Yeni, Oh Yeni (1)

Jemy Haryanto

 

Wajahmu, cantik. Kulitmu, putih bersih. Simpulmu, menawan hati. Tak salah bukan, jika sekonyong-konyong aku jatuh cinta padamu. Berkhayal tentang dirimu, di atas perahu ranjang, yang akan membawa ke peraduan, hingga kita bertemu sebagai kekasih. Tapi aku ragu, bertanya-tanya, apakah benar, kau juga mencintaiku?

Tahun 1999. Adalah masa dimana hati ini mulai tersentuh oleh cinta. Cinta seorang wanita bernama Yeni yang ku kenal saat mengikuti Praktek Kerja Lapangan di bengkel, miliknya pak Amrin. Aku duduk di kelas tiga Sekolah Teknik Mesin. Yeni kuliah di Akademi Kebidanan.

Aku suka pada Yeni karena dia cantik, menarik, pintar. Kesamaan yang kami miliki juga, seperti sudut pandang, makanan kesukaan dan musik, menjadi suplemen tambahan benih-benih cinta dalam hati bersemi, tumbuh subur, lalu membesar.

Meski aku sadar, di satu sisi, aku dan Yeni memiliki perbedaan paling mendasar. Perbedaan ini kerap menjadikan aku surut langkah saat pertama kali ingin dekat.

Di lingkungan sekitar, Yeni dikenal sebagai wanita religius. Dia tak pernah lupa sembahyang. Dia rajin belajar, membaca kitab suci bersama seluruh anggota keluarga, hampir setiap malam. Pulang kuliah, dia selalu menghabiskan sisa hari, mendengar musik, dan membaca buku apa saja, hingga tertidur.

Hal ini kontras dengan kehidupanku yang lebih suka menjalani hidup ‘seenake dewe’. Tak pernah sembahyang. Juga tak pernah buka buku pelajaran.

Perbedaan lain yang mendorong munculnya keraguan, hingga berkurang rasa percaya diri, adalah umur kami. Umurku dan Yeni sedikit jauh, tertaut enam tahun. Yeni 24 tahun. Aku sendiri 19 tahun. Tapi, pucuk cinta dalam hati ini tak bisa ditahan. Dia terus saja merekah, dari hari ke hari.

Awal mula aku bertemu Yeni, lalu berciuman lewat senyum, bersetubuh lewat mata, terbilang tak sengaja. Terjadi saat aku sibuk dengan aktivitas sebagai murid magang, bersama dua sahabat, di bengkel miliknya pak Amrin. Siang ini, adalah mukadimah.

“Broo,, ada cewek, brooo. Ada ceweekk. Sweet…sweet,” tiba-tiba Narto, berteriak. Dia berlari ke halaman depan bengkel membawa wajah sumringah. Kedua matanya tersembul keluar, layaknya seseorang yang baru bebas dari penjara, setelah dikurung ratusan tahun. Jatmiko, yang juga ikut magang bersama, ikut-ikutan berlari.

“Ah, sial kalian semua. Aku pikir ada apa,” gerutuku, dalam hati, setelah berdiri sebentar. Lalu duduk kembali di hadapan mesin mobil yang hendak dibongkar. Tak lama, mereka masuk lagi ke dalam.

“Cuaantikkk broo. Cuantikk. Merugi kau tak keluar, tadi,” teriak Narto, semangat. Matanya masih terlihat tersembul. Kedua jempol tangannya diangkat lalu didorong ke mukaku, dekat sekali. Aku menepisnya. “Cantik sih cantik, tapi jempolmu itu loh. Mana baunya tak enak lagi,” suaraku datar. Aku kesal.

“Sorrri, bro, sorrrii. Happi ini, happi,” Narto menepuk dada. Dia melanjut langkahnya ke kursi mobil rusak yang teronggok di hadapanku, dan duduk di sana. Dia menarik nafas, mengehembuskannya, lalu menengadahkan wajahnya sambil menatap langit-langit bengkel. Kepalanya menggeleng.

