Pilih-pilih

Anwari Doel Arnowo

 

Beberapa waktu yang lalu saya mengirim ke Surabaya, sebuah barang (electronic keyboard) yang rapi dibungkus dan diberi pengaman agar sedikit tahan banting, lalu  dimasukkan ke dalam packing terbuat dari papan kayu. Saya mendapat pemberi tauan melalui telepon bahwa barang diantar dan diterimakan siang hari. Si penerima ini adalah teman lama sejak masa muda, seorang janda yang tinggal sendiri di sebuah rumah hanya ditemani oleh  seorang wanita pembantu.

Meskipun sudah janjian bahwa kalau dia tidak ada maka sang pembantu yang menerimanya, saya masih ada rasa khawatir kalau saja rumahnya sedang kosong. Oleh karena saya khawatir kalau tidak ada penerima itullah saya menelepon teman saya . Sejak tengah hari saya telepon empat kali tetapi nada deringnya sampai habis, panggilan-panggilannya tidak diterima. Pada sekitar pukul 15:00 siang panggilan yang ke lima kali barulah saya dengar suaranya dengan volume rendah, setengah berbisik. Saya terheran-heran apa pula ini? Dia bilang dia sudah tau ada panggilan-panggilan telepon dari saya.

Tetapi memang sengaja  tidak mengangkat menyambung untuk berbicara. Apa pasalnya?

Kedengarannya dia sudah ke luar dari ruangan yang banyak orang, sambil bilang, katanya: “Saya sedang mengaji!” Saya mengetaui  memang dia Muslim, akan tetapi saya baru dengar dia hadir di  acara pengajian bersama. Dia sempat juga meminta saya mendengarkan suara seseorang yang sedang mengaji dengan suara keras. Dia melanjutkan: “Aku ini, meskipun tidak terlalu setuju, diberitau oleh adik kandungku, bahwa sebaiknya pada umur seperti ini selalu mengingat bahwa sebagian dari satu kaki kita telah berada di liang kubur!”.

Bagaimana ekspresi muka saya ketika mendengar ini, saya tidak tau, mungkin mata saya terbeliak sebentar. Berikut ini saya kutip dari search engine di komputer: Makna Ayat “Rabbana Atina Fi Dunya Hasanah, Wa Fil Akhirati http://muslimah.or.id/4253 -makna-ayat-rabbana-atina-fid-dunya-hasanah-wa-fil-akhirati-hasanah.html 13 Sep 2013 Apa yang dimaksud ayat “Ya Rabb kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat”

Sesuai dengan bunyinya maka kata dunia ditempatkan di depan kata akhirat di belakang atau kemudian. Saya pikir seperti itulah sebenarnya kita menjalankan pilihan hidup itu  , yakni dunia didahulukan baru kemudian sekali urusan akhirat.

 

Saya bukan yang mengarang susunan kata di dalam doa doa seperti itu, jadi sejak dahulu kala sudah seperti itu susunan yang tertera.

Dengan demikian alangkah eloknya bila kita itu hidup di dunia ini sebaik-baiknya. Bagi saya bilamana memang ada ruang setelah kita nanti meninggal dunia, maka saya atau kita semua, baru akan mengenali ruang dunia yang akan datang tersebut. Selama ini dunia di sebelah sana, alam sesudah sekarang itu, digambarkan kepada kita dengan berbagai versi dan jenis, bentuk, serta macam-macamnya. Kita semua tidak usah memilih apapun, karena memang belum tau memilih apa yang bisa dipilih. Tekad saya hanya satu: menjadi orang baik saja selama hidup di dunia. Cukup !! Bagaimana urusan di ruang dunia lain, nanti saja dihadapinya.

Oleh karena saya ini adalah seorang Theist yang Agnostic maka tentu saja saya ber-reaksi agak terperanjat. Timbul beberapa pertanyaan sekaligus meskipun tidak terucap  secara verbal. Hanya menulis saja seperti begini, terasa lebih aman dan nyaman. Di dalam benak saya terbayang bila sebagian salah satu kaki sudah berada di dalam liang kubur, tetapi selebihnya dari tubuh masih ada di dunia dan di alam nyata, lalu mana yang harus diutamakan? Tak, tik tok tuk tukkk tiiiitt pikiran saya mengetuk-ngetuk alarm.

