Perempuan-perempuan

Ana Mustamin

 

perempuan

1/

TELEPON genggam itu bergetar lagi. Dan untuk ke sekian, ia meraihnya dengan perasaan rawan.

“Ya?” Telinganya menguping lebih tajam. “Sa…saya akan bicara dengan Ibu!”

Suara dengan timbre kasar menghardik. Membuatnya seperti terjengkang.

“Se..sebelum jam sembilan!” Meski tergeragap, ia berusaha meyakinkan.

Telepon di seberang ditutup. Ia ikut meletakkan benda itu dengan hati-hati di atas meja dapur. Hatinya lungkrah.

Ini telepon ketiga sejak ia menunaikan sholat subuh tadi. Jika ia boleh memilih, ia tidak ingin memiliki telepon genggam. Ia tahu, tidak seorang pun yang akan menghubunginya melalui benda kecil itu, kecuali lelaki itu. Lelaki dengan racun di kepalanya.

“Anakmu harus membayar uang sekolah!” begitu biasanya ia memulai.

Padahal pekan lalu ia mengirim uang ke kampung.

“Itu SPP. Yang ini uang buku!”

Bisa akhir bulan padahal.

“Harus hari ini. Kalau nggak, anakmu akan dikeluarkan dari sekolah!”

“Tapi…”

“Hei! Kalau ndak bisa cari biaya sekolah, suruh anak itu ngamen saja. Jadi kuli. Buruh tani. Jangan sok-sokan jadi anak sekolahan!” Lalu telepon dibanting. Menyisakan pedih yang melolong panjang di lorong hatinya.

Ia mengusap dadanya. Sambil menarik nafas, tangannya mulai menyiapkan minum dan sarapan. Tapi kali ini pikirannya bercabang-cabang. Kepalanya berisik. Suara-suara bersliweran dan bertalu. Ngamen saja! Jadi kuli! Buruh tani! Kalimat itu terus menggedor-gedor. Berkelindan dengan suara dan rupa putranya.

Sungguh, anaknya tidak boleh mengulang jejak bapaknya yang preman kampung. Ia mau mempertaruhkan apa pun demi keinginannya menisik hari depan yang lebih baik. Bukankah ia pernah merelakan diri menjauh ribuan mil, melewatkan hari dengan mimpi buruk yang mengerikan, hanya untuk sebuah keinginan sederhana: menyekolahkan anak.

Dan laki-laki itu! Laki-laki yang ditakdirkan menjadi bapak namun tak pernah jera menjadikan anaknya sebagai tameng untuk memeras keringatnya…

Perempuan itu mendadak pening. Kepalanya kian berisik. Sekujur tubuhnya seperti ditusuk-tusuk benda tajam. Dan punggungnya, oh, ia kembali merasakan nyeri itu. Ketika kulit yang tipis itu mulai mengelupas, menyisakan kawah yang menganga perih…

“Mbak …, mbak…,” ia mendengar suara cemas si ibu.

Ia merasa kepalanya tersedot ke dalam kotak televisi di sudut dapur. Ia mendengar suara mendengung, hiruk-pikuk, makian dan umpatan dalam bahasa yang sebagian besar tidak dia pahami. Lalu sebuah wajah berputar bagai gasing: perempuan bercadar yang rajin membenturkan kepalanya di tembok, menyetrika punggungnya dan menyekapnya berjam-jam di kamar mandi….

Lidahnya kelu, suaranya tercekat. Padahal ia ingin berteriak.

Jenak berikutnya, ia merasakan semuanya berputar, berpusar. Menenggelamkannya ke lubang hitam. Sumur tanpa dasar.

 

2/

“Mbak masih trauma!”

Lelaki di depannya menatap lunak, mendengarnya penuh perhatian. Tangannya sibuk mengencangkan ikat dasi.

“Suaminya juga terus memerasnya. Mbak minjam uang lagi untuk dikirim ke kampung.”

Lelaki itu masih terdiam. Tapi perempuan itu tahu, suaminya sedang mencerna kalimatnya satu persatu.