“Jarang-jarang aku bertemu cewek cantik kayak gitu. Hampir tiga tahun di sekolah, yang ada itu-ituuu saja. Sampai sekolah pun aku tak punya semangat. Bawaannya bosan. Bosann, ih. Karena itu, aku sering bolos.” Kemudian wajahnya berpaling ke arahku.“Tapi di sini, setahun pun aku betah. Kalau perlu, sekalian saja diangkat anak oleh pak Amrin,” lanjut Narto.

“Ah, malas karena tak ada perempuan, atau memang kau yang bodoh, bro,” celetuk Jatmiko. Lalu cekikikan.

“Eh, diam kau,” bentak Narto. Kedua matanya kembali menatap langit-langit bengkel yang penuh bercak hitam. “Oh iya, Jat. Kalau ku lihat-lihat wajah gadis tadi, aku jadi ingat salah satu personil AB Three, si Windi atau Cindi gitu, aku lupa namanya. Kira-kira mana yang benar?”

“Mana aku tahu. Lihat mukanya saja aku tak pernah. Aku ini kan tinggal di kampung, pemuda kampung yang penuh pesona. Beda urusannya kalau kau tanya aku penyanyi dangdut, pastilah aku hafal.”

Pletukkk. “Alaa, alaa, aduhh, aduhh,,” tiba-tiba Jatmiko mengerang kesakitan. Kepalanya diketok oleh Narto dengan obeng. “Kau ini, susah diajak serius. Dasar kampungan,” cela Narto. Wajahnya berpaling, tak peduli.

“Sudah, sudah. Malah ribut,” ku hentikan mereka. “Lebih baik kalian kembali kerja. Tak enak kalau pak Amrin lihat kita santai-santai di sini, sementara karyawan lain pada sibuk,”aku beri mereka peringatan. Lalu melangkah. “Oh iya, aku lupa. Kalau pak Amrin tanya, bilang saja aku di halaman depan bantu bang Agus ngecat mobil.”

“Ngecat mobil, atau ngintai cewek tadi, bro?” celetuk Jatmiko. Wajahnya cengengesan. Kedua tangannya terlihat mengusap-usap bagian kepala yang sakit.

“Kau tak usah khawatir, Jat. Si Heri itu kan takut perempuan. Mana mungkin dia berani menggoda bidadariku,” sambung Narto. Mereka pun tertawa cekikikan.

“Dasar Miang!” Gerutuku, kesal.

Aku melangkah buru-buru menyusul bang Agus yang sudah asyik dengan kerjaannya. Ada rasa tak enak hati karena adik ipar pak Amrin itu sudah menunggu sepuluh menit yang lalu, sementara aku baru tiba.

Aku segera mengambil amplas di bawah kaki. Lalu menggosok bodi mobil Kijang Jantan Raider, milik pak Syahrial, bos lelong (baju bekas Malaysia) terkemuka di kampung ini, yang sudah dua hari di bengkel, perlahan. Satu, dua, tiga, hingga pakaianku berdebu, begitu pula lengan dan muka, putih semua.

“Nah, nah, nah itu ceweknya broo. Itu ceweknyaaa. Amboiiii, Cantiknyaaa!” Ucap Narto. Tiba-tiba saja dia sudah berada di belakangku. Menggoyang-goyang tubuhku. Salah satu telunjuknya mengarah pada sebuah rumah yang letaknya tak jauh dari bengkel. Di depan rumah itu, terlihat seorang wanita sedang menyapu halaman.

“Hmm. Kali ini aku tak marah padamu, bro. Justru aku berterima kasih. Dia memang cantik seperti apa yang kau bilang,” celotehku. Sambil mengusap-usap pantat Narto. Dia sendiri tak peduli.

“Kau berterima kasih saja pada guru sulah itu. Karena dia, kita ditempatkan di sini. Padahal sebelumnya, kita akan dikirim ke bengkel traktor miliknya pak Acui. Kalau jadi di sana, alamakk, dapat apa kita. Dapat om om? Om Bambang. Om Joko. Banyak di sana. Kkkkk,” ungkap Narto, lalu terbahak-bahak. Namun pandangannya tetap konsisten, tak bergerak dari subjek di rumah itu.

“Eh. Tapi ngomong-ngomong, kau mau menyalipku, bro?” Wajah Narto bernuansa abstrak itu seketika berpaling kearahku. Aku mengangguk pelan.

