“Ma!”

Tian Ya menggeleng. “Bukan, bukan!” Ia mengulang tiap suku kata dengan perlahan-lahan, “Pa-pa…”

Mata Louis berkedip menatap Tian Ya, tapi lagi-lagi yang diucapkan adalah, “Ma!”

“Iya, itu Mama! Tapi ini Papa!” Tian Ya menepuk-nepuk dadanya. “Coba katakan, Pa… pa…! Pa-pa!”

“Ma!”

“Papa!”

“Ma!”

Semakin keras Tian Ya membujuknya mengucapkan “Papa”, Louis juga semakin keras berteriak, “Ma!” Tian Ya merasa seperti sedang diejek oleh anaknya sendiri! Lydia tidak bisa menahan tawa melihat kelucuan Louis dan kekesalan Tian Ya.

Tian Ya mengempaskan diri duduk di sebelah Lydia. Sambil mengamati Louis ia bertanya iri, “Kenapa dia terus memanggilmu māma (妈妈—mama), tapi tidak mau memanggilku bàba (爸爸 —papa)?”

“Kita tidak bisa mengajarinya dalam waktu satu hari! Kau harus lebih sabar…”

Tian Ya menanti-nanti saat Louis memanggilnya “papa”. Selama beberapa hari di waktu pagi, jika Louis belum bangun Tian Ya akan mengusik anak itu dengan membisikkan kata “papa” berulang-ulang. Kemudian Lydia memarahi Tian Ya, “Jangan diganggu! Biarkan dia tidur!”

Siang itu ketika Tian Ya sedang rapat di kantor, ada seseorang yang meneleponnya. Ia melihat tulisan di layar.

Qīn’ài de (亲爱的—Sayang).

Tian Ya menempelkan ponsel ke telinga lalu berkata lirih, “Ada apa Lydia? Bicara singkat saja! Aku sedang rapat!” Tapi tidak terdengar apa-apa selain bunyi gemerisik tidak jelas. “Kenapa, Lydia? Cepatlah!” Di ujung meja Tuan Li diam-diam memperhatikan Tian Ya. “Kalau kau tidak segera bicara akan aku tutup teleponnya!” kata Tian Ya kesal.

Kemudian Tian Ya mendengarkan suara kecil yang tidak jelas. Dahinya berkerut. Bukan suara Lydia. Kalau begitu ini suara…

“Pa! Pa… pa…!”

Tentu saja suara Louis! Saking gembiranya Tian Ya langsung melonjak dari kursi, membuat semua orang di ruangan tersebut memperhatikan dirinya.

“Li Tian Ya!” Tuan Li berseru keras. “Bagaimana menurutmu? Apa nama yang cocok untuk produk baru kita?”

“Papa!” Tian Ya menatap Tuan Li dengan mata bersinar-sinar. “Akhirnya dia bisa mengatakan ‘Papa’! Dia memanggilku papa!” Seperti anak kecil, Tian Ya menunjukkan ponselnya ke hadapan semua orang. “Louis memanggilku papa! Ini bagus sekali, kan? Papa!”

Semua orang di ruangan itu menggeleng-gelengkan kepala dan tertawa. Mereka berbisik-bisik.

“Pak Direktur sudah jadi ayah!”

“Baru dipanggil papa saja senang sekali!”

“Maklumlah, anak pertama!”

Tuan Li tidak tahu apakah harus marah atau ikut tertawa. Ini untuk kedua kalinya Tian Ya membuat kekacauan di kantor karena sebuah ponsel! Akhirnya Tuan Li hanya berkata, “Kalau rapat ini cepat selesai, kalian semua juga bisa segera pulang untuk bertemu dengan anak dan istri masing-masing!”

Tian Ya kembali duduk dengan wajah memerah. Dalam hati ia bertanya-tanya seperti apa reaksi papanya yang galak itu ketika Tian Ya pertama kali memanggil “papa”?

 

Setelah beberapa bulan menolak bertemu dan berbicara dengan Franklin, hari ini Fei Yang berdiri di depan pintu rumah pemuda itu dan mengulurkan selembar tiket. “Besok Sabtu jam delapan malam, datanglah menghadiri konser pianoku.”

Di hari pertunjukan, Lydia, Tian Ya, dan Xing Wang datang lebih awal dari jadwal. Mereka menemui Fei Yang di belakang panggung untuk memberi dukungan. Tubuh Fei Yang dibalut gaun hitam tanpa lengan, dihiasi kalung dan anting yang serasi. Rambutnya dicat kecokelatan. Wajah Fei Yang berseri, tampak lebih bahagia daripada biasanya. Tentu karena bisa kembali lagi ke dunia yang dicintainya.