Saya ingin menunjukkan bunyi dan isi beberapa bagian doa yang amat sering diucapkan kaum Muslimin dan Muslimat di Indonesia dengan fasih. Kalaupun kita harus dan boleh juga serta bisa memilih: yang mana? Mana utamanya yang harusnya didahulukan agar hidup kita selamat dan sejahtera, apakah pilihan saya? Saya tau bunyi jawabannya amat tergantung kepada siapa?! Ya, kepada siapapun yang mau menjawabnya. Ini kan jawaban yang tentu saja amat pribadi.

Tidak ada perlu kita meniru jawaban orang lain atau dasar kepercayaan yang tertentu. Kita semua sudah tentu maklum apa jawaban oleh ajaran-ajaran kepercayaan kebanyakan orang pada saat ini. Sesungguh-sungguhnya saya ingin sekali mendengar jawaban jujur yang keluar dari batin dan hati nurani kita sendiri. Batin dan hati nurani itu bagi logika saya benar-benar ada, juga dipunyai oleh setiap manusia yang sehat mental dan fisiknya. Bilamana tidak sehat mental dan fisiknya, tidak usah membicarakannya.

Bukankah kita semua yakin bahwa di seluruh dunia ini orang yang sehat mental dan fisiknya itu mempunyai  jumlah yang cukup besar dari seluruh penduduk Planet Bumi yang mendekati angka 8 miliar itu?? Yang TIDAK  sehat mental dan fisik pasti TIDAK banyak jumlahnya, malahan mungkin hanya sedikit. Mengapa ini saya kemukakan? Saya yakin manusia itu memilih sesuatu karena pertimbangan utamanya adalah individualistik, amat pribadi, dengan pilihan yang mengutamakan kenyamanan dirinya sendiri. Hal ini adalah wajar dan baik, tidak ada dosanya. Berdasarkan itulah saya pikir mereka yang sehat mental dan fisik itu akan selalu mengutamakan pilihan yang nyaman dan aman bagi dirinya secara individu. Hal seperti ini adalah normal, jadi tidak boleh dosebut aneh atau salah.

Tiap-tiap orang berhak melindungi dirinya sendiri, secara sadar atau tidak sadar pasti begitu. Seorang pencuri yang sedang lari dikejar-kejar polisi dan massa, apakah yang secara otomatis dipikirkannya? Nomor satu dia harus memilih menyelamatkan dirinya sendiri terlebih dahulu, pikiran yang lain ditunda nanti saja urutannya. Nah saya terlahir di lingkungan kaum yang didominasi agama Islam. Waktu saya kecil juga dilatih berdoa di dalam agama itu. Saya juga mengaji meskipun saya sama sekali buta bahasa Arab.

Bahkan Bahasa Indonesia yang ada seperti saat inipun saya sama sekali belum mampu. Bahasa Indonesia waktu itu masih disebut sebagai bahasa Melajoe, dengan cara eja dan tanpa pedoman apapun. Setau saya, orang termasuk juga di koran harian, berbahasa yang campur aduk. Nah bahasa Arab yang amat lekat dengan agama Islam, kami semua pasti tidak ada yang mampu menggunakannya dengan piawai. Terbukti dengan bertambahnya ummat Islam yang luar biasa demikian pesatnya, masih saja tidak seimbang dengan banyaknya yang mampu menguasai bahasa Arab sehari-hari. Menurut statistik yang dibuat oleh seorang peneliti ahli agama Islam dan bahasa Arab. terhadap umat Islam di Indonesia, 90% lebih ummat Islam tidak paham dalam berbahasa Arab.

Saya sendiripun tidak mampu berbahasa Arab meskipun pernah belajar tetapi tidak tuntas dan memang saya akui bahwa tidak gampang bagi diri saya untuk berhubungan dengan kalangan mereka yang bisa berbahasa Arab. Namun dari hasil sang peneliti itu, orang Indonesia amat baik dalam melafalkan doa-doa Islam.

Juga dalam mengalunkan cengkok serta lagunya waktu mengaji. Bahkan mereka banyak yang amat hafal di luar kepala meskipun tidak paham bahasa Arab sedikitpun. Ada solusi yang mungkin sekali bermanfaat. Saya pernah membaca anjuran bagi yang seusia lanjut, seumur saya, agar mau belajar satu lagi bahasa baru di luar bahasa yang sudah dipahaminya. Ini pelatihan penggunaan otak kita agar tetap aktif dan menjadi lebih sehat. Sehat otak kita hampir pasti sehatlah tubuh kita.