“Ahaii,” Narto menggoyang tubuhku lagi. “Tak mungkin, bro. Tak mungkin itu. Dilihat dari wajah sih, tampang kau yaaa lumayanlah. Tapi sayangnya,, kau ini takut perempuan. Beda denganku. Walau tampangku begini, kata kawan-kawan kayak gerobak sampah, tapi mulutku ini beraroma simponi senar gitar yang dipetik oleh tangan-tangan para pujangga, harumm, menghanyutkan,” celoteh Narto, lebai lewat gestur. Aku menghembus nafas.

“Mungkin kau masih ingat tragedi toilet yang sempat heboh itu. Di mana aku habis-habisan mencium si Sri, wanita gemuk di kelas kita. Akibatnya, kami berdua dipergok kepala yayasan. Padahal kau kan tahu sendiri, seperti apa sikap si Sri padaku, judesnya minta ampin. Tapi karena terbuai rayuan mautku, dia sendiri memberi bibirnya padaku. Rejeki nomplok, bro. Ya ku sambar. Huahaa.”

“Hey, hey, hey,” teriak pak Amrin, tiba-tiba. Seketika kami terdiam, tidak enak. Pak Amrin melangkah mendekat pada kami. Dia bercekak pinggang.

“Di sini rupanya kau, To’. Bukannya kerja, malah ngerumpi! Balik kerja sana! Kalau tidak, nanti saya laporkan ke guru kamu,” tegas pak Amrin.

“Hehe. Iya pak. Iya pak,” ucap Narto, cengar-cengir. Dia kemudian meringsek masuk, kembali pada kerjaannya.

Usai sore itu, aku tak bisa tidur nyenyak. Wajah gadis yang sekilas kulihat dari balik mobil Kijang milik pak Syahrial tadi merasuk, menghantui pikiran. Berbaring salah. Terlentang salah. Bangun juga salah. Pada akhirnya aku berkhayal. Sambil memeluk bantal, senyam-senyum sendiri, tertawa sendiri, hingga jejak jam tiga subuh, barulah mata ini terlelap.

Mataku masih berat pagi ini. Tapi ku putuskan turun dari rumah lebih awal. Biasanya sih jam 8.30, atau jam 8.50. Tapi hari ini jam 6.45, sudah berada di bengkel. Alasannya sederhana. Aku ingin jadi orang pertama melihat wanita tetangga bengkel. Menikmati wajahnya. Karena, kalau dua kawanku itu ada di sini, mereka ikut juga ngintai bersama, aku tak mampu mulut si Narto, sudah baunya tidak enak, pedas lagi.

Tugas pertama ku dimulai dengan menyapu halaman depan bengkel. Jujur, tak ada tugas diberikan oleh pak Amrin terkait sapu-menyapu. Cuma inisiatif saja sambil cari kesempatan untuk ngintai wanita itu. Namun, sudah tiga puluh menit ditunggu, bahkan seperti orang gila, karena terus saja menyapu, sementara kondisi halaman sudah bersih tanpa ada satupun sampah terserak, dia belum juga muncul. Aku kecewa. Mengingat badanku juga sudah bermandi peluh, capek, hilang semangat.

“Ah. Sudahlah. Mungkin dia tak pernah mau keluar,” ucapku, dalam hati. Lalu melangkah gontai menuju kursi sofa dekil di bawah pohon jambu. Di sana, aku duduk, bersandar, pikiran mengawang kemana-mana.

Brremm. Brremm. Tiba-tiba terdengar suara sepeda motor dari arah Timur. Sontak saja aku kaget. Ku palingkan wajah, mencari sumbernya. Ternyata, eh ternyata dia, wanita yang sedang ditunggu-tunggu, sudah ada di depan teras rumah. Kesempatan ini tak ingin ku sia-siakan.