Lydia berseru, “Kau sangat cantik, Fei Yang!”

“Kau juga cantik,” balas Fei Yang. “Oya, bagaimana dengan Louis?”

“Kami meninggalkan Louis di rumah nenek dan kakeknya,” kata Tian Ya. “Lagi pula kami bisa pergi berdua seperti ini menjadi kesempatan langka sekarang!” Lydia langsung mencubit Tian Ya hingga pria itu mengaduh kesakitan.

Xing Wang tidak mau kalah. “Hari ini aku menutup kafe untuk mempersiapkan diri menghadiri konser pianis terkenal Xu Fei Yang! Jadi kau harus memberikan penampilan yang terbaik!”

“Aku akan bermain sebaik mungkin!”

“Sepertinya kau sedikit gelisah. Apa kau sedang menunggu seseorang, Fei Yang?” tanya Lydia.

Fei Yang menatap Lydia ragu, “Franklin… apakah hari ini dia sudah menghubungimu?”

“Kakak?” Lydia justru baru sadar kalau ada yang kurang di antara mereka. “Benar juga, ke mana dia, ya? Kakak sama sekali tidak meneleponku. Tapi mungkin sebentar lagi datang.”

Sebentar lagi… ya, aku harus menunggu sebentar lagi…

“Ternyata Fei Yang cukup terkenal juga, ya!” Lydia berbisik pada Tian Ya yang duduk di sebelahnya.

“Bukan hanya cukup terkenal, tapi memang sangat terkenal!”

“Kelihatannya kau sangat mengerti masa lalu Fei Yang,” Lydia berkata kurang senang.

“Hei, jangan lupa… aku tinggal lama di Taiwan, dan Fei Yang adalah mantan kekasihku! Seleraku tidak sembarangan!”

“Apa? Lalu kenapa kau memutuskan Fei Yang dan malah menikah denganku?”

“Karena aku lebih suka novelis daripada pianis!” kata Tian Ya dengan nada nakal.

“Aku tidak percaya!” sembur Lydia.

Tian Ya mati-matian menahan tawa melihat wajah Lydia merah padam. “Sttt, jangan bicara lagi! Lihat, lampu panggung meredup! Sepertinya konser akan segera dimulai…”

Di belakang panggung Fei Yang menatap cermin dengan tegang. Tangannya sedingin es. Seorang wanita yang lebih tua daripada Fei Yang datang menghampiri dan berseru terkejut, “Fei Yang, apa yang kaulakukan? Sekarang waktunya kau naik panggung!”

“Apakah… apakah tidak bisa ditunda beberapa menit lagi?”

“Kau sudah gila, ya? Jangan bercanda! Ayo cepat, tidak ada waktu lagi!”

Tepuk tangan membahana ke segala penjuru begitu Fei Yang muncul di panggung. Mata gadis itu menyapu bangku penonton. Lydia, Tian Ya, Xing Wang, Fei Xiang, serta beberapa sahabat Fei Yang yang lain duduk di barisan paling depan. Tapi ada satu bangku yang kosong, itu milik Franklin. Fei Yang menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan diri. Ini adalah pertunjukan pertamanya setelah sekian lama vakum. Jangan sampai mengecewakan banyak orang hanya gara-gara satu orang!

Lagi pula Franklin bukan siapa-siapa…

Panggung dengan sebuah piano, adalah tempat yang sangat dikenal Fei Yang lebih daripada rumahnya sendiri. Begitu menyentuh piano, Fei Yang seakan menebarkan kekuatan magis. Ia mampu membawa orang-orang pergi menuju dunia berbeda di setiap pergantian lagu. Dan sepanjang waktu konser Fei Yang tak bisa berhenti memikirkan Franklin. Mencari-cari alasan yang dapat digunakan sebagai pembenaran, mengapa pemuda itu tidak datang. Mungkin Franklin sibuk. Mungkin ada urusan penting dan tak bisa ditinggalkan. Mungkin sedang menemui seseorang untuk membicarakan masalah pekerjaan. Fei Yang berharap Franklin akan muncul di tengah-tengah pertunjukan. Namun menjelang lagu terakhir harapan tersebut sirna.

