BERSAMA-SAMA

Anwari Doel Arnowo

 

Sudah sejak umur 5 tahunan saya mendengar kata Gotong Royong ketika ayah saya bertempat tinggal di Gang Genteng Arnowo di sebelah kediaman Bupati di Kota Soerabaia. Gang Genteng Arnowo ini masih ada ketika saya mampir di sana sekitar dua tahunan yang lalu.

Arnowo adalah nama kakek saya yang adalah bapak dari ayah saya. Beliau sudah meninggal dunia pada tahun 1923. Beliau adalah seorang yang bekerja sebagai mandor gula meskipun pekerjaannya adalah menyelia (manage) dan memimpin sejumlah pekerja pengangkut karung gula dari area pelabuhan, memangulnya dan menaruhnya di palka (sebuah ruang di dalam lambung kapal, sebagai tempat menyimpan barang yang akan diangkut) sebuah kapal, yang akan pergi berlayar mengangkutnya ke luar Tanjoeng Perak, Soerabaia yang kebanyakan adalah tujuan-tujuan  internasional. Sebagai seorang mandor seperti ini adalah kedudukan terhormat melebihi kehormatan anggota sebuah badan kegislatif saat ini di NKRI dalam status, di masa itu.

Itu bisa diamati dari segi perolehan penghasilan dan dari penilaian “derajat” oleh masyarakat umum di sekitar. Kakek Arnowo adalah juga Kepala Kampoeng di Gang Genteng itu. Ketika beliau meninggal dunia, masyarakat menamai gang itu menggunakan nama beliau untuk ruas sepanjang gang itu. Sayapun sempat beberapa tahun tinggal di situ sampai dengan Nopember 1945.

Ini saya tuliskan ketika berita media-media amat membuka banyak kedok yang tidak terhormat para anggota, juga Ketua dari sebuah badan legislatif itu sendiri sejak bulan Nopember 2015 yang lalu. Jadi tidak benar bahwa di Soerabaia, gang itu dinamakan Genteng Arnowo oleh karena ayah saya menjabat Walikotamadya Soerabaia awal 1950 s/d 1952 (kemudian ditulis menjadi Soerabaja dan berubah lagi menjadi Surabaya sampai sekarang).

Juga bukan oleh Walikotamadya Doel Arnowo ada nama jalan Ir. Anwari di kota itu karena menurut nama yang sama dengan nama saya. Ir. Anwari adalah insinyur orang Indonesia pertama di Indonesia, lebih dahulu bergelar insinyur karena Soekarno yang juniornya belum lulus sebagai insinyur.

Informasi menyebutkan ada dokumen resminya yang dikeluarkan oleh PII (Persatuan Insinyur Indinesia). Ir Anwari adalah sahabat adik dari ayah saya, bernama Witono. Ir. Anwari ini meninggal dunia dan beberapa waktu kemudian saya lahir pada tanggal 17 Mei, 1938. Saya diberi nama menggunakan nama Ir. Anwari. Dengan demikian maka jelas Ir. Anwari ini diangkat sebagai orang terkemuka setara pahlawan, karena ikut melawan belanda ketika Soekarno diadili. Soekarno dituntut di muka hakim (Ada photonya di dimuat di dalam buku Dibawah Bendera Revolusi) karena berlawanan dengan pemerintahan belanda pada waktu itu.

Beliau  ini  adalah paman dari Ibu LB. Benny Moerdani, bekas Kepala Staf  ABRI. Sebagai pamannya, beliau ini  berpesan dan titip kepada Soekarno agar ikut menjaga keponakannya. Hal inilah yang menyebabkan mengapa  resepsi pernikahan perwira muda Angkatan Darat itu diadakan di Istana Bogor di mana Boeng Karno pernah  bertempat tinggal beberapa lamanya.

Jamuan di Istana itu terdengar oleh masyarakat, amat terkesan bagus dan mewah, akan tetapi seseorang yang hadir di situ mengatakan kepada saya bahwa sungguh hidangannya didominasi dengan masakan sederhana seperti sayur lodeh dan sebangsanya. Jadi nama jalan ini hanya demikian kisahnya, bukan KKN Walikotamadya Soerabaia atau Soerabaja. Saya hanya diberi nama karena ayah saya mengikuti perkembangan Anwari sahabatnya adiknya Witono dan mengikuti juga Soekarno yang sudah bersahabat baik sejak masa muda, sejak Soekarno bertempat tinggal mondok di rumah Haji Oemar Said Tjokroaminoto di jalan Plampitan Gang sekian yang letaknya di seberang sungai (Genteng Kali) yang melintas sepanjang jalan Genteng berhadap-hadapan dengan  Gang Arnowo ini. Ayah saya sering hanya berenang untuk mencapai seberang ke jalan Plampitan (sekarang jalan Haji Achmad Djais).

