Muslim Kok Nyebelin

Handoko Widagdo – Solo

 

Judul: Muslim Kok Nyebelin?

Penulis: Satria Dharma

Tahun Terbit: 2013

Penerbit: Bunyan

Tebal: x + 254

ISBN: 978-602-7888-68-5

Muslim_Kok_Nyebelin

Pergumulan antara iman dan akal sudah terjadi sejak agama muncul. Agama yang melandasi dirinya dengan dogma-dogma sering berhadapan dengan akal yang berbasis pada rasionalitas. Hubungan antara iman dan akal ini kadang berseberangan, kadang saling menggunakan, dan kadang membuat keduanya skeptis dan saling mengambil jalan yang berbeda yang tidak saling bersinggungan.

Apakah seorang yang rasional bisa beriman? Atau, apakah seorang yang beriman bisa rasional? Bagaimana dengan dogma-dogma dan ajaran-ajaran yang tidak masuk akal? Atau setidaknya tidak sesuai dengan nalar? Kisah tentang penghukuman Galileo oleh gereja karena dianggap melanggar ajaran gereja bahwa bumi adalah pusat alam semesta sering dipakai sebagai contoh klimaks dari pertentangan ini.

Satria Dharma menggambarkan betapa sebagai seorang rasional mencoba mencerna ajaran-ajaran agama yang dianutnya (Islam). Berbagai isu ajaran agama dan pandangan kekinian dicoba untuk dipaparkannya. Pengalaman Jeffrey Lang, seorang ahli mtematika yang kemudian memeluk Islam sangat mengilhami penulis. Bukunya yang berjudul “Aku Beriman, maka Aku Bertanya” seakan menjadi titik berangkat Satria Dharma dalam menyelami agama melalui akalnya. Seorang berakal yang beriman (atau seorang beriman yang berakal) harus berani bertanya sampai akhirnya (paham) berserah bahwa imannya benar-benar benar (hal. 68).

Sebagai seorang pegiat literasi tentu saja Satria Dharma menyinggung bahwa tugas membaca dan menulis itu sesuai dengan iman yang diyakininya. Ayat “Iqra” adalah ayat yang diturunkan pertama. Dan Surat Al-Baqarah ayat 282 adalah perintah untuk menulis. Jadi sebagai seorang yang beriman dan berakal, membaca dan menulis adalah amanat dari iman itu sendiri.

Isu-isu berat, seperti apakah hukum Tuhan itu kekal atau berubah, akidah, free will, penistaan agama dibahas dalam buku ini. Isu-isu sosial, seperti perbudakan, poligami dan keberagaman juga dibahasnya. Satria Dharma juga memasukkan isu-isu kekinian, seperti Coca-Cola yang dibalik menjadi La Mecca La Muhammad (no Makkah no Muhammad), kaos dewa Mesir, Film tentang kiamat 2012, mengucapkan selamat hari raya bagi umat lain, dan hal-hal lain yang menurut sebagian orang beriman dianggap sebagai sesuatu yang akan merusak akidah.

Judul buku ini provokatif. “Muslim Kok Nyebelin?”. Nyebelin karena tidak mau membaca, tidak mau menulis, tidak belajar dan akhirnya tidak berpikir. Pesan utama buku ini adalah janganlah takut untuk menggunakan akal dalam menggumuli iman. Sebab melalui akal maka kita akan menemukan kebenaran iman yang membuat kita berserah. Anda boleh setuju atau tidak setuju terhadap apa yang diungkapkan oleh Satria Dharma. Tetapi gunakan akal untuk menyampaikan pendapat Anda.

 

 

About Handoko Widagdo

Berasal dari Purwodadi, melanglang buana ke berpuluh negara. Dengan passion di bidang pendidikan, sekarang berkarya di lembaga yang sangat memerhatikan pendidikan Indonesia. Berkeluarga dan tinggal di Solo, kebahagiaannya beserta istri bertambah lengkap dengan 3 anak yang semuanya sudah menjelang dewasa.

My Facebook Arsip Artikel

20 Comments to "Muslim Kok Nyebelin"

  1. Lani  13 January, 2016 at 23:24

    Ki lurah Buto: daripada berat bawa sendiri bagaimana kalau kowe dan Hand nggawak-e layah-e ke Kona……….

    Nanti kita rujak-an dipinggir pantai pakai yg kiwir2…………kkk……….dasar buto klu tdk njawil……..gatel

    DA: ngopo kowe bengok2? Kemana aja kamu, ndekem…angkrem…ndak pernah respond japriku????? Payah………..

  2. Handoko Widagdo  13 January, 2016 at 15:22

    Kalau saya suka nyambelin Kangmas Djoko.

  3. Dj. 813  12 January, 2016 at 23:23

    Mas Handoko . . .
    Matur Nuwun mas . . .
    Yang nyebelin, bukan ajaran agamanya , tapi manusianya yang sering
    menjadi batu sandungan bagi sesamanya..
    Percaya itu memang sulit dimengerti oleh otak kita yang kecil ini .
    Terimakasih dan salam manis untuk keluarga dirumah .

  4. Dewi Aichi  11 January, 2016 at 10:42

    Laniiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii………………………

  5. J C  11 January, 2016 at 10:40

    Pak Hand, awaaaasss…layah’e diangkat sisan digawa ke Kona…(pertanyaan yang sama TAON PIRA, mbuh ngomonge sejak kapan, terus kelakon kapan)

  6. Lani  11 January, 2016 at 10:20

    Hand: hah? 10 layah? Klu begitu jgn lupa obat mencretnya sekalian…………kkkkkkkkkk

  7. Handoko Widagdo  11 January, 2016 at 06:10

    Lani aku siapkan sabel 10 layah untukmu saat dikau ke rumahku.

  8. Handoko Widagdo  11 January, 2016 at 06:10

    Evi Irons agama adalah sarana untuk menemukan diri sendiri. Bukan untuk mengadili orang lain.

  9. Evi Irons  10 January, 2016 at 16:23

    Iman itu bukan pula matematis
    contohnya:
    1+1=2
    2-2=0

    Agama juga jangan fanatiknya aja yang diGEDE’in! malah jadi hater to agama lain

  10. Lani  10 January, 2016 at 00:11

    Hand: sambel nya dikirimkan ke aku aja…….mban-mban kamsia……..krn ndak ada yg jual sambel ala Indonesia, dan mau bikin sendiri malas……….krn tdk punya alat serta salah satu bumbu paling ampuh yaitu terasi…………

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *