Kamu , Dewi

Nury Ris

 

Bagiku, indah adalah dirimuAwan putih di batas langit kalbu, tak bosan menggambar wajahmu untukku…

Sawah membentang di kanan-kiri jalan kecil beraspal menuju kampung halamanku. Batang-batang padi yang mengisi hektaran sawah tampak mulai menguning, menggoda mata. Kawanan burung pipit terbang rendah, tergiur oleh ranumnya biji-biji padi yang membentang. Cicit mereka bersahutan, terdengar ramah menyambut senjakala di kaki gunung Semeru, di tanah kelahiranku.

Orang-orangan sawah dipasang petani untuk menghalau kawanan pipit nan mungil. Namun patung menyerupai manusia itu hanyalah boneka tak bergerak, tak mampu menghalau burung-burung berpesta pora. Aku tersenyum kecil melihat sepasang pipit asyik-masyuk bercengkrama di atas topi orang-orangan sawah, layaknya mengejek. Ternyata burung pun susah sekali ditipu, bukan?

Di sepanjang tepian jalan, pohon Mahoni tertanam rapi berderet-deret. Terayun-ayun rindang dedaunannya, menari genit tertiup angin. Bunga-bunga kuning bersih tampak menyembul menghias pucuk-pucuk daun hijau melambai itu. Aku memacu mobil dengan kecepatan sedang, menikmati hembusan angin sejuk yang sibuk menerbangkan helai rambut.

Kau tahu, menurut pendapatku jalanan kecil beraspal tipis lagi berkelok ini masih tampak sama seperti lima tahun lalu. Aku menghirup nafas dalam-dalam, ingin merasakan lagi udara pegunungan yang telah lama kutinggalkan.

Aku rindu…

Sungguh tak ada tempat lain yang kurindukan melebihi tempat ini. Tak terbesit pula tanah lain yang begitu ingin kupijak selain tanah ini. Dan semuanya masih tampak sama seperti saat aku tinggalkan dulu. Aku sangat ingin kembali, menikmati tiap detik waktu di tempat indah ini.

Namun senyummu menahanku…

Mungkin aku memang pecundang. Mungkin aku memang pengecut. Aku lebih memilih lari menghindari masalah daripada menghadapinya sebagai seorang kesatria. Terserah kamu menganggapku apa. Dibenakku hanya ada satu pikiran sederhana. Aku tak ingin menyaksikan apa yang tak bisa kutahan. Makanya aku memilih pergi.

Kamu, Dewi Cempaka, sungguh-sungguh menjelma menjadi seorang dewi di mataku. Kamu memasuki kehidupanku seperti angin sepoi menggelitik pipi. Pelan tapi pasti. Begitu menggoda, begitu melenakan. Hingga tanpa kusadari engkau telah membelenggu keseharianku, dengan pesonamu.

Kita tumbuh bersama seperti sepasang kupu-kupu. Engkau terbang disampingku, aku melayang disampingmu. Kepak-kepak sayap kita berayun seirama. Canda tawa kita membuat iri isi bumi. Aku, juga kamu, merasa bahwa kita adalah penguasa dunia.

Kita tumbuh bersama seperti sepasang angsa. Aku meraih kalbumu, kamu menggenggam hatiku. Bulu-bulu putih dari jiwa-jiwa kita menghiasi saat-saat terindah yang kita jelang berdua. Saat-saat itu melenakan, meski kala itu kita tak pernah tahu jika hari esok bukanlah milik kita lagi.

Kamu, Dewi Cempaka, adalah gadis paling cantik di kampung kita. Di mataku, matamu terlihat bulat bercahaya. Senyummu seindah nirwana. Tubuhmu terpahat cantik di setiap inci lekuk-lekuknya. Rambutmu panjang tergerai bagai lembaran sutra paling lembut di dunia. Suaramu semerdu seruling bambu. Jika kamu memandangku, aku merasa menjadi laki-laki paling tampan di jagat raya.

Siapa menyangka jika garis hidupmu begitu keras. Ayahmu meninggal dalam kecelakaan kerja saat kamu masih tujuh bulan dikandungan ibumu. Sedang ibumu meninggal saat bertaruh nyawa melahirkanmu. Kau yatim piatu sejak kecil. Hanya tinggal berdua bersama nenekmu yang janda.

Kau ingat? Nenekmu yang telah renta bekerja pada Pak Lurah, sebagai buruh sawah. Kadangkala jika waktu panen tiba, kamu ikut memanen padi bersama nenekmu, di sawah milik Pak Lurah, di dekat rumahku. Aku sering mengintipmu dari dalam jendela kamar, mengamati kau yang sedang asyik bercengkerama dengan Bu Lurah. Perempuan subur bersanggul keong yang kamu panggil Bu Lurah itu adalah ibuku.

Nenekmu meninggal dunia saat umurmu belum genap lima belas tahun, Cempaka. Kau menjadi sebatang kara. Bu Lurah yang telah lama jatuh cinta pada pribadimu, merasa iba. Ia kemudian mengangkatmu menjadi salah satu anaknya. Tanpa ia sadari, ibuku kian mendekatkan aku padamu.

Kita beranjak dewasa bersama-sama. Kita bersekolah di sekolah yang sama. Aku tak pernah tertarik pada gadis lain selain dirimu. Kamu tak pernah melirik laki-laki lain selain diriku. Namun di penghujung studi tingkat akhir kita berdua, bencana itu datang meluluhlantakkan mimpi-mimpi kita.

