Yeni, Oh Yeni (2)

Jemy Haryanto

 

sebelumnya:

Yeni, Oh Yeni (1)

 

Aku merokok di sekolah. Bahkan sudah belajar meneguk minuman keras, seperti bir, arak, lonang, dari cap tikus, hingga Mandau, dan lain-lain. Kalau musim tawuran, aku menjadi yang terdepan. Maksud hati, ingin membela nama baik sekolah, tapi apa benar?

Selain hal-hal negatif di atas, aku juga jarang masuk sekolah, alias suka bolos. Bisa dikatakan dalam satu minggu, hanya tiga sampai empat hari ikut pelajaran. Tak heran jika aku, Narto, Jatmiko dan beberapa kawan lain, kerap jadi bulan-bulan amuk kepala yayasan. Sebagai konsekuensi, biasanya kami dijemur di bawah tiang bendera, selama jam pelajaran. Setelah itu, disembat dengan ikat pinggang.

“Ala pak, ala pak, sakit pak, sakit. Ampun pak, ampuunn, ampunn, ampunn,” seperti itulah rintihku, tatkala ikat pinggang berwarna cokelat bertubi-bertubi mendarat di punggung dan pahaku, berkali-kali, hingga membekas dan lebam.

Bahkan pernah ada kejadian lucu. Saat itu aku, Narto dan Jatmiko sedang bosan dengan pelajaran. Dikarenakan, kami cuma disuruh mencatat buku yang dititipkan oleh pak guru.

Nah, ketika pak guru tersebut balik lagi ke kantor, kami pun bergegas melarikan diri, dengan cara mengendap-ngendap. Kondisi sekolah sedang dalam renovasi, dimana toilet umum yang sebelumnya berada di samping kelas, dipindah berdampingan dengan ruang praktek.

Ruang praktek sudah jadi 100 persen dan siap digunakan. Tapi toilet, atapnya belum dipasang. Toilet tersebut menempel pada pagar juga. Karena letaknya tersembunyi, bagian ini sering dimanfaatkan murid-murid untuk bolos. Selan itu, mudah. Kita tinggal panjat saja tiang toilet, pagar, langsung jatuhnya ke kebun langsat atau dukuh.

Kami menuju bagian ini dalam rangka melarikan diri. Setelah mengendap-ngendap, kami pun lari sekencang-kencangnya agar tidak dilihat oleh guru yang lain. Kami takut ketahuan. Konsekuensinya, ya kalau tidak disembat ikat pinggang ketua yayasan, biasanya ditakut-takuti dengan senapan untuk menembak burung.

Akhirnya sampailah kami di samping toilet. Dengan nafas ngos-ngoan, Narto berhasil loncat dari pagar, begitu juga Jatmiko, berhasil. Tapi pas giliranku, – itu tatkala tanganku sudah berhasil menggapai pagar, di atas toilet, tiba-tiba kakiku di pegang seseorang. Dari bawah terdengar suara.

“Haaaa,, mau kemana, mau kemana kamu?!”

Begitu kalimat yang diucapkan dengan nada sangat marah dan murka. Aku masih berusaha menarik kaki berkali-kali agar bisa lolos. Namun saat ku toleh, yaa mampus aku, ternyata ketua yayasan. Di situ dia sedang buang hajat mengakitkan bau tidak sedap langsung naik dan menusuk hidungku.

“Turun kamu!! Turun!!! Tunggu saya!” Teriak dia, sambil kedua matanya melotot. Setelah itu, aku digiring ke kantor guru untuk diadili.

Kisah lain juga pernah kami alami bersama kawan-kawan. Zaman sekolah dulu, razia anak sekolah lagi marak-maraknya dilakukan oleh polisi. Kalau menjumpai anak-anak berseragam sekolah di jam pelajaran, mereka langsung diciduk dan digiring ke kantor polisi untuk dibina. Lokasi yang diincar itu biasanya tempat hiburan yang jadi tempat tongkrongan anak-anak yaitu pasar dan pusat permainan video game.

Aku, Narto, Jatmiko dan kawan-kawan lain pas sedang berada di salah satu tempat itu. Sedang asyik-asyiknya bermain video, tiba-tiba sekelompok polisi datang merangsek masuk, lalu menangkap kami.