Kembali ke masalah Gotong Royong, semangat inilah yang ingin saya jadikan pokok pembicaraan.

Di antara para senior, kata ini sungguh amat terkenal dan tentu saja semangatnya saya harap masih hidup saat ini dan seterusnya.

Akan tetapi entah apa demikian para pemuda yang masih  ada dan hidup pada saat ini dalam hal semangatnya? Pada suatu hari, di kelas 2 SMP Negeri VII yang terletak di Jalan Perwira, sebelah Gedung Pertamina sekarang dan di seberang Masjid Istiqlal, guru saya, ingin tau dan mendengar apa kesan utama yang saya rasakan setelah pindah ke Jakarta. Sambil berjalan ke depan kelas saya berpikir, dan klik, rasanya ada ingatan saya terhadap masalah gotong royomg.

Saya sering menjemput teman sekelas saya, Onny Soerjono, yang rumahnya di Gang Petodjo Enclek. Onny kemudian ternyata menjadi seorang penyanyi yang amat mashur di kalangan luas. Saya berangkat dari rumah ayah saya naik sepeda dari Jalan Surabaya 13, Menteng ke Petodjo Enclek. Kemudian bergantian saya bonceng dia atau sebaliknya, menuju ke sekolah. Saya melihat di daerah Petodjo, hampir seluruh saluran air yang ada di daerah itu dipenuhi dengan sampah. Kotor dan amat jorok. Saya bercerita dengan mengabaikan bahasa yang sering saya isi dengan istilah-istilah setempat Surabaya, yang menerbitkan gelak tawa teman-teman saya yang memberi julukan saya sebagai Jawa Kowek. Saya ceritakan seadanya dengan bahasa saya apa-apa saja yang saya rasakan.

Teman sekelas sibuk menertawakan saya terhadap apapun yang saya katakan karena accent bicara saya. Bahasa Suroboyoan yang menurut pikiran orang Betawi sedikit udik atau orang Jawa bilang ndeso atau country like accent begituuu .. . Tetapi mereka tidak lagi tertawa ketika saya ceritakan mengenai saluran air yang banyak sampah itu.

Saya bilang bahwa di Surabaya, hal seperti ini dilawan dengan cara bersama-sama seluruh penduduk sebuah kampoeng yang juga merembet ke kampoeng lain secara gotong royong, secara serentak dan bersama-sama, membersihkan sampah yang ada di seluruh saluran. Nah gotong royong ini juga dilakukan di waktu para pemuda mulai melucuti Jepang dengan paksa dan ada peristiwa  kesuka-relaan tentara Dai Nippon menunduk dan takluk kepada para penduduk sipil di Surabaya.

Pada waktu seperti ini tanpa diminta semua penduduk mulai serentak membuat dapoer oemoem menanak nasi dalam jumlah besar dan menyiapkan laoek paoeknya. Makanan ini untuk mereka yang sudah pulang berhasil ataupun tidak berhasil merampas senjata-senjata tentara Jepang. Ada beberapa orang yang membawa Katana (Pedang Tentara yang sering disebut dengan istilah yang salah: pedang Samurai). Samurai itu adalah kata ganti orangnya yang sebenarnya pekerjaannya setingkat bangsawan yang jagoan dan selalu membawa pedang dua bilah, satu yang panjang dan satu lagi yang pendek. Pedang panjangnya itulah yang disebut dengan kata Katana.

Nah Tentara Dai Nippon ini memang dilengkapi dengan pedang, tetapi buatan yang jauh lebih rendah mutunya.

Itu bilamana  dibandingkan dengan Katana yang biasa digunakan oleh para Samurai itu yang beratnya bisa mencapai 11 kilogram. Mereka yang membawa Katana ini saya lihat masih ada darahnya dan, menurut ceritanya, sang Tentara yang dulu terkenal amat ganas itu menyerah dengan syarat minta dibunuh dengan cara menggunakan pedangnya sendiri.

Dapoer oemoem ini muncul di mana-mana menggunakan dana dengan sumbangan mereka yang mampu serta dimasak bersama-sama. Semua pejuang disilakan mengisi perutnya yang tentu saja lapar. Nah dapoer oemoem inilah saya ceritakan salah satu bentuk gotong royong. Disinilah mencuat rasa kebersamaan antara individu untuk kepentingan kelompok kelompok kampung demi kampung. Seorang tokoh utama yang menjadi pelopor dapoer oemoem ini adalah Ibu Dar (entah nama lengkapnya siapa), saya tidak tau sampai sekarang. Pribadi yang tidak kurus ini, seperti tokoh Semar di dalam wayang. Bu Dar ini selalu menyugi tembakau, menginang dan mulut beliau selalu mancung karena mengunyah tembakau. Para pejuang di seluruh medan pertempuran, amat kenal dengan Bu Dar Mortir karena tembakaunya itu diibaratkan sebagai peluru mortir. Nama lengkapnya menjadi hilang dan Bu Dar Mortir amat terkenal sekali. Dia menjadi tokoh Dapoer Oemoem yang amat lekat dengan istilah Gotong Royong.