Kamu dianggap telah cukup dewasa, sudah cukup siap untuk menikah. Sangat ironi ketika laki-laki yang akan menjadi suamimu adalah pilihan orang tuaku. Sayang sekali, ayah dan ibu tidak memilihku menjadi pendampingmu. Mereka menganggapku masih terlalu muda. Aku harus melanjutkan sekolah, kuliah di ibukota. Jadi ayah dan ibu memilihnya, hanya karena usianya lebih tua dariku.

Kamu tak kuasa menolak, karena hutang budi terhadap orang tuaku kau anggap terlalu besar untuk dapat kau tebus, meskipun dengan pernikahanmu. Aku tak dapat berbuat apa-apa karena sangat menghormati orang tuaku. Begitu pula, aku sangat menghormati calon suamimu.

Tepat sehari sebelum hari pernikahanmu, kamu menangis tersedu-sedu di hadapanku. Amat menyesalkan mengapa bukan aku yang kau nikahi. Aku berdiri terpaku, menatap air matamu yang jatuh tak henti-henti. Aku memang hanya terpaku, tak melakukan apapun untuk mencegahmu dan lelaki itu menjadi satu. Aku memang hanya bisa berdiri terpaku, menyerah pada takdirku. Tepat sehari setelah pernikahanmu, aku pergi meninggalkan kota kecil ini. Satu kalipun tak pernah hendak kembali lagi.

Hingga hari ini, sesuatu terlanjur terjadi dan memaksaku untuk kembali…

Laju mobil yang menderu tak terasa telah membawaku ke rumah besar bercat putih kebanggaan ayah. Rumah itu masih tampak kokoh seperti yang kuingat dulu. Orang-orang ramai berlalu-lalang di sekitar rumahku. Mereka membawa nampan-nampan kecil berisi beras yang tertutup serbet diatasnya. Mereka semua berwajah murung.

Kursi-kursi dipasang berjejer-jejer di halaman.Aku berjalan tergesa melewati kerumunan orang yang duduk di kursi-kursi itu. Ibu menyongsongku dengan tangisan berlinang.

“Le, kamu sudah datang, nak…” ujarnya sambil memelukku erat.

Aku mencium kedua pipinya yang basah air mata. Ayah juga menyongsongku dengan wajah murungnya.

“Kamu sudah datang, kalo gitu segera dimakamkan saja,” kata ayah.

Aku mengangguk. Dan aku melihatmu di situ…

Duduk sambil menggendong anakmu, yang tak pernah berani kulihat wajahnya sejak empat tahun yang lalu ia dilahirkan. Matamu yang biasanya bercahaya kini layu. Sembab karena menangisi kepergian suamimu yang begitu tiba-tiba. “Bian meninggal kecelakaan mobil,” begitu cerita ibu di telepon. Makanya aku bergegas pulang.

Aku melihatmu duduk terpekur di sudut itu.

Aku menghampirimu, “Cempaka,” panggilku.

“Ardy,” kamu menoleh sambil balik mengucap namaku.

Kamu menyerahkan anakmu ke pangkuan ibu, lalu memelukku dan menangis di bahuku, lama sekali. Bahu rapuhmu berguncang hebat di sela tangisanmu. Hingga waktu pemakaman bagi suamimu tiba, kau baru melepaskan pelukanmu.

Kamu sekarang tampak lebih kurus dari ingatan terakhirku tentangmu. Wajahmu pun tak seelok dulu. Namun pelukanmu tetap terasa sama. Aku tahu, kadangkala nasib membuat kita tak mendapatkan apa yang kita ingin. Tapi menjadi berbeda jika kamulah satu-satunya wanita yang kuinginkan. Aku tak pernah sekalipun ingin yang lain.

Dadaku berdesir, Cempaka. Perasaan itu tetap sama seperti dulu. Aku masih sangat mencintaimu. Tak pernah bisa berhenti mencintaimu. Tidak selama bertahun-tahun terberatku tanpamu. Dilema menghampiri, tak tahu apakah aku harus bersedih atau bahagia atas kematian suamimu.

Suamimu yang juga kakakku…

mawar

 

Bagiku, cinta adalah dirimu. Jutaan waktu terkikis tuk menghapusmu, ternyata aku tak pernah mampu…

-end-

 

Note Redaksi:

Nury Ris, selamat datang dan selamat bergabung di BALTYRA. Semoga betah dan kerasan ya…Ditunggu artikel-artikel lainnya. Terima kasih Dewi Aichi yang berhasil memikat Nury Ris dengan posting artikel-artikel lama BALTYRA, sehingga Nury Ris mau bergabung juga…

 

http://www.blukuthuk.com/2016/01/11/kamu-dewi/

 

 

About Nury Ris

Penyuka martabak yang jarang makan martabak saking takut gendut. Penyuka puisi yang gak gape bikin puisi. Penyuka cerpen yang masih terus belajar membuat cerpen. Berusaha meluangkan waktu untuk menulis setiap hari, walaupun hanya berupa status Facebook yang gak penting.

Arsip Artikel

13 Comments to "Kamu , Dewi"

  1. J C  18 January, 2016 at 15:41

    Selamat datang Nury Ris…cerita yang ciamik dan sukses mengaduk perasaan pembacanya…

  2. Alvina VB  18 January, 2016 at 12:17

    Dewi, iya dech..tahu rayuanmu maut kek rayuan pulau kelapa, ha..ha….
    Gak sibuk ngeruk salju (ngapain dikeruk-keruk ntar juga lumer sendiri dah… ttp sibuk wara-wiri diminta tolong ngurusin anak2 Syrian refugees yg dulu kena bullying di pengungsiannya di Jordan, Turkey dan Lebanon.

  3. Dj. 813  17 January, 2016 at 22:35

    Hallo Nury Ris . . .
    Terimakasih dan selamat bergabung disini .
    Selamat berkarya .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.