“Saya masih harus membawanya terapi hari ini!”

Ia lantas termangu, membayangkan rupa kuyu yang sedang terbaring di kamar belakang.

Perempuan yang dipanggilnya Si Mbak itu resmi menjadi bagian dari keluarganya sejak enam bulan lalu. Ia jatuh iba. Ini adalah kasus terparah yang pernah ditanganinya. Ia memperjuangkan kasus ini melalui proses panjang dan berliku, dengan diam-diam. Karena harus meminjam mulut suaminya.

Meski mengeram di rumah, sejatinya ia perempuan yang bekerja sungguh-sungguh di malam-malam lengang. Mengumpulkan data, mengolah, dan menyusunnya menjadi sejumlah rekomendasi. Ia seperti menanam biji harapan di sebuah kota yang asing, dengan pemerintah yang hanya bisa mabuk, dan penduduk yang ingin memberontak tapi tak berdaya. Sebuah kota purba. Setiap pagi saat terbangun, ia mengumpulkan potongan puzzle nasib sejumlah perempuan. Perempuan yang rela mengembara ke negeri jauh, dengan mimpi mengangkasa, namun kemudian jatuh berdebum sebelum akhirnya terperosok dalam labirim hitam dan sunyi, nyaris tanpa ujung.

Tahun ini ia mencatat puluhan kasus tenaga kerja perempuan yang mengalami kekerasan di pelbagai negara. Kasus teranyar adalah seorang perempuan yang harus mengakhiri hidup dengan meloncat dari jendela apartemennya.

“Ia mengalami kekerasan seksual dari majikannya…,” kata pewarta di teve.

Bagi banyak orang, berita itu mirip sarapan. Tak mengirimkan daya kejut. Tapi tidak baginya. Tetap saja hatinya terbentur-bentur.

“Papa jadi meeting dengan menteri tenaga kerja? Data dan agenda yang papa butuhkan, sudah saya susun,” Ia menyodorkan komputer tablet. “Termasuk dengan Komnas Perempuan. Khusus kasus Thailand, masih saya dalami. Siang nanti saya kirim ke email Papa…. ”

Laki-laki itu menyudahi sarapannya. Lalu mencium ubun-ubunnya. Panjang dan dalam. Sebelum akhirnya berbisik pamit.”Terima kasih, sayang. Papa berangkat….”

Ia mengantar sampai mobil yang menelan tubuh suaminya menghilang dari pandangan. Perasaannya masih hangat. Pikirannya hangat. Selalu hangat.

Ia ingat, dulu ia menemukan lelaki itu sebagai sesama aktivis di kampus. Lelaki berwajah sejuk, namun sangat hemat suara. Awalnya, lelaki itu membangun karir sebagai arsitek, sebelum akhirnya mengikuti jejak kakeknya jadi politisi.

Ia mendukung. Termasuk memilih menyurutkan diri dari lingkaran aktivis perempuan. Ia menggunakan bekal ijazahnya tentang studi jender untuk membuat lelakinya bersinar sebagai legislator – anggota dewan yang bukan hanya bersih dari segala tindak korupsi, tapi juga dikenal vokal terhadap nasib perempuan.

Mengingat semuanya, ia tak henti bersyukur. Kebahagiaannya paripurna. Kalau saja semua perempuan seberuntung dirinya….

 

dua-sisi-perempuan

 

3/

Malam merangkak tergesa.Tak ada bintang yang mampir di jendela kaca. Hanya sinar yang membias dari berbagai gedung jangkung di sekitarnya.

Ia baru selesai menyeduh kopi ketika menangkap suara yang begitu akrab di telinganya. Suara yang membuatnya loncat meraih remote control teve, membesarkan volume. Tubuhnya yang mungil pun serasa ikut mengembang di sofa.