Saat itu mobil mereka sedang dipenuh oleh anggota. Tak ada jalan lain, mereka pun akhirnya menggunakan jasa oplet atau angkot untuk dibawa kami ke kantor polisi. Pinta mereka pada supir oplet untuk mengikuti mobilnya dari belakang. Jumlah anak sekolah yang ditangkap ramai sekali, hingga kami sesak, dan sulit untuk bernafas.

Tapi puncaknya di sini. Saat mendekati persimpangan jalan, lampu hijau pada traffic light masih menyala, sehingga mobil polisi di depan kami terus saja melaju. Namun pas giliran kami, tiba-tiba lampu berubah menjadi merah, sebagai tanda setiap pengendara harus berhenti. Oplet berhenti di situ. Terpikir ini kesempatan berharga, tak perlu menunggu lama, kami lantas berhamburan keluar dari dalam oplet meloloskan diri. Ada yang ngacir ke pasar tradisional. Ada yang bersembunyi di dalam bak sampah. Kami bertiga terpaksa terjun ke sungai Kapuas, lalu bersembunyi di sisi lambung kapal. Itu dilakukan, lantaran bapak-bapak polisi tahu kami kabur, dan segera balik arah, berusaha mengejar. Untungnya, kami selamat. Tapi, apakah kami tobat?

Tentu tidak. Namanya juga anak bandel, pertobatan hanya berlaku pada hari itu saja. Besoknya, dilakukan lagi. Bolos lagi. Merokok lagi. Seperti saat ini, usai makan siang, aku bersandar di atas kursi di sudut bengkel, sambil merokok.

“Bro, bro, bro, pak Randu, bro, pak Randu,” teriak Narto tiba-tiba. Aku yang sedang nikmat-nikmatnya menarik asap rokok, segera membuang benda bernikotin itu keluar jendela. Lalu duduk kembali dengan wajah innocent.

“Loh, kalian kok tidak kerja!” Ucap pak Randu, sekonyong-konyong.

“Jam istirahat, pak,” jawab, Jatmiko. Kemudian dia mengendus-endus, seperti mencium sesuatu. “Bau rokok ini. Kalian merokok?!”

“Tidak, pak. Bapak yang merokok,” ucapku.

“Oh, iya saya lupa. Awas ya, kalau bapak sampai dapat laporan tingkah laku kalian tidak baik di sini. Bapak tidak akan buat kalian lulus,”ancam pak Randu. Dia lalu bergegas melangkah masuk ke dalam kantor admisnitrasi untuk bertemu pak Amrin. Lima belas menit berselang, laki-laki betubuh kecil berkulit gelap itu keluar. Wajahnya sumringah.

“Belajar yang baik ya. Jaga nama baik sekolah. Bapak puas hasil laporan kalian minggu ini,” ucap pak Randu. Dia melangkah buru-buru menuju sepeda motor bututnya yang terparkir di depan bengkel, lalu menghilang. Tak lama, pak Amrin menyusul. Bedanya, wajah laki-laki bertubuh gempal itu terlihat kecut.

“Haduhhh, parah guru kalian itu. Setiap kali dia datang, habis rokokku dipelorotnya,” keluh pak Amrin, menggosok-gosok kepalanya yang juga sulah dengan telapak tangan. Sementara aku, Narto, dan Jatmiko, cekakak-cekikik. Kedua telapak tangan kami menutup mulut.

“Oh iya. Tolong belikan saya rokok,” pak Amrin menyodorkan selembar uang padaku. Dia minta dibelikan rokok lagi di warung sebelah. Setelah itu, kami bekerja kembali seperti biasa.

Satu hari, dua hari, tiga hari, aku menunggu kabar dari Jo dengan perasaan gelisah. Hingga hari keempat pun, pemuda berbibir tipis itu belum juga tampak batang hidungnya di bengkel. Padahal aku sudah berharap banyak jika dirinya bisa membantu. Dalam kondisi yang cemas itu, pertanyaan-pertanyaan seketika muncul dalam pikiran.

Apakah Jo sakit? Apakah dia sibuk dengan tugas kuliah? Apakah dia lupa? Atau apakah dia hanya menipuku? Yang jelas saat ini, aku benar-benar menunggu jawaban salam itu, berbalas atau tidak.

“Her,,,” teriak Jo, dari teras rumahnya. Dia melambaikan tangan, sebagai simbol meminta aku datang. Tak ingin mengulur waktu. Tanpa minta izin terlebih dahulu kepada pak Amrin, aku bergegas menghampiri si Jo. Dia mengenakan celana santai, tanpa berbaju, saat itu.

“Gimana, Jo? Gimana,” Tanyaku, antusias. Nafasku ngos-ngosan, kemudian duduk pada kursi di teras itu, sambil mengatur nafas.

“Yeni salam balik.”

“Yang benar?! Ok, terus, teruss, teruss?” Tanyaku. Kali ini sedikit memaksa.

“Dia sempat bertanya padaku tentang dirimu. Aku jelaskan apa adanya. Tapi tenang, tentang masalahmu itu, aku tidak katakan. Biar nanti dia tahu sendiri.”

“Waduhh. Makasih banyak, kawan. Terimakasih,” ucapku. Lalu buru-buru melangkah kembali bengkel. Aku takut, pak Amrin mencariku.

Usai dapat kabar baik itu, aku mulai belajar berpenampilan maskulin. Rambut ku potong pendek sekali, anting ku lepas, mulai sering menggunakan kemeja, minyak rambut, parfum, dan hand body lotion. Meskipun terlihat sedikit aneh, bekerja di bengkel dengan kemeja dan celana panjang kain, bahkan sempat menjadi bahan tertawaan Narto, Jatmiko, dan montir-montir, tapi demi Yeni, aku tak peduli.

Berikutnya,- itu setelah berkali-kali berbalas salam -, lewat Jo, aku diundang oleh Yeni, menghadiri acara makan-makan di rumahnya. Nah, di sini nih, aku mulai kelimpungan. Mulai tak enak makan. Mulai tak leluasa beraktivitas. Pokoknya, segalanya membuat aku tidak nyaman. Terlebih lagi, saat kakiku sudah sampai di teras rumah Yeni. Alamakk. Jantung ini mendadak berdebar tak menentu, lutut gemetar, dan berlinang air mata. Ya seperti tak nginjak bumi rasanya malam itu. Apalagi…ya Tuhann, di dalam rumah Yeni banyak sekali wanita.

“Jo, balik yok. Balik. Tolongg, Jo, tolongg,” aku merengek-rengek pada Jo, sambil menarik-narik tangannya, seperti anak kecil yang minta dibelikan es krim pada ibunya.

“Kkkk. Tenang, Her, tenang. Di sini kesempatanmu belajar bagaimana berhadapan dengan perempuan. Sekarang, buang segala ketakutanmu itu.”

“Jo, balik,” pintaku, dengan wajah cemberut.

“Tenang.”

“Aku bilang balik, balik, Jo!” Aku naik pitam, sembil menarik tangannya Jo sekuat tenaga.

Karena Jo tak juga bergeming dari posisinya berdiri, aku putuskan untuk pulang sendiri. Namun baru saja berbalik badan….

“Loh, bang Jo, kenapa tidak masuk?” Mendadak suara merdu wanita terdengar di belakangku. Seketika suara itu menghentikan langkahku. Kemudian merubah kondisi wajahku, yang tadinya emosi, menjadi pucat pasi. “Alamakkk, mati, aku!”

“Ini baru mau masuk,” ucap Jo. “Oh iya kenalkan, ini Heri,” Jo menarik tanganku, lalu menyodorkannya pada Yeni.

“Hai. Aku Yeni. Loh, kok tangannya dingin? Sakit?” Tanya Yeni saat menggenggam tanganku.

“I..iiya, sedikit,” jawabku, lemas.

Yeni segera menggiring kami masuk ke dalam rumah. Kemudian mempersilahkan kami duduk di atas sofa. Di kursi bagian lain, tampak teman-teman Yeni sedang asyik berbicara, bercanda, dan membuncah. Tapi aku tak berani terlalu lama menatap mereka, karena tubuhku menggigil, kulitku mulai basah oleh keringat, sebagai tanda jika aku dalam kondisi nervous berat.

Untung saja Jo menyadari kondisi itu. Dia segera minta izin pada Yeni untuk pamit pulang. Dia beralasan, aku kurang enak badan, temperaturku naik, harus dibawa ke dokter.

“Aduh, aku minta maaf ya Her atas kondisimu ini. Sungguh aku tidak tahu. Tapi kalau boleh jujur, aku sangat senang sekali, merasa tersanjung sekali, meskipun kamu sakit, tapi mau datang ke acaraku. Thanks ya, Her,” ucap Yeni, dan itu benar-benar membuat hatiku sejuk, tenang, dan tentram.

“Oh iya, Jo. Kasi aku kabar ya perkembangan kondisi Heri nanti.”

“So pasti,” ucap Jo. Kemudian dia membawaku pergi meninggalkan Yeni yang terlihat khawatir atas kondisiku di teras rumah. Sementara aku, begitu sampai di rumah Jo, semuanya kembali normal seperti sedia kala.

“Gila. Penyakitmu ini sudah parah, Her,” ucap Jo terheran-heran. Saat kami sedang duduk santai, di muka rumah.

“Aku kan sudah bilang dari waktu itu. Lantaran penyakit inilah, sampai sekarang aku tak punya pacar. Kadang aku kecewa pada diriku, Jo. Iri melihat kawan-kawan berboncengan dengan pacarnya. Uh,” curhatku.

“Ini memang tak bisa dibiarkan, Her. Kamu harus sering-sering berkomunikasi dengan wanita. Jika tidak, sampai tua kamu akan seperti ini. Begini saja, lusa kita pergi lagi ke rumah Yeni.”

“Alaa, Jo. Tolong, tolong, jangan. Jangann. Aku malu, Jo,” aku memelas. Tanganku memegang erat tangan Jo. Lalu menggoyang-goyangkannya.

“Kamu tidak bisa seperti ini terus. Sekarang aku tanya, kamu serius tidak sama Yeni? Kalau tidak, mulai saat ini, aku akan berhenti membantumu. Jadilah laki-laki gila bayang, dan penghayal sana,” Jo mulai kesal. Sekali-kali telunjuknya di depan mataku.

“Tapi, Jo,,,.”

“Tidak ada tapi-tapi. Aku tanya sekali lagi, kamu serius atau tidak?!”

“I..ya iya, iya. Iyaaaa Jo, aku serius.”

“Ok. Lusa kita ke rumah Yeni. Masalah pertemuan, biar aku yang atur.”

“Baiklah.”

Pada hari yang sudah ditentukan, aku dan Jo bertandang kembali ke rumah Yeni. Seperti biasa, perasaan grogi menyergap ketika aku tiba di depan rumah berbentuk L itu. Meski tak separah sebelumnya, tetap saja jantung ini dag dig dug, lututku gemetar. Apalagi, saat Yeni duduk di hadapanku. Kepalaku hanya bisa jatuh di atas lantai yang tertutup permadani.

Kurang lebih lima belas menit. Yah, lima belas menit. Aku bertarung dalam kondisi demikian. Selanjutnya, adalah keajaiban. Aku mulai bisa mengatasi permasalahan itu perlahan-lahan.

Namun, saat aku mulai keluar dari kondisi tersebut, tiba-tiba masalah lain, yang juga ada hubungannya dengan grogi, datang. Ini, ini, aku tak sempat ceritakan pada Jo, karena terkait aib. Aku…

“Kamu ini kenapa, Her?!” Jo mulai kesal. “Aku lihat dari tadi kamu gelisah sekali, santailah,” tiba-tiba Jo menginjak kakiku, saat Yeni sedang membuat air minum di dapur. Aku hanya bisa mesam-mesem. Tapi wajahku, pucat pasi.

“Aku…Aku mau buang air besar, Jo. Aduuhh, sudah di ujung tanduk ini, tak tahan lagi aku, Jo” ucapku melas. Begitu pula mukaku. Sementara tubuhku bergoyang-goyang, sudah basah pula oleh keringat.

“Ya ampunn, Heriiii. Ada-ada saja kamu ini. Kamu kan bisa minta izin di dalam. Atau mau….”

Belum Jo selesai bicara, aku sudah menghilangkan diri dari pandangannya. “Sori, bro. Emergencii,” ucapku dalam hati, sambil berlari seekencang-kencangnya menuju rumah Jo. Sepuluh menit kemudian, aku kembali ke rumah Yeni dengan perasaan plong.

Jo kembali mengenalkan aku pada Yeni. Setelah itu, mereka mulai berbincang panjang lebar, tentang beberapa topik, mulai seputar perkuliahan, hingga hal-hal umum yang terkandung unsur kekonyolan. Aku yang tak tahu menahu kehidupan di kampus, hanya bisa melongok seperti orang bego’. Atau memang, bego’.

