STRESS

Anwari Doel Arnowo

 

STRESS artinya tekanan, ketegangan dan lain-lain yang menyebabkan rasa kurang nyaman kepada tubuh kita. Sebabnya banyak yang berasal dari luar tubuh kita, akan  tetapi makin lama makin biasa kita bisa menerima juga, bahwa sesungguhnya banyak yang karena ulah yang asal muasalnya dari dalam tubuh kita sendiri. Ini yang amat sering tidak diakui oleh si pemilik tubuh. Adalah “normal” sebagian besar manusia ini, menyalahkan unsur dari luar tubuhnya sendiri. Gangguan kondisi keuangan atau berita kecil dalam perbedaan paham saja, karena salah dalam menerimanya dan tata caranya, menjadikannya  seorang yang mengalami tertimpa kondisi stress. Marilah kita mulai mencari apa saja stress itu.

Hanya karena diundangkan sebuah peraturan baru mengenai tata cara untuk syarat-syarat memenuhi kualifikasi menjadi mahasiswa di Fakultas Kedokteran misalnya, mungkin saja membuat stress kedua orang tua anak yang sedang duduk di kelas 11, yang dua tahun lagi baru akan mengalaminya. Kedua orang tuanya belum tuntas membaca dengan paripurna, belum jelas apa saja  isi utama peraturannya, sudah pula tertimpa stress.

Langsung mulai mengangkat topik ini, berbicara telepon dan sarana komunikasi lain dengan teman-teman. Teman sejawat, kolega sepergaulan yang ujung-ujungnya akan membuat dia amat kebingungan terhadap sesuatu yang terbukti malah membingungkan dia sendiri.

Berputar-putar seperti inilah yang membuat perasaan menjadi tidak nyaman. Yang diajak berbicara sajapun belum tentu bereaksi sama tegangnya dengan orang tua si anak tersebut. Dalam misal seperti ini maka stress akan dekat sekali atau malah sudah mulai muncul secara menonjol. Sebabnya terlalu amat peduli dengan sesuatu yang belum jelas. Menyadari yang masih belum jelas, dia malah menambah masalah baru: mulai berhitung-hitung bagaimana caranya bila saatnya tiba harus mengeluarkan uang untuk biaya ini dan itu. Uang yang akan ditabung saja belum tau akan didapat dari mana, sudah bingung terlebih dahulu. Bertambahlah tingkatan rasa kurang nyamannya, menjadi-jadi. Selamat datang stress ……

Penyebab yang datang dari luar tubuh sendiri juga amat banyak sekali, tak terhingga macam-macamnya. Kita khawatir peperangan di Timur Tengah yang tiada henti hentinya menyebabkan nyawa melayang akan meluas dan Indonesia mempunyai umat Muslim terbesar di se antero dunia. Di dalam pemahaman Muslim sendiri masih banyak kekerasan menjadi benturan dan konflik di antara  pemahaman-pemahaman yang ada. Semua pihak merasa dirinya paling benar.

Begitu yakinnya memihak kepada kebenaran sehingga entah berapa banyak saudara-saudara kita jumlahnya, yang telah rela meninggalkan Republik Indonesia pergi ke sana, dan malah membawa keluarganya ikut serta.

Kita boleh setuju atau menentang, tetapi saya pandang pendirian dan tindakan seperti ini bukan masalah mudah, oleh karena kepercayaannya sudah kuat sekali.

Itulah sebabnya sudah sejak masa muda saya dahulu  mencari tau dengan diam-diam mengamati tingkah laku bangsaku sendiri dalam tata cara berpikir mengenai kehidupannya sendiri. Yang menyedihkan oleh karena pandangan hidup yang kurang memahami, menyingkat cara berpikirnya dengan meniru sesuatu yang wah wah saja. Melihat orang kulit putih yang hidupnya terlihat amat luxe dibandingkan dengan hidup sesama bangsanya sendiri, maka tergiurlah dan merasa meningkat mutunya bilamana bisa meniru-niru dengan cara yang semirip-miripnya, semirip orang kulit putih. Dengan bangsa Arab juga demikian. Maka dengan amat mudah kebudayaan Arab banyak di“photo-copyserupa sama dan juga sebangun. Cara berkata-kata, tata cara berbudaya yang dipercayai akan membawa ke surga di kehidupan setelah mati nanti dan seterusnya. Masya’allah!