Nah marilah belajar  bahasa Arab, agar lebih mampu mendalami isi dan arti doa-doa yang dianuti di dalam agamanya. Bila belajar bahasa baru tidak memungkinkan karena alasan klasik, beli saja Al Quran yang menggunakan bahasa Indonesia. Ada dijual di banyak tempat penjualan buku. Itu berarti bersembahyang di dalam bahasa Indonesia dibolehkan. Karena Allah adalah Sang Maha Pencipta maka Bahasa Indonesia adalah juga hasil ciptaan Allah. Kita semua masih ingat ada seorang ustad di kota Malang, Jawa Timur yang telah dihukum badan di dalam penjara sekian lamanya hanya karena mengajarkan bersembahyang menggunakan dua bahasa, yakni bahasa Indonesia dan bahasa Arab. Maksud baik ini menyebabkan dia dihukum seperti itu. Kalau memang dilarang mengapa ada Al Quran bebahasa Indonesia? Ayah saya memiliki yang berbahasa belanda, yang banyak digunakan oleh beliau kalau berdiskusi.

Ayah saya sering berdiskusi dengan Kepala Sekolah SMA Katholik di kota Malang.Nama beliau Romo Hoogenkamp asal ras  belanda. Al Quran di dalam berbagai macam bahasa berarti Islam itu setingkat menjadi internasional.

Baru baru ini saya bertemu dengan beberapa teman lama semasa belajar di SMA. Di antaranya ada beberapa orang keturunan ras China,  menyatakan ingin masuk agama Islam. Salah seorang teman lain dalam kelompok ini segera membelikan dan memberikan kepadanya sebuah Al Quran berbahasa dan juga tulisan yang menggunakan huruf China. Beberapa minggu kemudian dia berkata kepada saya:   “Pak Anwari, sudah saya baca Al Quran itu dari depan ke belakang dan sebaliknya dari belakang ke depan, saya mencari soal khitan (circumcision), tidak ada, mengapa ya?” Heh?

Apa mesti saya jawab, karena saya sendiri kan tidak pernah tau masalah itu, apalagi bukankah saya ini agnostic? Yang pernah saya saksikan di Negara lain, dua teman saya yang sekantor di Toronto, Canada, berumur sekitar 47an melakukan circumcision. Menjawab pertanyaan saya dia berkata dia melakukan itu demi masalah kesehatan dan tidak ada hubungannya sama sekali dengan agama atau kepercayaan apapun jua. Saat sekarang ini justru adalah praktek biasa, bila  seorang bayi laki-laki setelah lahir segera dilakukan circumcision. Jelas demi kesehatan juga. Eh, belum cukup seperti itu saja.

 

Dua orang lagi teman saya asal ras China menyatakan langsung di depan saya, bahwa meskipun dia belum masuk agama Islam, mungkinkah dia boleh ikut pergi Umrah? Tentu saja di dalam rombongan yang ke Arab Saudi untuk menunaikan Umrah? Saya jawab bahwa sepanjang pengetauan saya, hal itu tidak mungkin diijinkan. Bukankah harus memasuki Kota Haram di Mekkah, di mana orang yang non Muslim dilarang menginjakkan kakinya di sana?

Mungkinkah dilakukan? Sewaktu saya bersekolah di SMA Katholik St. Albertus, ada saat saat saya bersama teman-teman masuk ke dalam Gereja Katholik di jalan Ijen Kota Malang. Tidak ada yang menanyakan agama saya apa. Ketika saya bersembahyang di Masjid Al Ittihad di Tebet Jakarta juga tidak ada yang menanyakan agama saya itu agama apa. Juga masuk ke Gereja Batak di Kramat Raya, Jakarta untuk menghormati upacara pernkahan kenalan saya. Juga tidak ditanya agama saya apa. Demikian juga untuk upacara perkawinan seorang Canada turunan Indonesia- China warga Negara Kanada dengan turunan Yunani warga Negara Kanada di kota Toronto, Ontario,  saya juga tidak ditanyai apa agama saya.

selective

Seorang sahabat saya yang bersamaan waktu tinggal dan belajar di kota Tokyo, memutuskan akan menikahi seorang perempuan Jepang bernama Kyooko dengan upacara Islam di kota Kobe. Saya selaku sahabatnya dengan terpaksa harus mengajari Kyooko ini mengucapkan kalimat Syahadat. Sebanyak puluhan kali saya mengulang-ulang sampai hampir hilang kesabaran saya.