Ia sungguh tidak ingin melewatkan pemandangan indah di depannya. Pemandangan yang – entah kenapa – senantiasa membuat dadanya berdenyar. Lelaki itu.. lelaki yang seolah menyimpan magnet pada seluruh permukaan wajahnya…

Suaranya yang magis mengkritisi langkah diplomasi pemerintah yang dinilainya lemah. Intonasinya tenang, tegas dan dalam. Dan yang lebih penting, ia selalu bicara sistematis di depan wartawan, dengan data dan analisis yang sangat komprehensif. Dan…, demi Tuhan, mengapa laki-laki pintar selalu membuat perasaannya leleh?

“Saya belum bisa menarik kesimpulan final,” suara itu terekam ratusan mikrofon wartawan….”Saya akan berangkat ke Bangkok besok untuk menggali informasi yang lebih lengkap…”

Ia terlonjak. Bangkok? Besok? Ia melenguh. Waktu melesat seperti pembalap Formula One. Kepalanya yang sibuk, kerap tidak bisa mengejar peristiwa. Pekan lalu, semua stasiun teve menyoal kekerasan yang menimpa tenaga kerja perempuan di Hong Kong. Kemarin di Arab Saudi, dan malam ini di Bangkok.

Perempuan-perempuan malang… kesahnya, muram. Dan dia…

Tiba-tiba ada sekelebat cemas. Ia meraih telepon, dan tak sabar mengirim pesan pendek. Sesuatu sedang mendesak-desak di dadanya. Tak bisa menunggu.Tidak seperti lampu mercury yang sabar menyetiai malam, bahkan ketika malam berkhianat dengan pesta kembang api.

Butuh sekitar tigapuluh menit bagi lelaki itu untuk mencapai apartemennya di lantai 27. Ketika daun pintu terkuak, ia tak sabar untuk tidak melompat ke pelukannya. Dadanya gemuruh.

“Aku memastikan diri untuk mencalonkan diri kembali!” Itu kabar pertama yang dibawa tamunya.

Perempuan itu tersenyum ringan. Lelaki itu sudah mantap untuk maju kembali di pemilu legislatif. “Kenapa gak korupsi seperti yang lainnya?” Suaranya menggoda.

“Hanya jika kamu ijinkan…,” suaranya merajuk.”Mereka memilihku dengan satu alasan: aku tidak membiayai kampanye dari hasil korupsi…”

Ah, percakapan yang menjemukan. Padahal waktu mereka tidak banyak. Dan ia sedang tidak ingin menyusul ke Bangkok.

“Atau, aku harus berhenti….”

Perempuan itu meletakkan jemarinya yang lembut di mulut lelaki itu. “Bisakah kita bicara sesuatu yang lebih menyenangkan?” Nafasnya yang halus mulai memburu. Bukankah ia selalu mempersetankan berapapun cek yang harus ia tandatangani untuk memuluskan jalan lelakinya ke gedung dewan? “Aku kangen….”

Dan si suara magis itu, seperti biasa, tahu betul kapan harus diam. Di apartemen itu, ia selalu lebih suka membiarkan mulutnya tersesat pada bibir dan sepasang bulu mata di depannya, pada tubuh mungil di balik gaun tipis yang meringkuk di sofa. Lalu merelakan setiap yang berdetak merajai waktu: jam dinding, denyut jantung, dan aliran darah yang menderas membuncah.

Di saat seperti itu, waktu berhenti. Meski di luar jendela, udara menyusut.***

 

Catatan:

Sudah lama gak memposting cerpen. Hitung-hitung juga sebagai filing.

(Media Indonesia, 13 April 2014)

 

 

5 Comments to "Perempuan-perempuan"

  1. J C  18 January, 2016 at 15:02

    Wuiiiiihhh kisah nomer 3…

  2. Alvina VB  9 January, 2016 at 11:18

    Hadir…
    Cerpen yg menarik utk disimak, bahasanya puitis sekale…

  3. djasMerahputih  9 January, 2016 at 08:44

    Hadir juga.. women..!!

  4. james  8 January, 2016 at 14:29

    hadir wanita-wanita gadis- gadis-cewe-cewe

  5. Lani  8 January, 2016 at 13:04

    Sambil mengingat trio kenthir tercinta ttg perempuan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.