“Ya ampuunn, kok jadi ngebahas masalah kuliah sih. Kasihan kan Heri,” Yeni memotong pembicaraan dengan Jo. Ia sepertinya tahu benar kalau aku memang tak mengerti apa yang mereka diskusikan.

“Gimana Her, betah magang di bengkel pak Amrin?” Tiba-tiba Yeni bertanya padaku. Aku gugup. Tapi sekuat tenaga, aku berusaha menjawab, terbatah-batah.

“Be..betah.”

“Loh, singkat amat. Tapi kamu tidak apa-apa kan?” Tanya Yeni lagi. Kali ini dia mengerenyitkan kening. Kedua matanya menatap dalam ke arahku, aku salah tingkah.

“Dia grogi, Yen,” Jo menyalipku. Yeni tersenyum. “Emang salah kalau orang grogi? Grogi itukan manusiawi. Betul tidak, Her? Dari pada kamu…” seketika mata Yeni berpindah ke arah Jo.

“Hayo,,,. Dia ini sering malu-maluin lo Her. Ngaku tidak.”

“Ciee, ciee. Sejak kapan kamu jadi pengacara?”

“Sejak Heri ada di sini. Pokoknya, setiap tamu yang datang ke rumah ini, aku wajib membela. Kamu tidak keberatan kan, Her?” Tanya Yeni lembut. Lalu bibir tipisnya membentuk simpul.

Bibirku tersipu-sipu. Wajahku berubah merona. Dudukku juga salah tingkah. Sementara tubuhku, yah tubuhku, aku merasa seperti tak menginjak bumi. Seperti berada di negeri atas awan yang setiap tempat ditumbuhi aneka bunga-bunga nan indah. Sampai-sampai aku berucap dalam hati.

“Oh my Tuhann, hatiku tersentuh.” Dan aku pikir itu adalah awal yang baik untuk membuka pintu komunikasi, meskipun jujur, aku masih sulit berbicara.

Malam itu, Yeni tiada henti bertanya. Sepertinya dia sangat ingin menggali informasi lebih dalam tentang siapa aku, apa kesukaanku, hobiku, juga kehidupanku sehari-hari. Dia terlihat begitu tertarik saat Jo bilang aku ini suka musik.

“Oh kamu suka musik juga?” Yeni bertanya, dantusias. “I..iiya.”

“Ternyata kita sama,” ucap Yeni. “Apa kamu juga bisa bermain alat musik? Karena aku suka nyanyi.”

“Heri ini jago sekali main gitar, Yen. Karena sudah beberapa kali kami latihan bersama. Speednya bagus. Klasiknya juga okey. Menurutku, dia berhak dapat dua jempol. Thumb upp, bro,” Jo membantu memberi penjelasan. Dia juga memujiku dengan mengangkat dua jempolnya di hadapan Yeni. Hmmm, aku benar-benar tersanjung dibuatnya.

“Sungguh? Wow, ternyata kamu gitaris, ya. Hmm, okey. Ini menarik aku pikir. Aku sangat suka pada cowok yang bisa main alat musik. Boleh dong sekali-kali kita duet,” Yeni memberi tawaran. Aku hanya bisa mengganggukkan kepala. Sementara kesepuluh jariku saling bertaut erat satu sama lain.

“Tentu Boleh, Iya kan Herrr. Iya kan. Iya kannn. Hehehe,” Jo sedikit meledekku. Sambil mengangkat alisnya beberapa kali di depan mukaku.

Kami pun larut dalam suasana yang cair. Aku tak pernah sangka jika malam ini, semua mengalir laksana air. Keakraban antara aku dan Yeni perlahan-lahan mulai tumbuh. Meskipun yah, tak banyak kata-kata keluar dari mulut. Cuma bisa menjawab sepatah demi sepatah ketika wanita berambut tomboy itu bertanya. Tapi jujur, aku senang. Aku menikmati. Dua jam kemudian aku dan Jo segera pamit pulang.

Dua kali, tiga kali, empat kali, aku mulai rutin bertandang ke rumah Yeni. Meskipun belum berani melakukannya sendiri, adalah Jo yang kerap jadi teman, tapi sedikit demi sedikit, aku sudah bisa kendalikan rasa grogi ini. Tidak lagi panas dingin. Tidak lagi ingin buang air besar. Bahkan, pada pertemuan keempat, aku sempat bermain gitar, mengiringi Yeni bernyanyi.