Sekumpulan kecil saja berhaluan seperti itu maka akan lebih dahsyat geraknya secepat api yang merembet di tumpukan gambut, menyebabkan tersebar liarnya kabut asap kebakaran di langit Asia Tenggara.

Karena percaya sebab memang memahami, pasti akan berlainan dengan hanya percaya saja. Percaya saja akan mengakibatkan berkurangnya mutu tindakan dan juga mutu reaksinya. Dan berakhir dengan pasti: hilangmya akal sehat. Akal sehat seperti apa yang hilang?

Lihatlah berapa banyak keluarga yang berpindah dengan sembunyi-sembunyi menuju ke Syria dan negara-negara sekitarnya yang sedang terlibat peperangan  ISIS. Bukankah pikiran kurang sehat bila mengajak anak istri pergi berpindah ke tempat tinggal di situ? Berbahaya sekali bagi keluarga dan diri sendiri, bukan?

Biarpun menerima gaji tinggi dibandingkan dengan di negeri sendiri, tetapi dengan berpindah, bukankah tindakan seperti itu adalah membahayakan keluarga sendiri? Bilamana sang suami yang kepala keluarga meninggal dunia dalam peperangan, segudang uang apakah lebih berarti bagi sebuah keluarga yang tidak utuh? Krisis keuangan keluarga itu adalah peristiwa sesaat di dalam kehidupan keluarga di dalam jangka panjang kehidupannya. Tetapi dengan terhentinya hidup sang kepala keluarga, maka timpanglah kehidupan bagi mereka yang ditinggalkannya. Selamat datang stress berat !!

Stress seperti ini bilamana diusut, sebab asal mulanya adalah dari pikiran yang ada di dalam kepalanya kepala  keluarga. Ditularkan kepada sekelilingnya: anak istrinya.

Ini adalah tragedi, seperti pindah ke daerah puncak sebuah gunung api yang hampir meletus. Itu pandangan  saya dan tentunya akan banyak yang sama dengan pendapat seperti ini dari khalayak, baik para pembaca maupun mereka yang belum membaca tulisan ini. Saya beranikan diri saya mewakili mereka yang diam-diam saja, tidak berani mengemukakannya. Oleh karena saya menyebut diri saya sebagai seorang penulis, BUKAN PENGARANG, maka itulah yang mendasari saya mulai menuliskannya.

Bisa diterima ataupun tidak itu sudah bukan masalah atau tanggung jawab saya lagi. Sudah saya keluarkan dari diri saya dengan harapan agar bisa dipergunakan oleh masyarakat umum, siapapun serta kepercayaan apapun yang diyakininya. Negara ini dan bangsa ini, yang ada di dalamnya bisa terbentuk bilamana komunitas terkecilnya, yakni keluarga, dapat melangsungkan jalannya kehidupan dengan tenang dan nyaman. Semua orang tau bahwa peperangan sepanjang adanya kehidupan makhluk-makhluk, utamanya makhluk manusia, BELUM pernah terjadi ada masa damai biarpun hanya satu minggupun, sepanjang tahun . Setiap saat di atas Planet Bumi ini selalu ada perang.

Abad yang lalu ada Perang Dunia KE SATU dan Perang Dunia KE DUA Pada akhir perang yang ini saya terlahir ke dunia pada tahun 1938. Pada masa kanak-kanak saya, orang tua saya mengungusi ke kota Malang dan Blitar sejak awal pendudukan Jepang dan Nica belanda. Nica datang mengagresi Republik Indonesia yang telah merdeka.

NICA belanda menyerahkan keadaulatan kepada Indonesia pada 27 Desember, 1949. Tanggal inilah yang diakui pemerintah belanda sebagai hari kemerdekaan Repoeblik Indonesia Serikat. Sampai hari ini masih tanggal itulah pemerintah belanda bersikukuh mengakui, meskipun sang ratu belanda sudah menunjukkan kemauannya mengakui 17 Agustus, 1945.