“Terima kasih karena kalian sudah datang ke konserku. Aku senang… ternyata masih banyak yang ingin melihatku bermain piano. Setelah sekian lama meninggalkan panggung, aku melihat begitu banyak perubahan yang terjadi. Aku yakin kalian juga begitu. Dulu yang menonton konser sendirian, barangkali sekarang sudah datang bersama kekasih, suami atau istri. Yang tidak banyak berubah mungkin hanya aku…” Tenggorokan Fei Yang seperti tersumbat batu besar. “Malam ini aku akan memainkan sebuah lagu yang spesial untuk seseorang yang spesial. Tidak peduli dia mendengarnya atau tidak, lagu ini kupersembahkan untuknya…”

Kiss the Rain.

Tian Ya sempat bergumam, “Sepertinya aku tahu siapa orang spesial yang dimaksud Fei Yang.”

“Tentu saja kau tahu, kau kan mantan kekasihnya!” Lydia kembali berkata sinis.

“Aku tidak sedang bercanda!”

Fei Yang mengakhiri konsernya dengan sukses. Saat ia membungkukkan badan pada penonton, sekali lagi terdengar tepuk tangan menggelegar. Namun hati Fei Yng terasa kosong. Apalagi saat orang satu per satu mulai meninggalkan aula konser. Lydia, Tian Ya, dan Xing Wang kembali mendatangi Fei Yang.

“Wah… Fei Yang, pertunjukanmu sungguh luar biasa!” Lydia berkata sambil memeluk Fei Yang.

“Tidak salah kau memutuskan kembali bermain piano, aku tahu kemampuanmu masih sama seperti dulu,” Tian Ya menimpali.

“Mau ke kafe sekarang? Kita rayakan keberhasilan Fei Yang dengan mengobrol sampai pagi sambil minum kopi!” Xing Wang menawarkan.

Fei Yang tersenyum kaku, tampak tidak bersemangat. “Terima kasih. Tapi mungkin lain kali saja, sekarang aku sangat lelah…”

Tian Ya tahu apa yang membuat Fei Yang jadi seperti ini. Ia bertanya simpati, “Kau baik-baik saja, Fei Yang?”

Fei Yang menggeleng pelan.

“Tidak apa-apa Fei Yang, aku juga pernah dikecewakan sepertimu. Dulu ketika diminta membacakan puisi dalam sebuah acara aku sangat mengharapkan kehadiran seseorang yang dapat memberi semangat. Tapi orang yang kutunggu-tunggu malah tidak datang! Laki-laki memang suka mengingkari janji!” Sambil berkata demikian Lydia melirik ke arah Tian Ya.

“Hei, itu kan sudah lama berlalu! Kenapa kau masih mengingatnya? Sama seperti aku, Franklin pasti punya alasan kenapa tidak…” Tian Ya tidak sempat menyelesaikan kalimatnya karena pada saat itu orang yang bukan siapa-siapa berlari mendekati mereka.

piano-ungkapan-hati

Franklin.

Semua orang terkejut. Tian Ya yang pada awalnya berniat membela Franklin langsung berbalik menyalahkannya, “Kenapa kau baru datang? Kau tahu jam berapa sekarang?”

Franklin tidak memedulikan Tian Ya. Ia berdiri beberapa langkah di hadapan Fei Yang, menundukkan kepala menatap gadis itu. “Sudah… terlambat?”

Fei Yang sangat kesal pada Franklin yang dengan mudahnya mengucapkan kata-kata itu. Sudah terlambat? Terlambat itu jika ia datang lebih lambat lima atau sepuluh menit dari sejak konser dimulai. Terlambat itu kalau ia menyusup ke tengah-tengah penonton dan mencari bangku kosong untuk diduduki. Terlambat itu bila ia masih bisa mendengarkan beberapa lagu Fei Yang secara utuh. Tapi Franklin datang di saat konser sudah berakhir, ketika semua penonton sudah pulang, dan bahkan tidak sempat mendengarkan lagu Kiss the Rain yang khusus dipersembahkan Fei Yang untuknya. Jadi bukan terlambat lagi namanya! Fei Yang balas memandang Franklin. Namun entah bagaimana setelah Franklin ada di dekatnya, kekesalan Fei Yang langsung hilang tak berbekas. Fei Yang tersenyum, sebuah senyuman yang paling cerah. “Tidak terlambat! Karena ini konser pertamaku, aku akan berbaik hati mengulang bermain piano bagi siapa saja yang datang terlambat!”

Tiba-tiba Fei Xiang muncul dan bertanya pada Fei Yang, “Kakak, acaranya sudah selesai, kan? Apakah kita bisa pulang sekarang?”

Tian Ya menarik Fei Xiang menjauh. “Kau pulang sendiri saja! Kakakmu sudah ada yang akan mengantar pulang!”

Fei Xiang melihat Franklin. Barulah ia paham apa yang dimaksud Tian Ya. Fei Yang pasti ingin menghabiskan lebih banyak waktu bersama tetangga sebelah! “Oh… ya, ya! Aku tahu! Baiklah, aku akan pulang sendiri. Kalau Kakak tidak mau pulang juga tidak apa-apa! Selamat bersenang-senang…”

Di depan banyak orang Fei Yang hanya bisa melotot pada Fei Xiang.

“Kalau begitu aku dan Lydia pulang sekarang. Kami sudah meninggalkan Louis terlalu lama, kasihan anak itu,” kata Tian Ya.

“Aku juga harus pulang, Fei Yang! Mau membereskan kafe…”

Dan tinggallah Franklin dan Fei Yang berdua saja.

Franklin menatap Fei Yang dengan penuh penyesalan seraya berkata, “Jam tanganku rusak lagi… Kau tahu kan, aku tidak terbiasa menggunakan penunjuk waktu lain kecuali jam tangan yang sering kupakai itu.”

“Ya…”

Jam tangan Lydia! Apakah Franklin mengira kalau keterlambatan menghadiri konser sama dengan keterlambatan menunggu bus?

“Pertunjukannya pasti meriah sekali, ya? Kau pasti mendapatkan sambutan yang luar biasa dari para penggemarmu setelah sekian lama tidak tampil.”

“Tidak peduli seperti apa sambutan yang diberikan kepadaku, aku punya tanggung jawab. Kalau sudah berani memulai harus selesaikan sampai akhir. Aku tidak akan berhenti hanya karena ada yang memandangku dengan sebelah mata, menganggapku tidak penting hingga mengecilkan arti keberadaanku, atau mengatakan aku jelek. Aku hanya akan berhenti apabila aku memang ingin berhenti. Bahkan jika orang yang aku harapkan tidak memberikan dukungan…”

Franklin terdiam, menyadari jika yang dimaksud gadis itu adalah dirinya.

Fei Yang berusaha mengendalikan perasaannya saat teringat pada istri Tian Ya. Bukan salah Lydia, Franklin-lah yang sampai sekarang masih belum bisa melupakan masa lalu. Karena Franklin sudah menyempatkan diri datang kemari meski tahu bahwa konser sudah berakhir, Fei Yang tidak bisa mengabaikannya. “Kau lebih beruntung daripada penonton yang membeli tiket VVIP karena bisa mendengarkan permainan pianoku secara pribadi di tempat yang megah. Tapi aku hanya akan mengulang satu buah lagu.”

“Apa?”

Fei Yang kembali naik ke atas panggung dan duduk di kursi piano. Ia bergeser sedikit, menepuk bagian kursi yang disisakan untuk Franklin. Kemudian dengan enggan Franklin duduk di sebelah Fei Yang. Barulah Fei Yang menyebutkan satu judul lagu, “Kiss the Rain!”

Jari-jari gadis itu menari lincah di atas tuts piano. Membius satu-satunya pendengar yang duduk di sampingnya. Menciptakan suasana sendu dan sejuk, menebarkan aroma hujan yang menghanyutkan sekaligus mempesona. Setelah lagu berakhir Franklin membuka mata. Meski sebelumnya sudah sering mendengar melalui CD, lagu Kiss the Rain yang dimainkan Fei Yang terasa lebih bernyawa, juga lebih hidup.

“Bagus sekali! Kali ini aku mengatakannya bukan karena ingin menghiburmu, tapi karena benar-benar bagus! Permainan piano terindah yang pernah kudengar!”

“Setelah tahu kalau lagu kesukaanmu adalah Kiss the Rain, aku berusaha mempelajarinya. Aku bertekad akan membawakan lagu ini sebaik mungkin untukmu.”

“Tapi…” Franklin merasa heran, “kenapa kau melakukannya? Apakah karena aku membelikanmu piano?”

Fei Yang menggeleng. “Masih ada alasan lain…”

“Alasan apa?”

“Karena aku mencintaimu!” Kalimat itu dikatakan Fei Yang dengan sangat jelas, matanya langsung menatap ke dalam mata Franklin. Membuat Franklin tertegun selama beberapa detik sebelum rona merah di pipi Fei Yang tampak.

