Menonton “Macbeth” Teater Tangga

Dwi Klik Santosa

 

Menemukan sesuatu yang baru dari kaidah seni pencerdasan, memang belum saya rasakan dan temukan dari menonton “Macbeth” semalam Rabu, 23/12 yang dibawakan kawan-kawan dari Teater Tangga, di Gedung Kesenian Jakarta. Tapi sebagai Teater Kampus dari Jogja, yaitu kelompok pegiat seni dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta itu cukup berani dan punya nyali. Yang cukup menonjol menurut saya tentunya adalah kesuksesan kelompok ini dalam memadu kegiatan dengan manajemen sehingga mampu membawa performance kebanggaan mereka itu ke ibukota, dan cukup menarik karena diselenggarakan layaknya pementasan seni profesional.

teater

Secara umum menyaksikan, menyimak dan merenungkan pertunjukan itu baik secara materi maupun artistik sejauh kacamata saya meneropong, masihlah belum mendapatkan, jika mau diukur dari pencapaian normatif dan artistik secara universal. Memang ada greget dan sermacam perlawanan untuk berdaya, tetapi kiranya, “Macbeth” seperti apa yang diinginkan Shakespeare terlampau kompleks kiranya jika tidak dibawakan dengan penghayatan dan kedalaman yang tersendiri, dan oleh aktor yang “tepat” yaitu pribadi yang mempunyai keidentikan dengan apa-apa yang tergambar sebagai karakter yang ambisius tapi masif dalam kepengecutan. Memang pertunjukan semalam adalah representasi dari pendekatan dan adaptasi. Namun kiranya, juga kurang menunjukkan “kecerdasan” dan “kecermatan” menurut saya, karena toh, demikian kurang mampu menyerap kepada aspirasi kontekstual persoalan kekinian di ruang lingkup sekitarnya.

Adaptasi dari suksesi di kerajaan Skotlandia menjadi persoalan dilema hirarkis para gengster, mungkin cukup punya alasan sebagai munculnya ide kreatifitas. Dan memang memiliki nilainya tersendiri sepembacaan saya, karena memang jiwa dari awak teater ini orang-orang muda. Gelegak dari watak-watak yang terkandung dalam drama “Macbeth” adalah gejolak manusia yang universal dan sekalipun digambarkan menjadi kisah pergolakannya di kaukus Britania Land, tapi kiranya peristiwa itu bisa saja identik dengan kisah di sejarah kita. Sejarah Singsosari, Majapahit atau Mataram barangkali. Tapi frasa dar der dor dan gestur jagoanisme lebih dipilihnya untuk merepresentasikan Macbeth ala mereka.

Lebih dari itu, aktor-aktor yang bermain juga aktor-aktor muda yang khas dimiliki oleh insan kampus. Sebagaimana dulu saya pernah mengenyam kap itu sebagai aktor teater kampus di kampus saya. Masih jauh dari pendalaman dan penghayatan untuk masuk ke dalam roh peran. Apalagi peran Macbeth yang sangat sentral dan mendekati psikopat. Jika tidak memiliki unsur “kekosongan” atau “kehampaan” sebagai aktor, tidak cukup kiranya olah verbal atau gestur “yang seakan-akan atau seolah-olah” menyelamatkannya mampu menghasilkan peran yang berwatak dan pada akhirnya mampu membawa keseluruhan ritme pertunjukan itu hadir melesakkan nuansa dan cakrawala di benak penonton.

Dramaturgi dan perpindahan plot cukup terolah dan variasi visual panggung cukup pula diupayakan, namun, sekali lagi menurut saya, penggubahan gaya dan corak dari “Macbeth” rasa kerajaan dan “Macbeth” rasa gengster kekinian kurang membantu secukupnya untuk menyembunyikan kehijauan wajah-wajah dan gestur-gestur mereka yang muda dan bergelora itu untuk menemukan sejatinya roh “Macbeth” dalam pertunjukan teater sebagaimana dikehendaki publik dapat memberikan sesuatu yang kiranya bisa dibawa pulang sebagai pengetahuan yang bermutu dan siapa tahu kelak menjilma “roh” pula mampu mencerdaskan dan menyegarkan pencarian batiniah.

Meski begitu, salut kepada kelompok teater ini. Perjalanan belaka, kiranya nanti akan membawa individu-individu yang terlibat dalam repertoar ini untuk berkembang menjadi dan seperti apa. Dan semoga tidak cepat mati “elan” itu bagi para penggelutnya, seusai mereka kelar kuliah nanti. Kegilaan yang tersendiri karena menggeluti dunia teater di tanah air kita ini semoga akan terus dibawanya, tidak saja terus menerbitkan keinginan untuk berproses, berlatih dan berpentas lagi. Tetapi juga bagaimana aktif merespon kejadian dan gejolak sosial di sekitarnya, dan tentunya punya kerendahan hati dan semangat untuk menggalang silaturahmi antar sesama pecinta teater dan seni budaya nusantara khususnya. Memiliki kecintaan yang terus menyala dalam seni sembari menggeluti profesi dari hasil belajar di kampus sebagaimana selama ini diyakini dan ingin dikembangkan menjadi jalan hidup. Kenapa tidak!

Bravo Teater Indonesia!

 

 

7 Comments to "Menonton “Macbeth” Teater Tangga"

  1. J C  18 January, 2016 at 15:00

    Ikut menyimak, ini memang masih langka di Indonesia…

  2. Alvina VB  9 January, 2016 at 23:18

    Hebring euy kl ada teater di Indonesia bisa mementaskan Macbeth, yg gak gampang memerankan tokoh2nya.
    Iya, mbakyu Lani nonton teater di TV ada loh channel khususnya…

  3. djasMerahputih  9 January, 2016 at 08:29

    Hadir Tji Lani.. suka nonton teater.
    Teater simbol eksistensi seni dan budaya.

  4. james  9 January, 2016 at 04:31

    ci Lani, bener deh itu kecoa sama tikus pada pingsan…..he he he mempan

  5. Lani  9 January, 2016 at 02:08

    Nggak heran bau harum nyampai ke Kona, James………..hihihi

  6. james  8 January, 2016 at 14:37

    hadir mbak Lani……baru habis mandi sore nih

  7. Lani  8 January, 2016 at 13:06

    Halo para kenthirs pastinya sdg menonton teater ya?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.