Yeni punya penyanyi favorit yaitu Yuni Sarah. Setiap bernyanyi lagu-lagu sang maestro, selalu dihayati, selalu emosi, juga lengkap dengan gestur, dan suaranya itu loh…alamaakkk, merdu sekali. Membuat bulu kuduk ini merinding berkali-kali. Biasanya kalau sudah begitu, aku tak mau kalah. Akan ku petik gitar dengan khidmat pula. Begitulah seterusnya dan seterusnya. Hingga akhirnya jadi terbiasa.

Sebulan berikutnya, setelah melihat perkembangan PDKT, aku beranikan diri terkait isi hatiku pada Yeni. Tapi, jangan pernah berpikir kalau itu dilakukan dengan bahasa lisan, ataupun bertemu secara face to face. Aku tak berani. Melainkan, aku tuangkan semua di atas selembar kertas yang sudah kusemprot minyak wangi. Surat cinta itu lalu kutitipkan pada Jo sebagai orang terdekat Yeni.

“Her, ini balasan surat untukmu,” ucap Jo sekonyong-konyong, dua hari berselang, saat aku menunggu dengan cemas, di sudut bengkel.

“Thanks, Jo.”

Ku ambil surat itu dari tangan Jo. Membukanya penuh kehati-hatian. Saat membuka amplop putih bercorak bunga mawar itu, jantungku berdegub sangat kencang, kedua tanganku gemetar. Hanya saja, dalam kasus ini, aku tak berani berandai-andai, untuk menarik kesimpulan sebuah misteri yang terselubung di balik pertanyaan-pertanyaan yang munculan di salam pikiran. Aku hanya ingin membiarkan mereka semua terungkap, setelah selesai membaca surat ini. Apakah ditolak. Ataukah diterima.

 

bersambung…

 

 

10 Comments to "Yeni, Oh Yeni (2)"

  1. J C  18 January, 2016 at 15:35

    Hayooooo…diterima tidak?

  2. Jemy haryanto  17 January, 2016 at 09:20

    Mba dewi : hahaha

  3. Dewi Aichi  17 January, 2016 at 09:16

    Hahahaha…penampilan kayak preman, ngadepin Yeni mati kutu gemetaran keringat dingin…..(ketawa ngakak)..

  4. Jemy haryanto  17 January, 2016 at 08:16

    Sabar mba dewi vina : memang banyak ragam vin,, ada di lingkungan dikenal preman, dgn perempuan mati kutu

  5. James  15 January, 2016 at 05:14

    Ci Lani, sudah jelas adalah perbuatan ISIS dan sudah mengclaimnya, begitu juga mayat erorisnya ada yang berasal dari luar berarti bukan WNI saja, mereka ngebom karena memang mereka sudah merencanakannya di Asia Tenggara termasuk Indonesia, padahal Indonesia sudah lama sekitar 3 bulan lalu diperingatkan oleh Intel Australia dan Amerika agar waspada sekitar Natal dan Tahun Baru, kejadian nyatanya baru sekrang medio januari, BIN kecolongan lagi

  6. Dewi Aichi  15 January, 2016 at 02:12

    ya ampunnnnnnnn kkkkkkk….deg degan sambil penasaran isi suratnya….duh cepetan nih lanjutannya….

  7. Alvina VB  15 January, 2016 at 00:48

    Hadir mbakyu Lani!

    Ha..ha…Jemy ceritanya lucu euy….saya punya temen dulu yg begitu itu kl ngadepin cewek, minta ampyunnnn dia takut spt cerita ini, dia keringetan sampe bajunya basah, bisa diperes kali itu bajunya, ha..ha….

    RIP – Jakarta attacks #kamitidaktakut

  8. Lani  14 January, 2016 at 23:38

    James: kenapa di bom? dan siapa yg ngebom??? apakah ISIS lokal???

  9. james  14 January, 2016 at 15:42

    hadir nih mbak Lani……gak kemana-mana cuma dari tadi lagi serunya nonton berita TV Breaking News nya Jakarta kena Bom

  10. Lani  14 January, 2016 at 12:50

    Yeni seri dua sambil mengingat trio kenthirs pd lagi kemana ya?

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.