Mari kita alihkan pembicaraan ke jaman sekarang yang sedang amat perlu disosialisasikan luas memasyarakat. Kita semua tau bahwa Presiden kita menyebut kabinet yang dipimpinnya dengan istilah Kabinet Kerja. Baju harian yang dikenakan pak Presiden kita ini hanya kemeja putih yang ada ciri khasnya, yakni ujung lengannya baik yang kiri maupun kanannya, digulung sebagian sampai sekitar tiga per empat panjang lengan. Itu tandanya orang yang siap kerja menyingsingkan lengan bajunya, untuk bekerja keras. Pasti yang mengerti hal ini amat banyak jumlahnya. Tetapi mengerti saja kurang cukup. Saya masih menghendaki agar dimulai dari Wakil Presiden, Menteri Koordinator dan seterusnya ke bawah bersikap siap bekerja keras. Hal seperti ini saya lihat perlu koordinasi nyata dari salah satu Menteri Koordinasi yang menangani masalah ini sehingga menyeluruh ke seluruh negeri, Republik Indonesia.

Gotong Royong juga bukan berarti memberikan tenaga tanpa dibayar, tetapi juga pikiran dan perbuatan lain. Dua hal terakhir ini penting dibuatkan tata cara yang tidak melanggar hukum, dalam membantu pembangunan infrastruktur yang sedang gencar-gencarnya terjadi di seluruh Nusantara. Kereta Api baru di Sulawesi dan lain-lain daerah. Juga pembangunan fasilitas-fasilitas listrik misalnya dengan pembuatan waduk dan dam-dam. Kami semua sudah maklum banyak sekali manipulator yang memanfaatkan kegiatan pembangunan fisik ini.

bersama-sama

Semuanya hanya  untuk melakukan kejahatan mencuri pembiayaan  yang ribuan triliun. Juga mencuri mutu bahan-bahan konstruksi serta pendanaan yang terkait.  Hal ini telah dan sedang terjadi dilakukan oleh para mafia dan maling di segala lini. Ada Camat, Lurah, Walikota dan Bupati sampai ke tingkat Menteri masih belum bisa menaruh dirinya di tempat mana yang hasil perolehannya berstatus halal. Mereka mencuri kecil atau mencuri besar yang manapun, namanya adalah pencuri, serta maling yang merampok uang rakyat. Kalau memang tak mampu menghentikan keinginannya, mundur saja, dan kuburlah diri sendiri ke liang kubur sekarang juga. Kalau undang-undang, siapa tau, akan berubah bahwa mencuri kecilpun akan ditembak mati, maka akan terlambat sudah. Apalagi bila sampai selain pelakunya yang pejabat itu, maka pasangannya yang istri maupun suaminya mengapa tidak ditembak mati saja? Kejam? Ah itu relative, kan? Begal sepeda motor? Korbannya paling hanya tiga orang. Mencuri uang rakyat berapakah jumlah korbannya?

Seruan saya kepada mereka yang suka mencuri: Apakah orang tua anda dulu pernah memberi ajaran untuk secepatnya mencuri biarpun tidak ada yang mengetaui. Masa sekelas itukah orang tua anda??

 

Anwari Doel Arnowo – 25 Desember, 2015 

 

 

6 Comments to "BERSAMA-SAMA"

  1. J C  7 January, 2016 at 14:07

    Muantep tenan memang artikel pak Anwari…selamat tahun baru 2016 ya pak…sudah lama tidak ketemu ngobrol-ngobrol…

  2. djasMerahputih  7 January, 2016 at 10:19

    Wahhh… pesawat buatan Jerman memang gesit…
    Maling di Indonesia adalah buah pendidikan berorientasi profit. Beda dengan budaya dan ritual non profit. Pendidikan moderen telah berhasil.

    Logikanya sederhana: untung/profit = pahala, rugi = dosa.
    Cara memperoleh keuntungan tak jadi soal, yang penting hasil akhinya..

  3. james  7 January, 2016 at 09:04

    ci Lani, pesawatnya kempes ban dan gak ada ban serepnya jadi lambat

  4. Lani  7 January, 2016 at 00:22

    Mas DJ & James: kali ini James dikalahkan orang Mainz………..pesawatnya kehabisan bahan bakar James? Hahaha………..

    Para kenthirs tdk pernah mencungul secara bersamaan…………

  5. james  6 January, 2016 at 14:07

    2….dibelakang mas DJ….tumben duluan euy mas

    para Kenthirs lain gak pernah bersamaan munculnya

  6. Dj. 813  6 January, 2016 at 13:24

    1. Ngapsenin yang Kenthir . . .
    Nanti kan muncul bersama-sama . . .
    Salam,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.