Aku segera bangkit dari sofa. Kemudian melangkah tergesa-gesa, mengambil sapu, dan mulai menyapu halaman lagi. Satu, dua. tiga. Dia melintas di hadapanku. Alamakk. Dia cantik. Tubuh putihnya dibalut seragam Akademi Kebidanan, membuat jantungku dag dig dug tak karuan. Kondisi psikologiku pun demikian, seperti orang yang baru saja menang lotre, berhadiah ratusan juta rupiah. Setelah itu, aku masuk kembali ke dalam ruang istirahat untuk membayar tidurku yang belum puas.

Sampi suatu hari. Tepatnya sebulan aku menjalani proses magang. Aku berkenalan dengan Jo. Itu terjadi saat dia datang ke bengkel, minta diperbaiki knalpot sepeda motornya yang lepas. Aku menyanggupi.

“Sepertinya kita sering bertemu?!” Tanyaku, basa-basi. Kedua tanganku sibuk bekerja.

“Ya iyalah. Hampir setiap hari malah. Hanya saja sedikit sungkan untuk bertegur sapa. Itu rumahku,” ucap Jo. Salah satu jarinya menunjuk kearah rumah bertingkat di seberang bengkel. Pandanganku mengikuti jari telunjuknya. “Main-mainlah ke rumah,” Jo, memberi tawaran.

“Boleh, nanti,” aku merespon, di sela kesibukan memasang kembali paking knalpot.

“Oh iya, suka musik juga?” sekilas aku memperhatikan anak muda itu. “Tapi biar kutebak. Kamu anak band, genremu rock,” lanjutku. Karena style yang dikenakan Jo, memang mengarah ke sana. Rambut panjang lurus. Celana jeans tersirah dimana-mana. Gelang berderet di kedua lengan. Mulai dari gelang stainless steel, akar bahar, sampai gelang dukun.

“Loh, kok tahu?” Jo sedikit kaget. Matanya yang indah itu seketika mengecil. Keningnya juga sedikit berkerut.

“Aku juga anak band, bro. Jadi aku bisa tahu ketika melihat penampilan seseorang.”

“Tak usah percaya mulut si Heri itu, bro. Dia itu pembual. Kalau ini baru benar, pemusik asli. Tapi musisi dangdut, huahaa,” tiba-tiba Narto ngoceh dari dalam ruang istirahat. Tangannya menarik Jatmiko yang ketika itu sedang berbaring, menikmati istirahat siangnya, di atas tempat tidur dekil, miliknya bang Agus.

“Siapa itu?” Tanya Jo. Kepalanya mencari-cari sumber suara itu.

“Oh, itu si Narto. Teman satu magang denganku. Tapi tak usah dihiraukanlah, dia itu agak sinting,” ucapku, kesal. Aku kemudian berdiri, menghidupkan sepeda motor Force One, milik Jo, untuk diketahui apakah knalpot tersebut sudah terpasang dalam kondisi semestinya, atau belum. Setelah dinilai sip. Jo segera undur diri.

Berangkat dari situlah, aku dan Jo mulai berteman. Modal musik sebagai hobi, menjadikan hubungan kami mengalir laksana air, cukup mudah, bahkan semakin hari terasa semakin akrab. Kami sering bertemu, berdiskusi soal musik, hingga tak jarang latihan bersama, jika ada waktu luang. Aku pikir, Jo pemuda yang baik, supel dan friendly.

Hingga suatu malam. Kami sedang asyik menyeruput secangkir kopi, sambil menikmati lagu-lagu rock lawas miliknya Deep Purple, di kamar Jo. Tiba-tiba hati ini terpanggil untuk bertanya padanya, tentang wanita tetangga bengkel yang beberapa hari ini telah buat tidurku tidak nyaman. Sebagai tetangga, Jo pasti banyak tahu seluk-beluk wanita itu. Siapa namanya. Bagaimana sikapnya. Dan lain-lain.

“Oh itu. Namanya Yeni. Dia sepupuku. Kenapa, Her,” jawab, Jo. Dia berdiri. Lalu mengambil gitar akustik yang tersangkut pada dinding, lalu memetiknya.

“Sepupu?” Mataku terbelalak, seakan tak percaya. Aku meringsek bangun dari posisi baring, dan duduk di atas kasur.

“Iya, dia sepupuku. Ada apa?”