Apa? Dia tadi bilang apa? Cinta?

Fei Yang tidak mungkin menarik kata-kata yang terlanjur terucap. Untuk menutupi rasa malu dan gugupnya gadis itu melanjutkan bicara tanpa titik koma, “Aku belajar bahasa Indonesia karena kau adalah orang Indonesia! Seandainya kau orang Korea, maka aku akan belajar bahasa Korea! Aku ingin berbicara denganmu, aku ingin kita bisa berkomunikasi tanpa hambatan! Aku berbohong ketika mengatakan bahwa aku sedang menulis buku tentang Indonesia! Aku sama sekali tidak suka menulis, sejak sekolah menulis adalah tugas yang paling aku benci! Tapi aku melakukan itu hanya karena ingin lebih dekat denganmu! Juga pada saat aku memutuskan untuk kembali bermain piano, kau menjadi alasan utamaku! Karena aku mencintaimu! Karena aku menyukaimu!”

Sementara Franklin dibuat terkejut oleh pernyataan cinta Fei Yang, saat itu Lydia dan Tian Ya baru ke luar dari gedung konser.

“Kulihat Fei Yang mulai menyukai kakakmu!” kata Tian Ya.

“Jangan sembarangan mengambil kesimpulan! Kakak memang sudah lebih akrab dengan Fei Yang, tapi bukan berarti dia menyukainya. Seandainya tadi kita tidak datang kurasa Fei Yang juga akan sama kecewanya.”

“Tidak, tidak akan sama!” Tian Ya menggeleng. “Aku tahu bagaimana sikap Fei Yang jika dia tertarik pada seseorang. Tergambar jelas di wajahnya. Kau kan wanita, seharusnya kau lebih peka terhadap masalah seperti ini!”

Lydia seperti mendapat kesempatan. “Jadi Fei Yang memiliki ekspresi wajah yang sama saat menyukaimu dulu?”

Tian Ya tertawa mendengarnya. “Hubunganku dengan Fei Yang tidak penting lagi, itu sudah menjadi masa lalu. Sedangkan masa depan Fei Yang mengarah pada kakakmu…”

“Kau yakin sekali! Padahal kakak sepertinya tidak peduli.”

“Aku kira itu karena Franklin masih menyukaimu!” Tian Ya berkata dengan santai.

Lydia mendengus. “Kalau sampai di rumah kita bertengkar, kaulah penyebabnya! Mungkin Fei Yang bisa tertarik pada kakak, tapi kalau kakak tidak menanggapinya percuma saja!”

“Kau ini justru tidak ingin kalau Franklin mulai menjalin cinta dengan gadis lain atau bagaimana?”

Tiba-tiba ada yang menepuk bahu Lydia dari belakang sambil berseru, “Hei!”

Lydia dan Tian Ya sama-sama membalikkan tubuh.

Di hadapan mereka, seorang laki-laki setengah baya menatap Lydia dari atas ke bawah. “Bukankah kau yang di kelab malam waktu itu?”

 

 

6 Comments to "[Di Ujung Samudra] Konser Ungkapan Hati"

  1. J C  7 January, 2016 at 13:59

    Woalaaaaaahhhh Franklin jiaaaannn gebleeekkk…

  2. Liana  6 January, 2016 at 10:05

    Alvina: Aduh… kasihan sekali itu anaknya…
    Mb Lani: Tidak akan ada gara-gara lagi kalau sudah tamat.

  3. Alvina VB  5 January, 2016 at 04:49

    Hadir James…walaupun telat. Baca cerita ini, jadi inget salah satu konser piano anak saya duluuuu waktu masih kecil, bpknya muncul pas anaknya dah selesai konsernya dan anak saya ptotest, krn bpknya ikutan acara utk org2 mati di sini, dibilangnya org mati kok lebih penting dari yg masih hidup, he..he…. Ditungguin dah lanjutan ceritanya apa Franklin berubah hatinya…

  4. Lani  5 January, 2016 at 01:02

    James: kenthir dr Kona telat lagi, tp mahalo udah diingat……………

    Liana: wadoh ada gara2 lagi nih………………

  5. djasMerahputih  4 January, 2016 at 13:51

    2. Hadirr…
    Nonton konsernya paling depann….

  6. james  4 January, 2016 at 12:00

    1…..menantikan Para Kenthirs pada Konser

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.