Kalau pemerintah belanda mengakui seperti ratunya, maka periode 17 Agustus 1945, status beradanya belanda di wilayah Repoeblik Indonesia sampai tahun 1949 adalah sebagai AGRESSOR yang memenuhi syarat untuk disebut sebagai PENJAHAT PERANG DENGAN AGRESI. Ini akan menyebabkan adanya pembayaran pampasan perang, yang paling ditakuti oleh pemerintah belanda. Selama masa agresi ini di luar Indonesia masih ada masa  berkecamuk peperangan antara Korea Utara dan Selatan, sampai hari ini belum ada perdamaian.

Setelah masa ini timbul peperangan di Viet Nam, kemudian Libanon, Perang Malvinas, Irak-Iran dan Israel – Mesir. Perang-perang di benua Afika: ada Konggo, Uganda, Sudan dan Aljazair lain-lain, capek hati menyaksikannya. Sejak awal Perang Dunia ke Satu Amerika Serikat hampir SELALU  terlibat ikut serta atau menjadi penyebab di dalamnya. Masih belum saya ingatkan dan masukkan bahwa Rusia juga terikut di dalam perang di mana-mana ditambah ketegangan panasnya perang dimgin politik Timur lawan Barat dan ideologi komunis dan kapitalisme macam-macam. Menulis inipun saya sudah mau stress. Termasuk waktu ada peristiwa perang makar PRRI dan Permesta.

Perang ini  sesungguhnya adalah urusan di dalam Negara NKRI sendiri. Sepanjang abad yang lalu saya mengalami seperti begitu, potret yang saya saksikan dan alami sejak saya masih kanak-kanak. Yang nyata paling gencar ikut berperang di luar negerinya sendiri, adalah Amerika Serikat. Belum ada perang di dalam negerinya sendiri, kecuali dengan adanya peristiwa World Trade Center di New York yang ditabrak oleh sebuah pesawat terbang penumpang komersial yang dikendalikan oleh Pilot asal dan ras dari  bangsa Timur Tengah yang sudah mantap dibrainwashed.

Kejadian peperangan bermusuhannya antara bangsa bangsa di seluruh dunia inilah saya selalu menjaga diri saya. Saya jaga apanya? Saya TIDAK MAU TERLIBAT di dalam kepercayaan, pendirian dan politik serta ideologi apapun yang nuansanya akan mungkin bisa membawa diri saya bermusuhan dengan manusia lain yang terlalu berat. Yang paling utama setiap hari saya hanya ingin tetap berbuat yang baik terhadap sekeliling saya. Terhadap semua makhluk termasuk binatang besar atau kecil dan tumbuh-tumbuhan. Manusia lain yang beregesekan dengan hidup saya atau berbuat salah kepada saya, DENGAN SEGERA saya maafkan saja, sebelum diminta. Jiwa saya lebih tenang, agar sedikit saja jumlah dendam saya. FORGIVE AND FORGET.Begitu saja kok repot, kata GUSDUR, juga saya. Posititifnya dari kata stress. STRESSED dibaca dari arah belakang saja akan menjadi DESSERTS.

 

Anwari Doel Arnowo – 14 Nopember, 2015

 

 

5 Comments to "STRESS"

  1. J C  7 January, 2016 at 13:58

    Pak Anwari, kalau saya tidak mau stress ah…

  2. Handoko Widagdo  5 January, 2016 at 09:25

    Saya kagum dengan Vietnam yang dengan cepat bisa forgive dan maju ke depan.

  3. Lani  5 January, 2016 at 01:04

    James: mahalo udah diingat…………….soal stress, nampaknya ndak bs dihindari 100% akan ttp dilimitisasi………serendah mungkin…………….

  4. djasMerahputih  4 January, 2016 at 13:48

    1…. say Yes to Dress.
    Hadir bang James..

    Kalo soal perang sih sudah nggak aneh. Ada promotor dan sponsornya sendiri, hanya pada nggak mau ngaku… Dunia belum bisa damai saat uang masih berkuasa…. bilipit or not..!!

  5. james  4 January, 2016 at 12:02

    1……say No to Stress

    mana mau para Kenthirs ditunggu kena Stress?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.