“Ah, tidak. Cuma tak menyangka saja jika Yeni itu keluargamu,” jawabku. Bibirku menebar simpul. Hatiku berbunga-bunga. Sementara mataku menatap Jo, sebagai isyarat ucapan terimakasih, tak bersuara. “Kalau sudah begini, semuanya pasti akan mudah. Sedikit banyak, Jo bisa membantu jadi mak comblang antara aku dan Yeni. Hahaha,” buncahku, dalam hati.

“Mamakku dan mamak dia itu, adik beradik,” jelas Jo, tanpa ku pinta. Aku antusias mendengar dia bicara. “Terus. Terus,” aku mempersilahkan.

“Dia itu anak baik, religius dan disiplin. Maklum, bapaknya mantan perwira Angkatan Udara. Tapi dengar-dengar, dia masih single. Kenapa, kau naksir?” Terang, Jo. Lalu bertanya. Sambil kedua alisnya yang lebat itu diangkat beberapa kali kearahku.

“Waduhh. Berat, ini. Berattt,” keluhku, dalam hati. Tanganku meremas-remas rambut gimbal, yang tumbuh di kepala. Mukaku, seketika jadi kecut.

“Oii, kau naksir?!” Jo sedikit berteriak. Dia kemudian mengambil bantal, melemparkan benda berisi kapas itu, padaku. Hingga mendarat di pundakku.

Aku tetap diam saja. Ada perasaan tidak enak juga tentunya, jika sekonyong-konyong ku-utarakan isi hati ini pada orang yang belum lama dikenal. Tapi, karena terus didesak, aku berterus terang.

“Nah, gitu dong. Lebih baik diungkapkan, dari pada ditahan-tahan, bisa gila nanti. Jadi sekarang, apa yang bisa aku bantu?” Tanya Jo lagi. Membuat hatiku terharu.

“Wah, terimakasih, kawan. Tawaranmu menarik sekali. Tapi,,,.,,” aku berhenti sampai di situ. Tak berani lanjut. Sementara Jo mengangkat alisnya, sebagai isyarat kalau dia ingin sekali mendengar.

“Baiklah. Begini,, aku ini punya sedikit kendala, terkait masalah kepribadianku. Karena masalah inilah aku dijauhi, atau aku menjauh dari perempuan,” ucapku, melas.

Jo terbelalak. Tatapannya yang tadinya berseleweran kesana-kemari, seketika berhenti di mataku, cukup dalam. “Kau,, bukan gay kan?” Tiba-tiba dia bertanya. Aku terperanjat.

“Oohhh, tidak, tidak. Amit-amit, amit-amit,” bantahku, sembari mengelus dada. “Aku normal, bro, sumpah, sumpah, aku normal. Bukan itu maksudku.”

“Lalu apa?” Tanya Jo, tak sabar. Aku menyandarkan tubuh pada dinding kamar, bermaksud menenangkan diri. Lalu menggapai secangkir kopi, menyeruputnya.

“Sebenarnya, aku baik-baik saja, Jo. Hanya saja, aku kurang Percaya Diri berhadapan dengan perempuan. Hehehe,” jawabku, sambil menggaruk-garuk kepala lagi.

“Hahaha. Jadi itu masalahnya. Aku pikirr,,,,” Jo tak melanjutkan. Dia lalu meninju lenganku, pelan. Sedikit bercanda maksudnya.

“Untuk masalah ini kau tak usah khawatir, Her. Tidak semua wanita itu suka Tukang Obral. Lihat saja mamakku yang mau dinikahi bapakku. Padahal dulu, sewaktu muda, bapak dikenal paling takut dengan wanita. Mereka bisa kenal, karena dibantu teman mamak, kemudian pacaran,” Jo berhenti sejenak. Tangannya bergerak menggapai secangkir kopi, di atas meja belajar. Menyeruput. Lalu melanjutkan kembali ceritanya.

“Nah, selama satu minggu mereka pacaran, bapak tak pernah bicara dengan mamak, tapi diam seperti ayam sakit. Bahkan saat ngajak mamak nikah pada hari kedelapan pun, dia tak bicara panjang lebar, hanya mengambil cincin dari dalam saku celana, memasukkannya ke jari manis mamak, lalu bilang ‘nikah yok’. Dua minggu kemudian mereka nikah, sampai sekarang.”

Aku terpelongok usai mendengar cerita itu. Setengah tak percaya juga aku pada si Jo ini. Tapi jika itu benar. Dia telah memberi jawaban atas prasangkaku. Aku pikir, semua wanita itu suka laki-laki perayu. Senang diobral-obral. Senang digombal-gombal. Ternyata, ini menurut si Jo, semua itu tidak benar. Tapi tak mengurangi rasa hormatku pada pemuda ambisius ini, konstruksi hatiku yang sebelumnya lunak, lembek, dan bermasalah, perlahan-lahan berubah seperti batu karang.

“Yah, mudah-mudahan saja Jo benar. Sehingga aku tak perlu banyak bicara, seperti bapaknya. Semoga juga Yeni itu adalah jodohku. Hehehe,” doaku, dalam hati.

“Intinya kan kita berusaha. Masalah jodoh atau tidak, itu urusan lain,” celetuk, Jo. Dia seolah-olah tahu isi hatiku.

“Okelah, Jo. Terimakasih. Berhubung sudah larut, aku pamit pulang dulu, karena besok harus masuk bengkel pagi-pagi sekali,” ucapku, mengakhiri percakapan. Lalu beranjak dari tempat duduk. “Eitts ada yang lupa. Tolonggg,, sampaikan salamku buat Yeni.”

“Sipp,” Jo mengangkat kedua jempol.

Aku kembali beraktivitas seperti biasa di bengkel. Aku sadar, banyak sekali tugas sudah menunggu untuk diselesaikan. Seperti menyapu halaman. Menyiapkan sarapan dan makan siang para montir. Kemudian ikut kegiatan praktek yang dimulai dari pagi hingga sore. Yang sudah barang tentu, jika semua itu dilakukan dengan setengah hati, bermalas-malasan, pastilah akan timbul kejenuhan, dan rasa capek. Anehnya, aku tak merasa capek. Sebaliknya, semangatku kian berkobar, adrenalinku meningkat, wajahku juga sumringah, dari hari ke hari. Meskipun yaa,, tetap saja canda, tawa, kekonyolan, menjadi ciri khas kami dalam setiap interaksi.

Maklum, anak STM. Imagenya selalu demikian. Kalau tak nakal, pasti tauran. Sekolah di tahun itu, benar-benar jadi tantangan sendiri bagiku. Banyak sekali bisikan-bisikan yang mengarah pada tingkah laku negatif, seperti perkelahian, merokok, alkohol, berseliweran di telinga. Awalnya, aku masih bisa menepis, membendung hal tersebut. Lama kelamaan, aku pun terjerumus juga.

 

bersambung…

 

 

9 Comments to "Yeni, Oh Yeni (1)"

  1. J C  18 January, 2016 at 15:04

    Suit, suiiittt…jadi ingat cerpen-cerpen di jamannya Anita Cemerlang…

  2. djasMerahputih  12 January, 2016 at 08:09

    Hadir telat Tji Lani…
    Ceritanya mengingatkan….

    Lanjoeet…!!

  3. Jemy haryanto  12 January, 2016 at 03:06

    Benar mba Lani ..

  4. Lani  12 January, 2016 at 02:28

    Jadi ini cerita gado-gado termasuk pengalamanmu juga………bisa dikatakan fiksi tp jg sebagian real

  5. Jemy haryanto  12 January, 2016 at 01:54

    Hihihi ini non fiksi vin. Pengalaman kwn2 ku jadikan 1, diantaranya pengalamanku juga, tapi yg mana cuma mba dewi yg tahu. Hahaha. Mba lani : satoe

  6. Alvina VB  11 January, 2016 at 22:46

    Jemy: Ini cerita fiksi/non-fiksi? ditunggu lanjutannya dah….
    Mahalo mbakyu Lani.

  7. james  11 January, 2016 at 14:23

    hadir ci Lani…..makacih

  8. Lani  11 January, 2016 at 12:22

    Ditunggu sambungannya………nampaknya asyik critanya

  9. Lani  11 January, 2016 at 11:59

    Satu sambil mengingat trio kenthirs tercinta

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.