Coba dengarkan apa hasil pengajaran saya ketika Kyooko mengucapkan di dalam Mesjid di Kobe itu. Asyuhadu Arraaa Iraaa Ha Irraaa Raaa … Dan seterusnya …..amat menggelikan tetapi saya amat harus tidak tertawa.

Saya merasakan suasana sakral waktu melihat beberapa sejawatnya yang terharu menitikkan air mata. Semuanya berjalan lancar dan wajar saja. Begitulah: Agamaku …… agamamu ………….begitulah semangatnya.

Ada di salah satu di surah Al Baqarah … Lakum Dinukum wa Liya Diin yang amat terkenal itu berarti kira-kira agamamu agamaku boleh berlain-lainan. Oleh karena mayoritas pemeluk agama itu menganggap aliran atau ajaran yang dipercayainya saja yang absolute benar, maka setiap hukum, aksioma atau dalil akan bisa saja dibelokkan tujuannya, artinya, bahkan nada dan irama  kepercayaannya, sesuai dengan kepentingannya masing-masing yang hanya sesaat itu.

Tetapi kalau dipikirkan lebih jauh, apa adakah sesuatu itu akan tetap bias untuk  selama-lamanya? Semua berubah setiap detik dan setiap menit, dan kita akan terpaksa mengakui bahwa berubah itu adalah alami. Sayapun ketika masih muda sudah mulai berpikir menjadi seorang yang agnostic.

Berubah itu murni alami.Bukankah Anwari yang dahulu kala adalah seorang bayi, sekarang menjadi tua yang bentuknya amat jauh lain berbeda berubah secara fisik dan mentalnya, setelah 78 tahun lamanya.

Melawan perubahan itu sama dengan melawan pertambahan umur atau kedewasaannya. Itulah betapa keliru dan keblingernya promosi perusahaan kosmetik yang menawarkan produk yang katanya anti ageing toh dia tau bahwa itu tidak mungkin, bukan? Siapa pula bisa melawan penuaan?

Menggunakan rekayasa ilmu biologi? Itu memang bisa saja digunakan dan amat berguna bagi mereka yang secara fisik berubah muka dan kondisi tubuhnya yang lain karena kecelakaan yang parah

Operasi kosmetik juga menolong untuk perbaikan bentuk fisik akibat kecekakaan. Tetapi untuk tambah cantik atau tampan, biasanya hasilnya tidak selalu bagus dan biaya pemeliharaannya mahal,

Menggunakan uang yang segudang?

Pakailah nalar dan buah pikiran sendiri !!!

 

Anwari Doel Arnowo – 5 Januari, 2016

 

 

6 Comments to "Pilih-pilih"

  1. J C  18 January, 2016 at 15:29

    Mantap sekali! Saya sangat menikmati semua tulisan pak Anwari…

  2. Lani  13 January, 2016 at 08:50

    Kenthir di Kona hadir James……….mahalo

  3. Alvina VB  13 January, 2016 at 02:34

    Hadir James…mau nyimak dulu, komentarnya besok ya Pak Anwari…

  4. Dewi Aichi  12 January, 2016 at 20:36

    Suka sekali tulisan dan ulasan Bpk. Semoga sehat selalu dan lebih banyak menulis (Wusi Klobasa).

    Yang komentar di facebook untuk tulisan pak Anwari.

  5. james  12 January, 2016 at 16:16

    2…..dibelakang mas DJ sembari menunggu kedatangan Trio Kenthirs lainnya

  6. Dj. 813  12 January, 2016 at 16:11

    Terimakasih cak Doel . . .
    Maaaaf . . . ini Dj. copy sebahagian dari kalimat diatas .
    Maaaf kalau salah .

    ” Bukankah harus memasuki Kota Haram di Mekkah, di mana orang yang non Muslim dilarang menginjakkan kakinya di sana? ”

    Jadi, menurut logika Dj . Yang boleh masuk kota haram, hanya orang yang haram juga .
    Orang yang tidak haram, tidak boleh masuk kekota tersebut .
    Apakah ada arti lain, mengapa kota tersebut disebut kota haram . . . ? ? ?
    Biasanya kan barang yang haram, dipegangpun tidak boleh .
    Mengapa justru orang yang mau umroh, malah masuk kota haram . . . ? ? ?
    Atau bagaimana . . . ? ? ?

    Terimakasih dan salam

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.