Jas Hujan dan Empati yang Tertinggal

Meitasari S Mberok

 

Pagi ini hujan rintik-rintik. Jalanan masih basah dan licin. Semalam hujan, meski tidak deras tapi cukup awet.

Rapat semalam di rumah untuk membahas Natal Wilayah di rumahku berakhir pukul 21.30. Tetapi para tamu masih menunggu hujan berhenti. Hingga jam menunjukkan pukul 22.15 barulah mereka meninggalkan rumah. Mungkin sungkan.

Seperti biasa aku mengantar Vento ke sekolah. Kali ini tidak terlalu pagi, karena ulangan akhir semester sudah berakhir. Biasanya ia masuk pukul 06.25, tapi beberapa hari ini ia masuk pukul 07.00.

Sepanjang jalan menuju kantor, padat merayap. Orang-orang mengemudikan kendaraan dengan hati-hati. Sesampai di pom bensin Kaligawe, terlihat air mulai mengenang cukup tinggi. Kira-kira setengah ban motor. Aku pun bertarung melawan banjir, melawan arus dan air yang berlomba membasahi celana dan kakiku juga barisan motor dan mobil yang cukup menyebabkan macet.

Sungguh, perjalanan mencari segenggam berlian yang cukup menantang. Medan yang cukup berat untuk sampai ke Kantor. Belum lagi buangan sisa-sisa semen limbah pabrik depan kantor yang dibuang seenaknya. Jika panas terik, sisa-sisa semen itu menjadi debu yang pekat beterbangan melukai mata. Sedangkan jika hujan, akan menjadi jebakan lumpur lendut. Dua hari lalu, hampir saja aku bersama motorku jadi monumen. Aku terjebak pada kubangan limbah buangan semen itu seperembat dari tinggi ban kira-kira. Olala …..

Akhirnya, sampai juga aku di kantor. Seperti biasa, aku cuci dulu motorku, agar sisa-sisa semen itu tidak mengeras di mesin motor. Lalu kuparkirkan di tempat yang telah disediakan.

Seorang teman juga memarkirkan motornya, sambil mengambil baju dan celana yang ada di jok motornya. Baju dan celana yang dipakainya basah, meski tidak kuyup. Dengan ceria dia bercerita.

empathy

“Untung hujan ga terlalu deras. Aku ndak bawa jas hujan. Semalam ada teman yang dolan. Rumahnya jauh. Tak suruh bawa wae jas hujanku. Trus temanku tanya lha sesuk kowe piye. Mengko nek kudanan. Halah… ra sah dipikir…” Temanku berkisah sambil terkekeh.

Pikiranku melayang pada pertemuan semalam. Teman-teman yang hadir rata-rata tidak membawa jas hujan. Seorang ibu separuh baya yang ikut hadir di pertemuan itu, tidak membawa jaket apalagi jas hujan. Tetapi karena hujan tidak mereda, akhirnya ia nekat.

Setelah semua tamu pulang, aku berkemas, dan melihat 2 jas hujan teronggok di atas motor. Ah… aku menyesal kenapa tidak kupinjamkan pada ibu tadi. Mengapa, aku kurang peka. Kenapa spontanitas empatiku tidak terasah?

Kubandingkan diriku dengan temanku ini. Seorang yang sangat sederhana. Tetapi dia memang luar biasa. Dulu saat api hampir menghanguskan kantor, dia pula yang tampil pertama, berkuyub-kuyub memadamkan api dan berkotor-kotor ria menyelamatkan yang ada. Begitu juga ketika temannya membutuhkan jas hujan, dia serahkan miliknya satu-satunya.

Aku???

Aku bergumam dalam hati: Maafkan aku ya bu, semoga engkau tidak masuk angin.

 

#Refleksi

Semarang, 17 Desember 2015

 

 

About Meitasari S

Seorang istri dan ibu pekerja yang karena pilihan kehidupan, menahkodai keluarganya paralel dengan suaminya yang satu di Jakarta dan satu lagi di Semarang. Jiwa sosialnya yang tinggi, membuatnya terlibat juga dalam kepengurusan salah satu sekolah asrama di Jawa Tengah dan juga dalam lembaga sosial Anak-anak Terang yang mendanai anak-anak kurang mampu untuk menempuh pendidikan yang lebih baik.

My Facebook Arsip Artikel

8 Comments to "Jas Hujan dan Empati yang Tertinggal"

  1. Nur Mberok  12 January, 2016 at 08:18

    @ James : Hai james…. long time no spik2… hahahaha

    @ Kakang DJ, yup… betul sekali. Tuhan masih menyediakan stok banyak untuk orang-orang baik…. Terimakasih untuk sharingnya

    @ Pak Handoko, wkakakakak… waaa. Oke Dah siap mijiti. Paket komplit…

    @ Kang Djas, yup betul. Nah spontanitas itu lah yang perlu dilatih… betul ?

    @ Yu Lani, seperti kang Djas bilang, spontanitas orang berbeda-beda. Nah itulah yang terjadi, karena tidak terasah maka jadinya lola… wkwkwkwk

    @Alv : Yes… buanyak buanget.. Cuma kadang -kadan suka tuli. Hahahahaha

    @ JC : Wakakakkakak…. tak catat ya… Awas jas hujan nek gak dikirim… hahahahahaha

  2. J C  7 January, 2016 at 14:03

    Nyah Mberok tumben jejeg? Wis nanti ta’belikan jas hujan yang banyak untuk ditaruh di rumahmu ya…

  3. Alvina VB  7 January, 2016 at 12:09

    Baru sempet baca artikel ini. Thanks for sharing, Meita…masih ada kesempatan lain utk berempati…

  4. djasMerahputih  6 January, 2016 at 07:00

    Hadir bang James..
    Spontanitas setiap orang berbeda-beda, sehingga respon terhadap berbagai situasi juga berbeda. Turut berdoa juga semoga si ibu tak masuk angin..

  5. Lani  6 January, 2016 at 01:22

    James: mungkin para kenthirs lainnya sdg ngiyuuuuuuuup krn kehujanan hahaha……………

    Nur Mberok: kadang kita suka lupa…………..atau malah kelupaan dan sengaja lupa? Hayo milih sing endi?

  6. Handoko Widagdo  5 January, 2016 at 16:06

    Wajib ngeroki yen masuk angin.

  7. Dj. 813  5 January, 2016 at 15:12

    Tiada maaaaf . . .
    Olahnya jadi orang tidiak boleh egois, sana beli 100 jas hujan dan kasihkan orang di jalanan yang kehijanan .
    Hahahahahahahaha . . . ! ! !
    Dj. juga pernah mengalami , saat hujan dan ngeyuuup di depan toko .
    Tahunya ada pekerja jalanan yang sedang memperbaiki trotoar didepan toko tsb.
    Dia bekerja dengan memekai jashujan .
    Dia mendatangi Dj. den memberi jas hujan dari plastik yang masih baru .
    Rupanya dia telah memperhatikan Dj. dan mungkin merasa kasihan.
    Ternyata masih ada orang yang baik .

    Salam manis dari Mainz.

  8. james  5 January, 2016 at 13:53

    1……apa Nuchan dah muncul lagi ?

    kemana para Kenthirs ?

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.